Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Jangan Kasih Kendor


__ADS_3

Alex, Nisa dan Kevin baru saja tiba di bandara untuk menjemput daddy dan mommy nya Kevin, waktu menunjuk kan pukul tiga sore. Mereka bertiga menunggu di pintu kedatangan, dan tak lama berselang Kevin nampak berlari kecil menghampiri dua orang yang sangat dia rindukan. "Daddy,, mommy,,," serunya dengan riang seraya menghambur kearah daddy dan mommy nya.


Rehan dan Nabila segera berjongkok menyambut putra kecil nya, dan kemudian memeluk tubuh mungil itu. Cukup lama ketiganya berpelukan hingga suara bariton Alex memaksa mereka untuk melerai pelukan nya, "udah, lanjut nanti drama nya," ucap Alex tanpa dosa.


Alex kemudian memeluk Rehan, "selamat ya bro, gue akui sekarang,,, gue kalah telak dari lu," ucap nya segera melerai pelukan dan tersenyum tulus.


Rehan menggeleng,, "tidak ada kalah dan menang dalam hal menemukan jodoh, karena semua sudah diatur oleh Yang Kuasa. Terimakasih sudah selalu ada buat gue, mensupport gue dalam segala hal. Lu sahabat terbaik gue, saudara laki-laki gue, abang yang sangat care sama gue," ucap Rehan dengan suara bergetar.


Alex menepuk pundak Rehan, "dah, jangan melo... ada bidadari-bidadari cantik di sini, malu-maluin." Ucap Alex mengingat kan Rehan, "tapi bentar Rey, tadi lu bilang gue abang lu? Ingat ya Rey, itu dulu waktu bokap masih ada dan beliau yang selalu mengatakan seperti itu, tapi sekarang... no,, no,, no,, karena sebentar lagi gue akan menjadi adik lu," lanjut Alex dengan terkekeh pelan.


"Cih,, ogah gue punya adik kayak lu, dasar tengil!" Jawab Rehan dengan ketus.


"Abang,, udah deh, baru juga pisah bentar kangennya udah sedahsyat itu," Nabila mencibir, dia sengaja mengejek untuk melerai keduanya yang selalu berdebat hal-hal yang tidak berfaedah menurut nya.


"Yang,, kok ngomong nya gitu sih? Siapa juga yang kangen sama dia!" Rajuk Rehan tak terima dibilang kangen dengan Asisten Pribadi nya.


"Halah,, tinggal ngaku aja, pakai malu-malu segala kayak anak gadis," tukas Alex ikutan meledek, seraya bergegas membawa Kevin dalam gendongan nya dan menggandeng tangan Nisa menuju mobil.


'Iya,, iya,, abang suami Billa yang tampan, yuk kita pulang, Billa udah capek pengin istirahat." Ucap Nabila dengan bergelayut manja di lengan Rehan dan segera bergegas mengikuti langkah Alex dan Nisa.


Butuh waktu sekitar satu jam dari bandara menuju kediaman papa Sultan, sepanjang perjalanan Alex yang mendominasi obrolan. Dari melaporkan segala hal yang berkaitan dengan urusan di perusahaan, hingga persiapan resepsi pernikahan Rehan dan Nabila yang akan di gelar kurang dari satu bulan ke depan.


"Oh ya mbak Billa, tadi kak Tiwi sama kak Nina pesan, agar mbak dan bang Rehan secepat nya ke butik untuk dibuatin gaun sama tuxedo buat resepsi nanti. Kemarin bahan yang diminta sama kak Fatima udah dikirim dari pabrik nya," Nisa menginformasikan kepada Rehan dan Nabila.


"Oke, Insyaallah besok.. bisa kan yang?" Rehan menoleh pada sang istri, yang hanya diam sedari tadi sambil memeluk Kevin yang tengah tertidur lelap.


Nabila hanya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Semua sudah di tanggung sama kak Fatima kan dik?" Tanya Rehan pada Nisa.


"Ck,, ngaku nya bos, bikin pakaian untuk resepsi aja minta gratisan!" Olok sang Asisten, "duit lu yang segudang tuh mau diapain?"


"Yey,, beda kali rasa nya, lagian adik minta sama kakak kan wajar," jawab Rehan dengan santai nya. "Kayak lu enggak seperti itu aja, di kasih bonus satu kali gajian dah langsung kalap belanja. Padahal gaji lu dari gue enggak ada apa-apa nya dibanding profit lu di perusahaan, gue sebenarnya bingung sama lu.. apa sih yang lu cari? Jangan bilang karena amanah bokap ya?!"


Alex menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, "apa ya Rey?" sejenak dia terdiam,,, "teman berdebat! Ya, mungkin gue butuh teman untuk berdebat, dan sama lu semua nya nyambung," lanjut nya seraya terkekeh. "Lu gak perlu tahu janji gue untuk selalu melindungi dan memberikan yang terbaik untuk lu dan keluarga lu Rey... seperti yang telah papa Sultan berikan pada keluarga gue, juga yang sudah banyak lu lakuin untuk perusahaan gue," gumam Alex dalam hati seraya melirik sahabat nya itu dari pantulan kaca spion.


Suasana kembali hening, dan beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah Utama.


*****


Makan malam di rumah utama baru saja selesai, mereka kemudian beralih tempat menuju ruang keluarga. Begitu lah kebiasaan di keluarga papa Sultan jika keluarga besar sedang berkumpul, yang seakan mewajibkan semua anggota keluarga untuk bisa duduk bersama dan ngobrol seusai makan malam meski hanya sebentar. Karena hanya dengan cara itu, mereka semua bisa ngumpul bareng mengingat kesibukan masing-masing yang begitu menyita waktu.


"Oh ya Rey, apa kamu sudah ada rencana untuk mempertemukan ibu mu dengan Johan ataupun Alvian?" Tanya papa Sultan pada sang putra.


"Iya, gak apa-apa bang,,, nak Rehan kan juga baru nyampai tadi sore, masak iya langsung di suruh ngurus masalah yang cukup pelik seperti ini? Biar dia istirahat dulu, dan menikmati kebersamaan bersama istri dan putra nya," ucap ibu Lin dengan bijak.


"Mbak setuju itu dik, biar mereka puas berduaan dulu... biar kita bisa cepat dapat cucu dari mereka, bukan begitu dik?" Mama Sekar menimpali.


"Wah cocok, gas pool Rey... dan jangan kasih kendor, kuat gak lu?!" Alex turut menimpali namun diakhiri dengan mengejek.


Sontak Rehan melotot tajam kearah Asisten nya yang super jahil, yang justru disambut tawa kecil dari orang-orang dewasa yang hadir di ruang tamu itu.


Nabila hanya tersenyum tersipu malu dan menundukkan wajah nya.


"Udah jangan di godain,, kasihan nak Billa tuh, pipinya sampai merah kayak tomat gitu," ucap papa Sultan yang memperhatikan menantu nya.

__ADS_1


Pak Ilyas yang sedari tadi jadi pendengar setia hanya tersenyum, sembari tersemat do'a dalam hatinya semoga putrinya segera memberikan nya cucu.


"Oh ya dik, besok kan kami pulang, sebab lusa papa ada jadwal untuk terapi. Terus rencana kamu mau tetap stay di rumah ini atau balik ke apartemen?" Fatima bertanya sama sang adik.


"Kayak nya lebih enak kalau balik ke apartemen deh kak, gak kejauhan kalau ke tempat kerja. Nanti dik Nisa bisa tinggal di apartemen kakak yang tadi nya ditempati Billa kan?" Jawab Rehan. "Untuk ayah dan ibu bebas pilih, bisa tinggal sama kami atau dik Nisa."


"Jarak nya berjauhan gak nak, kalau berjauhan kasihan Nisa gak ada yang nemenin kalau ayah ibu nanti pulang?" Tanya ibu Lin dengan khawatir.


Alex nampak tersenyum lebar,, "deket kok bu, masih satu lantai dan cuma lima langkah" Alex menjelaskan.


"Napa lu yang kegirangan Lex? Mau modus lu?" Tanya Rehan dengan mencibir.


"Sabar ya Lex, kalau mau apel ayah dan ibu pasti siap menemani kalian berdua ngobrol," timpal Fatima dengan terkekeh pelan.


Alex menggaruk kepala nya yang tidak gatal.




Alhamdulillah,, bisa up 2x untuk memenuhi keinginan readers kesayangan πŸ₯°



Moga kedepan bisa double up terus yah,, biar cepet END dan ganti cerita,,, πŸ˜„πŸ˜„


__ADS_1


Yang suka double up, tunjukkan pesona kalian dengan vote, like dan komen... monggo di borong β˜ΊπŸ˜‡πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2