Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Kecupan Pertama


__ADS_3

"Apa benar seperti itu Saras?!" Tanya pak Gun dengan intonasi sedikit meninggi.


Saras terus menunduk dan membisu,,


"Saras,, kamu bisa dengar papa kan? Atau kamu mau kita kehilangan perusahaan?" Seru pak Gun mulai emosi.


"Maaf pa,," ucap Saras lirih, sambil melirik sekilas sang papa.


"Papa tidak butuh permintaan maaf mu, papa ingin dengar penjelasan dari mu!" Pak Gun mulai membentak.


Nabila kaget, reflek dia mengeratkan genggaman tangannya yang sedari tadi belum terlepas dari sang suami.


Rehan yang mengerti ketidak nyamanan Nabila, segera mengusap punggung istri nya itu untuk memberikan rasa tenang.


Mendengar kemurkaan papa nya yang tidak main-main, Saras mulai mengangkat wajahnya, "Saras melakukannya karena iri sama Nabila pa," ucap nya lirih. "Nabila selalu saja bisa mengalahkan Saras dalam banyak hal, di kampus semua dosen memuji kecerdasannya dan laki-laki yang Saras sukai malah menjalin hubungan dengannya," seraya melirik sang suami yang duduk di samping nya.


"Bukankah kamu berpacaran dengan almarhum..."


"Aku tidak mencintainya Hendra," tukas Saras cepat, memotong pembicaraan suami nya. "Dia hanya pelarian bagiku," lanjut nya menjelaskan.


"Setelah berhasil merebut tunangan Nabila dengan harapan dia merasakan sakit hati seperti yang dulu pernah Saras rasakan, tapi nyatanya dia malah mendapatkan pengganti yang lebih segala-galanya dari Hendra," ucap Saras sendu.


Nabila menggigit bibirnya, hati nya ikut sedih mendengar sahabatnya ternyata menyimpan kebencian mendalam terhadap nya.


Hendra terlihat lesu dan tatapan mata nya kosong


Sedangkan pak Gun nampak mendesah kasar, dia merasa sangat malu kepada Bos RPA Group penanam saham terbesar di perusahaan miliknya.

__ADS_1


"Minta maaflah sama nak Billa,, dan ubahlah perilaku mu itu nak. Buang jauh dendam, iri dan dengki dari hati mu karena itu hanya akan membuat hidup mu tidak tenang dan kamu akan banyak kehilangan kawan," lirih pak Gun menasehati putri nya.


"Nak Billa,,, maafkan Saras ya, om mohon," pintanya dengan sangat.


"Nabila mengangguk dan tersenyum hangat, saya sudah memaafkan nya kok om dan saya juga sudah melupakan semua nya," ucap nya dengan tulus.


"Tuan muda, maafkan kesalahan putri saya, Dan tolong, jangan anda tarik saham anda dari perusahaan saya," ucap pak Gun sambil menatap bos RPA Group itu dengan tatapan memohon.


Rehan yang belum mengerti duduk permasalahannya sejak awal, melirik kearah Asisten Pribadinya.


Alex hanya menanggapinya dengan kedua alisnya.


"Maaf, dalam hal ini saya tidak tahu apa-apa. Untuk kesalahan putri anda terhadap istri saya, tergantung bagaimana dengan sikap putri anda terhadap istri saya. Jika putri anda tidak punya iktikad baik untuk meminta maaf dan memperbaiki perilakunya ke depan, dengan sangat terpaksa maka segala keputusan saya serahkan kepada Asisten saya, Alex." Ucap Rehan dengan sengaja menekankan nama istri, untuk memberitahukan pada semua bahwa Nabila bukanlah gadis biasa yang bisa di sakiti dan di permainkan, tapi dia adalah istri dari pemilik perusahaan besar yaitu RPA Group.


Air muka pak Gun semakin nampak sedih,, dia gak sanggup membayangkan jika harus kehilangan perusahaan yang sudah dia rintis sejak masih muda dulu. Dan sekarang ketika perusahaan miliknya yang kecil itu sudah berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan nasional sekelas RPA Group, dan berhasil meraih keuntungan yang berlipat-lipat, tiba-tiba saja dalam sekejap semua harus hilang karena keegoisan putri nya sendiri. "Nak, pikirkanlah bagaiman nasib bayimu ke depan, jika kita kehilangan semua nya." Pinta pak Gun pada sang putri dengan penuh pengharapan.


Nabila hanya diam, dia merasa Saras melakukannya dengan tidak sungguh-sungguh karena dia dibawah tekanan dari banyak pihak. Namun Nabila tidak mempermasalahkan hal itu, Nabila merasa sedih karena sahabatnya telah kehilangan akal sehat hanya karena dendam dan kebencian yang dia simpan di hati nya. "Ras, tatap mataku," titah nya dengan lembut.


Saras menurut, mencoba menatap dalam mata Nabila.


Untuk beberapa saat tatapan kedua nya saling bertaut, seakan berkomunikasi dari hati ke hati.


"Jika dulu aku pernah melukaimu tanpa aku sadari, maafkan aku... tapi jangan kamu siksa dirimu dengan menyimpan dendam mu di hati. Untuk masalah kita kali ini, aku anggap sudah selesai. Tapi jika aku mendengar kamu dengan sengaja melakukan hal bodoh lagi, apalagi jika itu membuatku tidak nyaman,,, maka aku tidak akan segan-segan untuk menempuh jalur hukum untuk menyelesaikannya," ucap Nabila dengan sangat tenang dan tegas.


Rehan terkesima mendengar penuturan sang istri yang diam-diam menghanyutkan, dia tatap istri nya dengan penuh rasa syukur, dan kemudian tersenyum bahagia.


Nabila yang merasa diperhatikan oleh suami tampannya, membalasnya dengan tatapan penuh cinta.

__ADS_1


Hendra yang menyaksikan pemandangan yang dipertontonkan sepasang suami istri yang baru saja resmi menikah itu hati nya bagai tersayat sembilu, perih tapi tak berdarah.


Saras membuang pandangannya, masih nampak kebencian dari wajahnya,,, namun dia sama sekali tak berdaya.


"Oke, urusan saya dan istri sudah selesai disini,,, untuk selanjutnya saya serahkan pada Asisten Pribadi saya." Seraya beranjak dengan membawa serta sang istri untuk segera meninggalkan ruangan itu dan kembali ke rumah Nabila.


Nabila sempat berhenti sejenak di depan Alex, "tolong, jangan libatkan urusan pribadi dengan urusan perusahaan," lirih nya dan segera berlalu mengikuti langkah sang suami.


*****


"Darimana saja kalian nak, tadi tante dan om kamu nyariin mau pamit pulang ke Yogya," ucap mama Sekar menyambut putra dan menantu baru nya dari pintu masuk.


"Tadi menemui teman di rumah sebelah ma," jawab Nabila tak ingin memanjangkan urusan.


'Oh, ya udah,, kalian bersih-bersih dulu sana, bentar lagi maghrib," titah mama Sekar menatap hangat putra dan menantu nya.


Kedua nya mengangguk dan tersenyum pada wanita paruh baya yang berwajah ayu dan sangat anggun itu.


Di dalam kamar, Nabila segera melepas aksesoris yang menempel di kepalanya dengan dibantu oleh sang suami yang berdiri dibelakangnya dengan telaten melepas satu persatu aksesoris itu. Setelah aksesoris terlepas semua, Nabila segera melepas hijab nya,,, hingga nampak rambutnya yang masih terikat.


Dengan inisiatifnya, Rehan membuka ikatan rambut sang istri hingga nampak rambut hitam dan panjang milik Nabila tergerai indah, dari pantulan cermin tak henti Rehan memandang wajah istri nya dengan tersenyum penuh arti... dan tangannya terus membelai rambut indah sang istri.


"Abang kenapa lihatin Billa seperti itu?" Tanya sang istri malu-malu.


Dari pantulan cermin, Nabila melihat sang suami menunduk dan mendekatkan wajahnya, dekat dan semakin dekat,,, hingga hembusan hangat nafas sang suami sangat terasa di wajah nya. Nabila memejamkan mata nya, menikmati sentuhan lembut dan hangat bibir sang suami di keningnya, kemudian beralih ke kedua kelopak mata nya, ciuman itu terasa hangat hingga membuat jantung Nabila berdesir.


Rehan menjauhkan sedikit wajahnya dan menatap lekat mata sang istri, sedetik kemudian kembali dia mendekatkan wajahnya dan dengan sangat lembut Rehan memberikan kecupan pertamanya di bibir sang istri, kecupan yang hangat dan ringan namun mampu membuat jantung kedua nya berdegup kencang.

__ADS_1


Segera Rehan menghentikan aksi nya, dan di telinga sang istri dia berbisik, "jama'ah maghrib dulu yuk sayang."


__ADS_2