
Selesai menyalami kedua orang tua Hendra sekaligus mantan calon mertua nya, yang juga diikuti oleh Rehan yang masih setia mengekor di belakangnya, Nabila segera menghampiri sepasang mempelai yang terlihat tengah berbahagia.
"Mas, selamat menempuh hidup baru, semoga kebahagiaan selalu menyertai mu," Nabila mengulurkan tangannya menyalami Hendra dan tulus memberikan do'a terbaik untuk pernikahan Hendra mantan tunangannya itu, dia mengucapkan nya tanpa canggung seolah tiada beban yang menghimpit nya.
"Terimakasih Bill,,," jawab Hendra tercekat, seperti ingin mengeluarkan kata-kata lagi namun mulutnya serasa terkunci. Hendra hanya bisa menatap mata Nabila dalam-dalam, tatapan yang menggambarkan penuh penyesalan. Dia terus menggenggam erat jabat tangan Nabila seolah-olah enggan untuk melepaskannya lagi, dan tanpa dia sadari matanya mulai berembun.
"Ehm,,," terdengar suara seseorang yang berada tepat di samping Hendra berdeham.
Nabila buru-buru menarik tangannya dari genggaman erat tangan Hendra dan segera menghampiri Saras, setelah tepat berada dihadapan Saras Nabila terlonjak kaget ketika dengan tiba-tiba mempelai wanita itu memeluknya dengan erat. "Ras, selamat ya... semoga pernikahan kalian selalu dalam kebahagiaan," ucap Nabila sambil menahan nafas untuk menguasai hatinya agar tidak terbawa perasaan.
"Kamu tahu sekarang Bill, kalau dia itu milikku... hanya milikku, dan jangan pernah coba-coba untuk mengganggunya lagi!" Bukan ucapan terimakasih yang Saras sampaikan tapi justru ancaman yang bernada ketus, meskipun dia mengucapkannya dengan sangat pelan dan hanya bisa di dengar oleh mereka berdua saja.
Saras segera melepaskan pelukannya dan tersenyum penuh kemenangan pada Nabila, yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala oleh gadis berhijab itu.
Nabila berhenti sejenak di samping Saras untuk menunggu Rehan menyalami kedua pengantin, nampak Rehan menjabat tangan Hendra, "Selamat menempuh hidup baru," ucapnya dengan tersenyum penuh arti," perkenalkan saya Rehan, calon suami Nabila," lanjutnya dengan suara tegas dan penuh wibawa.
Mendengar perkataan laki-laki asing di hadapan nya barusan membuat Hendra dan juga Saras yang berdiri tepat di samping nya dibuat terkejut, keduanya nampak melongo,,, "Jangan bercanda tuan, gak mungkin secepat itu Nabila move on dari saya," tegas Hendra dengan penuh percaya diri, "saya pacar pertamanya, dan saya tahu dia sangat mencintai saya," ucapnya lagi sambil tersenyum bangga.
"Anda memang yang pertama bro, tapi Anda bukanlah yang terbaik..." sejenak menjeda kalimatnya, "karena pada akhirnya cinta yang pertama akan kalah dengan cinta yang terbaik dan cinta yang datang terakhir," lanjutnya menegaskan sambil melirik dan tersenyum manis kearah Nabila.
Hendra hanya bisa tersenyum kecut mendengar sindiran telak dari Rehan, terlihat dia membuang kasar nafasnya berkali-kali yang menggambarkan kegundahan dan kecemburuan di hatinya.
__ADS_1
Nabila yang memperhatikan pembicaraan mereka berdua hanya bisa termangu, "apa benar yang disampaikan bang Rehan itu tadi?" tanyanya dalam hati dan sedetik kemudian tersungging senyuman manis di bibir tipisnya.
Terlihat Rehan menghampiri Saras, menangkup kan kedua tangannya di depan dada, "selamat atas pernikahan nya nona," ucapnya datar tanpa ekspresi dan segera berlalu menghampiri gadis pujaan hatinya yang masih setia menunggunya di samping Saras.
Saras tertegun, menatap penuh selidik sosok laki-laki asing yang datang bersama Nabila itu. "Tampan sekali dia,,, wajah blasteran dengan mata birunya terlihat sangat tampan, kulitnya yang putih, badannya tinggi dan tegap, semakin menambah pesona ketampanannya. Dan dari penampilannya aku bisa menyimpulkan kalau dia bukan dari kalangan biasa, pakaiannya saja branded semua dari atas kebawah," gumamnya dalam hati, mengagumi sosok Rehan yang sangat sempurna. "Sialan, kenapa Nabila selalu bisa mendapatkan yang terbaik?" Rutuk nya masih dalam hati.
Rehan dan Nabila melanjutkan menyalami orang tua Saras, sekaligus untuk berpamitan. Keduanya kemudian menuruni pelaminan dengan berjalan beriringan.
Setibanya di luar gedung, ternyata gerimis turun membasahi bumi. "Bagaimana perasaan kamu sekarang Bill?" selidik Rehan menatap hangat pada Nabila.
"Baik kok bang, santai aja,,," jawab Nabila sambil tersenyum senang.
"Oh ya, tadi abang bilang mau ngomong sesuatu?" tanya Nabila penuh selidik.
"iih,,, abang,,," Nabila mengerucut kan bibirnya, "kalau gak mau mengatakan ya udah," masih dengan mode merajuk.
"Iya,,, iya,,, tapi nanti," akhirnya Rehan mengalah, "sekarang kita cari makan dulu aja ya, jam makan siang hampir terlewat," lanjut Rehan dan segera mengajak Nabila menuju mobil, Rehan melepas jas nya untuk menutupi kepala Nabila dari tetesan air hujan.
Mendapatkan perlakuan manis seperti itu membuat hati Nabila meleleh,,, "benarkah yang kudengar tadi waktu di dalam sana?" lirih nya bergumam.
Setelah keduanya masuk kedalam mobil, Rehan segera menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukan mobilnya menyusuri jalanan aspal yang basah terkena air hujan. Terlihat dari kaca jendela mobil hujan gerimis masih setia turun untuk membasahi bumi, dan membuat suasana semakin syahdu.
__ADS_1
Keduanya masih sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, Rehan terus melajukan kendaraannya mengikuti arah map yang sudah diberikan oleh Alex sang Asisten Pribadi. Saat di pesta pernikahan tadi, Rehan memang sempat mengirimkan pesan pada asistennya itu untuk memastikan kesiapan tempat yang tadi pagi sudah di pesannya.
Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, Rehan terlihat mengarahkan mobilnya ke sebuah tempat Wisata Kampung Rawa yang terkenal terletak di pinggiran kota. Hujan pun nampak sudah mulai reda, dan sang surya dengan malu-malu mulai menampakan diri dibalik mega yang masih setia menghiasi cakrawala.
Setelah memarkir mobilnya, Rehan bergegas turun dan buru-buru diikuti oleh Nabila yang seperti nya enggan menunggu untuk dibukakan pintunya. Begitulah kebiasaan Nabila, tidak mau merepotkan itu alasan yang selalu dikemukakan ketika Rehan meminta nya untuk menunggu membukakan pintu mobil untuknya.
Rehan berlari kecil memutari mobil menghampiri Nabila dan segera menggenggam tangan Nabila untuk memasuki kawasan wisata itu, kawasan rawa atau danau alami yang sangat luas dengan pemandangan yang memanjakan setiap mata pengunjung nya. Deretan pegunungan yang menjulang tinggi di kejauhan, nampak berjajar dengan rapi seakan membentuk pagar mengitari separuh kawasan danau ini. Warung makan yang menawarkan menu berbagai macam masakan berjajar terapung di atas rawa, menambah daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjung yang datang ke sana.
Sebuah rakit nampak sudah siap menunggu mereka, Rehan segera naik keatas rakit,,, "ayo Bill, naik sini," titahnya pada Nabila karena melihat gadis itu masih berdiam diri ditempatnya.
"Memang kita mau kemana bang?" tanya Nabila polos.
"Kamu nggak lapar?" tanya Rehan balik, "tadi waktu di pesta kan kita gak sempat makan apa-apa?" lanjutnya mengingatkan Nabila.
"Oh iya,," jawab Nabila tersenyum malu, "emangnya kita harus naik rakit ya bang?" tanya Nabila ragu.
"Warung makannya terapung di sana Bill,,," sambil menunjuk deretan warung apung yang berjajar rapi di atas air, "emangnya kamu mau kalau aku ajak berenang untuk sampai ke sana?" lanjutnya dengan tatapan menggoda pada gadis berhijab itu.
Nabila hanya tersipu, entah mengapa setiap mendapatkan tatapan mata seperti itu jantungnya selalu saja berdebar lebih kencang.
__ADS_1
\_\_\_ Cinta yang datang pertama bukanlah segalanya, karena Cinta yang terakhir datang lah pemenangnya \_\_\_ (Rehan)