
Di halaman luar terdengar suara deru mesin kendaraan, dan tak lama kemudian muncul Alex beserta dua body guard dengan tubuh yang kekar.
"Selamat siang tuan Alvian Antonio," sapa Alex dengan formal.
"Selamat siang tuan Alexander," jawab Alvian seraya berdiri menyambut tamu nya dengan penuh hormat.
"Sudah kah anda siap kan semua surat-surat penting beserta sertifikat rumah ini?" Tanya Alex tanpa basa basi.
"Sudah," jawab Alvian singkat, seraya memberi kan dua map dengan warna yang berbeda kepada Alex.
Alex menerima nya dan tanpa menunggu di persilahkan dia mendudukkan diri nya di sofa, nampak Alex mulai membuka sebuah map yang berisi sertifikat rumah. Alex mengangngguk-angguk dan kemudian menutup map tersebut, lalu dia membuka map satu nya yang berisi dokumen penting kepemilikan perusahaan milik Alvian.
Dengan serius Alex mulai membaca poin-poin yang tertera dalam perjanjian pengalihan kekuasaan dari Alvian kepada dirinya, "oke, saya sudah membaca nya dan akan segera saya tanda tangani. Jadi mulai senin besok, saya yang menjabat sebagai Presdir di PT. Bintang Kejora dan anda sebagai wakil nya." Ucap Alex dengan nada tegas.
"Siap tuan Alex," ucap Alvian menyetujui isi perjanjian yang telah mereka berdua sepakati. "Terimakasih karena anda sudah bersedia menyelamatkan Bintang Kejora dari kebangkrutan," lanjut Alvian dengan haru.
Alex hanya mengangkat kedua alis nya.
"Tuan Alex, kalau Alvian jadi wakil direktur... bagaimana dengan saya? Saya kan yang berhak atas posisi itu?!" Sergah Sisca tak mengerti.
"Maaf nona Sisca, mungkin saat kepemilikan Bintang Kejora itu ada di tangan kakak anda, bisa jadi anda menempati posisi tersebut. Tapi kini sudah berbeda, saya selaku Presdir tidak sudi mempunyai karyawan yang attitude nya sangat tidak baik!"Jawab Alex dengan ketus.
Sisca mendengus kesal, mendengar komentar pedas dari Asisten Pribadi bos RPA Group itu.
"Alvian, separo dari saham yang kamu miliki adalah hak adik mu... maka setiap bulan kamu harus memberi kan setengah dari keuntungan yang kamu peroleh dari perusahaan kepada Sisca!" Ucap mama Wiwit menuntut.
"Apa Vian gak salah dengar ma?" Tanya Alvian mengernyit, sejenak Alvian terdiam dan kemudian melanjutkan ucapan nya, "Bintang Kejora didirikan oleh almarhum kakek Vian, ayah dari mama dan itu tidak ada hubungan nya dengan keluarga Antonio. Dan nama Bintang Kejora adalah nama dari putri pertama mama ku, jadi Sisca meskipun menyandang nama Antonio di belakang nya seperti hal nya nama Vian, tapi dia sama sekali tidak punya hak atas Bintang Kejora." Alvian menjelaskan dengan suara lantang.
"Jadi mulai sekarang, Vian tidak akan memberi kan apapun pada mama dan Sisca... Vian hanya akan fokus bekerja untuk kesembuhan papa Johan," ucap Alvian dengan sinis.
__ADS_1
"Oke, saya rasa sudah jelas semua. Silahkan segera kosongkan rumah ini!" Ucap Alex dingin.
Semua pekerja di rumah Alvian yang sedari tadi diam mendengar kan sambil menunduk, langsung bergerak dengan cepat mengambil barang bawaan masing-masing dan segera keluar menuju halaman.
Alvian memberi kode pada bi Asih, agar dia dan rekan-rekan nya sesama pekerja di rumah Alvian menunggu nya di halaman samping.
Sedangkan mama Wiwit dan putri nya dengan wajah kesal menyeret koper mereka, "ck,,, kami akan keluar dari sini, kami pun tak sudi hidup miskin seperti mu! Sudah bangkrut tapi masih belagu! Saya pastikan papa mu Johan tidak akan pernah sadar dari koma, untuk selama nya!" Sambil berlalu mama Wiwit mengeluarkan sumpah serapah nya.
Setelah Mobil Sisca keluar dari halaman rumah nya, Alvian dan Alex tertawa puas. "Sayang nya, kita enggak punya bukti untuk menjebloskan mama Wiwit ke penjara bang. Orang suruhan nya saat itu sudah meninggal, sedangkan sopir keluarga bang Vian yang membawa kabur ibu Lin saat ini kondisi nya sudah pikun dan om Johan sendiri masih belum sadar." Ucap Alex merasa kecewa.
"Enggak apa-apa bro, penjara masih lebih nyaman untuk dia. Karena bisa makan kenyang dan tidur dengan cuma-cuma. Tapi dengan gue membiarkan dia bebas tapi tanpa memberi nya suntikan dana, gue yakin itu akan lebih menyakitkan untuk mama Wiwit. Apalagi laki-laki yang menurut informasi yang gue terima sebagai ayah biologis dari Sisca, hanya memanfaatkan nya saja selama ini. Dan gue yakin laki-laki itu tidak akan sudi menerima kehadiran mama Wiwit, tanpa kredit card di dompet nya."
"Sedangkan Sisca, meski mungkin nanti nya dia bisa mendapatkan pekerjaan atau pun bersuami pria yang kaya, tapi gue juga yakin dia enggak akan mau menampung mama terlalu lama. Gue tahu persis dia tipe orang yang gak peduli dengan orang lain, meskipun itu keluarga terdekat nya. Mereka berdua seringkali terlibat dalam perdebatan panjang, bahkan seringkali berakhir dengan saling mendiamkan hingga waktu yang sangat lama."
"Gue yakin, jika nanti papa Johan sudah kembali sehat,,, mama Wiwit pasti akan bertekuk lutut dan memohon-mohon untuk kembali," ucap Alvian tersenyum sinis.
"Oh ya, gue mau ketemu dulu dengan para pekerja," ucap Alvian dan kemudian bergegas menuju halaman samping, nampak Alex mengekor di belakang nya.
"Nak Vian,,," lirih bi Asih seraya menghambur memeluk anak asuh nya semenjak masih bayi itu. "Apa semua yang bibi dengar itu benar nak? Apa benar rumah ini kamu jual?" Cecar bi Asih sambil terisak memeluk Alvian.
Alvian melerai pelukan dan menatap dalam netra wanita paruh baya yang telah mengasuh nya selama ini, "itu tidak benar bi, Vian hanya ingin memberi kan sedikit pelajaran pada mama dan Sisca," jawab Alvian dan tersenyum hangat pada bi Asih.
"Benar kah nak? Lantas bagaimana dengan perusahaan peninggalan keluarga nak Vian?" Tanya bi Asih dengan wajah cemas, bi Asih menatap Alvian dan Alex bergantian.
"Itu juga tidak benar bi," jawab Alex mewakili Alvian.
"Alhamdulillah,,," ucap bi Asih merasa lega, begitu pun dengan semua pekerja yang mendengar percakapan nya,,, mereka turut mengucap syukur dan merasa sangat bahagia.
"Maaf kan bibi yang tadi sempat berfikiran tidak baik sama nak Alex ya,,?" Ucap bi Asih kepada Alex dengan menyesal.
__ADS_1
"Tidak masalah bi, saya mengerti jika bibi berpikir seperti itu." Jawab Alex tersenyum hangat.
"Bi, apa bibi tahu jika Vian punya kakak perempuan?" Tanya Alvian hati-hati.
"Darimana kamu tahu itu nak?" Bi Asih balik bertanya.
"Kenapa bibi tidak pernah menceritakan nya pada Vian?" Alvian masih saja bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari bi Asih.
"Maaf kan bibi nak, saat itu bi Asih masih diperbolehkan untuk mengasuh mu asalkan bibi mau berjanji untuk tidak menceritakan tentang keluarga nak Vian," ucap bi Asih merasa bersalah.
"Tidak apa-apa bi,, itu bukan salah bibi, jadi jangan pernah merasa bersalah," ucap Alvian dengan lembut.
"Apa bibi mau ikut Vian untuk bertemu dengan kakak Vian?" Tanya Alvian pada bibi pengasuh nya.
"Non Bintang,,, apa dia masih hidup?" Tanya bi Asih tak percaya.
Alvian mengangguk dan tersenyum.
"Alhamdulillah,,," ucap syukur bi Asih dan sejurus kemudian wanita paruh baya itu melakukan sujud syukur atas keselamatan putri majikan nya. "Tolong bawa bibi untuk bertemu dengan non Bintang ya nak?" Pinta bi Asih dengan penuh harap.
"Pasti bi,,, Vian akan bawa bibi untuk menemui kak Bintang sekarang juga," jawab Alvian tersenyum hangat.
"Paman,, bibi,, sekarang kalian boleh pulang, selamat berlibur dan nikmatilah kebersamaan dengan keluarga." Ucap Alvian pada para pekerja nya.
"Baik den Vian, terimakasih atas kemurahan hatinya," ucap pak Ahmad mewakili rekan-rekan nya. "Tapi den, siapa nanti yang akan menjaga rumah ini?" Tanya pak Ahmad khawatir.
"Paman gak perlu khawatir, ada mereka berdua yang akan berjaga disini untuk sementara," jawab Alex seraya menunjuk dua body guard yang tadi datang bersama nya.
Pak Ahmad pun mengangguk dan tersenyum lega, dan kemudian mereka semua berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1