Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Kencan Berdua


__ADS_3

Semua tamu sudah kembali pulang, kini tinggal Rehan dan Nabila berdua. Sang putra kesayangan yang sedari siang dibawa Ilham ke apartemen Fatima, belum ada tanda-tanda mau balik. Begitu lah Ilham yang pandai mengambil hati anak kecil, hingga Kevin akan betah seharian bermain bersama om ganteng nya itu.


Mereka baru saja selesai menunaikan ibadah sholat maghrib berjama'ah, Nabila dan Rehan menyempatkan waktu untuk tadarus Al-Qur'an. Setelah selesai, kedua nya dengan kompak membereskan sajadah yang tadi mereka pakai untuk beribadah.


"Yang, kita makan di luar yuk," ajak Rehan pada sang istri.


"Kalau gitu Billa panggil Kevin dulu ya bang,,," ucap Nabila hendak berlalu.


"Hanya kita berdua sayang..." ucap Rehan lembut, seraya mencegah sang istri untuk menjemput putra nya.


"Tapi bang, kasihan Kev..."


"Cup..." Rehan mencium sekilas bibir sang istri dengan lembut, agar tidak meneruskan ucapan nya. "Kevin pasti senang bisa berlama-lama di sana, abang akan telfon Ilham," ucap Rehan santai.


"Bukan Kevin yang senang bisa berlama-lama di sana, tapi suami ku yang raja modus ini yang kesenangan kalau putra nya berlama-lama di sana," Nabila menggerutu.


Rehan tersenyum lebar, "baik lah, kita batalkan makan malam di luar... sekarang kita tidur," ucap Rehan sambil menuju tempat tidur dan segera membaringkan tubuh nya di atas ranjang berukuran king size milik nya.


Nabila mengernyit, "ini kan masih sore abang?" Protes Nabila tak mengerti.


"Ya bagus dong, jadi kita bisa main beberapa ronde," goda Rehan seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Enggak,, enggak,, ayo abang segera bangun, kita kencan berdua malam ini," ucap Nabila seraya menarik tangan suami nya.


Bukan nya tubuh Rehan yang terbangun, tapi justru tubuh Nabila yang terhempas tepat menindih tubuh kekar milik Rehan hanya dengan sekali tarikan. "Aw,,, abang,,," pekik Nabila sambil memukul pelan dada bidang sang suami.


Rehan justru terkekeh senang, dia peluk erat sang istri hingga Nabila sama sekali tak bisa melepaskan diri.


"Lepasin bang, kata nya ngajakin makan di luar?" Nabila cemberut.


"Kiss dulu,,," pinta Rehan seraya memanyunkan bibir nya dan memejamkan mata.

__ADS_1


"enggak mau disitu, nanti pasti lama... dan ujung-ujung nya kita enggak jadi keluar," tolak Nabila dengan merajuk.


"Terus mau nya di bagian mana sayang?" Tanya Rehan kembali membuka kedua mata nya.


"Pipi aja ya,,," ucap Nabila malu-malu.


Rehan semakin gemas dibuat nya, "istri ku ini sungguh menggemaskan, masih malu-malu aja sama suami sendiri," gumam Rehan dalam hati, senyum bahagia tersungging di sudut bibir nya. "Ya udah lah, seikhlas nya kamu aja yang,,," ucap Rehan pura-pura pasrah.


Nabila kemudian mendekatkan wajah nya pada wajah Rehan dan mencium pipi sang suami dengan lembut, namun saat dia hendak menjauhkan wajah nya dengan cekatan Rehan mengecup bibir tipis sang istri dan me***** nya dengan lembut.


Rehan menghentikan sejenak aksinya, dia menatap hangat pada sang istri dan membisikkan sesuatu, "I love you bidadari ku,,," dan sedetik kemudian Rehan kembali mencium bibir sang istri namun kali ini ciuman nya lebih panas dan menuntut...


Mengetahui sang istri pasrah dan ikut menikmati permainan nya, Rehan langsung menggulingkan tubuh istri nya dengan pelan dan menindihnya. "Kita main satu ronde dulu ya sayang,,," pinta nya dengan tatapan berkabut.


Melihat tatapan mata sang suami yang saat ini sangat menginginkan dirinya, Nabila tak kuasa untuk menolak nya. Dia hanya tersenyum manis dan mengangguk pasrah... "aku istri mu, dan seluruh tubuh ku telah halal untuk mu,,, maka lakukan lah apapun yang kamu inginkan," bisik Nabila dalam hati.


Mendapat lampu hijau dari sang istri, Rehan nampak bersemangat,, dia mencumbui istri nya dengan sangat lembut. Hanya dalam hitungan detik keduanya telah bergumul dan dengan penuh cinta Rehan membawa sang istri kembali terbang melayang...


Mereka berdua tengah menikmati makan malam di warung tenda lesehan di pinggir jalan, sesuai dengan permintaan Nabila. Rehan tak kuasa untuk menolak nya, karena sang istri mengancam tidak akan mau di sentuh selama seminggu jika keinginan nya itu tidak dituruti.


Nabila dengan telaten menyisihkan duri ikan di piring Rehan, dan setelah bersih dia kemudian memberikan nya pada sang suami. Tapi Rehan menolak nya,,, Nabila mengernyit, "kenapa bang? Abang masih marah? Enggak berselera makan di tempat seperti ini?"


Rehan menggeleng dan tersenyum manis, "maunya di suapin sama istri abang yang manis dan mengemaskan ini," pinta nya merajuk.


Nabila menggelengkan kepala dan tersenyum malu, "suamiku memang benar-benar pandai merayu," ucap nya lirih seraya menyuapi sang suami dengan tangan nya.


"Makan di tempat seperti ini romantis juga ya ternyata... apalagi disuapin kayak gini," ucap Rehan setelah menelan makanan yang berada di mulut nya, bibir nya tak henti menyunggingkan senyuman. "Ternyata bahagia itu sederhana, gak butuh banyak uang dan kemewahan... cukup bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini." Gumam Rehan dalam hati.


"Abang tahu enggak kenapa Billa lebih suka kita makan di tempat seperti ini?" Tanya Nabila di sela-sela mereka makan, selain menyuapi sang suami Nabila juga menyuapi dirinya sendiri. Sedangkan Rehan sibuk memperhatikan sang istri, bahkan sampai lupa untuk berkedip.


Rehan menggeleng sambil mengunyah makanan di mulut nya, sedang netra nya terus fokus menatap sang istri.

__ADS_1


"Dengan kita membeli makanan di warung kecil seperti ini, kita bukan hanya sekedar melakukan transaksi jual beli tapi kita juga telah membantu menyemangati mereka dalam menjalankan usahanya karena mereka akan sangat senang jika ada pembeli yang datang. Kita akan ikut merasakan kebahagiaan mereka, saat mereka menerima setiap lembar rupiah dari makanan yang telah kita makan." Ucap Nabila dengan bersemangat.


"Benar kah?" Tanya Rehan dengan serius.


"Abang bisa buktikan sendiri nanti pas kita membayar makanan ini," jawab Nabila sambil mencuci tangan di mangkuk yang telah di sediakan.


"Ting,," terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Nabila yang tergeletak di atas meja tempat mereka sedang makan, sekilas Nabila melirik nama si pengirim pesan dan sedetik kemudian Nabila membukanya.


Hingga beberapa saat, Nabila nampak sibuk berbalas pesan dan sejenak mengabaikan sang suami yang terus memperhatikan nya sejak tadi. Hingga Rehan tak kuasa menahan untuk tidak bertanya, "dari siapa yang? Serius banget!?" Ucap Rehan merasa cemburu.


"Abang cemburu ya,,,?" Goda Nabila pada sang suami.


Rehan melengos,, menyembunyikan kekesalan nya.


Nabila tersenyum puas, menyaksikan wajah putih sang suami menjadi merah padam karena cemburu. Buru-buru Nabila mencium pipi sang suami dan berbisik di telinga Rehan, "abang makin tampan deh kalau sedang cemburu."


"Kamu menggodaku yang,,, kita pulang sekarang, dan lanjut ronde kedua," ucap Rehan dengan penuh semangat seraya mengajak sang istri untuk beranjak dari tempat nya.


"Enggak mau abang,, anterin Billa beli kado dulu?" Pinta Nabila manja seraya mengikuti langkah lebar sang suami.


Setelah Rehan membayar makanan nya, buru-buru dia mengajak Nabila untuk segera masuk kedalam mobil.


"Bang, tadi yang kirim pesan itu sahabat Billa sewaktu masih kerja di perusahaan garmen. Dia ngingetin Billa agar besok datang di resepsi nikahan nya,,, antar Billa beli kado dulu ya, please??" Nabila memohon, sesaat setelah Rehan menjalankan mobil nya.


"Ada, syarat nya," ucap Rehan memberikan penawaran.


"Pasti yang menguntungkan buat abang,,," Nabila cemberut.


"Hahaha,,," Rehan tergelak melihat ekspresi sang istri, "tapi kamu juga senang kan yang?" Lirih Rehan dengan mengerling nakal, "tiga ronde aja, oke nyonya bos,,,??" Rehan nampak mengulum senyum.


Nabila menarik nafas panjang, dan menghembus nya perlahan. "Terserah tuan muda saja, banyak ronde pun Billa rela,,, sebagai istri, Billa akan selalu menyiapkan diri untuk bisa melayani dengan sepenuh hati." Jawab Nabila dengan tenang.

__ADS_1


Rehan segera mengarahkan laju mobil nya menuju butik kakak nya, untuk membeli kado buat sahabat sang istri.


__ADS_2