
Pesta pernikahan antara Alvian dan Susan sudah beberapa hari berlalu, masing-masing sudah kembali ke rumah. Papa Sultan dan Mama Sekar, beserta Yusuf dan keluarga kecil nya sudah kembali ke Singapura. Bibi Carla dan papi Vincent, juga telah kembali ke negara asal oma nya Rehan.
Rehan beserta sang istri dan putra kecil nya, juga sudah kembali ke apartemen mereka sendiri. Begitupun dengan Alex yang kembali ke apartemen milik nya, sedangkan Nisa dan Ilham masih menempati apartemen milik Fatima.
Semua sudah menjalani aktifitas seperti hari-hari sebelum nya, termasuk Ilham, yang selalu berlomba dengan waktu setiap pagi untuk berangkat ke sekolah.
Begitupun dengan kedua sahabat yang bekerja satu kantor, Rehan dan sang Asisten Pribadi. Mereka sudah disibukkan kembali dengan padat nya jadwal pekerjaan, terlebih Alex yang nampak super sibuk beberapa hari ini karena harus menghandle pekerjaan sekretaris. Karena Susan sudah resign sehari sebelum menikah, sedangkan Rehan belum ingin mengisi kekosongan posisi tersebut.
Namun hari ini, nampak ada yang berbeda dengan pemandangan di depan ruangan bos RPA Group tersebut. Kalau dulu ada wanita cantik bernama Susan dengan pakaian sopan yang selalu dikenakan nya, kini pun ada gadis cantik tapi dengan busana terbuka di bagaian atas nya.
Hari ini, kebetulan Rehan berangkat ke kantor agak siang, karena sang istri yang sering rewel beberapa hari ini akibat kehamilan nya. Setelah ngidam nya Rehan dengan rasa mual saat mencium aroma bunga mereda, kini giliran Nabila yang suka minta hal-hal aneh di pagi buta.
Seperti bakda shubuh tadi, bumil muda itu meminta sang suami untuk membuatkan nya kolak pisang. Hingga di pagi buta, Rehan mengajak bi Surti belanja ke pasar tradisional untuk mencari pisang kepok seperti permintaan sang istri. Rehan masih beruntung, karena meskipun sang istri sering minta dibuatkan yang aneh-aneh, namun bahan-bahan nya masih mudah untuk dicari.
Dengan sangat telaten, daddy tampan itu membuatkan kolak pisang dengan di pandu langsung oleh nyonya bos. Setelah cukup lama berkutat dengan kompor dan panci, Rehan pun akhirnya berhasil menyelesaikan tantangan nya pagi ini.
Setelah selesai membuatkan kolak pisang, sang nyonya bos yang biasa nya akan langsung memakan hasil perjuangan sang suami, namun pagi ini nampak nya si baby sedang ingin berlama-lama dengan daddy nya. Nabila ngambek dan tidak mau makan jika tidak disuapin, akhirnya Rehan mengalah dan menyuapi istri nya itu dengan penuh kasih.
Hal itulah yang membuat bos RPA Group itu terlambat datang ke kantor nya, namun meskipun demikian, wajah Rehan yang dulu selalu dingin saat berada di kantor kini terlihat selalu tersenyum.
Begitu tiba di depan lobi, Rehan langsung turun Dan berjalan dengan cepat menuju lift. "Pagi tuan muda," sapa beberapa karyawan yang kebetulan melintas di lobi.
Rehan mengangguk dan tersenyum
"Si bos sejak menikah, jadi ramah dan murah senyum ya,," bisik-bisik dari para karyawan nya yang senang melihat perubahan positif bos nya.
Yang lain mengangguk menyetujui.
"Istri nya cantik, sholihah dan kelihatan nya juga low profile," bisik yang lain.
Rehan sekilas masih bisa mendengar bisik-bisik tersebut hingga dia masuk ke dalam lift, dan dalam hati diapun bersyukur karena dipertemukan dengan bidadari syurga secantik istri nya. Senyum di bibir Rehan semakin mengembang, hingga saat Rehan keluar dari lift hendak menuju ke ruangan khusus Presdir, mata nya membulat sempurna.
"Alex," teriak nya memanggil sang Asisten yang ruangan nya tak jauh dari tempat nya berdiri.
"Siap bos," jawab Alex yang langsung keluar dari ruangan nya dengan tergesa-gesa, "ada apa bos?" Tanya Alex bingung.
"Siapa dia?!" Tanya Rehan seraya menunjuk seorang gadis, yang tengah berdiri anggun di samping meja sekretaris sambil mengulas senyuman manis nya.
Alex pun menatap tajam gadis itu dan nampak tidak suka, "dia sekretaris baru bos, nama nya Evita," jawab Alex.
__ADS_1
"Kemana blazer yang kamu kenakan tadi, Evi? Kenapa jadi telanjang seperti itu? Apakah pihak HRD tidak memberitahu kamu bagaimana cara berpakaian di kantor ini?" Cecar Alex kepada Evita.
"Maaf, mas Alex,, Di sini gerah, jadi blazer nya Evi lepas barusan," jawab Evita tanpa sungkan.
Rehan mengernyit,, "apa gue gak salah dengar Lex, dia memanggil lu dengan sebutan mas?!"
Alex mengedikkan bahu nya, "gue enggak tahu bos, gue juga baru bertemu dengan dia pagi tadi," jawab Alex merasa pusing.
Evita senyum-senyum karena merasa jadi pusat perhatian big bos nya.
"Lantas siapa yang membawa dia kemari?!" Tanya Rehan penasaran.
"Kemarin kepala HRD bilang, ada yang memenuhi kriteria sebagai pengganti Susan. Gue memang belum sempat cek CV nya, karena masih ada kesibukan lain," bisik Alex di telinga Rehan.
"Panggil kepala HRD ke ruangan gue sekarang, gue enggak mau ada wewe gombel di sekitar gue!" Titah Rehan sambil berlalu menuju ruangan nya, melewati Evita begitu saja tanpa melirik.
Evita mengernyit, "wewe gombel,, what's that?" Gumam nya dan nampak tak peduli dengan sebutan itu.
Sedangkan Alex terkekeh pelan sambil berjalan menuju ruangan nya kembali, hendak menghubungi kepala HRD agar menghadap big bos sekarang juga.
Setelah menelpon dan membenahi berkas di meja nya, Alex langsung menuju ruangan Rehan. Baru saja dia duduk di sofa, terdengar suara pintu di ketuk.
Alex bergegas membuka kan pintu nya, "silahkan masuk pak San," ucap Alex kepada pak Santoso, pria paruh baya yang menjabat sebagai kepala HRD di RPA Group.
Pak Santoso menundukkan kepala nya dengan hormat dan segera duduk di hadapan big bos nya, "maaf tuan muda, ini CV dari Evita yang kemarin belum sempat saya berikan pada tuan Asisten," ucap pak Santoso dengan sopan sambil menyerahkan amplop coklat kepada bos RPA Group.
Rehan menerima nya dan langsung memberikan nya kepada Alex, "kenapa pak Santoso tidak mengkonfirmasinya terlebih dahulu pada Asisten Alex, dan langsung menempatkan dia jadi sekretaris?" Tanya Rehan menyelidik.
"Maaf tuan muda," sela Alex, Alex memang selalu bersikap formal kepada atasan nya itu jika ada bawahan atau kolega bisnis Rehan. "Saya yang menyuruh pak Santoso, karena saya sangat sibuk kemarin," lanjut nya.
Alex segera membuka amplop tersebut dan mulai membaca nya, nampak wajah nya sangat serius dan sesekali menarik nafas panjang.
"Bagaimana?" Tanya Rehan penasaran.
"Maaf bos, bisa kita hanya bicara berdua?" Tanya Alex.
Pak Santoso yang mengerti bahwa kehadiran nya sudah tidak dibutuhkan pun, pamit undur diri, "kalau begitu, saya ijin kembali ke ruangan saya," ucap nya dengan sopan.
Setelah pak Santoso keluar, Alex mulai menjelaskan tentang CV Evita, "dia lulusan sekolah sekretaris terbaik di salah satu universitas di Amerika, cita-cita awalnya menjadi model tapi karena kandas kemudian melanjutkan studi nya dan mengambil jurusan sekretaris." Sejenak Alex menghentikan ucapan nya, sambil meneliti wajah Rehan yang nampak tidak tertarik dengan penjelasan nya.
__ADS_1
"Dia juga bercita-cita ingin punya perusahaan sendiri, atau minimal jadi istri pengusaha. Gimana menurut lu bos?" Tanya Alex yang merasa bahwa kehadiran Evita adalah sebuah ancaman bagi rumah tangga big bos nya.
"Bagus,, dia lulusan terbaik, itu artinya dia cerdas dan akan mampu menghandle pekerjaan sebagai sekretaris di RPA Group ini yang memang tidak mudah," jawab Nabila yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu.
"Sayang,," Rehan terkejut melihat kedatangan Istri nya yang tiba-tiba, dan segera menuntun nya menuju sofa.
"Maaf bang, pintu nya tidak tertutup dengan sempurna. Jadi Billa masih bisa mendengar obrolan kalian tadi," lanjut Nabila sambil mendudukkan diri nya di sofa.
"Apa yang mbak Billa katakan tadi memang benar, dia cerdas, tapi,," Alex menjeda ucapan nya, mencoba mencari kata yang tepat untuk mengungkapkan kekhawatiran nya.
"Bang Alex khawatir kalau dia akan jadi ancaman bagi rumah tangga kami?" Tanya Nabila seolah bisa menebak isi pikiran Alex.
Alex mengangguk,
"Alex benar yang, jika kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiran nya.. biar dia dipindahkan ke bagian lain," balas Rehan yang juga khawatir jika istri nya merasa terganggu.
"Enggak perlu bang, cari karyawan yang berkompeten itu susah lho. Nah ini udah langsung dapat.. ya udah, biarkan dia membuktikan kemampuan nya," ucap Nabila dengan bijak.
"Tapi, penampilan nya itu lho yang... apa kamu enggak ngerasa terganggu?"
"Ya, itu tugas kita untuk membina nya bang.. dia kan masih baru, ya diajarin lah bagaimana cara bersikap dengan atasan dan bagaimana cara berpakaian yang sopan sesuai standard yang telah ditetapkan di perusahaan abang," jawab Nabila dengan enteng.
Rehan mengernyit.
"Bang, bibit pelakor itu akan selalu ada di sekeliling kita. Ibarat kata pepatah, mati satu tumbuh seribu. Billa ataupun bang Alex juga gak bakalan mampu menjaga abang untuk tidak tergoda dengan wanita lain, tapi yang bisa menjaga abang hanyalah diri abang sendiri."
"Jika masih ada Allah di sini dan masih ada cinta di hati abang untuk Billa, insyaallah kita akan terjaga dari orang-orang yang berusaha merusak hubungan kita," ucap Nabila sambil menunjuk dada sang suami. "Saling percaya dan menjaga kesetiaan itulah kunci utama langgeng nya pernikahan," lanjut nya dengan menatap mesra sang suami.
Rehan tertegun mendengar ucapan sang istri, dan langsung memeluk istri nya dengan erat.
Alex berdeham,, "gue manusia, bukan pajangan!" Ketus nya sambil berlalu dari ruangan big bos nya.
Tak selama nya rumah tangga itu berjalan dengan mulus, akan ada banyak kerikil atau bahkan batu sandungan yang menghadang di tengah jalan.
Namun dengan kesabaran, keikhlasan dan kesetiaan maka badai dan gelombang yang menerjang takkan mampu membuat bahtera yang berlayar menjadi karam... Insyaallah π
__ADS_1