Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Will You Marry Me


__ADS_3

Rehan dan Nabila tengah menikmati makan siang mereka yang sedikit terlambat itu di sebuah warung apung terbaik yang ada di tempat wisata di pinggiran kota, berbagai jenis masakan Jawa telah disajikan oleh pelayan sesuai permintaan Rehan.


Mereka terlihat sangat menikmati momen makan siang yang istimewa itu, berada di tengah danau alami yang sangat luas dengan panorama persawahan dengan tumbuhan padi menghijau yang mengitari nya. Ditambah dengan panorama deretan gunung-gunung yang menjulang tinggi di kejauhan, semakin menambah pesona pemandangan yang sangat memanjakan mata setiap pengunjungnya itu.


Keduanya tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun, hanya suara denting sendok dan garpu beradu memecah keheningan. Sesekali terlihat Rehan mencuri-curi pandang kearah Nabila, meski menyadari kalau sedang diperhatikan, Nabila seolah tidak mempedulikannya. Padahal jantungnya berdebar dengan sangat kencang, namun sekuat tenaga Nabila berusaha untuk menyembunyikan perasaannya. "Duh abang, jangan liatin Billa seperti itu dong,,," bisik Nabila dalam hati.


Acara makan siang pun berakhir, waktu menunjukkan pukul setengah empat sore, "Bill,,, kita ke sana yuk," ajak Rehan sambil menunjuk ke sebuah perahu motor yang sudah terparkir cantik di depan warung apung tempat mereka makan siang saat ini.


Rehan segera beranjak dari tempatnya dan diikuti oleh Nabila, "kita mau ngapain bang?" selidik Nabila penasaran sesaat setelah mereka tiba di dekat perahu motor yang sudah dihias dengan sangat indah.


"Kita akan berkeliling danau, kamu mau kan?" pinta Rehan dan segera naik keatas perahu motor.


Nabila masih berdiam diri ditempatnya, dia terlihat sedikit ragu.


"Ayo Bill,,, buruan naik kesini," titah Rehan sambil mengulurkan kedua tangannya untuk menuntun Nabila agar segera naik ke atas perahu motor mengikutinya.


Nampak Nabila masih termangu, sambil matanya berputar mengelilingi luasnya danau alami itu dan menatap tajam ke tengah danau seakan menelisik kedalaman danau tersebut.


"Kenapa Bill,,," 'tanya Rehan mengernyitkan alisnya bingung.


"Billa takut bang, Billa gak bisa berenang,,," lirih Nabila ragu dengan suaranya yang bergetar. "Danau ini sangat luas, dan kita juga tidak tahu berapa kedalamannya kan?" lanjutnya dengan perasaan takut.


"Jangan khawatir, aku akan selalu ada di sampingmu," ucap Rehan lembut dan dengan menatap hangat manik mata Nabila untuk menyalurkan keberanian pada gadis manis berhijab itu.

__ADS_1


Akhirnya dengan sedikit keraguan yang masih tersisa, Nabila menerima uluran tangan Rehan dan dengan bantuan Rehan kini Nabila sudah berada di atas perahu motor.


"Duduklah di sampingku," titah Rehan menunjukkan bangku kosong di sebelah pengemudi. Rehan sendiri langsung mendudukkan dirinya di belakang kemudi, setelah berhasil membantu Nabila untuk naik ke atas perahu motor tadi.


Setelah duduk, Nabila terlihat bingung, "ini yang mau bawa perahu motornya bang Rehan?" tanya Nabila menunjuk kearah Rehan, "abang yakin bisa?" selidiknya lagi masih penuh dengan kekhawatiran.


"Bisa,,," sambil tersenyum sumringah, "santai aja Bill, dulu aku sering melakukan olahraga jetski," ucap Rehan mantap. Kemudian Rehan mulai menghidupkan mesin perahu motornya, "sudah siap?" sambil menatap hangat Nabila, dan tanpa menunggu jawaban gadis itu Rehan langsung melajukan perahu motor dengan kecepatan sedang untuk berkeliling mengitari danau.


Sinar mentari berwarna keemasan terasa hangat menyentuh kulit, semilir angin sepoi-sepoi menyapu lembut wajah mereka berdua. Rehan terus melajukan perahu motornya, setengah putaran danau telah terlewati. "Masih takut Bill,,," tanya Rehan memecah kesunyian sambil menatap gadis yang duduk terdiam di sampingnya.


"Udah nggak takut kayak tadi sih bang," jawab Nabila polos. Raut wajah Nabila kini sudah mulai bersinar, tidak lagi nampak pias seperti saat pertama kali naik perahu motor tadi.


Suasana kembali hening, hanya suara mesin perahu motor yang terdengar meraung membelah air danau. Rehan mulai mengarahkan laju perahu motornya ke tengah, setelah beberapa saat mereka tiba tepat di tengah-tengah danau, dan kemudian Rehan mematikan mesin perahu motornya.


"Kok dimatiin, kenapa bang?" tanya Nabila panik, "apa ada masalah dengan mesinnya?" selidik Nabila semakin penasaran dan ketakutan, karena mereka kini berada tepat di tengah danau yang mungkin saja sangat dalam, begitu kira-kira pikir Nabila.


"Tapi kenapa kita berhenti disini bang, Billa beneran takut,,, kita kan gak tahu sedalam apa danau ini?" protes Nabila masih dengan mode khawatir, "Billa gak bisa berenang bang,,," lirih yang mengingatkan kembali pada Rehan bahwa dirinya tidak bisa berenang.


Rehan hanya tersenyum simpul, "seperti yang tadi abang janjikan, ada yang mau abang katakan sama kamu," jelas Rehan menelisik kedalam mata Nabila, meminta persetujuan dan mengganti posisi duduknya menghadap gadis berhijab itu, "kamu tidak keberatan kan abang menyampaikannya disini?"


Setelah sejenak terdiam, Nabila hanya bisa mengangguk pasrah dan mengiyakan.


Rehan menarik nafas dalam-dalam, menghirup segarnya udara di sekitar danau untuk mengisi penuh paru-paru nya dengan oksigen yang tersedia gratis di alam semesta ini. Dengan perlahan dia menghembuskan nya, dan mulai mengatur ritme nafasnya. "Bill,,," sapa Rehan dengan sangat lembut.

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil, Nabila menoleh.


"Menghadap lah kemari," titah Rehan lirih.


Tanpa banyak bertanya, Nabila pun merubah posisi duduknya untuk menghadap kearah laki-laki tampan itu.


Kini keduanya telah duduk berhadapan, Rehan terlihat menarik kedua tangan Nabila dan menautkan jari jemari mereka, tatapan matanya yang hangat menembus kedua manik mata Nabila. Dengan suara bergetar Rehan mulai berbicara, "Nabila Ayunda,,, will you marry me?" menjeda sejenak ucapannya, mengatur kembali nafasnya, "maukah kamu menjadi ratu di hatiku? Menjadi permaisuri di istana ku? Menjadi ibu dari Kevin dan anak-anak kita kelak?" pintanya dengan tatapan lembut penuh pengharapan.


Sejenak keduanya terdiam, tatapan mata mereka saling terpaut seolah menyalurkan rasa di hati mereka masing-masing. Rehan terlihat sedikit lega, karena telah berhasil menuangkan isi di benaknya selama ini. Sedangkan Nabila masih diam terpaku, mencoba mencari tahu kejujuran dari mata Rehan.


"Apa benar yang abang katakan barusan?" tanya Nabila akhirnya untuk menuntut kejujuran dari laki-laki dihadapannya.


"Aku mengatakannya dari lubuk hatiku yang terdalam,,," jawab Rehan sungguh-sungguh, "dan kamu pasti bisa merasakan perhatian ku selama ini kepadamu bukan?" lanjutnya lagi.


Suasana kembali hening, hanya terdengar kicau burung bersautan yang terbang melayang di atas danau.


"Bagaimana Billa,,, apakah kamu mau menerima cintaku? Dan bersedia menjadi istriku?" Rehan bertanya kembali dengan perasaan tak karuan, dan semakin mempererat genggaman tangan mereka seolah dia butuh kekuatan untuk mendengar apapun jawaban yang akan diberikan oleh gadis pujaan hatinya itu.


Detik berganti menit, Nabila masih belum bergeming.


"Maaf, jika aku menyatakan perasaan ku dengan cara yang tidak romantis, seperti dalam novel-novel online,,," ucap Rehan kembali, "menyatakan cinta dengan memberikan buket bunga yang cantik ataupun cincin berlian yang mahal, karena aku bukan seorang CEO seperti tokoh dalam novel yang digilai dan dikejar oleh banyak wanita. Aku hanya seorang deddy yang butuh partner untuk mengasuh putraku, aku hanyalah seorang laki-laki yang tidak sempurna dan membutuhkan kamu untuk menyempurnakan hidupku," lirihnya menatap hangat wajah Nabila yang mulai menyunggingkan senyuman manisnya.


__ADS_1



\_\_\_ Kita bukanlah manusia yang sempurna, dan Allah telah menciptakan pasangan kita, untuk menyempurnakan hidup kita \_\_\_ (Rehan)


__ADS_2