Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Keseruan di Rumah Utama


__ADS_3

Sore hari di rumah utama,,, semua keluarga papa Sultan dan pak Ilyas tengah berkumpul di teras samping menikmati keindahan senja, semilir angin yang bertiup menerpa dedaunan menambah adem suasana di sore itu.


Para orang dewasa ngobrol santai sambil duduk di gazebo yang berhadapan, dan sebagian yang lain menggelar tikar. Sedangkan tiga krucil cucu papa Sultan, berlari-larian sambil tertawa riang.


Papa Johan, Alvian dan sang pacar juga nampak berada di sana. "Pak Johan, saya harap anda betah tinggal bersama kami di sini dalam beberapa hari ke depan. Sampai rumah impian yang dibangun nak Alvian selesai, atau ya.. minimal sampai hari pernikahan Rehan dan cucu anda yang akan di gelar tiga hari lagi." Ucap papa Sultan pada papa Johan.


"Ya, kalau saya pribadi pasti betah berada di tengah orang-orang yang saling mengasihi seperti ini pak Sultan. Tapi ya,, saya ngikut aja apa kata anak saya Alvian dan juga Bintang," balas papa Johan sambil melirik Alvian.


"Iya pak Johan, kami senang kalau dua keluarga besar bisa berkumpul seperti ini," timpal mama Sekar.


"Benar pa, papa tinggal di sini dulu untuk sementara waktu bersama kami," bujuk Bintang kepada papa Johan nya.


Alvian mengangguk, "iya pa, enggak apa-apa untuk sementara papa di sini. Takut nya kalau papa tinggal di apartemen Vian yang deket dengan apartemen Sisca, nanti Sisca dan mama nya menemukan keberadaan papa. Vian takut mereka akan berbuat macam-macam lagi sama papa saat Alvian enggak bersama papa, tapi kalau papa di sini insyaallah aman," Alvian menimpali.


"Sebenar nya papa juga ingin menyelesaikan masalah dengan Wiwit secepat nya, tapi jika menurut mu lebih baik papa menghindar dulu ya papa ikuti aja yang terbaik," balas papa Johan.


"Urusan dengan mama Wiwit kita pikirkan nanti, jika kondisi papa sudah benar-benar sehat," ucap Alvian mencoba memberikan masukan.


"Benar apa yang dikatakan putra pak Johan, lebih baik menunggu saat yang tepat untuk menghadapi orang-orang licik seperti ibu dan anak itu," mama Sekar ikut berargumen, dia nampak sangat kesal mendengar bagaimana kelakuan mama Wiwit yang demi harta tega menghabisi nyawa seseorang.


Pak Johan mengangguk-angguk, "saya mengucapkan terimakasih pada keluarga pak Sultan, yang sudi menerima saya dengan hangat di sini. Begitu juga dengan Bintang serta putra putri nya... meski dosa saya di masa lalu begitu besar, tapi kalian mau berbesar hati memaafkan dan menerima opa di tengah kalian," ucap papa Johan terharu sambil menepuk lembut punggung Nabila yang duduk di samping nya.


"Opa,, semua sudah berlalu, jangan di ungkit lagi ya. Karena itu hanya akan mengorek luka lama dan memberat kan kaki kita untuk melangkah ke depan," ucap Nabila seraya memeluk sang opa.


"Makasih nak,," lirih papa Johan sambil mengeratkan pelukan nya.


"Sudah dong pa, kita harus menciptakan kebahagiaan kita mulai sekarang... jangan melo terus ah," protes ibu Lin yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Iya, kamu benar bu. Kebahagiaan harus kita ciptakan sendiri dan bukan di cari, karena kebahagiaan ada di hati kita bukan di tempat lain," pak Ilyas menimpali ucapan sang istri.

__ADS_1


"Good,, mari kita berbahagia..." sorak papa Sultan sambil bertepuk tangan, yang diikuti oleh semua yang berada di sana. Krucil yang tadi nya berlarian, sontak menghentikan aktifitas nya dan turut bergabung bersama orang-orang dewasa itu, dengan antusias mereka bertiga ikut bertepuk tangan sambil berteriak hore... menambah riuh suasana di taman samping rumah utama milik keluarga Alamsyah.


Ternyata momen kebersamaan itu direkam oleh Alex dan dikirimkan ke group chat geng tampan, sengaja dipamerkan kepada sahabat si kutu kupret nya.


*****


Di kantor Devan, dia baru saja selesai rapat dengan manager dan kepala bagian. Sekilas dia melirik jam tangan mewah nya sambil berjalan sedikit tergesa keluar dari ruang rapat, waktu menunjukkan pukul enam belas lewat tiga puluh menit.


Devan mengambil ponsel dari dalam saku jas nya, dia berniat menghubungi sang istri hendak mengabarkan bahwa dia akan sedikit terlambat sampai di rumah pasal nya ada janji dinner dengan beberapa staf nya.


Baru saja dia membuka layar ponsel, sebuah notifikasi dari group chat geng tampan baru saja masuk. "Asisten absurd kirim video,,, video apaan ya?" Gumam nya dalam hati, sambil menunggu video selesai di download.


Tak berapa lama, video kiriman dari Alex di group chat itu pun di putar. Seketika Devan nampak meradang... tanpa berpikir lagi, Devan mendial nama Asisten absurd untuk melakukan panggilan.


Beberapa detik menunggu, panggilan nya pun di angkat... "Sialan lu Lex, enggak kabar-kabar kalau kalian lagi pada ngumpul di rumah utama. Gue tadi pagi kan ke kantor lu, kenapa lu gak bilang? Dasar dodol!" Umpat Devan dengan sangat kecewa.


"Gue akan menyusul ke sana sekarang, nanti malam kita bikin pesta barbeque. Gue akan siapin bahan nya... lu suruh Fatima tuk siapin bumbu nya," titah nya kepada Alex di seberang sana, dan kemudian dia tutup panggilan nya secara sepihak.


*****


Malam ini, kesibukan di halaman belakang rumah utama mulai terasa. Nampak Fatima tengah sibuk menyiapkan bumbu untuk masak bakar bakaran, Nisa dan Susan ikut membantu Fatima.


Terlihat Alex tengah menyiapkan bara api untuk memanggang, sengaja dia memakai alat bakaran tradisional dengan menggunakan arang karena hendak menciptakan suasana yang benar-benar alami.


Alvian bersama keponakan nya dan juga Rehan yang senantiasa nempel sama sang istri, bertiga mereka sedang membuat sate.


Sedang kan ketiga cucu papa Sultan, asyik duduk santai menggelar tikar di samping api unggun sambil mendengar kan om ganteng bercerita. Dan di tikar yang lain, para orang tua tengah bercengkerama dengan hangat.


"Lex, Devan mau dateng jam berapa?" Tanya Fatima pada asisten pribadi sang adik, sambil melirik jam tangan mewah yang melingkar cantik di tangan putih nya.

__ADS_1


"Tadi bakda maghrib langsung on the way kata nya, palingan bentar lagi dia dateng," jawab Alex.


Baru saja Alex selesai bicara, Devan dengan menggandeng mesra tangan sang istri berjalan menghampiri mereka semua. "Wah, benar-benar tega lu Lex! Enggak kasih kabar, malah pamer di group chat!" Seru Devan sambil meninju pelan lengan Alex.


"Eh, om Dev... kalau baru datang tuh ucap salam," tegur Kevin pada Devan.


"Dasar si kutu, anak kecil aja tahu adab dan tata krama yang baik..." ucap Rehan.


Devan nyengir dan menggaruk kepala nya yang tidak gatal, "iya nak, om lupa... assalamu'alaikum,," ucap Devan kemudian, sambil berjalan kearah tempat duduk Rehan, Nabila dan Alvian.


Sementara Lusi langsung menghampiri Nabila dan memeluk nya, "selamat ya Bill,, mudah-mudahan kehamilan lu di mudahkan dan di lancarkan hingga proses persalinan nanti," do'a tulus Lusi untuk sahabat nya. Ya, sejak pulang dari Singapura dan tahu bahwa Nabila hamil, baru kali ini kedua sahabat itu bertemu.


"Makasih ya Lus,,, moga lu cepet nyusul, biar anak kita bisa main bareng," balas Nabila setelah kedua nya melerai pelukan.


"Kata nya mau bagi resep?" Tagih Devan sambil menepuk punggung suami tampan Nabila, "by the way, selamat ya bro.. gue akui, diantara kita berempat, lu emang yang selalu lebih unggul," ucap nya tulus.


"Makasih Dev,, kalian semua yang terbaik," balas Rehan. "Kalau mau resep nya, lu ketik aja di mesin pencarian... pasti ada," lanjut Rehan menahan tawa.


"Sialan lu Rey,,," gerutu Devan.


"Resep apa sih?" Tanya Alvian penasaran. Pasal nya dia sedang berada di rumah sakit saat obrolan via video call beberapa hari yang lalu itu berlangsung.


"Resep bikin anak bang,,," jawab Alex melirik Devan dari tempat nya beraktifitas, nampak bara api yang dia buat sudah menyala dengan sempurna dan siap digunakan untuk membakar. "Dev, api nya dah jadi nih.. buruan beraksi, mana bahan nya?"


"Bumbu juga dah siap, silahkan bang Devan.." ucap Fatima sambil berjalan kearah Alex, dan meletakkan bumbu nya.


"Nih, juga dah selesai di tusuk semua. Buruan gih, di bakar... dah lapar nih," Alvian menimpali.


"Kok, ke gue semua?!" Protes Devan.

__ADS_1


"Ya iyalah... siapa lagi?" Jawab ketiga sahabat nya bersamaan, sambil menahan tawa.


"Asem,,, jauh-jauh gue kesini malah kalian kerjain," balas Devan pura-pura ngambek, dan langsung beranjak membawa daging yang sudah selesai di tusuk menuju tempat bakaran yang sudah disiapkan Alex.


__ADS_2