
Di rumah sebelah, papa Sultan dan mama Sekar langsung mengistirahatkan tubuh mereka di dalam kamar yang telah dipersiapkan oleh Nabila dan Nisa.
Alex mengajak anak-anak untuk jalan-jalan keliling kampung, dan meminta Nisa untuk menemaninya. Sedangkan Nabila lebih memilih kembali ke rumah untuk membantu ibu nya mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara nanti sore.
Rehan, Fatima dan Yusuf terlihat sedang ngobrol di ruang tamu. "Oh ya dik, untuk mas kawinnya kan baru kakak beliin mukena, sama cincin batu Ruby untuk acara tunangan. Mau kamu tambahin apa... mumpung masih ada waktu untuk mencarinya? Atau mau di tambahin uang cash aja?" Tanya Fatima pada adik nya.
"Rey udah siapin, kakak santai aja,,, tadi sebelum kemari Rey mampir dulu di toko XX Jewellery di Semarang, makanya lama nyampai kesini."
"Pantesan,,, lama nyampai sini nya? Kekasih mu sampai bolak-balik ke halaman depan, dan gak sabar menanti kehadiran mu," ucap Yusuf seraya terkekeh.
Rehan menanggapi nya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kakak boleh lihat perhiasannya? Kamu taruh dimana,,, biar kakak packing sekalian?" Tanya Fatima
"Tadi Rey taruh di meja, kakak lihat aja di kamar depan."
"Oke, kakak ambil ya,,," ucap Fatima seraya beranjak dari tempat duduknya. "Oh ya yah, bunda nanti langsung istirahat di kamar kita ya?" Fatima meminta ijin pada suami nya.
"Kalau kakak mau rehat, packing nanti aja gak apa-apa kak. Bang Yusuf kayak nya udah gak sabar pengin berduaan tuh,," ledek Rehan.
"Yey,, kamu kali yang udah gak sabar," cibir Fatima pada sang adik. "Bang Yusuf pengin ngobrol sama kamu dek,,, nasehat perkawinan," lanjut nya seraya terkekeh.
"Asal jangan nasehat malam pertama aja," celetuk Rehan dengan senyum seringai.
"Kalau itu gak perlu dinasehati dik, pasti langsung paham," timpal Yusuf sambil tertawa lucu.
"Udah ah,, pada ngaco ngomongnya," Fatima segera berlalu meninggalkan suami dan adik nya.
"Dik, jangan dengerin kata kakak kamu tadi. Abang hanya ingin ngobrol dari hati ke hati sebagai sesama laki-laki, bukan mau menasehati apalagi tentang perkawinan. Itu bukan ranah nya abang, karena sampai saat inipun abang masih terus belajar untuk bisa menjadi imam yang baik bagi kakak kamu," ucap Yusuf mulai serius.
Rehan mengernyit,,,
__ADS_1
"Kamu yakin udah mantab sama pilihan yang ini?" Tanya Yusuf.
"Insyaallah bang,, Rey benar-benar mantab," jawab nya dengan tegas. "Dia berbeda dengan gadis-gadis lain yang pernah Rey temui, yang cenderung materialistis dan glamor. Nabila gadis yang sederhana dan lembut hatinya,,, dan yang terpenting buat Rey, dia bisa menerima dan menyayangi Kevin," Rehan mengungkapkan alasannya mengapa memilih Nabila.
"Ya, kamu benar dik jika menjatuhkan pilihan pada gadis yang berhati lembut dan sholihah, karena seorang ibu akan menjadi madrasah atau sekolah pertama buat anak-anak nya. Jadi jika sekolah nya baik, maka Insyaallah akan menghasilkan anak-anak yang baik juga. Dan dengan kelembutan hati seorang ibu, dia akan mendidik anaknya menjadi pribadi yang siap untuk menerima, merespons, dan melaksanakan setiap panggilan kebaikan dengan penuh kesadaran."
Rehan nampak mengangguk-anggukkan kepalanya, dan mendengarkan dengan seksama setiap perkataan abang iparnya itu.
"Ayah, ada telfon dari Mr. Hanung," Fatima tiba-tiba muncul sambil membawa ponsel milik suami nya yang masih berdering.
"Abang angkat telfon dulu ya dik," ucap Yusuf seraya beranjak menuju halaman rumah.
*****
Sementara di kediaman Saras,,,
Hendra baru saja menginjakkan kaki nya di dalam rumah, "tumben pulang cepat!" Sambut istrinya dengan ketus, "jangan bilang kamu di pecat,,," lanjut nya dengan nada sinis.
Ya, mereka pisah kamar sehari setelah menikah dan menempati rumah baru mereka di kota Semarang. Hendra memilih tinggal di kota ini dan mencari pekerjaan dengan kemampuannya sendiri, dia tidak mau menerima bantuan dari papa Saras dan me nolak ketika papa mertuanya itu meminta Hendra untuk membantu di perusahaan milik nya. Bukan tanpa alasan, Hendra hanya tidak ingin keluarganya terus-terusan dihina oleh Saras dan dianggap seperti benalu.
"Hendra,,, aku belum selesai bicara!" Seru Saras, memanggil suami nya.
"Bicara apalagi Ras,,," ucap Hendra malas, dengan menghentikan langkahnya di anak tangga dengan tanpa menoleh kearah istrinya.
"Kamu juga dapet voucher belanja kan barusan dari big bos tempat kamu bekerja? Jangan tanya aku tahu darimana? Di group WA lagi viral, jadi aku tahu,,, sekarang, mana voucher nya?" Pintanya dengan kasar.
"Beneran kamu mau voucher belanja itu?" Tanya Hendra dengan tatapan yang tak dapat di artikan.
"Ya, cepetan sini!"
"Aku gak yakin kamu mau menerima nya kalau kamu tahu siapa big bos ku yang sebenarnya," ucap Hendra dengan lirih.
__ADS_1
"Memangnya siapa dia?" Selidik Saras mulai penasaran, "apa kita mengenalnya?"
"Tidak."
"Lantas apa maksud ucapan kamu tadi?" Saras menautkan kedua alisnya.
"Kita memang tidak mengenalnya, tapi kita pernah sekali bertemu dengan nya," jawab Hendra dengan membuang kasar nafasnya.
''Benar kah? Kapan,,, dan dimana?" Cecar Saras dengan tidak sabar.
"Di hari pernikahan kita,,," sejenak Hendra menjeda ucapan nya, "dia datang bersama Nabila, dan saat itu dia mengaku sebagai calon suami Nabila."
"Aku gak percaya!" Sarkas nya, "palingan juga Nabila itu gadis simpanan nya!" Saras masih terlihat angkuh, "mana mungkin gadis sekelas Nabila bisa bersanding dengan pengusaha kaya dan tampan seperti big bos mu itu?!"
"Tapi itu kenyataannya Ras," lirih Hendra seraya melirik istrinya, "Asisten Pribadi nya sendiri yang mengatakannya di panggung, bahwa big bos akan segera melepas masa lajang nya," lanjut Hendra dengan getir, seraya membuang muka nya kearah lain.
"Jangan bilang kamu cemburu!" Bentak Saras yang melihat ekspresi sang suami.
"Seharusnya kamu gak perlu menanyakan bagaimana perasaanku Ras,, sejak awal kamu tahu bukan, bahwa perasaanku terhadap Nabila tidak pernah berubah!" Jawab Hendra dengan suara meninggi.
"Kamu memang keterlaluan Hendra! Aku gak terima kamu perlakukan seperti ini!" Saras mendekat kearah Hendra dan menampar pipinya. "Plak,, plak,," tamparan yang keras dua kali dilayangkan Saras di pipi suami nya.
Hendra hanya diam, dan menatap tajam istrinya dengan tatapan yang sulit di artikan, "jika saja kamu tidak sedang mengandung anakku, aku pastikan takkan pernah ada disini bersama mu," gumam Hendra dalam hati." Hendra segera berlalu meneruskan langkahnya menaiki anak tangga untuk menuju kamar nya.
Saras terdiam di tempat nya, terlihat dia mengepalkan tangannya dengan sangat erat hinggan nampak buku-buku jemarinya memutih.
Tak berapa lama, Saras bergegas turun menuju kamar nya untuk mengambil ponsel yang diletakkan di atas nakas dan sedetik kemudian terlihat dia menghubungi seseorang...
__ADS_1
Maaf ya readers tersayang,,, ternyata waktu di dunia nyata berbeda dengan waktu di dunia haluku πππ€ so... tunggui aja ya nanti sore (yang entah sore kapan???) π€ππ