Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Bikin Nagih


__ADS_3

Pak penghulu sudah menempati posisi nya, seremonial akad nikah pun segera di mulai. Setelah serentetan acara berlangsung, kini tiba waktu nya ijab qabul dilaksanakan. Pak penghulu yang nampak sangat berwibawa itu menjabat erat tangan Devan, dan segera memulai membacakan ijab nya.


Dengan penuh keyakinan serta kemantapan hati, Devan mengucapkan qabul dengan suara lantang dan tegas. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Lusi Damayanti binti Sofyan Hadi dengan maskawin nya yang tersebut, tunai."


"Bagaimana saksi, sah?" Tanya pak penghulu kepada kedua saksi yang duduk di sebelah nya.


"Sah..." jawab kedua saksi dengan mantap, dan dibarengi oleh semua yang hadir.


"Alhamdulillahirobbil'aalamiin,,," lirih Devan dengan lega, seraya melirik mesra sang kekasih yang telah halal bagi nya.


Lusi tersenyum bahagia,,,


Pak penghulu kemudian memberikan wejangan-wejangan dalam berumah tangga dan ditutup dengan membaca do'a.


Acara berikut nya adalah tukar cincin, dengan sangat antusias Devan memasangkan cincin berlian di jari manis sang mempelai wanita dan kemudian mencium mesra kening Lusi hingga beberapa saat.


"Ehm,,," suara dehaman Rehan membuyarkan konsentrasi Devan, dan dengan buru-buru Devan menghentikan ciuman nya.


Devan melotot kearah sahabat nya itu, dan dalam hati dia mengumpat, "sialan si beruang salju."


Kini tiba giliran Lusi yang memasangkan cincin kawin dengan model yang sama dengan milik nya ke jari manis Devan, dan detik berikut nya Lusi mencium mesra pipi sang suami.


Rona bahagia terlihat jelas di wajah kedua nya, mereka kemudian sungkeman kepada kedua orang tua masing-masing. Tangis haru penuh kebahagiaan mewarnai prosesi sungkeman itu, do'a-do'a baik dipanjatkan oleh kedua orang tua untuk pernikahan putra putri nya.


Setelah semua anggota keluarga menyalami kedua mempelai, kini giliran sahabat-sahabat terbaik Devan maju menghampiri pasangan pengantin baru tersebut.


Alvian dan Susan yang mendapat giliran pertama, "selamat bro, akhir nya lu lulus uji nyali. Gue sebagai senior ngaku kalah, tapi gue akan segera menyusul. Gue tantang lu adu cepat punya momongan," ucap Alvian seraya terkekeh dan kemudian memeluk sahabat nya itu.


"Ck,,," Devan hanya berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala, "dan gue pastikan lu bakalan kalah bang," ucap Devan seraya melerai pelukan nya.


Sedangkan Susan yang menyalami Lusi memberikan ucapan selamat, dan cipika cipiki seperti layak nya teman lama. Padahal mereka berdua juga baru bertemu pertama kali, dan Lusi menyambut dengan senang hati ucapan dari teman baru nya tersebut.


Setelah Alvian dan Susan berlalu dari hadapan kedua mempelai, Rehan dengan sangat mesra memeluk pinggang ramping sang istri dan memamerkan kemesraan di depan kedua pengantin. "Selamat bro... selamat menikmati belah duren," ucap Rehan dan kemudian memeluk sahabat nya itu, "jangan lupa, kapsul nya diminum... pasti bikin nagih," bisik nya lirih di telinga Devan seraya terkekeh.


"Huh,,," Devan melerai pelukan nya dan mendesah kasar, "dasar sohib tengil," umpat nya dan kemudian tersenyum bahagia.


Lusi yang baru ngeh, bahwa wanita yang ada dalam pelukan sahabat suami nya adalah Nabila langsung membulatkan pandangan nya. "Billa,,," serunya merasa tak percaya.

__ADS_1


"Nabila kemudian menghambur memeluk sahabat nya, "selamat ya Lus,, semoga pernikahan kamu dan bang Devan langgeng. Aku turut berbahagia..." ucap Nabila dengan rasa haru.


"Makasih Billa,,, kamu sahabat yang terbaik," ucap Lusi seraya melerai pelukan nya. Lusi menatap sekilas laki-laki yang masih setia berdiri di samping Nabila, "adakah yang mau kamu jelaskan? Sepertinya dia bukan tunangan yang pernah kamu ceritakan?" Tanya Lusi menyelidik.


"Nabila istri saya,,," ucap Rehan sambil kembali merengkuh tubuh sang istri dalam pelukan nya.


"Kami menikah seminggu yang lalu,, maaf, belum kasih kabar." Ucap Nabila merasa tak enak hati.


Lusi mengernyit,,,


Devan yang paham situasinya segera memberi pengertian pada sang istri, "sudah honey, nanti abang ceritain. Atau kapan-kapan kita bisa berkunjung ketempat mereka, dan kamu bisa ngobrol lebih banyak," ucap nya dengan bijak.


Lusi pun kemudian mengangguk mengerti.


Kini giliran Alex dan Nisa, Alex segera memeluk sahabat nya. "Selamat malam dan semangat belah duren. Gue sengaja ngalah dengan senior, kasihan sama lu nya jika Rehan dan gue sama-sama nikah duluan. Lu pasti akan merasa kami permalukan,,," ucap nya seraya terkekeh dan segera melerai pelukan nya.


Devan lagi-lagi berdecak kesal, "ck,, sohib-sohib tengil bin jahil semua, gak ada yang lurus otak nya! By the way, gue suka gaya kalian," ucap nya seraya tersenyum bahagia.


Sedangkan Nisa menyalami Lusi, dan kemudian cipika cipiki. "Saya Nisa, adik nya mbak Billa," ucap Nisa memperkenalkan diri.


Nisa menggeleng pelan,,


"Kami baru bertunangan, tapi nanti setelah resepsi mbak Billa di gelar,,, kami akan secepat nya menyusul," jawab Alex mewakili sang kekasih.


Lusi mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum lebar.


"Itupun kalau enggak ada yang nikung? Selagi janur kuning belum melengkung, tikung menikung itu sah-sah aja," ucap Devan tanpa dosa.


"Abang, enggak boleh berkata seperti itu ah,,," protes Lusi.


Sedangkan Alex melotot kearah Devan yang tengah tersenyum seringai kearah nya.


*****


Di apartemen Fatima,,


"Assalamu'alaikum,," ucap Yusuf dan Fatima berbarengan tatkala pintu telah dibuka.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam,," jawab pak Ilyas dan ibu Lin yang memang sengaja menyambut kakak beserta sang suami dari menantunya itu.


"Ayah, ibu, apa kabar?" Tanya Fatima dengan memanggil pak Ilyas dan ibu Lin seperti adik nya memanggil beliau berdua, sesaat setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Alhamdulillah,, kabar kami baik nak Fatima," jawab pak Ilyas yang juga mewakili sang istri. "Bagaimana kabar pak Sultan dan bu Sekar?" Tanya pak Ilyas pada putri sulung besan nya itu.


"Papa dan mama Alhamdulillah baik ayah," jawab Fatima dengan tersenyum ramah, "oh iya, ini ada titipan oleh-oleh dari mama, buat ayah dan ibu," ucap Fatima seraya menyerahkan paper bag kepada ibu Lin.


"Oalah,, kok malah repot-repot segala tho mbak Bunga ki?" Ucap ibu Lin dengan bahasa campuran, "makasih ya nak Fatima, sampaikan sama mama kamu... ndak perlu repot-repot kayak gini?" Ucap ibu Lin terharu.


"Enggak apa-apa ibu, kita kan keluarga? Enggak perlu sungkan..." ucap Fatima dengan sopan.


"Nak Fatima dan nak Yusuf nginap kan?" Tanya pak Ilyas kepada kedua nya.


"Tidak ayah, kami hanya sebentar disini." Jawab Yusuf, "selain mau menghadiri undangan sahabat Fatima, kami malam ini juga akan mengiringi dokter Fery untuk membawa om Johan ke Singapura."


Pak Ilyas dan ibu Lin yang sudah tahu rencana Rehan dan Alvian pun mengangguk, "makasih ya nak Yusuf, malah jadi merepotkan kalian," ucap ibu Lin tak enak hati.


"Enggak apa-apa ibu, rumah sakit nya dekat kok dari rumah.. lagian dokter Fariz yang akan menangani om Johan adalah sahabat baik saya, dan saya akan pastikan om Johan mendapat kan perawatan yang terbaik." Ucap Yusuf menjelaskan.


"Ayah,, bunda,," teriak Kevin yang berada di atas punggung Ilham, dan baru saja menuruni anak tangga.


Ilham kemudian menurunkan bocah kecil nan menggemaskan itu dan kemudian menyalami Fatima dan Yusuf, serta mencium punggung tangan kedua nya dengan takdzim.


Setelah om ganteng nya duduk, Kevin langsung menghambur memeluk ayah dan bunda nya. "Bang Zaki dan kak Fira kenapa enggak ikut?" Tanya Kevin merajuk, sambil minta duduk di pangkuan sang bunda.


"Ayah bunda cuma sebentar sayang,, ada sedikit urusan pekerjaan." lirih Fatima memberi pengertian.


Kevin mengerutkan dahi, "bukan urusan orang dewasa seperti daddy dan mommy kah?" Tanya Kevin dengan berbisik.


Fatima yang masih ingat bahwa dia yang mengajarkan hal itu pun merasa geli sendiri dan tersenyum menahan tawa. "Bukan nak,, yang ayah dan bunda lakuin adalah urusan kantor," Fatima mencoba memberi pengertian pada sang keponakan, dengan masih bersuara lirih agar suami nya tidak mendengar.


Ya, Yusuf sering protes jika Fatima mengatakan hal-hal yang aneh dan diluar nalar kepada anak-anak nya, termasuk kepada Kevin yang sudah seperti putra nya sendiri.


"Oh,,," Kevin mengangguk seolah mengerti. "Tapi sekarang daddy sedang menjalankan misi projek rahasia di hotel sama mommy dan bukan urusan orang dewasa lagi," bisik nya dengan sangat polos.


Fatima mengernyit, dan sedetik kemudian menggeleng kan kepala nya..."itu sih sebelas dua belas nama nya," gumam nya dalam hati seraya terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2