Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Time is Fatima


__ADS_3

Di bandara Ahmad Yani Kota Semarang,


Yusuf yang tadi nya berencana akan langsung terbang ke Singapura, tiba-tiba saja membatalkan rencana nya, "bun, kita naik jet sendiri aja," titah nya pada sang istri.


Fatima mengernyit, "bukannya ayah mau langsung pulang ya? Kemarin bilang, kalau besok ayah ada meeting sama dewan direksi?"


"Meeting nya siang, jadi besok pagi aja ayah pulang ke rumah," jawab Yusuf enteng seraya melempar senyuman yang sulit diartikan.


Fatima menggeleng pelan, "bunda tahu deh apa yang ayah pikirkan,,," ucap nya dengan tersenyum menggoda. "Bentar ya yah, bunda kondisikan dulu anak-anak biar ikut dengan oma dan opanya," bisik nya lirih di telinga sang suami sambil mengerling nakal.


Yusuf terkekeh, melihat respon baik dari sang istri yang selalu mengerti akan keinginannya kapanpun itu dan selalu punya inisiatif untuk menggoda nya.


Setelah ngobrol dengan papa Sultan dan mama Sekar, Yusuf dan Fatima melenggang menuju pesawat pribadi milik nya. Sedang kan papa Sultan dan keluarga beserta rombongan besan bersama Alex menaiki pesawat pribadi milik bos RPA Group.


Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke bandara Soekarno Hatta, dan Yusuf ingin memanfaatkan waktu itu dengan sangat baik.


Jika bagi orang lain time is money, berbeda dengan Yusuf, karena baginya time is Fatima,,, karena dia lebih senang menghabiskan waktu bersama sang istri. Meskipun keduanya sama-sama sibuk, namun Yusuf dan Fatima selalu menempatkan kwality time berdua sebagai prioritas utama. Itu sebabnya mereka selalu terlihat romantis layaknya pengantin baru.


Sedang kan di pesawat milik bos RPA Group, celoteh riang dari Kevin, Fira dan Zaki meramaikan suasana di dalam kabin. Sesekali Ilham turut menimpali obrolan lucu anak-anak kecil itu, dan tak jarang ulah jahil Ilham membuat anak-anak kecil itu tertawa lepas.


Papa Sultan dan mama Sekar memilih ngobrol bersama besannya, ada beberapa rencana yang hendak di lakukan ibu Lin atau Bintang setibanya di Jakarta nanti. Diantaranya adalah menemui om Johan, yaitu adik dari papa nya dan juga Alvian Antonio yang diduga sebagai adik nya yang saat itu berada dalam satu mobil bersama kedua orang tuanya ketika kecelakaan terjadi, namun jasad sang adik tak diketemukan. Meski untuk menemui kedua orang itu, mereka harus menunggu sang menantu menyelesaikan liburan spesial nya terlebih dahulu.


Di sudut yang lain nampak Alex dan Nisa sedang ngobrol dengan santai, mereka sengaja diberi ruang khusus agar bisa semakin lebih mengenal. Mengingat pertemuan mereka yang sangat singkat dan langsung memutuskan untuk bertunangan.


"Bang Alex, boleh Nisa tanya sesuatu?" Nisa membuka obrolan.


"Iya, tanyakanlah." Alex mempersilahkan. "Tapi,,, boleh kah aku minta satu hal?" Tanya Alex dengan memohon.


"Apa bang?"


"Bisakah dik Nisa panggil aku mas saja, seperti nya lebih enak terdengar," pintanya dengan tersenyum lembut. "Biar beda juga sama kakak kamu yang sudah memanggil si bos dengan sebutan abang," lanjutnya lagi dengan mengusap tengkuknya merasa geli sendiri.


Nisa tersenyum dan mengangguk, "baik bang,, eh, mas,, mas Alex," ucap Nisa tak keberatan.


Keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Tadi dik Nisa mau tanya apa?" Suara bariton Alex memecah keheningan.


"Oh iya,,, ini, kenapa kemarin tiba-tiba mas Alex ngelamar Nisa dan langsung kasih cincin... kayak udah persiapan gitu, emang sebenarnya cincin ini untuk siapa mas?" Nisa bertanya seraya mengangkat tangan kirinya memperlihatkan kembali cincin pemberian dari Alex dan dari wajahnya dia nampak sedikit curiga.


Alex tersenyum, "ketika di Semarang si bos tiba-tiba menyuruh sopir menuju ke sebuah tempat sebelum ke rumah kalian, dan ternyata tempat itu adalah toko berlian. Mas juga enggak tahu kenapa saat itu bos begitu optimis kalau lamarannya kepada nona Nabila bakalan diterima dan niatnya untuk langsung dapat menikah dikabulkan, sehingga bos mantap membeli perhiasan sebagai mas kawin."

__ADS_1


"Dan tentang cincin yang dik Nisa pakai, awalnya hanya becandaan kami saja,,, si bos nyeletuk nyuruh mas untuk pilih satu cincin tunangan, bos bilang mas pasti bisa dapetin kembang desa di tempat nona Nabila. Awalnya mas bingung, tapi kemudian mas iyakan saja, sambil berharap itu adalah bagian dari do'a dan akan menjadi nyata." Alex menceritakan tentang pembelian cincin itu seraya tersenyum hangat pada gadis imut yang telah resmi menjadi tunangannya.


Nampak Nisa mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa memangnya dik?"


"Enggak apa-apa sih mas, pengin tahu aja," jawab Nisa pendek. "Cuma yang masih jadi ganjalan di hati Nisa,,," sejenak Nisa menjeda ucapannya, "kenapa secepat itu mas Alex ambil keputusan?" Nisa menatap netra hitam sang tunangan, menuntut jawab.


Alex terdiam untuk beberapa saat, "karena mas sudah menemukan yang benar-benar cocok," jawab nya mantap. "Mas akui, dulu mas menjalin hubungan dengan banyak wanita tapi tak ada satupun dari mereka yang benar-benar bisa membuat mas jatuh cinta." Menatap dalam mata Nisa mencoba mencari tahu reaksi sang tunangan.


Tapi wajah Nisa tampak datar saja, tak bereaksi apa-apa,,, dan hal itu membuat Alex jadi bingung.


"Dik, kamu enggak marah? Enggak cemburu mas cerita kalau dulu pernah menjalin hubungan dengan banyak wanita?" Alex menautkan kedua alisnya.


"Kenapa harus marah dan cemburu? Itu masa lalu mas Alex bukan? Atau, mas punya niatan untuk menjalin hubungan dengan wanita lain?!"


"Enggak dik, bukan seperti itu maksud mas,," Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "duh, salah ngomong gue," bisik nya dalam hati.


Nisa tersenyum geli melihat ekspresi wajah Alex yang kacau, dan kemudian tertawa renyah.


Alex mengernyit,,


Nisa becanda mas, maaf,,," ucap nya masih dengan tertawa. Beberapa saat kemudian, "Nisa juga memiliki masa lalu, tak adil jika Nisa mempermasalahkan hubungan mas Alex dengan wanita-wanita di masa lalu mas. Yang penting bagi Nisa saat ini adalah komitmen kita, untuk tidak menghadirkan orang lain dalam hubungan yang sudah kita jalin." Nisa menatap netra hitam laki-laki yang mulai mengisi hati nya.


*****


Setelah kurang lebih satu jam menempuh perjalanan udara, rombongan keluarga papa Sultan dan sang besan tiba di Bandara. Nampak dua sopir keluarga bos RPA Group sudah menjemput tuan besar mereka di pintu kedatangan.


Mereka menempuh perjalanan selama satu jam, hingga akhirnya tiba di rumah utama. Satpam dengan sigap membuka kan pintu gerbang tatkala melihat dua mobil majikannya nampak mendekat.


Pak Maman yang mengendarai mobil yang ditumpangi oleh tuan besar dan keluarga nya, segera membuka kan pintu untuk atasan nya itu ketika mobil telah terparkir sempurna tepat di halaman rumah megah itu. "Silahkan tuan besar, selamat datang kembali di istana tuan besar," sapa nya dengan sopan seraya membungkuk.


Papa Sultan tersenyum dengan ramah dan kemudian segera turun, "terimakasih pak Maman," seraya menepuk pundak sopir yang telah mengabdi kepada nya selama belasan tahun itu. Dan kini pak Maman bertugas melayani Kevin dan mengantarkan nya kemanapun sesuai perintah daddy nya yaitu tuan muda Alamsyah.


Papa Sultan dan mama Sekar menuntun tamunya untuk masuk ke dalam rumah nya, nampak beberapa orang pelayan tengah bersiap menyambut kedatangan tuan besar mereka beserta keluarga sang besan.


Ya, pernikahan tuan muda Alamsyah telah sampai ke telinga mereka, dan dengan sangat bahagia mereka menyambut kabar gembira tersebut, terlebih bi Ani, pengasuh Kevin.


Bi Ani tahu persis bagaiman tuan muda nya itu menghabiskan waktu dan perhatian nya untuk mengurus Kevin seorang diri, dan kini tuan muda nya telah menemukan seseorang yang akan menemani nya dan mencurahkan kasih sayang bersama untuk membesarkan Kevin juga anak-anak mereka kelak.


Tak henti bi Ani mengucap syukur, apalagi dia sudah mengenal baik wanita seperti apa yang dinikahi oleh tuan muda nya itu. "Bukan hanya non Billa yang beruntung karena dinikahi oleh laki-laki tampan dan kaya raya, namun tuan muda lebih beruntung karena bertemu dengan wanita setulus non Billa," lirih nya dalam hati.

__ADS_1


Bi Ani yang sudah kangen dengan momongannya segera menghampiri Kevin dan memeluk nya, "bibi kangen sama den Kevin," lirih nya berbisik, sambil mengelus punggung bocah kecil itu.


"Kevin juga kangen sama bibi," jawab Kevin dengan suaranya yang menggemaskan.


"Yuk, aden istirahat dulu ya,," pinta bi Ani.


"No, bibi,, Kevin mau sama om ganteng aja." Tolaknya seraya mendekat kearah Ilham.


Bi Ani hendak membujuk, tapi buru-buru di cegah oleh Alex, "biar kan saja bi, nanti kalau Kevin butuh apa-apa biar kami panggil bibi."


"Baik tuan Asisten, kalau begitu bibi pamit ke belakang dulu," bi Ani segera berlalu meninggalkan ruang tamu itu.


Para pelayan yang lain sibuk memasukkan barang bawaan besan keluarga Alamsyah ke kamar tamu yang telah dipersiapkan sebelum nya, sedang kan tuan rumah nampak sedang mengobrol dengan besan nya.


Ilham dan anak-anak langsung memisahkan diri menuju halaman belakang, entah keisengan apa yang akan dilakukan Ilham bersama Kevin dan kedua sepupu nya.


Sedang kan Fatima, begitu sampai langsung meminta ijin untuk beristirahat di dalam kamar lama nya bersama sang suami di lantai dua, untuk melanjutkan kerja sama nya dengan sang suami yang sempat tertunda.


Di tengah obrolan santai antar besan, Alex menyela, "maaf semua nya, saya mohon undur diri untuk berangkat ke kantor," pamit Alex pada semua keluarga.


"Kenapa buru-buru Lex?" Tanya papa Sultan.


"Iya pa, jam satu nanti ada pertemuan dengan klien baru yang akan bergabung, dan ini sudah dijadwalkan seminggu yang lalu."


"Oh begitu, ya sudah berangkat lah... urus dan atur semua selagi Rehan tidak berada di tempat," titah papa Sultan kepada Asisten Pribadi putranya.


"Siap pa, Alex pasti akan lakukan yang terbaik," ucapnya mantap.


"Kamu enggak ingin mengajak calon istrimu ke kantor?" Tanya mama Sekar.


Alex melirik Nisa, "pengin sih ma, tapi,," Alex menghentikan ucapannya.


"Nanti bakda dhuhur Nisa mau diajak kak Fatima ke butik," Nisa menyela.


Alex mengangguk mengerti,,


"Hem,, baiklah nak Alex, berangkat lah, hati-hati di jalan," ucap mama Sekar dengan bijak.


"Nanti malam menginap lah di sini, gak usah pulang ke apartemen selagi ayah dan ibu mertuamu masih di Jakarta," titah papa Sultan.


"Baik pa," sambut Alex dengan senyum merekah, "yes, gue gak perlu cari alasan untuk bisa berdua dengan dik Nisa," bisik nya dalam hati.

__ADS_1


Alex segera menyalami papa Sultan, mama Sekar dan juga calon mertuanya, dan kemudian bergegas meninggalkan ruang tamu dengan senyum mengembang.


__ADS_2