
"Apa?! Ponakan pertama?!" Tanya Alex memastikan.
"Iya, anggap aja Lusi adalah kakak nya Nabila,,, bukankah begitu honey?" Devan meminta persetujuan sang istri.
Lusi hanya mengulum senyum, melihat tingkah konyol sang suami.
Nabila menatap suami nya dan mengangguk,
Rehan terkekeh pelan, dan mengerti isyarat dari sang istri, "setujui aja deh bang," ucap Rehan dengan bijak.
"Gue akan transfer bang,,, berapa pun yang abang minta?" Devan masih berusaha membujuk.
"Ini hunian masa depan keluarga gue, dan gue gak butuh bantuan lu. Oke, gue akan tambah satu... dan anggap saja sebagai kado pernikahan lu." Alvian akhirnya menyetujui keinginan Devan.
"Yes,,, yes,,, yes,,," Devan bersorak kegirangan."
Sedangkan sang istri hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Yang lain terkekeh melihat tingkah polah Devan.
Sedangkan Susan menatap kagum pada pria dewasa nya.
Sesaat suasana di table itu menjadi hening, masing-masing sudah kembali duduk di tempat nya.
"Oh ya, tadi kayak nya ada yang ngomongin tentang kapsul deh di group?" Alex mengernyit, sengaja memancing.
Devan berdebar-debar, "buset, masih ingat aja si Asisten absurd ini," gumam nya dalam hati.
"Iya, kapsul apaan Dev? Kenapa tadi bilang makasih sama Rehan?" Alvian mulai mencecar Devan dengan tatapan menyelidik.
Rehan hanya tersenyum simpul,,
"Enggak ada, lupakan!" Titah Devan pada kedua sahabat nya, sambil melirik tajam kearah Rehan.
"Kapsul apaan Rey?" Tanya Alvian yang masih penasaran, beralih menatap suami dari keponakan nya itu.
"Gue juga belum tahu pasti bang," jawab Rehan datar.
Devan yang mendengar jawaban si pemberi kapsul menjadi terkejut, "jadi lu belum mencobanya Rey?!!" Tanya Devan dengan sedikit meninggikan suara nya.
__ADS_1
"Ya belum lah,,," jawab Rehan tanpa dosa.
"Sialan! Jadi gue lu jadi kan kuda percobaan?!" Seru Devan dengan jengkel.
"Emang ada kuda percobaan? Bukan nya kelinci!" Alex menimpali sambil mengernyit.
"Kelinci kan kalau lemah,, lah ini gue jadi perkasa, ya berarti kuda lah..." jawab Devan sekenanya.
Alvian menggeleng-gelengkan kepala, menyaksikan sikap absurd sahabat nya yang baru menikah itu.
Sedangkan pasangan mereka, memilih menyibukkan diri dengan ngobrol sesama wanita, dari pada mendengar hal-hal yang unfaedah menurut mereka.
"Berarti lu udah merasakan manfaat nya dong? Mau lagi? Gue masih punya stok banyak," ucap Rehan menawarkan.
"Lah, lu sendiri enggak minum,,, ngapain nyetok?" Tanya Devan tak habis pikir.
"Gue di kasih sama sopir perusahaan sewaktu liburan kemarin sama istri gue, dia bilang kapsul itu bagus untuk pengantin baru. Ya gue terima aja sih... meski gue gak minat untuk meminum nya," Rehan menjelaskan asal muasal kapsul tersebut.
"Kenapa gak pengin nyobain?" Devan penasaran.
"Karena gue lebih hebat dan lebih perkasa dari kuda," jawab Rehan seraya terkekeh.
"Gue kan enggak bilang seperti itu?" Elak Rehan.
Dan perdebatan-perdebatan seru lain nya yang sesekali diiringi canda tawa dari keempat sahabat itu terus berlangsung hingga beberapa waktu lamanya, tanpa mereka sadari waktu dhuhur hampir tiba. Dan kemudian mereka pun membubarkan diri, untuk melanjutkan aktifitas masing-masing.
Begitu lah jika mereka berempat sudah berkumpul, ada aja topik bahasan yang bisa mereka perdebatkan. Terkadang masalah yang sepele bisa mereka bikin menjadi topik besar dan serius, dan tak jarang masalah besar terkadang mereka sikapi dengan santai agar dengan mudah dapat dicari jalan keluar nya.
Namun momen seperti itu jarang sekali bisa mereka dapat kan, selain karena kesibukan masing-masing sebagai pemilik perusahaan, juga karena mereka memiliki urusan pribadi sendiri-sendiri. Seperti Rehan, yang selama tiga tahun terakhir selalu menghabiskan waktu weekend bersama putra nya dan Alex yang selalu lembur karena menghandle urusan big bos nya yang sangat banyak, hingga sangat sulit bagi mereka bisa berkumpul bersama seperti sekarang ini.
Dan Alvian sebagai senior dalam geng tampan itu, melalui rencana besar nya dia ingin bisa menyatukan mereka semua dalam hunian impian meski pun hanya seminggu sekali. Apalagi setelah dia mengetahui, bahwa salah satu istri sahabat nya adalah keponakan nya dan pasangan-pasangan mereka ternyata ada yang saling mengenal satu sama lain, maka dengan gerak cepat Alvian segera merealisasikan impian nya tersebut. Besar harapan Alvian, agar persahabatan mereka bisa tetap langgeng bahkan sampai anak cucu mereka kelak.
*****
Nabila dan Rehan sudah kembali pulang bersama Nisa yang ikut semobil dengan mereka, kini mereka tengah berada di apartemen milik Fatima untuk menjemput sang putra kesayangan.
"Nak Rehan, kalau kalian masih capek biar aja Kevin disini dulu... kalian istirahat lah. Anak nya senang kok berada disini, apalagi kalau lagi main sama Ilham... suka pada ketawa-ketawa berdua, entah apa yang di dongengkan Ilham sama keponakan nya itu?" Ucap ibu Lin menyarankan.
"Benar nak Rehan, lagian kami juga senang kalau ada anak itu disini,,, suasana jadi ramai dan menyenangkan," pak Ilyas menimpali perkataan sang istri.
__ADS_1
"Kalau kami sih terserah gimana Kevin nya aja ayah, ibu," ucap Rehan dengan bijak, padahal dalam hati dia bersorak kegirangan... karena dengan demikian, dia akan punya waktu lebih banyak untuk berduaan dengan sang istri tercinta.
Nabila mengangguk, setuju dengan perkataan sang suami tanpa mengetahui akal bulus suami nya.
"Daddy,, mommy,," tiba-tiba anak yang dibicarakan muncul bersama Ilham yang tengah menggendong nya di punggung, sambil menuruni anak tangga.
"Udah besar kenapa minta di gendong nak?" Tanya Nabila sambil mencubit manja pipi putra kecil nya.
"Om Ilham sendiri yang pengin gendong Kevin mommy,, Kevin tadi sudah menolak, tapi di paksa." Kevin membela diri.
"Biar cepat nyampai bawah mbak,,, tadi dia bilang pengin cepat ketemu sama daddy dan mommy nya," ucap Ilham menjelaskan.
"Oh ya,, Kevin kangen ya sama mommy? Sini mommy nya di peluk?" Pinta Nabila dengan merajuk manja, menirukan gaya imut Kevin.
Kevin segera menghambur kedalam pelukan sang mommy, "Kevin memang kangen sama mommy dan daddy, tapi bukan itu yang membuat Kevin pengin cepat-cepat bertemu mommy dan daddy..." ucap Kevin seraya melerai pelukan nya, "tapi Kevin mau tanya, apakah projek rahasia daddy dan mommy sudah ada di sini?" Tanya Kevin polos, seraya mengelus lembut perut sang mommy.
Sontak Nisa terkekeh pelan, sedangkan Nabila dan sang suami hanya saling pandang dan tersenyum kecut.
Pak Ilyas dan ibu Lin, serta Ilham yang tidak mengerti tentang projek rahasia itu pun mengernyit dan hanya bisa menduga-duga.
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban setelah beberapa saat menunggu, Kevin pun kemudian mendekatkan wajah nya di perut sang mommy dan mencium nya dengan penuh kasih sayang... "Hai adik, apa kamu sudah ada di dalam perut mommy? Segera lah keluar, biar bang Kevin punya teman bermain seperti bang Zaki," ucap nya dengan sangat antusias.
Mendengar cucu nya berbicara seperti itu pak Ilyas dan ibu Lin pun tersenyum dan mengangguk, mereka kini mengerti dengan arti dari projek rahasia yang dimaksud cucu nya itu.
Sedangkan Nabila dan Rehan hanya bisa menarik nafas panjang,,, "mommy juga berharap bisa secepat nya memberi kamu adik nak, tapi semua itu kan rahasia Allah," gumam Nabila dalam hati.
"Seperti nya gue harus lebih sering melakukan inspeksi mendadak pada Nabila," bisik Rehan dalam hati, senyum seringai terbit di sudut bibir nya.
"Oh, Kevin mau cepat punya adik?" Tanya Ilham pada keponakan nya.
Kevin dengan semangat mengangguk.
"Kalau begitu tiap malam Kevin harus tidur disini sama om ganteng, gimana... mau kan?" Ilham mencoba membujuk.
"Benar apa kata om Ilham, Kevin harus bobok disini,,," ibu Lin pun membantu membujuk.
"Mau,, mau,," jawab Kevin dengan mata berbinar. "Boleh kan dad?" Tanya Kevin dengan tatapan merayu sang daddy.
Rehan tersenyum lebar, "terserah Kevin dan nenek, yang penting Kevin enggak boleh rewel." Ucap Rehan dengan bijak, sedangkan hatinya berbunga-bunga.
__ADS_1
Nabila hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembusnya kuat-kuat, "seperti nya aku butuh minuman penambah stamina," gumam Nabila dalam hati.