
Hari berganti, semua melakukan aktifitas seperti biasa. Alvian masih tinggal bersama kakak nya di apartemen Fatima, hanya sesekali terpaksa dia menginap di kantor jika pekerjaan nya menumpuk.
Sedangkan di apartemen Fatima selalu riuh setiap hari nya, siapa lagi kalau bukan Ilham yang selalu memulai keributan itu setiap pagi. Pasal nya dia yang sudah duduk di kelas tiga SMA dan sebentar lagi mau ujian, ada jam ke nol yang harus dia ikuti setiap hari nya.
Seperti pagi ini, dia sudah menggedor-gedor pintu apartemen khusus asisten rumah tangga dan memanggil pak Maman agar mengantar nya ke sekolah seperti biasa, "Pak,, pak Maman,, ayo.." seru Ilham dari luar pintu.
"Nang,, enggak boleh gitu ah, pelan-pelan kalau manggil orang.. jangan seperti di hutan?!" Protes ibu Lin yang mengekor di belakang putra bungsu nya.
"Nanti Ilham terlambat bu," rengek Ilham sambil mengerucutkan bibir.
Terdengar pintu di buka dari dalam, "maaf den Ilham, habis subuhan tadi bapak ketiduran.. maklum den, bapak kurang enak badan," ucap pak Maman yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Oh, pak Maman sakit? Ya udah, pak Maman istirahat saja.. Ilham mau pesan ojek online aja. Maaf ya pak, teriakan Ilham sudah mengganggu istirahat pak Maman," ucap Ilham dengan tak enak hati.
"Ya udah bu, Ilham berangkat sekarang.." ucap Ilham sambil terburu-buru menyalami sang ibu dan mencium punggung tangan nya.
"Dik, abang antar aja," ucap Rehan yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka. Ya, Rehan tadi nya mau mencari kan bubur ayam untuk Nabila sesuai dengan permintaan sang istri, yang tiba-tiba saja pengin menikmati bubur ayam. Dan saat membuka pintu, Rehan mendengar percakapan adik ipar serta sopir pribadi Kevin.
"Beneran bang?" Tanya Ilham tak percaya.
"Iya,, mau enggak? Kalau enggak mau ya udah, abang berangkat sekarang,," ucap Rehan seraya hendak berlalu.
"Nak Rehan mau kemana? Apa mau ke kantor sepagi ini?" Selidik ibu Lin.
"Tidak bu, Rey mau beli bubur ayam untuk Billa," jawab Rehan sambil tersenyum. "Ibu mau juga? Biar Rey beliin sekalian,,"
"Enggak usah nak Rehan, ibu sudah masak nasi goreng tadi. Tuh, si bontot pengin dibawain bekal nasi goreng," tolak ibu Lin dengan halus.
"Ayo bang, kita let's go.. kalau ngobrol terus nanti Ilham terlambat," protes Ilham melihat ibu dan abang ipar nya yang masih terus ngobrol.
"Tuan muda, maaf kan saya,,," ucap pak Maman merasa tak enak hati.
"Enggak apa-apa pak, benar apa yang dikatakan Ilham tadi.. pak Maman istirahat saja." Titah Rehan pada sopir yang telah mengabdi pada keluarga nya selama belasan tahun.
"Nanti yang mengantar bapak dan ibu ke rumah utama biar pak Amir saja, pak Maman harus banyak istirahat dan jangan lupa berobat ke dokter," lanjut Rehan seraya memberi kan beberapa lembaran uang ratusan ribu rupiah.
__ADS_1
"Terimakasih banyak tuan muda," ucap pak Maman dengan haru.
Ibu Lin tersenyum menyaksikan nya.
"Bu, Rey ngantar dik Ilham dulu," pamit Rehan pada ibu mertua nya, Rehan dan adik ipar nya pun segera berlalu menuju lift.
Sepeninggal Rehan dan Ilham, ibu Lin bergegas masuk ke apartemen Rehan. Sedangkan pak Maman kembali masuk ke apartemen khusus asisten rumah tangga itu.
Ibu Lin segera naik keatas hendak menemui Nabila, baru saja menginjakkan kaki nya, ibu Lin sudah disambut dengan teriakan kecil Kevin. "Nenek,," seru bocah itu yang nampak baru keluar dari kamar daddy dan mommy nya.
"Hai cucu tampan nenek, sudah mandi belum?" Tanya ibu Lin sambil meciumi pipi gembul Kevin.
"Belum nek, Kevin mau maem bubur ayam dulu," jawab Nabila yang mengekor di belakang Kevin.
"Oh,, kalau nunggu beli bubur ayam nanti mandi nya kesiangan nak. Mandi sekarang sama nenek ya.." bujuk ibu Lin pada cucu nya.
"Daddy cuma sebentar kok nek, kan beli nya dekat?" Jawab Kevin.
"Maaf ya, tapi daddy nganter om Ilham dulu tadi.. jadi agak lama deh beli nya, enggak apa-apa ya nunggu lama. Nah, biar enggak bosan nunggu.. Kevin mandi dulu ya sama nenek," kembali ibu Lin membujuk.
"Baik lah nek, Kevin mandi nya di tempat nenek aja ya,," pinta nya dengan menggemaskan.
"Emang pak Maman kemana bu?" Tanya Nabila.
"Pak Maman sakit, tapi tadi sudah disuruh berobat sama suami kamu," jawab ibu Lin.
"Pak Maman sakit apa nek?" Tanya Kevin nampak khawatir, "Kevin mau jenguk pak Maman sekarang boleh kan mommy?" Pinta Kevin pada mommy nya.
"Pak Maman nya baru mau istirahat nak, nanti saja ya kalau Kevin sudah selesai mandi dan sarapan," ibu Lin memberi pengertian.
"Baik lah nek, tapi janji ya.. nanti sebelum kita ke rumah utama, kita jenguk pak Maman dulu,,," Kevin mengangkat jari kelingking nya.
Sang mommy yang mengerti maksud dari putra kecil nya langsung mengaitkan jari kelingking nya ke jari mungil Kevin untuk membuat janji, "Insyaallah ya.." ucap Nabila.
"Kok Insyaallah,,,?" Protes Kevin nampak tidak suka.
__ADS_1
"Nak, janji itu adalah hutang. Setiap membuat janji kita harus selalu mengatakan Insyaallah yang artinya jika Allah berkehendak,,, sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, apakah kita bisa benar-benar menepati janji kita atau ada halangan sehingga janji itu tak bisa kita tepati. Jadi, jika kita tidak dapat menepati nya kita tidak memiliki hutang,," ibu Lin mencoba menjelaskan kepada cucu nya dengan cara sederhana.
Kevin mengangguk-angguk, "Kevin mengerti nek," ucap nya.
"Hayuk, ikut nenek dan segera mandi," titah ibu Lin sambil menggandeng tangan mungil Kevin.
"Mommy siapin baju nya dulu ya,, nanti mommy nyusul," ucap Nabila.
"Oke mommy,," jawab Kevin sambil melambaikan tangan kepada sang mommy.
Nabila bergegas menyiapkan baju ganti untuk putra nya, setelah beres Nabila mengirimkan pesan untuk sang suami, "abang tampan,, Billa tunggu di tempat ibu ya..." kemudian dia bergegas menyusul Kevin yang sudah mendahului nya bersama sang ibu.
Waktu menunjukkan pukul setengah tuju, nampak Alex sudah bersiap hendak ke kantor. Sejak ada Nisa, Alex menunggu bos nya di apartemen Fatima.
"Bang Alex sudah siap? Pagi benar?" Tanya Nabila mengernyit.
"Ada meeting pagi mbak,, apa bos sudah siap?" Alex bertanya balik.
"Bang Rehan..." belum selesai Nabila menjawab pertanyaan dari asisten suami nya, Rehan muncul dengan mengucap salam dan kemudian menghampiri sang istri seraya menyerahkan bungkusan bubur ayam keinginan Nabila tadi.
"Bang, ini banyak banget...?"
"Iya, biar semua kebagian. Tadi pak Maman dan lain nya juga sekalian abang belikan dan sudah abang kasih ke mereka tadi." Jawab Rehan, "ayo kita makan bareng mumpung masih hangat," lanjut nya mengajak Alex dan juga Nisa yang berada di ruang tamu.
"Makasih abang sayang," bisik Nabila dengan tersenyum manis, "oh iya, abang ada meeting pagi? Kenapa enggak bilang tadi? Jadi kan abang enggak perlu repot beliin bubur ayam buat Billa, dan Billa bisa pesan online aja kan?" Cecar Nabila sambil berlalu menuju meja makan, yang di ikuti oleh sang suami.
"Enggak apa-apa yang,, meeting nya bisa abang wakilkan sama Alex, karena bagi abang keinginan kalian berdua adalah prioritas abang," ucap Rehan seraya mengelus lembut perut rata sang istri, dan kemudian dia menarik salah satu kursi di meja makan untuk istri nya.
"Lex, wakili gue!" Titah nya tak menerima bantahan.
"Dasar bucin!" Gerutu Alex yang mengekor di belakang mereka, dan langsung mengambil tempat duduk di dekat Nabila.
"Terima aja nasib lu Lex," sahut Alvian yang tiba-tiba saja sudah bergabung.
"Bucin sama pasangan halal sah sah aja kali?!" Protes Rehan, "dan gue sumpahin, lu bakalan bucin parah sama istri lu nanti, "ucap Rehan seraya tersenyum seringai.
__ADS_1
Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal..
Sedangkan Nisa hanya diam, mendengar kan perdebatan calon suami dan sahabat-sahabatnya itu. .