Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Sayapnya sedang Patah


__ADS_3

"Om,,,! Kenapa om bilang seperti itu?! Ini anak om, darah daging om!" Ketus Saras dengan suara yang lantang, hingga membuat para pengunjung mall yang berada di sekitar langsung melihat kearah mereka berdua.


"Oke,, oke,, tapi kecilkan suara kamu." Ucap pria tersebut merasa malu, karena semua mata memandang dengan tatapan tajam dan menghakimi kearah mereka berdua.


"Huh,,," pria itu mendesah kasar, "berapa usia kandungan mu?" Tanya pria tersebut dengan lirih, sambil mengusap kasar wajah nya.


Saras terdiam, nampak dia sedang mengingat-ingat sesuatu. "Hampir empat bulan," jawab Saras nampak ragu-ragu.


Pria itu mengernyit, "kamu yakin? Sudah pernah USG?" Tanya sang pria penuh selidik.


Saras mengangguk, namun raut wajah nya terlihat panik.


"Kapan terakhir kamu periksa kandungan?"


"Sebulan yang lalu," jawab Saras pendek.


"Kalau begitu kita ke dokter sekarang, om pengin lihat perkembangan janin kamu," pinta sang pria dengan lembut.


"Enggak bisa sekarang om, Saras ada janji sama mama," tolak Saras dengan halus.


"Hm,, baiklah, kita bisa atur di lain waktu. Kalau begitu, om pergi sekarang." Pamit pria tersebut sambil memberikan sebuah amplop tebal kepada Saras, "om cuma bawa uang cash sedikit, nanti om akan transfer lagi," ucap sang pria, dan kemudian segera berlalu.


Saras tersenyum lega, dasar laki-laki bodoh!" Umpat nya seraya tersenyum seringai, "tapi bagaimana jika om bayu benar-benar ikut mengantar aku periksa kehamilan? Dia akan tahu, kalau usia kehamilan ku lebih duluan daripada pertemuan kami? Tidak,, tidak,, aku harus cari akal, bagaimana pun caranya aku harus bisa menikah dengan om bayu dan mendapatkan semua harta nya." Gumam nya lirih.


Nisa nampak menajamkan pendengaran nya, hingga kening nya berkerut.


"Perusahaan om bayu lebih besar dari pada perusahaan papa, dan jika dua perusahaan itu di gabung,,, aku yakin, pasti jauh lebih besar dibanding milik suami nya Nabila." Ucap nya tersenyum puas. "Aku harus segera kembali ke Semarang, aku enggak mau Hendra sampai curiga jika saat dia pulang kerja dan aku tidak ada di rumah. Bagaimana pun, saat ini aku masih membutuhkan nya." lanjutnya sambil bergegas keluar dari mall tersebut.


Nisa menggeleng-gelengkan kepala, "dasar wanita ambisius bin rakustus dan urat malu nya pun sudah putus!" Umpat Nisa dalam hati, dan kemudian segera keluar dari tempat persembunyian nya.


Nisa berjalan kearah dimana tadi dia berpisah dengan Alex dan Ilham sambil mengedarkan pandangan nya ke sekeliling, dari tempat nya berdiri dia melihat sang adik sedang melihat-lihat t-shirt. Dengan segera Nisa menghampiri Ilham, "dimana mas Alex dik?" Tanya Nisa pada sang adik.


"Tuh di belakang lagi ketemuan sama teman nya," jawab Ilham tanpa menoleh dan masih asyik memilih-milih t-shirt.


"Kalau ditanyain sama yang lebih tua itu harus melihat orang nya,,," protes Nisa pada Ilham.


Ilham menanggapinya dengan nyengir kuda, sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Beli t-shirt nya banyak banget,,, emang mau jualan ya dik?" Ledek Nisa tatkala melihat kantong belanjaan Ilham telah penuh dengan beraneka warna dan model t-shirt.


"Ck,,," Ilham berdecak kesal, "sohib nya Ilham kan banyak mbak, jadi biar kebagian semua," jelas nya pada Nisa.


"Emang kamu punya duit banyak ya, untuk bayar itu semua?!" Tanya Nisa menyelidik.


"Tentu dong,,," jawab Ilham bangga, "nih, adik ganteng bisikin ya mbak... selain jatah bulanan dari ibu, Ilham mulai saat ini juga dapat uang saku bulanan dari bang Rehan. Udah gitu, om Vian yang baik hati dan tidak sombong sudah ngasih kartu kredit sama Ilham dengan limit yang fantastis. Dan untuk semua belanjaan ini, calon abang ipar yang tampan telah bersedia untuk membayar semua nya... bang Alex juga bilang, Ilham bebas pilih apa saja yang Ilham mau," ucap nya dengan mata berbinar.


"Duh senang nya jadi kamu dik, dikelilingi oleh orang-orang yang sayang sama kamu." Ucap Nisa turut merasa kan kebahagiaan sang adik, "Kamu harus perbanyak rasa syukur dik, dan jangan pernah takabur. Ingat, semua yang kita miliki hanya lah titipan dari Allah. Oleh sebab itu kita harus memanfaatkan dengan sebaik-baik nya, karena semua nya akan kita pertanggung jawab kan di akhirat kelak."


"Siap mbak,,, Insyaallah Ilham bisa amanah dalam membelanjakan harta," balas Ilham bijak.


"Good boy,," puji Nisa bangga sama sang adik, "mbak mau nyamperin mas Alex dulu ya, silahkan kalau masih mau lanjut belanja nya." Nisa pun segera berlalu dari hadapan Ilham.


Tak seberapa jauh Nisa melangkah, dia sudah dapat melihat tunangan nya sedang ngobrol dengan seseorang yang tak asing lagi bagi nya. Ya, pria tersebut adalah om om yang tadi bersama Saras. "Apa mas Alex kenal ya sama om itu?" Tanya Nisa pada diri nya sendiri, "aku samperin aja deh, dari pada penasaran," kemudian Nisa bergegas menghampiri Alex.


"Mas," sapa Nisa dengan lembut.


"Dik, udah selesai belanja nya? Mana barang nya?" Tanya Alex menyelidik.


"Oh, ya sudah. Nanti mas antar," ucap Alex tanpa rasa curiga. "Dik, kenalin... ini om Bayu, sahabat nya om Yani." Alex memperkenalkan Nisa pada pria tersebut.


"Saya Nisa," ucap Nisa sopan sambil menyalami om Bayu.


"Bayu Syaputra,,, panggil saja om Bayu, seperti hal nya Alex memanggil om," ucap pria berumur tersebut memperkenalkan diri nya.


"Dik Nisa ini tunangan Alex om, asli dari daerah sini," Alex menjelaskan kepada om Bayu.


Om Bayu mengangguk-angguk,,


"Om Bayu ini dulu sering diajak main ke rumah sama om Yani, dan sudah seperti adik bagi papa. Tapi semenjak beliau menikah dan menetap di Kalimantan, kami jadi jarang bertemu. Beliau ini pengusaha Batubara yang sukses di Kalimantan, dan beberapa bulan yang lalu om Bayu melebarkan sayap dengan membuka perusahaan baru di kota ini," ucap Alex menjelaskan pada tunangan nya.


Nisa mengangguk-angguk dan tersenyum hangat pada om Bayu.


"Oh ya om, tadi om bilang ada yang mau diceritakan?" Tanya Alex menagih janji.


"Em,,, bagaimana kalau kita cari tempat makan?" Tawar om Bayu pada Alex dan Nisa.

__ADS_1


Alex dan Nisa mengangguk, "Alex kasih kabar dulu sama Ilham adik kami, biar nanti dia nyusul." Kemudian Alex mengetikkan sesuatu di ponsel nya, dan segera mengirimkan nya kepada Ilham.


*****


Sementara di apartemen, Nabila baru saja masuk ke kamar mandi. Dan tak lama kemudian, nampak dia membuka sedikit pintu kamar mandi dan memanggil sang suami. "Abang,,, bisa minta tolong?" Seru nya dengan hanya menjulurkan kepala nya saja.


Rehan segera mendekat, "ada apa? Mau minta dimandiin sama abang?" Rehan mulai menggoda sang istri.


Nabila menggeleng sambil tersenyum, "tolong ambilkan ponsel Billa," pinta nya memohon.


Rehan mengernyit, "kamu mau apa yang? Jangan bilang kamu mau ambil gambar yang aneh-aneh di kamar mandi!"


"Abang yang aneh!" Seru Nabila sedikit emosi, "buruan ambilkan.. nanti Billa keburu kedinginan abang,,," rengek nya sambil mendorong tubuh sang suami.


Rehan mengalah, dan kemudian mengambilkan ponsel sang istri. "Nih,,," sambil menyodorkan ponsel nya pada Nabila.


Buru-buru Nabila menutup pintu nya dan terlihat langsung sedang menghubungi seseorang,,, "tut.. tut.. tut.." setelah beberapa lama, panggilan nya tidak diangkat. Nabila mengulang nya hingga beberapa kali, namun hasil nya sama saja.


Dia membuka pintu kembali, dan terkejut tatkala mendapati sang suami masih berdiri sambil bersandar di samping pintu, "telpon siapa sih yang?" Tanya Rehan penasaran.


Sejenak Nabila terdiam, dan sesaat kemudian dengan malu-malu akhir nya dia menyampaikan juga maksud nya, "Billa mau minta tolong bi Ani, tapi sudah coba Billa telpon berkali-kali enggak diangkat juga..." lirih nya sedikit kecewa.


"Memang nya mau minta tolong apa? Kan Ada abang?" Tanya Rehan tak mengerti dengan sikap istri nya.


"Emm,,, sebenar nya Billa malu bang," lirih nya sedikit ragu, "Billa lupa belum nyetok pembalut, dan sekarang Billa butuh itu," lanjut nya tanpa berani menatap sang suami.


"Hahaha,,," Rehan justru tertawa, "kenapa harus malu dan sungkan yang,,, abang mau kok beliin kamu pembalut, sekalian CD sama bra juga oke," ucap nya dengan enteng.


"Beneran abang mau?" Tanya Nabila tak percaya.


"Iya sayang,, sekarang juga abang akan beliin, tunggulah sebentar." Dan kemudian Rehan segera berlalu dari hadapan sang istri.


"Pembalut aja bang, yang bersayap... daleman nya enggak perlu?" Pinta Nabila sedikit berteriak karena sang suami sudah agak menjauh.


Tak berapa lama Rehan mengetuk pintu kamar mandi, nampak Nabila menjulurkan kepala nya, "mana?" Tanya Nabila meminta barang yang dia inginkan.


"Ada nya yang biasa yang,, sayap nya sedang patah sama seperti hati abang saat ini, karena untuk beberapa hari ke depan abang bakalan puasa." Ucap Rehan tak bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2