
"Cucu oma Carla,,, sini nak," pinta oma Carla seraya merentangkan kedua tangan nya menatap lembut netra biru milik Kevin.
"Oma Carla," seru Kevin yang baru menyadari keberadaan oma Carla, karena Kevin tengah tidur saat dia dan Vincent datang dini hari tadi.
Kevin segera meloncat dari pangkuan sang daddy dan berhambur memeluk oma Carla, "Kevin kangen sama oma, kenapa bulan lalu oma pulang ke Paris enggak nungguin Kevin dan daddy? Padahal kami datang bersama dengan mommy?" Tanya Kevin seraya mengerucutkan bibir.
"Maaf, oma Carla ada pekerjaan mendadak nak, jadi oma Carla harus segera pulang ke Paris," ucap wanita berwajah bule yang masih terlihat cantik di usia nya yang menjelang setengah abad itu dengan lembut.
Ya, setiap sebulan sekali papa Sultan mewajibkan keluarga nya untuk berkumpul. Biasa nya bergiliran, Jakarta, Paris dan Singapura. Tapi sejak papa Sultan sakit, pertemuan rutin itu selalu diadakan di Singapura, di kediaman Fatima dan Yusuf.
Kevin mengangguk, "Kevin mengerti oma," ucap nya sambil mencium pipi oma Carla.
"Ih,,, oma gemes deh sama kamu," ucap oma Carla sambil mencubit pipi gembil Kevin, "besok kalau sudah gede Kevin mau ya tinggal sama oma di Paris?" Bujuk nya dengan suara yang dibuat manja.
Kevin nampak berpikir dan mengedarkan pandangan,, tak sengaja netra nya menangkap sosok asing yang baru dilihat nya, "oma Carla, om itu siapa?" Kevin bertanya seraya menunjuk kearah Vincent, dan melupakan permintaan oma Carla nya.
"Oh, itu putra oma Carla sayang,,," jawab oma Carla gugup.
"Oma punya putra? Kok Kevin belum pernah ketemu?" Tanya Kevin mengernyit.
"Iya, putra oma Carla dulu sekolah di Inggris. Jadi jarang pulang deh," jawab oma Carla mencari alasan.
"Kamu kenalan dulu gih,,, belum kenalan kan sama putra nya oma Carla?" Titah oma Carla seraya melepas Kevin dari pangkuan nya.
Kevin mendekat kearah Vincent, dan kemudian mengulurkan tangan mungil nya, "om, namaku Kevin. Putra daddy Rey dan mommy..." sejenak Kevin menghentikan ucapan nya, dia nampak ragu untuk menyebut nama mommy nya.
"Mommy Billa nak,," ucap Rehan cepat.
"Yah, mommy Billa," lanjut Kevin.
__ADS_1
Dengan tangan bergetar Vincent menyambut tangan kecil Kevin dan membawanya kedalam dekapan nya sesaat, dan kemudian dia menciumi tangan mungil itu.
"Om, harus nya Kevin yang cium tangan om..." protes Kevin dengan perlakuan Vincent yang masih saja menciumi tangan nya.
Rehan berdeham,, hingga menyadarkan Vincent dari perbuatan nya yang reflek itu.
"Maaf, habis nya om gemas sama kamu. Boleh om memeluk mu nak?" Pinta Vincent yang akhir nya menyebutkan dirinya dengan panggilan om, dia sadar Kevin masih kecil dan terlalu dini untuk mengungkap kebenaran tentang hubungan mereka.
Dan dia juga masih butuh waktu untuk terus memperbaiki dirinya dan menyiapkan mental nya jika sesuatu hal yang tak dia inginkan terjadi, meski bagaimanapun Vincent menyadari bahwa dirinya harus siap dengan segala resiko akibat perbuatan nya dahulu.
Kevin mengangguk dan berinisiatif memeluk Vincent terlebih dahulu, perasaan Vincent menjadi tak karuan... perasaan bersalah dan bahagia bercampur menjadi satu, "sungguh penyesalan merupakan perasaan yang paling tidak mengenakkan!" Gumam nya dalam hati.
Jika waktu dapat diputar kembali, ingin rasa nya Vincent tidak melakukan kesalahan itu. Namun kebodohan dan nafsu nya kala itu, telah membawanya merasakan perasaan yang sangat tidak diinginkan nya saat ini.
Cukup lama ayah dan anak biologis itu berpelukan, hingga tetes bening yang keluar dari sudut mata Vincent yang membasahi tangan Kevin menarik perhatian anak kecil itu dan membuat nya melepaskan pelukan nya, "kenapa om menangis?" Tanya Kevin menyelidik.
"Om ingat sama putra om yang masih kecil," jawab Vincent gugup.
Vincent terdiam, tak dapat menjawab pertanyaan dari putra kandung nya tersebut.
"Putra nya om Vincent ikut dan tinggal sama om nya nak," jawab Fatima mewakili Vincent.
"Kok bisa? Apa om enggak sayang sama putra om?" Cecar Kevin yang berhasil menohok ulu hati Vincent.
"Bukan begitu nak? om,, om,," ucapan Vincent terbata, dan tak dapat meneruskan nya lagi.
Keluarga yang lain mendengarkan obrolan itu dengan cemas.
"Om Vincent ada pekerjaan yang mengharuskan nya meninggalkan istri dan anak nya, dan saat om Vincent pergi ternyata istri nya meninggal. Karena itu putra nya om Vincent diasuh oleh om nya,," mama Sekar turut menjelaskan dengan bijak.
__ADS_1
"Apa om tidak ingin mengambil putra om kembali jika pekerjaan om sudah selesai?" Tanya Kevin menyelidik.
"Tentu nak, tentu om mau," jawab Vincent antusias, "tapi.. om takut, apa putra om mau menerima om kembali? Karena kami belum pernah bertemu Sebelum nya?" Tanya Vincent ragu.
"Pasti om, setiap anak laki-laki pasti akan senang bertemu dengan daddy nya. Seperti Kevin yang senang jika daddy libur dan menemani Kevin bermain," ucap nya riang seraya melirik sang daddy.
"Apa Kevin juga mau menerima om, jika ternyata anak kecil yang di tinggal ayah nya itu adalah Kevin?" Tanya Vincent hati-hati.
Sontak semua mata tertuju pada Vincent..
Suasana di ruang keluarga itu kembali hening, masing-masing menunggu dengan perasaan was-was apa yang hendak di ucap kan Kevin.
Sementara itu Vincent menunduk dalam, dia merasa sangat bersalah karena telah melempar pertanyaan bodoh seperti itu!
"Kalau om kangen sama putra om, om boleh kok anggap Kevin putra om Vincent." Jawab Kevin memecah keheningan, "tapi om harus tahu, Kevin bukan putra om Vincent! Kevin punya daddy Rey yang tampan dan mommy Billa yang baik," ucap Kevin yang berhasil membuat perasaan Vincent serasa di hempas dari ketinggian.
Yusuf yang duduk di sebelah Vincent berbisik, "dia masih terlalu kecil brother,,, tunggulah sampai waktu nya tepat untuk menyampaikan semua nya," ucap nya mencoba membesarkan hati Vincent.
Vincent mengangguk, "saya mengerti bang," ucap nya tak bersemangat.
"Nak,, Kevin,, om Vincent kan lagi kangen nih sama putra kecil nya yang tampan seperti Kevin. Kevin mau kan kalau panggil om Vincent dengan sebutan papi?" Pinta Fatima pada keponakan kecil nya dengan sangat hati-hati.
"Boleh,, boleh,," jawab Kevin menerima nya dengan senang hati, "boleh kan dad?" Tanya Kevin kemudian pada sang daddy.
Rehan hanya mengangguk dan tersenyum.
"Horre,,, Kevin punya daddy, punya ayah, dan sekarang punya papi... papi Vincent," sorak bocah kecil menggemaskan itu dengan sangat riang. "Ayo papi, kita main bola di halaman belakang," ajak nya seraya menyeret tangan kekar papi Vincent nya.
Vincent mengedarkan pandangan, meminta persetujuan pada semua yang berada di sana.. dan di respon baik oleh anggota keluarga mantan istri nya itu.
__ADS_1
Dengan perasaan yang tak dapat digambarkan, Vincent segera mengikuti langkah kecil Kevin menuju halaman belakang untuk bermain bersama putra kandung yang telah dia sia-siakan nya selama ini.
Papa Sultan berkaca-kaca melihat tingkah cucu bontot nya itu, "sudah saat nya mereka dekat, dan biarkan semua mengalir hingga saat nya nanti kita akan mengatakan kebenaran nya pada Kevin," ucap nya pada semua anggota keluarga nya sesaat setelah Kevin dan papi Vincent sudah tidak tampak dari pandangan mata.