
Di bar XX terlihat Alex menuntun sang Bos masuk ke dalam untuk menemui Vincent, keras nya suara musik yang terdengar membuat sakit gendang telinga Rehan yang tidak terbiasa berada ditempat seperti itu, wajah Bos RPA Group itu nampak masam dan berjalan mengekor langkah sang Asisten dengan langkah yang malas.
Dari kejauhan nampak wanita cantik dan seksi melambaikan tangan kearah mereka berdua, seraya tersenyum manis.
"Mereka di sana Bos," ucap Alex sedikit berteriak berlomba dengan bisingnya suara musik, sambil menunjuk ke sebuah meja.
Hello tampan,,, akhirnya kamu datang juga," sapa gadis berkulit putih, tubuh nya tinggi semampai dengan body seksi bak gitar spanyol dengan suara merdunya.
Rehan mendekati gadis itu dan mengulurkan tangan nya, "apa kabar Jessy,,, lama kita tak bertemu, kamu semakin cantik," puji Rehan pada sang gadis yang ternyata adalah Jessica, mantan pacarnya. Kemudian Rehan mencium punggung tangan Jessica lembut dan tersenyum manis.
Alex yang menyaksikan adegan tersebut melotot tajam kepada sang Bos, tangannya mengepal menahan amarah.
Mendapat perlakuan manis dari Rehan, Jessica nampak semakin angkuh dan tersenyum licik kepada Asisten Alex.
Rehan kemudian duduk tepat di seberang Jessica, sesaat kemudian netra nya menatap kearah laki-laki bule yang duduk di samping Jessica. "Apa kabar brother?" Tanya Rehan datar.
"I'm oke,,," jawab laki-laki yang tak lain adalah Vincent dengan pelan.
"Alex bilang, ada yang mau lu sampai kan? Bisa kita bicara empat mata? Hanya kita berdua!" Titah Rehan dengan suara tegas.
"Sayang,,, aku ikut??" Pinta Jessica dengan manja.
"Jessy,,, tidakkah kau ingin menghabiskan malam panjang ini berdua denganku?" Ucap Rehan lembut, seraya mengerling menggoda Jessica.
"Oh,,, tentu saja aku mau sayang," jawab Jessica tersenyum senang.
Alex semakin meradang mendengar obrolan Bos dan mantan pacarnya itu namun dia masih mencoba untuk menahan diri, terlihat dia menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti dengan sikap Rehan.
"Kalau begitu tunggu lah disini sebentar, biar aku selesaikan dulu urusan dengan Vincent," titah nya pada Jessica, dan segera beranjak dari tempat duduk nya.
"Yes,,, akhirnya malam ini gue bisa pasti kan, tambang emas gue yang telah lama hilang akan segera kembali," gumam Jessica dalam hati, senyuman licik tersungging di sudut bibirnya.
"Lex, gue butuh private room..." pinta Rehan pada sang Asisten.
Alex yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya, menuntun langkah atasannya itu menuju tempat yang di maksud.
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan, dengan Vincent yang mengekor di belakang keduanya.
Sesaat setelah Alex meninggalkan Rehan dan Vincent di private room, "apa yang lu inginkan?" Tanya Rehan langsung pada intinya kepada laki-laki yang duduk di depannya.
"Gue mau mengelola perusahaan yang disini kembali, dan gue janji akan menyerahkannya pada anak gue kalau dia sudah dewasa nanti," jawab Vincent lugas.
"Anak?" Rehan mengernyit,,, "sejak kapan lu mengakui Kevin sebagai anak lu?" Tanya Rehan dengan tatapan tajam tepat di manik biru milik Vincent.
"Kenyataannya Kevin itu anak gue bang, gue punya bukti surat nikah dengan Keyla dan di akte kelahiran Kevin tertulis nama gue sebagai ayahnya bukan? Jadi gue berhak untuk mengambil dan mengasuh Kevin, serta mengelola perusahaan yang kepemilikannya telah diatasnamakan Kevin," ucap Vincent menggebu-gebu.
Rehan menghela nafas panjang,,, "apakah dulu kalian benar-benar saling mencintai?" Tanya Rehan menatap intens kedalam netra Vincent seakan menelisik kejujuran dari laki-laki tersebut.
"Ya, kami saling mencintai,,," sejenak Vincent terdiam, "maaf, jika gue sudah membuat Keyla terluka," ucapnya lirih, nampak jelas penyesalan di raut wajah bule nya.
"Apa lu pernah mencari tahu, apa yang dialami Keyla,,, setelah pengkhianatan yang lu lakukan dengan sekretaris ****** itu terhadap adikku?" Tanya Rehan dengan suara yang dalam, menahan kesedihan.
Terlihat Vincent menggeleng lemah,,, "gue dibutakan oleh cinta yang ditawarkan oleh Cilla, hingga dengan bodohnya gue melupakan dan meninggalkan wanita sebaik Keyla," ucap Vincent sendu. "Gue nyesel bang, Priscilla sudah mengambil semua milik gue, dan ketika gue jatuh bangkrut,,," sejenak Vincent terdiam, "dia pergi dengan laki-laki lain," lanjutnya getir.
Suasana sejenak hening,,,
"Keyla mengalami depresi dan menjalani kehamilannya dengan sangat berat, tapi karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap lu, dia bersikukuh untuk tetap melahirkan buah cinta kalian, meski dia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri." Rehan mendesah kasar, matanya mulai berembun mengingat perjuangan berat sang adik kala itu.
"Di saat-saat terberatnya, hanya gue yang bisa menemani Keyla. Karena papa,,," Rehan terdiam sejenak, "papa mengalami serangan jantung begitu mendengar menantu kesayangannya telah mengkhianati putrinya," ucap Rehan dengan suara tercekat.
Sontak Vincent mendongak, menatap mata Rehan dan mencari kebenaran dari berita tersebut.
"Gue dan kak Fatima berbagi peran, papa diboyong oleh kak Fatima untuk menjalani perawatan intensif di Singapura sedangkan Keyla menjadi tanggung jawab gue."
Keduanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Maaf bang, gue benar-benar tidak tahu jika akibatnya akan seburuk itu untuk Keyla dan juga papa," ucap Vincent menyesal.
"Huh,,," Rehan menghembus kasar nafasnya, "semua sudah terjadi, gak ada gunanya juga di sesali," ucap Rehan datar. "Yang terpenting saat ini adalah menjaga dan mendidik Kevin dengan baik!" lanjutnya penuh penekanan.
"Bang, gue janji akan menebus semua kesalahan gue dengan merawat dan menyayangi Kevin," pinta Vincent sungguh-sungguh.
__ADS_1
Rehan menarik nafas dalam memenuhi rongga paru-parunya, dan menghembuskan kuat-kuat seakan hendak membuang semua beban berat yang menghimpitnya. Mencoba mengontrol emosinya, dan terlihat membetulkan duduknya.
Rehan menatap dalam netra biru milik Vincent, seraya bertanya, "pernahkah lu memikirkan perasaan Kevin?"
Vincent mengernyit, "maksud abang?"
Rehan terdiam, tak langsung memberikan jawaban...
Vincent nampak semakin bingung dibuatnya, terlihat dia sangat gelisah dan duduk dengan tidak tenang.
"Sejak lahir Kevin hanya mendapatkan curahan kasih sayang dari gue,,," Rehan menjeda ucapannya, "dan gue harus memerankan diri sebagai daddy nya, dengan harapan agar Kevin tidak merasakan hidup sendirian tanpa kedua orang tua. Dan gue tidak punya pilihan lain saat itu, karena kenyataannya ibunya meninggal saat melahirkan nya dan ayah nya tidak pernah menganggapnya ada bahkan sejak dia masih dalam kandungan!" Ucap Rehan sedikit emosi.
Vincent terhenyak mendengar kata-kata Rehan, penyesalan demi penyesalan memenuhi dan menyesakkan dadanya.
"Dan setelah sekian lama, tiba-tiba lu muncul untuk menjadi pahlawan kesiangan dan mengaku menjadi ayah nya? Anak seusia Kevin,,, tidakkah lu berfikir apa yang lu lakukan itu justru akan berdampak buruk untuk perkembangan psikologisnya?" Cecar Rehan.
"Lantas, apa yang harus gue lakukan bang?" Tanya Vincent lesu.
"Perbaiki diri lu, buktikan bahwa lu bisa menjadi orang tua yang baik untuk Kevin nanti. Bekerjalah yang benar, dan cari pekerjaan halal,,, tinggalkan bisnis ilegal itu!" Rehan terlihat mengatur nafas nya. "Jika benar lu menyesal dan sayang sama anak lu, biarkan untuk sementara Kevin tetap bersama gue. Gue janji akan memberinya pengertian secara perlahan tentang siapa ayah kandungnya, dan gue butuh waktu karena harus menyesuaikan dengan pemikiran anak seusianya," ucap Rehan sungguh-sungguh.
Lama Vincent terdiam, seakan mencerna setiap kalimat yang meluncur dari bibir Rehan.
"Jangan khawatir, gue tidak akan mengatakan hal buruk tentang orang tuanya kepada Kevin. Bagi gue lu tetap ayah nya, dan tidak ada istilah mantan orang tua bukan?" Ucap Rehan tegas.
"Iya bang, gue ngerti," jawab Vincent lirih, "tapi,,, sebenarnya gue ngajak bertemu abang juga untuk membahas pekerjaan," lanjutnya sungkan.
"Pergilah ke Paris, dan temui Bibi Carla... bantu dia mengurus perusahaan di sana. Paman Zaid sudah meninggal dan bibi sendirian, gue yang akan menghubungi bibi langsung mengenai rencana ini. Jika lu serius pengin berubah dan menjadi lebih baik, tinggalkan teman-teman lu di Inggris yang tidak penting itu dan menetap lah di Paris," saran Rehan panjang lebar kepada Vincent.
"Benarkah yang abang katakan? Gue boleh ikut mengurus perusahaan di Paris?" Vincent bertanya dengan tidak percaya, "gue janji bang, gue janji pada abang akan menjadi orang yang lebih baik," ucapnya penuh semangat.
"Berjanjilah pada diri lu sendiri, dan buktikan bahwa lu bisa menjadi ayah yang bisa dibanggakan oleh Kevin," ucap Rehan penuh penekanan. "Sorry bro,, gue rasa cukup obrolan kita," lanjutnya seraya beranjak.
Vincent pun ikut berdiri, "bang, boleh gue berkunjung ke makam Keyla?" Pintanya memohon.
Rehan mendesah kasar,,, "tentu saja, dia pasti senang dengan kehadiran lu," menghentikan ucapannya sejenak, "Keyla sangat mencintai lu, bahkan hingga akhir nafas nya dia terus saja mengingat kisah cinta kalian," bulir bening keluar dari sudut mata Rehan. "Dan saat dia tahu kalau bayi dalam kandungan nya berjenis kelamin laki-laki, Keyla memberinya nama Kevin sebagai perpaduan nama kalian berdua."
__ADS_1
Vincent tak kuasa menahan air mata, dia merasa menjadi laki-laki bodoh dan kejam. Vincent menghambur memeluk Rehan, "maafkan semua kesalahan gue bang,,, maaf," ucapnya terbata.
Setelah beberapa saat, Rehan melerai pelukannya,,, "keluarlah, gue pengin sendiri," ucapnya singkat.