Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Saras Depresi


__ADS_3

Nisa membekap mulut nya sendiri, agar tidak mengeluarkan suara histeris nya. Dia benar-benar tak menyangka, akibat nya akan setragis ini. "Benar apa kata peribahasa dalam bahasa Jawa, anak polah bopo kepradah," ucap nya lirih, namun masih dapat di dengar dengan baik oleh Alex.


"Maksud nya apa dik?" Tanya Alex yang tidak mengerti bahasa Jawa itu mengernyit.


"Apapun yang dilakukan oleh seorang anak, maka orang tua akan ikut menanggung nya." Jawab Nisa sendu, "itu mengapa agama kita menganjurkan untuk mendahulukan adab dari pada ilmu dalam mendidik anak, sehingga nanti nya anak akan tumbuh menjadi orang yang memiliki rasa tepo seliro yang tinggi."


"Tepo seliro,,, apa pula itu maksud nya dik?"


Nisa tersenyum, "Nisa lupa kalau mas Alex enggak paham bahasa Jawa," ucap Nisa lembut, "tepo seliro itu, mempunyai tenggang rasa atau toleransi yang tinggi. Dan dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat, bukan kah hal itu sangat penting mas?" Tanya Nisa yang tidak membutuhkan jawaban.


Alex mengangguk-angguk dan tersenyum bangga, "enggak salah mas memilih mu dik, mas yakin kelak kamu akan mendidik anak-anak kita dengan baik," ucap Alex menatap mesra sang tunangan.


"Apaan sih,, mas Alex pinter ngegombal ya ternyata..." ucap Nisa sambil membuang pandangan nya menyembunyikan rona merah di pipi.


*****


Sementara Hendra dan om Bayu baru saja menyelesaikan administrasi, mereka berdua nampak sedang berjalan untuk kembali ke IGD.


"Maaf mas Hendra, bisa kita bicara sebentar," ucap om Bayu sambil menunjuk bangku yang ada di sepanjang koridor rumah sakit yang mereka lewati saat ini.


Hendra mengangguk, kemudian kedua nya segera mengambil tempat duduk dengan nyaman.


"Sebelum nya saya minta maaf, atas kesalahan yang pernah saya lakukan." Ucap om Bayu memulai pembicaraan.


"Iya, saya tidak menyalahkan anda tuan Bayu... toh saat itu kami belum menikah," balas Hendra tak ingin memperpanjang masalah.


"Terimakasih atas kebesaran hati mas Hendra," ucap om Bayu tulus, "saya turut prihatin dengan kejadian yang menimpa kedua mertua mas Hendra, dan jujur saya juga turut merasa bersalah dalam hal ini," lanjut nya merasa tak enak hati.


"Tuan Bayu tak perlu merasa seperti itu, semua sudah menjadi kehendak Nya. Dan dalam hal ini yang harus bertanggung jawab adalah Saras, semua terjadi karena rasa iri hati nya kepada seseorang," ucap Hendra sendu.

__ADS_1


Om Bayu mengangguk, "hal ini juga yang ingin saya sampai kan pada mas Hendra," om Bayu menatap Hendra dengan tatapan serius, "istri anda butuh seseorang yang bisa mengerti dan memahami kejiwaan nya, dia butuh psikiater. Saya yakin, masih ada sisi baik di hati nya, hanya saja ego nya yang tinggi telah menguasai jiwa nya hingga dia nekat melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkan."


Hendra menarik nafas dalam dan menghembus nya perlahan, "iya, saya rasa juga begitu."


"Dan tentang kehamilan nya," sejenak om Bayu menghentikan ucapan nya, "maaf, saya tidak bermaksud untuk terlalu jauh ikut campur urusan rumah tangga anda. Tapi saya terlanjur tahu dan telah terlibat jauh, maka nya saya merasa perlu ikut bicara." Om Bayu menatap Hendra, memohon pengertian dari suami Saras. "Apa yang akan anda lakukan setelah mengetahui semua ini?"


Hendra menggeleng pelan, sejenak dia terdiam dan berfikir keras. Nampak jelas terlihat guratan dalam di dahinya, "jauh sebelum saya mengetahui kebenaran ini, saya sudah pernah mengatakan pada Saras akan menceraikan nya begitu anak itu lahir. Pernikahan kami terjadi akibat sebuah kesalahan, awal nya saya mencoba untuk ikhlas dan akan tetap menjalani nya karena saya tahu ini semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa..."


"Tapi seiring berjalan nya waktu, saya benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap nya yang selalu merendahkan saya dan keluarga saya. Jika hanya saya yang terus menerus dihina, mungkin saya masih bisa terima. Tapi tidak lagi ketika dia juga bersikap semena-mena terhadap adik-adik saya dan sama sekali tidak menghargai kedua orang tua saya sebagai mertua nya." Ucap Hendra getir.


Untuk sesaat suasana menjadi hening,,


"Jika itu sudah menjadi keputusan anda, saya hanya dapat mendukung untuk kebaikan kalian berdua. Tapi saran saya, tolong bawa istri anda untuk berobat dahulu agar nanti nya dia bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi."


"Bagaimana dengan bayi yang di kandungnya? Emm... maksud saya, jika bayi itu bukan benih anda?" Tanya om Bayu ragu.


"Saya memang akan menceraikan nya, tapi saya sudah bertekad akan merawat anak itu nanti nya. Saya tidak mau anak itu dirawat oleh ibu yang notabene memiliki sifat yang kurang baik," ucap Hendra dengan yakin.


"Jika nantinya anda mengalami kesulitan merawat bayi itu, dengan senang hati saya dan istri saya mau merawat nya," ucap om Bayu dengan hati-hati.


Hendra terkejut dan menatap om Bayu dengan penuh selidik.


"Kami tidak memiliki anak, dan selama lima belas tahun ini kami mengasuh beberapa anak yang kami ambil dari kerabat yang tidak mampu, ada juga yang ditinggal mati kedua orang tuanya, bahkan ada dua anak yang kami pungut di jalanan saat kami melintas dan melihat mereka dalam kondisi yang memprihatinkan."


"Kami menyayangi mereka seperti anak sendiri, karena bagi kami mereka adalah amanah yang secara tidak langsung telah dititipkan Allah kepada kami." Ucap om Bayu penuh ketulusan,


Hendra mengangguk mengerti, "akan saya pikirkan, tapi jika bayi itu anak kandung saya... apapun yang terjadi saya akan merawat nya dengan tangan saya sendiri."


"Ya, saya bisa memahami nya. Oh ya, ini tolong simpan kartu nama saya." Om Bayu menyodorkan sebuah kartu nama, "mari kita kembali, enggak enak sama Alex dan dik Nisa jika kelamaan menunggu."

__ADS_1


Baru saja om Bayu hendak melangkah, Hendra menghentikan nya. "Maaf tuan, apa hubungan anda dengan mereka? Kenapa tadi kalian bisa datang bersama ke rumah saya?" Tanya Hendra.


"Alex keponakan sahabat saya," jawab om Bayu, dia kemudian menceritakan pertemuan nya dengan Alex dan Nisa di mall hingga akhir nya mereka bisa sampai ke rumah Hendra.


"Begitulah mas Hendra, saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi jika saja kemarin kami tidak bertemu... mungkin saja saya bisa mengambil keputusan yang salah," ucap om Bayu sedikit lega.


"Ya, anda benar. Saya juga harus berterima kasih kepada anda dan tuan Asisten juga dik Nisa. Karena dengan kehadiran kalian ke rumah kami, kelicikan Saras terbongkar... yah, meski harus ada yang menjadi korban," balas Hendra sendu, mengingat kedua mertua nya yang saat ini terbaring lemah di IGD.


"Mari tuan Bayu,," ajak Hendra kepada om Bayu untuk melanjutkan langkah nya kembali ke IGD.


Sesampainya di sana, mereka mendapati Nisa tengah mencoba menenangkan Saras yang terus saja menangis.


"Ada apa Lex?" Tanya om Bayu berbisik.


"Tadi Saras sempat histeris om, dan setelah itu tertawa sendiri. Dan sekarang seperti yang om Bayu lihat, dia nangis sudah cukup lama," Alex menjelaskan kondisi Nisa.


Om Bayu mendekati Hendra yang tengah ikut menenangkan sang istri, "bawa istri mu sekarang menemui psikiater, biar kami yang menjaga kedua orang tua kalian," titah om Bayu.


Hendra mengangguk dan kemudian segera berlalu membawa Saras dengan memapah nya.


Tak berapa lama beberapa perawat datang dan masuk kedalam ruangan IGD, sedetik kemudian mereka keluar dengan mendorong dua brankar. "Keluarga pasien tuan dan nyonya gunawan?" Tanya seorang suster kepada om Bayu, yang di angguki oleh om Bayu. "Silahkan ikuti kami," titah nya.


Om Bayu, Alex dan Nisa berjalan dengan cepat, tak berapa lama mereka tiba di ruangan VVIP. Pak Gun dan mama Anita di tempatkan di satu ruangan yang luas sesuai permintaan dari Hendra saat di bagian administrasi tadi.


Setelah para perawat keluar, mereka bertiga duduk di sofa tanpa ada yang bersuara. Hanya terdengar bunyi alat-alat medis yang terhubung dengan selang di tubuh mama Anita yang sedang koma, sedangkan pak Gun masih tertidur karena pengaruh obat.


Tak berapa lama, Hendra datang seorang diri. Terpaksa dia harus meninggalkan istri nya, atas perintah dokter yang menangani Saras karena dia dinyatakan depresi dan harus menjalani perawatan intensif.


"Tuan Bayu, tuan Asisten, dik Nisa.. maaf, saya sudah merepotkan kalian. Silahkan jika anda semua mau melanjutkan aktifitas nya, dan terimakasih banyak sudah bersedia membantu saya," ucap Hendra tulus.

__ADS_1


"Tidak masalah mas Hendra, baiklah... kami pamit sekarang, semoga mertua anda segera membaik. Begitupun dengan istri anda," pamit om Bayu sambil menepuk pelan pundak Hendra.


Setelah menyalami Hendra, mereka bertiga segera berlalu meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2