Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Butik Putri Alamsyah


__ADS_3

Fatima dan Nabila keluar dari ruangan Presdir RPA Group dengan diikuti Rehan yang mengekor di belakang mereka, "nanti kakak kasih kabar aja kalau sudah selesai treatment di klinik, Rey akan menyusul ke butik," pinta Rehan pada sang kakak sebelum kedua wanita itu memasuki lift khusus Presdir.


"Oke dik, nanti InsyaAllah kakak kasih kabar," jawab Fatima menyanggupi permintaan sang adik.


"Kak,,," seru Rehan tatkala Fatima dan Nabila sudah berada di dalam lift.


"Apalagi?" Tanya sang kakak dengan heran.


"Titip jagain belahan jiwaku ya? Please,,," pinta Rehan sambil ikut masuk kedalam lift.


"Huh,," Fatima mendesah kasar, "kenapa kamu gak ikut aja sekalian dik, biar bisa jadi bodyguard buat kami," celoteh Fatima sedikit kesal, melihat sikap posesif adiknya itu. "Udah deh dik, jangan khawatir,,, kakak akan pasang badan untuk calon adik ipar," ucap Fatima seraya mengusir Rehan dari dalam lift.


Akhirnya Rehan pun dengan terpaksa keluar dari lift dan membiarkan dua wanita yang disayanginya itu menghilang bersamaan dengan tertutupnya pintu lift.


*****


Nampak Fatima dan Nabila baru saja keluar dari klinik kecantikan milik sahabat Fatima, yang berada di lantai lima sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta pusat setelah hampir dua jam menjalani serangkaian perawatan.


Tempat yang sama dimana butik Fatima berada dan hanya berbeda lantai saja, butik nya berada di lantai tiga di pusat perbelanjaan terbesar di tengah kota yang berlogo RPA Group itu.


Ya, pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota itu adalah milik RPA Group dengan Rehan sebagai Presiden Direktur nya.


Kedua wanita berhijab itu terlihat berjalan dengan anggun menuju butik yang sangat terkenal di dalam pusat perbelanjaan itu. Butik yang cukup luas dan sangat lengkap, yang akan memanjakan mata bagi setiap pengunjungnya terutama kaum wanita.


Butik 'Putri Alamsyah' sangat familiar di kalangan menengah ke atas, khususnya para istri pengusaha dan konglomerat di ibukota. Selain memiliki desainer yang handal untuk merancang busana bagi para pelanggan, butik tersebut juga menyediakan gaun pesta, gaun pernikahan serta pakaian formal pria dan wanita lengkap berikut aksesoris nya, berbagai macam koleksi barang branded dari dalam maupun luar negeri tersedia di sana.


Sebelum masuk kedalam butik, Fatima terlihat tengah menghubungi seseorang dan berbicara melalui sambungan telepon, tak berapa lama dia menutup panggilannya dan segera mengajak Nabila untuk memasuki butik miliknya.


Kedatangan mereka berdua disambut dengan senyuman ramah pegawai butik, "selamat siang nyonya Yusuf, siang nona," sapa pegawai wanita itu dengan membungkuk sopan kepada mereka berdua.


"Siang Jihan," Fatima membalas sapaan pegawai nya yang bernama Jihan itu dengan tersenyum ramah, "apa Nina ada di dalam?" Tanya Fatima pada Jihan.


"Iya nyonya, nona Nina dan juga nona Tiwi ada di ruangan kerjanya," jawab Jihan seraya menunjuk ke dalam.


"Baiklah, kami akan kedalam," ucap Fatima, "lanjutkan pekerjaanmu Jihan," titahnya pada pegawai nya itu, seraya berjalan masuk menuju ruangan tempat desainer nya bekerja diikuti oleh Nabila yang berjalan di sampingnya.


Jihan pun kembali dengan aktifitasnya semula, bergabung dengan rekan-rekannya untuk melayani pelanggan yang datang.

__ADS_1


Fatima membuka pintu ruangan itu dan segera melenggang masuk, assalamu'alaikum Nina,,, Tiwi,,," sapa nya lembut pada dua desainer kesayangannya itu.


"Kak Fatima,,," seru Nina dan Tiwi kompak, dan segera menghambur memeluk Bos yang sudah seperti kakak bagi mereka.


"Eh, perkenalkan ini Nabila," sambil merangkul pundak gadis yang berdiri di sampingnya itu, "untuk sementara dia yang akan menjadi manager disini," ucap Fatima menjelaskan. "Jadi, kakak minta tolong kalian berkerjasama lah dengan Billa," titahnya pada dua desainer itu.


Nabila segera mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan memperkenalkan dirinya kepada Nina dan Tiwi secara bergantian, "semoga kita bisa menjadi partner yang baik," ucap Nabila penuh harap.


Kedua desainer itu mengangguk menyetujui keinginan Nabila.


Tengah asyik mengobrol, keempat wanita itu dikejutkan dengan suara bariton yang tiba-tiba hadir di ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kakak,,, sayang,,," seru Rehan seraya menghampiri Fatima dan Nabila yang sedang duduk di sofa.


Seperti biasa, Nina dan Tiwi langsung terpesona pada sosok tampan adik dari Bos nya itu.


"Kalau datang itu ucapkan salam, enggak ngagetin seperti ini?" Protes Fatima pada sang adik.


Rehan hanya nyengir menanggapi protes dari sang Kakak.


Sedangkan Nabila hanya menggeleng-gelengkan kepala, dan senyum-senyum sendiri.


"Kakak gak update dik, coba deh kamu kasih lihat sama mereka?" Sambil menunjuk Nina dan Tiwi. "Kalau emang ada, ambil aja sesuka kamu," lanjutnya enteng.


"Yes,,," Rehan kegirangan, "makasih kakakku yang paling cantik," puji Rehan sambil mencubit pipi sang kakak.


"Auw,,," teriak Fatima, "sakit tau dik,," protes Fatima sambil mengusap pipinya yang kemerahan.


"Ups, sorry kak, sengaja," sambil menjauh dari sang kakak untuk menghindari pembalasan.


Nina dan Tiwi yang memperhatikan sikap hangat laki-laki tampan pada kakaknya itu saling lempar senyum, entah apa yang mereka pikirkan tentang sosok laki-laki yang telah lama mereka idolakan itu.


Sudah bukan rahasia lagi, jika Nina dan Tiwi sudah lama mengejar CEO tampan pemilik RPA Group. Meski seringkali pil pahit yang mereka telan karena sikap Rehan yang selalu dingin dan sangat sulit untuk didekati, pun demikian mereka berdua tak pernah menyerah.


Rehan menghampiri Nina dan Tiwi, membuka layar ponsel dan mencari gambar stelan jas di galery ponselnya, kemudian menunjukkan nya kepada Nina dan Tiwi.


Kedua desainer itu saling tatap,,, "oh, itu koleksi limited edition dari brand XX yang banyak diperebutkan oleh para CEO muda, dan kebetulan kita punya stoknya yang baru datang kemarin," Nina menjelaskan tentang koleksi terbaru di butik itu sambil tersenyum hangat.

__ADS_1


"Bisa saya lihat," titah Rehan dengan suara tegas dan wajah datarnya.


"Tentu bang Rehan, mohon tunggu sebentar," jawab Tiwi lembut dan segera bergegas untuk mengambil barang yang dimaksud Rehan.


"Ini dia bang Rehan," ucap Tiwi menunjukkan barang yang baru saja diambilnya, dan mulai membuka pembungkus nya dengan sangat hati-hati.


"Ada dua warna yang kita miliki bang," Nina membantu untuk menjelaskan, "warna navy,,," ucapnya seraya mengambil stelan jas yang baru saja dibuka dari tangan Tiwi, "dan yang itu warna krem" sambil menunjuk stelan jas yang baru di buka oleh Tiwi.


Rehan tampak berpikir,,, "boleh saya bawa ke sana?" Seraya mengambil kedua stelan jas itu dari tangan Nina dan Tiwi tanpa menunggu persetujuan dari kedua gadis itu.


Nina dan Tiwi hanya bisa termangu,,,


Sedangkan Rehan nampak berjalan kearah sofa mendekati Nabila, "sayang,,, bagus yang warna apa?" Rehan meminta pendapat pada kekasihnya yang sedari tadi memperhatikan nya dari tempatnya duduk.


"Kalau Billa gak salah tebak, abang lebih suka yang warna navy ini kan?" Nabila bertanya balik pada laki-laki pujaan hatinya sambil menunjuk stelan jas yang berwarna navy.


"Kok kamu tahu sayang?" Rehan bertanya bingung.


"Kan Billa merhatiin abang dari tadi,,," jawab Nabila malu-malu.


"So sweet,,," goda Fatima pada calon adik iparnya.


"Ih kakak,,, apaan sih?" Nabila semakin tersipu.


"Tapi beneran warna itu cocok kok di kulit abang yang putih bersih," ucap Nabila meyakinkan pilihannya.


"Oke, abang ambil yang warna navy," ucap Rehan menyetujui pilihan kekasihnya.


Sementara Nina dan Tiwi yang menyaksikan dari tempat mereka berdiri, saling berbisik dan tersenyum kecut mendapati kenyataan bahwa ternyata gebetan mereka telah memiliki kekasih.


"Nina, tolong yang dipilih adikku yang tampan ini dibungkus ya,,, dan masukkan kedalam tagihan ku," titahnya pada Nina salah seorang desainer nya. "Sudah punya duit banyak tapi masih aja minta gratisan," ledek sang kakak dengan tersenyum menggoda kepada adiknya.


"Baik kak," jawab Nina dan segera mengambil kedua stelan jas dari tangan Rehan tanpa banyak bicara.


Sedangkan Rehan terlihat menanggapi ledekan dari Fatima, "minta sama kakak sendiri yang cantiknya membahana ini, gak apa-apa juga kali kak??" Protes Rehan sambil memeluk manja pada sang kakak.


"Iya,, iya,, mau dibuatin baju pengantin sekalian gak dik?" Tanya Fatima menatap kepada Rehan dan Nabila bergantian.

__ADS_1


Kedua sejoli itu hanya saling tatap dan melempar senyum, entah apa yang mereka pikirkan...


__ADS_2