
Nabila nampak kebingungan memilih kado untuk sahabat nya, "bang, beliin apa ya?" Sambil menatap sang suami, yang dengan posesif terus memeluk pinggang nya.
"Sahabat kamu itu kesukaan nya apa?"
Sejenak Nabila berfikir, "tas aja kali ya bang,, dia itu fashionable banget orang nya, kalau memakai sesuatu harus matching semua dari atas sampai bawah." Ucap Nabila mengingat-ingat gaya berpakaian sahabat nya.
Rehan membawa istri nya menuju tempat khusus tas, nampak di etalase berjajar rapi tas-tas branded koleksi dalam maupun luar negeri.
Lagi-lagi Nabila kebingungan memilih,, dia yang berasal dari keluarga sederhana dan terbiasa memakai barang-barang yang tidak terlalu mahal, dibuat ternganga menatap tas yang di bandrol dengan harga yang fantastis menurut nya itu.
"Yang ini bagus sih, tapi kok mahal banget.. di atas lima puluh juta?" Gumam nya dalam hati, sambil memperhatikan tas berwarna coklat muda yang nampak sangat elegan.
Cukup lama Nabila mengamati tas itu, hingga suara maskulin sang suami membuyarkan lamunan nya, "jadi pilih mana?" Tanya Rehan lembut, "mau yang ini?" Rehan mengambil tas yang sedari tadi diamati oleh sang istri.
Nabila tampak ragu,, "yang lain aja deh bang, itu mahal,,," ucap nya lesu.
"Dia sahabat baik kamu atau hanya sekedar teman kantor yang?" Selidik Rehan.
"Sahabat baik," jawab Nabila mantap, "dia juga yang membantu menyelidiki kasus pemecatan Billa kala itu, bersama pak satpam," lanjut nya mengingat kembali kisah itu.
"Untuk sebuah persahabatan, harga segini itu gak ada artinya yang,,, karena sahabat adalah seseorang yang sangat berharga, dan sangat berarti dalam hidup kita," ucap Rehan menatap hangat netra hitam sang istri.
"Iya, Billa tahu itu bang,,, tapi Billa gak punya uang segitu banyak bang, Billa kan udah enggak kerja?" Ucap Nabila polos.
Rehan terkekeh,,, "nyonya bos tidak punya uang dan tidak mampu membeli tas ini? Benar-benar pelit suami anda nyonya,,," ucap Rehan pura-pura menyindir dirinya sendiri.
"Billa kan emang belum pernah dikasih uang sama abang,,," protes Nabila.
Rehan kembali tertawa,,, "coba deh cek dompet kamu yang," pinta Rehan masih dengan raut wajah senang nya.
"Kok bisa ada kartu ini?!" Seru Nabila terkejut, sambil mengambil black card dari dalam dompet nya. "Abang yang naruh di dompet Billa? Sejak kapan?" Tanya Nabila menuntut jawab.
"Sejak kita resmi menjadi suami istri,,," jawab Rehan santai, "dan abang juga sudah mengatakan ini sama kamu, bahwa kamu bebas menggunakan nya. Di habiskan juga tak mengapa, dan abang siap untuk mencari nya lagi... abang kerja hanya untu kamu dan anak-anak kita, uang abang semua nya milik kamu," ucap Rehan dengan serius.
Hati Nabila menghangat, dan dia merasa sangat bahagia... "makasih ya bang," lirih nya sambil memeluk suami nya. "Tapi,,, kok Billa sama sekali enggak ingat ya bang?" Nampak dahinya mengernyit untuk mengingat-ingat sesuatu.
Kembali Rehan tertawa,,, "tentu saja sayang, karena saat itu perhatian mu tengah fokus sama bentuk tubuh ku yang six pack dan menggairahkan,,, kamu terpesona dengan keperkasaan suami mu ini sayang,,," ucap Rehan lirih di telinga sang istri, sambil mengerling nakal.
__ADS_1
"Ih,,, abang narsis," gerutu Nabila sambil membuang muka, menyembunyikan rona merah di wajah nya.
"Tapi kamu suka kan yang?" Rehan masih saja menggoda istri nya.
"Iya abang sayang,,," ucap Nabila akhirnya mengakui, "daripada gak selesai-selesai tingkah absurd nya, mending aku iya in aja," gumam Nabila dalam hati.
"Nah, gitu dong.." ucap Rehan tersenyum senang, seraya mengacak lembut puncak kepala sang istri.
"Mbak, bungkus ini ya..." titah Rehan pada salah seorang karyawan butik kakak nya.
"Baik tuan muda," jawab karyawan itu patuh dan segera mengambil barang yang di maksud oleh adik dari bos nya itu.
"Makasih ya mbak Reni," ucap Nabila ramah pada karyawan butik itu.
"Sama-sama nyonya muda," balas Reni dengan senyuman hangat.
"Panggil saya Billa aja mbak Reni, kesan nya Billa kayak merasa udah tua banget kalau di panggil nyonya,,," ucap nya bercanda.
"Mbak Billa bisa aja," ucap Reni tersenyum senang. "Saya permisi dulu ya mbak Billa,," lanjut Reni yang merasa sungkan berada di dekat sepasang pengantin baru, yang sedari tadi sang suami nampak memamerkan kemesraan.
"Mau apa lagi yang?"
Rehan mengajak sang istri berjalan menuju area khusus dimana gaun-gaun malam terpajang dengan indah, "silahkan pilih sesukamu yang,,," ucap Rehan sambil menunjuk deretan gaun-gaun yang terlihat semakin cantik jika di dekati.
"Untuk apa bang? Yang di beliin kak Fatima di Singapura waktu itu juga banyak yang belum di pakai? Mending uang nya buat kebutuhan yang lain?" Tolak Nabila dengan halus.
Rehan tersenyum, dalam hati dia mengagumi kesederhanaan istri nya, "besok katanya mau menghadiri acara nikahan sahabat, abang boleh ikut gak sih?" Selidik Rehan.
"Ya harus ikut lah bang,, Billa kan istri abang? Atau abang malu punya istri kayak Billa dan bermaksud untuk menyembunyikan pernikahan kita?" Cecar Nabila.
"Bukan begitu sayang,,, justru abang juga mau ajak kamu menghadiri resepsi pernikahan sahabat abang, sekaligus memperkenalkan nyonya bos pada mereka."
"Oh iya,, kapan?" Tanya Nabila nampak senang.
Sejenak Rehan mengingat-ingat, "loh, kok bisa benturan gini acara nya ya yang,,, sahabat abang resepsi nya besok malam, kalau sahabat kamu jam berapa?"
"Malam juga bang,,," ucap Nabila dengan tidak bersemangat, "terus gimana bang,, masak pergi sendiri-sendiri?" Ucap Nabila merajuk manja.
__ADS_1
"Sahabat kamu akad nikah nya malam juga?" Selidik Rehan.
"Maksudnya?" Tanya Nabila tak mengerti.
"Gimana kalau kita hadir di acara sahabat kamu itu pas akad nikah nya, dan di acara sahabat abang pas resepsi nya,,, jadi kan tetap bisa kita hadiri semua?" Rehan memberikan solusi. "Resepsi nya bakda isya,,, kayak nya bisa keburu dua-dua nya," lanjut nya mengatur jadwal.
Nabila mengecek ponsel nya, melihat kembali undangan dari sahabat yang sempat di fotonya, "akad nikah bakda maghrib bang, terus lanjut resepsi."
"Tempat nya dimana?" Tanya Rehan sedikit khawatir, takut waktu nya gak keburu jika tempat nya berjauhan.
"Di daerah Jakarta Barat, Hotel XX," jawab Nabila.
"Kok, tempat nya juga bisa sama ya? Ah, hotel itu kan luas, dan memiliki banyak gedung pertemuan... pasti hanya kebetulan," gumam Rehan dalam hati.
"Mbak,," panggil Rehan pada seorang karyawan yang sedari tadi telah bersiap melayani keinginan adik dari pemilik butik tempat nya bekerja.
"Siap tuan muda, ada yang bisa saya bantu?" Wanita itu bertanya bertanya dengan sopan dan tersenyum ramah.
"Pilih kan dua gaun muslimah yang paling bagus untuk istri saya, kamu tanyakan saja pada Nina atau Tiwi untuk size nya," titah Rehan pada karyawan butik.
"Baik tuan muda, kalau begitu akan segera kami siapkan," ucap nya sambil membungkuk hormat.
"Saya permisi nyonya muda," pamit nya pada Nabila.
"Panggil saya seperti biasanya aja mbak Wati, jangan sungkan," ucap Nabila seraya tersenyum hangat pada karyawan butik yang telah di kenal nya itu.
Karyawan yang di panggil Wati itu pun mengangguk dan tersenyum ramah, kemudian segera berlalu untuk mempersiapkan pesanan Rehan.
"Yang, beli kado untuk sahabat abang sekalian ya?" Pinta nya seraya mengajak sang istri menuju counter khusus aksesoris yang berada di bagian depan butik Fatima.
Nampak Rehan melihat-lihat jam tangan yang berjajar rapi di dalam etalase kaca, "lihat yang couple itu mbak,," ucap Rehan pada karyawan yang bertugas.
Gadis berseragam butik Putri Alamsyah itu menyodorkan jam tangan couple yang nampak mewah itu kepada Rehan, "wow,, ini bagus sekali bang, dan kelihatan elegan," bisik Nabila.
"Ya, ini berlian asli," sambil menunjuk batu yang berkilauan yang mengelilingi angka di jam tangan tersebut.
Nabila melirik harga yang tertera pada kotak tempat jam tangan couple tersebut, "gila,, hampir setengah Em!" Pekik nya dalam hati.
__ADS_1
"Abang kado ini aja ya?"
Nabila hanya mengangguk pasrah,,, dan tersenyum simpul, entah apa yang dipikirkan nya.