Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Spesial Edition


__ADS_3

Pagi ini Rehan tengah bersiap untuk mengunjungi orang tuanya di Singapura, dia duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya.


"Deddy,,," teriak Kevin dari atas, dan segera berlari menuruni anak tangga untuk menghampirinya. "Kevin sudah siap, ayo kita samperin tante mommy," seraya menyeret tangan Rehan dengan tidak sabar.


"Iya, jalannya pelan-pelan saja nak,,, nanti kalau jatuh sakit," ucapnya lembut memberi tahu pada putranya.


Mereka berdua segera keluar dari apartemen Rehan, dan melangkah gontai menuju pintu apartemen yang terletak di ujung lorong.


Rehan memencet bel yang terdapat di pintu apartemen, tak lama kemudian pintu dibuka dari dalam, "tante mommy,,," seru Kevin seraya menghambur kearah Nabila.


"Assalamu'alaikum Bill,,," sapa Rehan.


"Wa'alaikumsalam bang," jawab Nabila dengan senyuman hangat nya, "yuk masuk dulu," seraya menuntun Kevin untuk masuk kedalam apartemen.


Ya, sejak Nabila bekerja di butik Fatima dia memutuskan untuk tinggal di apartemen milik Bosnya seperti permintaan kakak nya Rehan kala mereka menginap bareng di apartemen Rehan.


***** Flashback On


Fatima baru saja kembali dengan urusannya di luar, nampak di ruang keluarga adik dan keponakannya tengah asyik nonton TV yang sedang menayangkan kartun kesukaan Kevin. Dengan bergegas Fatima menghampiri kedua nya.


"Sayang, lihat bunda bawa apa?" Sambil mendekati keponakan kesayangan nya dan menyodorkan dua paper bag kepada Kevin.


"Bunda sudah pulang?" Seru Kevin dengan senang seraya mengambil dua paper bag dari tangan Fatima.


"Sudah beres kak," tanya Rehan pada sang kakak.


"Iya, besok pagi kakak pulang," jawab Fatima pelan.


Sedang kan Kevin dengan sangat antusias segera membuka satu paper bag, "ini donat kesukaan Kevin," ucapnya dengan senang.


"Iya,nanti dimakan ya..." ucap Fatima seraya mengusap lembut pucuk kepala Kevin, "coba yang satu dibuka lagi," pintanya pada keponakan nya yang menggemaskan itu.


Kevin pun segera membuka nya, "wow,,, motor balap," serunya melihat kearah bunda nya dengan mata berbinar.


"Kevin suka?" Tanya Fatima.


"Iya bunda, Kevin suka," jawab nya polos, "nanti kalau sudah besar Kevin mau minta dibeliin motor balap sama deddy," boleh kan ded?" Pintanya pada sang daddy.


Rehan hanya tersenyum dan mengangguk.


"Nabila mana?" Tanya Fatima.


"Tadi bilang mau turun sebentar untuk mengambil minuman," jawab Rehan.


"Kan bisa nyuruh bibi?" Fatima mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


Rehan nampak menyunggingkan senyum bahagianya, "dia beda sama yang lain kak, spesial edition," ucap Rehan seraya terkekeh.


Fatima menganggukkan kepala nya, "ya,, ya,, kamu benar dek, enggak mungkin kamu membuka hatimu pada gadis yang tidak istimewa," seraya tersenyum ikut merasakan kebahagiaan adiknya.


"Kakak sudah pulang?" Nabila tiba-tiba muncul sambil membawa minimum di atas baki.


"Baru saja," jawab Fatima sambil menggeser duduk nya, "adik ipar, duduk sini ada yang mau kakak bicarakan," sambil menepuk sofa di sebelah nya.


Nabila segera meletakkan minuman di atas meja dan duduk di samping Fatima.


"Ada apa kak?" Tanya Nabila penasaran.


"Kalau urusan kamu di perusahaan yang lama sudah kelar, kamu bisa kan langsung ngurus butik kakak? Nah, gimana kalau kamu tinggal saja di apartemen kakak?" Pinta Fatima pada calon adik iparnya, "biar lebih dekat kalau ketempat kerja, lagian juga sudah lama kosong" lanjutnya memberi penjelasan.


"Gue setuju itu kak," sahut Rehan antusias, "deket banget kok sayang dari butik," ucap Rehan pada kekasih nya, "kalau ngapel juga lebih deket, cuma lima langkah," lanjutnya dengan tersenyum menggoda pada Nabila.


"Yey,,, modus," cibir Fatima pada sang adik.


"Kakak bukannya bantuin,,," Rehan menggerutu.


"Emang tempatnya di mana kak?" Tanya Nabila yang sedari tadi memperhatikan tingkah aneh Rehan yang senyum-senyum sendiri.


"Di lantai yang sama dengan apartemen ini, tepatnya di ujung," Fatima menjelaskan.


***** Flashback Off


"Kevin dan deddy dah siap, tante mommy juga sudah siap kan?" Tanya Kevin sesaat setelah mereka berada di dalam apartemen Fatima yang saat ini ditempati Nabila.


"Sudah dong,,, kan mau pergi sama kesayangan nya tante mommy," ucap Nabila seraya mengecup lembut kepala Kevin.


"Hmmm,,, bakalan kalah saing nih kalau ada si kecil," ucap Rehan pura-pura merajuk.


"Abang, apaan sih?" Sambil berlalu menuju kamarnya untuk mengambil travel bag.


"Deddy juga pengin dikecup sama tante mommy, kayak Kevin tadi," seru Kevin dengan polos.


Sebentar kemudian Nabila muncul dari dalam kamarnya, "tante mommy,,, deddy pengin dikecup," Kevin mengulang permintaan nya tadi.


Nabila nampak cemberut, "abang jangan ngajarin yang aneh-aneh deh," ucapnya pelan di dekat telinga Rehan.


Serr,,, Rehan merinding dengar bisikan Nabila yang sangat dekat di telinganya, "bukan abang yang aneh-aneh, tapi kamu yang barusan menggoda abang," ucapnya dengan tatapan penuh arti.


Nabila mengernyit, "menggoda bagaimana maksud abang?" Tanya Nabila masih berbisik ke telinga Rehan.


"Tuh kan, kamu ulangi lagi," seraya memegang daun telinga nya, "kamu sudah meniup titik sensitif abang, jadi jangan salahkan kalau abang khilaf dan memanggil penghulu sekarang juga," lanjutnya dengan tersenyum menggoda.

__ADS_1


Nabila yang menyadari kesalahannya nampak salah tingkah, "maaf, enggak ada maksud," ucapnya buru-buru, "yuk sayang, kita berangkat," seraya menarik tangan Kevin dan segera melangkah keluar untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Rehan merasa puas menikmati wajah panik sang kekasih dan segera mengekor di belakang gadis dan putra yang sangat disayanginya dengan bibir yang terus tersenyum.


*****


Pak Rudi dan Alex nampak sudah menunggu di basemen, melihat atasannya datang Pak Rudi mengambil alih travel bag dari tangan Nabila untuk di masuk kan kedalam bagasi mobil dan dengan berlari kecil Pak Rudi segera memasuki mobil dan menempatkan dirinya di kursi pengemudi.


"Kenapa lu Rey,, senyum-senyum gak jelas gitu?" Goda Alex yang mendapati Bos nya masih senyum-senyum sendiri sepanjang jalan menuju ke mobil.


"Kepo,,," jawab Rehan enteng seraya membuka kan pintu mobil untuk kekasih nya, dan diapun ikut masuk dan duduk bersama Nabila dan Kevin di kursi belakang.


Alex mencebik, dan segera ikut masuk kedalam mobil duduk di samping Pak Rudi.


"Sudah lu siapin semua dokumennya kan Lex," tanya Rehan pada Asisten yang duduk di depannya, sesaat setelah Pak Rudi menjalankan mobil nya.


"Beres Bos, yang di Bali rencana meeting dengan semua petinggi anak cabang akan digelar jam tiga sore, kalau bisa langsung clear malam ini, besok pagi gue lanjut Makasar," jawab nya menjelaskan.


"Gue yakin lu bisa mengatasi secepatnya, untuk yang di Bali jangan sampai papa dan mama tahu masalahnya," ucap Rehan mewanti-wanti.


Alex menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Om Alex enggak ikut kita ke rumah oma dan opa?" Tanya Kevin


"Enggak boy,,, dilarang sama deddy," jawab Alex pura-pura sedih, "padahal om Alex sudah kangen banget sama oma dan opa," lanjutnya mendramatisir dengan mengerucutkan bibir.


"Kenapa om Alex gak boleh ikut kita ded?" Tanya Kevin dengan wajah sendu, ikut merasakan kesedihan om Alex nya.


"Huh,,, drama apalagi ini," Rehan menggerutu sambil melotot kearah Asisten nya itu melalui pantulan kaca spion. "Nak, kalau om Alex ikut nanti dia gangguin deddy dan tante mommy terus... emang nya Kevin mau kalau tante mommy nya digangguin sama om Alex?"


"No,,, om Alex gak boleh ganggu dan ambil tante mommy dari kami," seru Kevin dengan marah kepada Alex.


Rehan terkekeh mendengar pembelaan dari putra kecil nya.


"Kalau deddy bikin sedih dan bikin nangis tante mommy, terpaksa om Alex harus menyelamatkan nya bukan?" Ucap Alex masih menggoda Kevin.


"Ngomong sama anak kecil, mulut nya dijaga," ucap Rehan sambil menoyor kepala Alex.


"Tidak,, om Alex salah, deddy gak akan pernah bikin tante mommy sedih dan nangis, karena deddy sayang sama tante mommy, iya kan ded?" Kevin memandang deddy nya meminta persetujuan.


"Tentu nak, deddy sangat sayang sama tante mommy," ucap Rehan tersenyum senang dengan dukungan dari Kevin, dan mengedipkan sebelah matanya menggoda Nabila.


Nabila yang mendengarkan obrolan mereka bertiga hanya menarik nafas panjang, dan menghembusnya perlahan.


Hingga tak terasa mobil yang dikemudikan Pak Rudi telah sampai di Bandara internasional Soetta.

__ADS_1


__ADS_2