
Papa Sultan yang mendengar nama kesayangan untuk nya dari gadis kecil dimasa lalunya itu disebut kan, seketika membulatkan matanya dan segera berdiri, "adik,, adik manis? Benar kah ini kamu? Adik manis ku,,, Bintang Kejora ku?" Ucap nya dengan suara bergetar.
Bu Lin yang mendengar nama kecil nya disebut kan dengan sangat lengkap oleh seseorang yang dia yakini sebagai abang bule nya dimasa dahulu, seketika menghambur memeluk papa Sultan menumpahkan semua kerinduan dan kesedihan yang selama ini dia simpan rapat-rapat di hatinya.
Mama Sekar yang menyaksikan kejadian itu, segera turut berdiri dan menghampiri dua orang yang saling melepas rindu itu, "adik manis, tidak kah kamu rindu sama mbak mu ini?" Ucap nya lembut seraya mengelus punggung bu Lin.
Bu Lin seketika melerai pelukannya dan menengok ke belakang dimana mama Sekar telah berdiri menunggu untuk memeluk nya, "mbak Bunga," seru bu Lin seraya memeluk erat mama Sekar, keduanya terisak dan mencoba mengobati rasa rindu dengan saling mengeratkan pelukan.
Papa Sultan memeluk kedua wanita yang disayanginya dengan perasaan yang tak bisa dia lukis kan, mereka bertiga saling memeluk hingga beberapa saat lamanya.
Semua mata yang menyaksikan adegan itu dibuat terkejut sekaligus terharu tak terkecuali Ilham yang melihat dari balik jendela kaca, banyak tanya dibenak mereka yang ingin segera menuntut jawaban dari ketiga orang yang sedang berdiri dan saling berpelukan.
"Pa, ma," ucap Fatima mengagetkan ketiga orang yang sedang melepas rindu itu, "boleh kami tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Fatima mewakili semua mata yang memandang kearah mereka penuh selidik.
Papa Sultan menuntun istri dan adik manisnya untuk duduk, "maaf pak Ilyas, kami hanya terbawa suasana haru... dan tidak bermaksud untuk melupakan keberadaan kalian," ucap papa sultan dengan tak enak hati," sejenak papa Sultan mengatur nafasnya.
"Perkenalkan, nama saya Sultan. Dan ini Sekar, istri saya," papa Sultan memperkenalkan diri dan istrinya seraya mengusap punggung tangan sang istri. "Istri pak Ilyas ini adalah putri dari sahabat papa saya, dan dulu rumah kami saling berdekatan. Dia sangat dekat dengan keluarga kami, dan bagi saya dia ini sudah seperti adik saya sendiri," lanjutnya mengisahkan sambil terus menatap ibu Lin.
Pak Ilyas hanya mengangguk-angguk,,,
"Berarti ibu Lin ini, adik manis yang papa bilang kemarin itu?" Selidik Fatima.
__ADS_1
"Betul kak, dia ini orang yang papa maksud," ucap papa Sultan seraya melirik ibu Lin.
"Jadi dia itu putrimu bang?" Tanya ibu Lin.
"Iya, dia putri sulung ku," papa Sultan menjelaskan.
"Pantes saja, tadi waktu pertama melihatnya,,, kok wajahnya seperti gak asing? Ternyata wajah cantiknya itu perpaduan sempurna dari wajah bule abang dan kecantikan khatulistiwa milik mbak bunga tho," ucap ibu Lin tersenyum.
"Oh ya, kok putriku panggil kamu Lin?? Kenapa nama kamu jadi Lin? Lantas kemana saja kamu selama ini Bintang?" Cecar papa Sultan kepada ibu Lin.
Sedangkan Nabila yang mendengar papa Sultan memanggil ibu Lin dengan sebutan Bintang pun terkejut dibuat nya. "Bintang??" Seru Nabila.
Ibu Lin yang merasa jadi pusat perhatian semua mata yang menuntut penjelasan darinya, bingung harus memulai ceritanya darimana,,,
Ibu Lin menarik nafas panjang dan terlihat membetulkan posisi duduk nya.
"Saat itu kejadian nya begitu cepat dan sampai saat ini masih ada trauma di hatiku jika mengingat semua nya," ibu Lin mengawali kisah nya dengan terbata. "Saat itu abang bule dan mbak Bunga masih di Paris untuk berbulan madu," sejenak menghentikan ucapannya, menatap papa Sultan dan mama Sekar.
"Iya, mbak ingat itu," ucap mama Sekar menimpali.
"Orang tua kamu meninggal karena kecelakaan,,," papa Sultan mendesah kasar, "dan dihari yang sama, pada malam harinya,,, kamu tiba-tiba menghilang dari kamar mu," ucap papa Sultan sendu, "itu berita yang abang dengar sepulang dari Paris," lanjutnya dengan menitikkan air mata.
__ADS_1
"Abang bule mu menangis saat dengar kabar itu dik,,," timpal mama Sekar seraya memeluk pundak ibu Lin, "bahkan hingga berbulan-bulan bang Sultan dan papa mertua mbak masih terus mencari-cari keberadaan mu."
"Kamu seperti ditelan bumi Bintang,,," ucap papa Sultan, dengan mengusap kasar wajah nya.
Ibu Lin terisak,,, "Setelah papa dan mama dimakamkan, keadaan rumah kembali sepi. Sebenarnya mama bule abang sudah mengajak aku untuk menginap di rumahnya, tapi aku menolaknya bang..." kenang ibu Lin nampak sangat sedih.
"Saat itu tengah malam dan kondisinya sangat gelap, sepertinya listrik sedang padam. Tiba-tiba ada yang masuk ke kamar dan menggendong ku dengan paksa, karena kondisiku yang masih drop dan mengantuk aku tak dapat melawannya. Aku pasrah saja ketika orang itu membawaku masuk kedalam mobil,,," ibu Lin menarik nafas panjang, "baru setelah di dalam mobil, aku baru bisa lihat dengan jelas siapa yang telah membawaku dengan paksa."
"Siapa?" Tanya papa Sultan tak sabar.
Sedangkan yang lain terlihat khusyuk mendengar kan kisah pilu ibu Lin, sesekali terdengar mereka mendesah kasar sekedar untuk menghilang kan ketegangan.
"Dia mang Asep, sopir keluarga ku,, abang ingat kan sama mang Asep?"
"Iya, abang ingat. Dia yang sering mencari mu ke rumah, jika sampai malam menjelang kamu belum juga pulang," jawab papa Sultan kembali mengingat kenangan lama itu.
"Aku senang main ke rumah abang bule,, karena di rumah abang banyak orang, gak seperti di rumah ku yang sepi,,," ibu Lin terlihat sangat sedih mengenang masa lalunya.
"Dik,,, lantas kemana mang Asep membawa kamu? Apa dia menyakitimu?" Cecar mama Sekar, yang nampak tidak sabar mendengar kelanjutan kisah menghilang nya Bintang atau ibu Lin.
"Tidak mbak, mang Asep tidak menyakiti aku,,, bahkan dia mencoba menyelamatkan nyawaku," ucap ibu Lin.
__ADS_1
"Di dalam mobil itu ternyata sudah ada bibi istrinya mang Asep dan anak nya yang masih kecil, mereka berniat untuk pulang ke kampung halamannya di Jawa Barat. Mang Asep mengajakku untuk kabur bersamanya karena mendengar ada yang mau menculik ku, dan mang Asep mencurigai bahwa Om Johan lah orang yang berada dibalik semua kejadian yang menimpa keluarga ku. Berawal dari rem mobil yang tiba-tiba saja blong saat mang Asep mengantarku ke sekolah hingga kecelakaan yang menyebabkan papa, mama dan adikku yang masih bayi pergi untuk selamanya," kembali ibu Lin terisak.
Semua yang mendengar kisah tragis ibu Lin menitikkan air mata, tak terkecuali pak Ilyas yang senantiasa mengerutkan kening nya sejak awal istrinya bercerita, entah apa yang dia pikirkan.