Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
EP_ Kembar Sepasang. 1


__ADS_3

Di rumah sakit terbesar di Jakarta Pusat, keluarga besar Nabila tengah berada di ruang tunggu. Nampak mereka duduk dengan sangat gelisah, menanti kabar dari dalam ruang persalinan tempat dimana Nabila tengah berjuang untuk melahirkan keturunan nya.


Tak henti pak Ilyas dan ibu Lin memanjatkan do'a untuk kelancaran proses persalinan putri sulung nya, dan untuk keselamatan ibu dan juga si jabang bayi.


Begitupun dengan Alex dan Nisa, serta Alvian dan Susan yang ikut menyusul ke rumah sakit, begitu dibangunkan oleh ibu Lin dini hari tadi. Mereka semua turut mendo'akan, agar Nabila diberikan kemudahan dan kelancaran untuk melahirkan bayi nya.


Ilham bertugas menjaga Kevin yang sengaja di tinggal karena bocah itu masih tertidur, Papa Johan dan bi Asih juga ikut membantu menjaga Kevin.


Sedangkan keluarga besar Rehan, baru dikabari Alex melalui pesan yang dikirim ke nomor Fatima.. mengingat waktu yang masih dini hari.


Sementara di dalam ruang persalinan, Nabila tengah ditangani oleh seorang dokter kandungan dan tiga orang perawat. Rehan terus memberikan support nya untuk istri tercinta yang tengah menahan rasa sakit yang luar biasa, dia genggam tangan istri nya untuk menyalurkan kekuatan.


Dokter wanita itu terus menuntun calon ibu muda itu untuk mengatur pernafasan nya, "atur nafas ya mbak, jangan mengejan dulu jika bayi nya tidak minta," titah bu dokter dengan suara yang lembut dan menenangkan.


Nabila terlihat sangat kepayahan, pasal nya dia mengalami bukaan dua sudah sejak kemarin. Namun si jabang bayi, nampak nya masih ingin bermain-main dengan mommy nya. Dan selama dua hari pula, Nabila tak dapat tidur dengan nyenyak karena rasa nyeri itu sering datang dan pergi sesuka si baby. Makan pun harus di paksa oleh sang suami dan di suapin.


Beruntung Rehan adalah sosok suami siaga, yang langsung akan mengelus dengan lembut perut sang istri jika rasa nyeri itu datang,,, sambil membisikkan sesuatu pada bayi nya agar tidak nakal dan membuat sang mommy kesakitan.


Sebenar nya Rehan juga sudah membujuk agar sang istri di operasi saja, melihat sang istri yang sering meringis menahan sakit.. namun Nabila kekeuh ingin bisa melahirkan secara normal.


Sesekali Rehan menyeka keringat yang mengucur di kening sang istri, "kamu pasti bisa yang, kamu adalah mommy yang hebat," bisik Rehan dengan lembut di telinga sang istri, untuk memberikan semangat.


Kembali Nabila meringis, dan kali ini dorongan dari bayi nya terasa sangat kuat. Nabila mengeratkan genggaman nya di tangan sang suami, dan dengan mengikuti arahan dokter dia mengejan dengan sekuat tenaga.


"Dikit lagi ya mbak, ayo.. terus.. ini kepala nya sudah terlihat. Yuk, atur nafas kembali. Iya,, bagus mbak,,,"


Rehan nampak ikut menahan nafas nya, dia dapat melihat wajah sang istri yang merasa sangat kesakitan. Dia usap bulir bening di sudut mata Nabila, sedangkan bulir bening di sudut mata nya dia biarkan mengalir dan terjun bebas seiring suara tangis si jabang bayi yang baru saja di lahirkan mommy Billa.

__ADS_1


"oek,, oek,,"


"Alhamdulillah,, sudah lahir satu ya mbak, mas, normal dan mirip papa nya." Ucap bu dokter memperlihatkan bayi laki-laki itu pada Nabila dan Rehan. Dan kemudian, bu dokter memberikan bayi mungil itu kepada perawat untuk di bersihkan.


"Alhamdulillah,,," ucap Rehan dengan penuh rasa syukur, dia hujani wajah sang istri dengan ciuman. Rehan seakan lupa, bahwa di ruang persalinan itu masih ada dokter dan perawat yang masih berjaga.


"Atur nafas lagi ya mbak,, sambil istirahat sebentar." Ucap bu dokter, yang membuat Rehan tersadar dan menghentikan aksi nya.


"Biasa nya lima atau sepuluh menit lagi yang kedua akan segera menyusul," lanjut bu dokter sambil memeriksa kewanitaan pasien dan juga memeriksa posisi bayi yang masih berada di dalam kandungan Nabila.


Sedangkan seorang perawat, nampak membersihkan bekas persalinan yang pertama dan menyiapkan kembali peralatan baru untuk persalinan yang kedua.


Rehan menatap lembut sang istri, bulir bening masih menggenang di pelupuk mata nya. "Terimakasih bidadari ku.. I love you so much," ucap nya seraya mencium tangan sang istri.


Nabila tersenyum,, dan membalas tatapan mata suami nya dengan hangat. Dia memang mengalami rasa sakit yang luar biasa di persalinan yang pertama, dan masih akan menjalani persalinan kembali hanya dengan selisih waktu yang sangat singkat. Namun kehadiran sang suami di sisi nya, yang memberikan semangat dan menunjukkan perhatian serta cinta nya yang besar, membuat Nabila mampu mengatasi rasa sakit itu.


Sepuluh menit kemudian, kembali Nabila meringis dan mengeratkan genggaman nya.


"Leher rahim nya sudah membuka lagi, atur nafas nya ya mbak.." ucap bu dokter, sambil membenarkan posisi kaki Nabila. "Tahan dulu ya mbak, sama seperti yang pertama," lanjut nya menginstruksikan.


Kembali Nabila mengatur nafas nya, sambil meringis menahan sakit. "Perih bang,, sakit.. Billa lemes," gumam nya.


"Tahan sebentar yang,, kamu mommy terhebat yang, kamu pasti bisa," balas Rehan lirih, dia ciumi tangan sang istri yang berada dalam genggaman nya. Air mata Rehan kembali menetes, dia tak tega melihat sang istri merintih kesakitan.


Kembali dokter wanita itu memandu Nabila untuk persalinan yang kedua, dan dengan tenaga yang tersisa Nabila mengejan dengan sekuat tenaga mengikuti kemauan si baby yang ingin segera keluar dari tempat persembunyian menyusul abang nya.


"oek,, oek,,"

__ADS_1


Tangisan nyaring bayi perempuan menggema memenuhi ruangan, Rehan memejamkan mata nya dengan bulir bening yang mengucur deras membasahi pipi nya.


"Alhamdulillah,, baby girl ya mas, mbak, normal dan cantik," ucap bu dokter menunjukkan bayi nya, dan kemudian memberikan bayi perempuan tersebut kepada salah seorang perawat.


"Yang,,, baby kita kembar sepasang," lirih daddy tampan itu dengan senyum yang mengembang.


Tak henti Rehan mengucap syukur, begitupun dengan Nabila.. tersungging sebuah senyuman di bibir nya meski wajah mommy muda yang baru saja bertaruh nyawa melahirkan buah cinta nya itu nampak sangat kepayahan.


"Abang, Billa ngantuk," lirih nya.


"Jangan tidur dulu yang, minum ini dulu ya," titah nya sambil membantu sang istri untuk minum susu hangat yang sudah di tambahkan madu, untuk mengembalikan tenaga Nabila yang sudah terkuras habis.


Rehan membelai lembut rambut sang istri, yang harus kembali menahan rasa sakit akibat jarum jahit yang seakan mencacah daging nya. Entah seberapa panjang jahitan itu, Nabila hanya bisa merintih dan merasa kan waktu sangat lambat berputar.


"Nah, udah selesai ya mbak. Jangan terlalu banyak bergerak, dan istirahat yang cukup. " Ucap bu dokter setelah selesai menjahit luka di **** ********** Nabila, perawat pun sudah selesai mengganti pakaian Nabila dengan yang bersih.


Dua orang perawat datang sambil membopong bayi mungil yang sudah di bersihkan.


"Sus, saya akan mengadzani putra putri saya dulu," pinta Rehan, mengambil putra nya dari tangan salah seorang perawat.


Tak berapa lama daddy tampan itu telah selesai melakukan tugas nya untuk pertama kali sebagai ayah, membisikkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri pada kedua bayi nya. Sebagai orang tua dia berharap, yang paling pertama didengar bayi-bayi nya adalah panggilan untuk menyembah Allah.


"Dilatih menyusu dulu ya mbak," ucap bu dokter, mengambil bayi laki-laki dari tangan perawat dan kemudian melepaskan kain yang membalut tubuh mungil itu.


Dokter tersebut kemudian meletakkan si baby di atas dada sang ibu, untuk melakukan IMD atau inisiasi menyusu dini.


IMD adalah pemberian ASI segera setelah bayi dilahirkan, biasanya dalam waktu 30 menit sampai satu jam setelah bayi lahir. Prosedur ini dilakukan dengan cara meletakkan bayi di dada ibu di mana bayi dibiarkan dalam keadaan telanjang sehingga terjadi interaksi dari kulit ke kulit atau skin to skin contact. Kemudian, bayi dibiarkan mencari sendiri dan mendekati ****** susu ibu untuk melakukan proses menyusui untuk pertama kali.

__ADS_1


Setelah kedua bayi dilatih untuk menyusu, kedua nya kemudian dibawa ke ruang khusus perawatan bayi sambil menunggu sang ibu dipindahkan ke ruang rawat inap.


"Kami permisi dulu ya mbak, mas,, setelah enam jam, mbak Nabila baru bisa di pindahkan ke ruang perawatan." Ucap bu dokter dan segera berlalu meninggalkan ruang persalinan, diikuti seorang suster yang tadi membantu dokter tersebut.


__ADS_2