Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Ibu Manager


__ADS_3

Sementara itu Pak Yuda dan dua orang karyawan nya, Rahmat dan Selly masih berada di ruang meeting bersama Alex dan Susan. Mereka masih melanjutkan obrolan ringan seputar kerja sama yang ter pending itu.


"Maaf tuan Alex, boleh kami pinjam tempat sebentar? Ada beberapa hal yang hendak kami bahas," setelah beberapa saat Pak Yuda nampak sedikit ragu meminta ijin pada Asisten Bos RPA Group itu, untuk menggunakan ruang meeting tersebut.


"Silahkan tuan Yuda, santai saja," jawab Alex mempersilahkan, "kalau begitu kami keluar terlebih dahulu," Alex segera berdiri, sambil memberi isyarat pada Susan untuk mengikutinya.


"Mari tuan, kami permisi," Susan pamit dengan sopan kepada tamu Bos nya, dan segera berlalu dari ruang meeting tersebut, mengekor di belakang Asisten Alex yang sudah keluar terlebih dahulu.


Kini di ruang meeting milik RPA Group itu tersisa Pak Yuda dan dua orang bawahannya, "lain kali pakai lah pakaian yang pantas untuk bekerja, jangan mempermalukan saya di depan kolega saya seperti tadi," hardik Pak Yuda pada Selly, sekretaris baru yang menggantikan Nabila.


"Iya om,,," jawab Selly dengan nada sedikit kesal.


"Rahmat, coba kamu hubungi Nabila sekarang," titahnya pada Rahmat, manager keuangan di perusahaannya. "Usahakan agar Nabila mau kembali ke perusahaan dan membantu kita," lanjut Pak Yuda menegaskan.


"Selly,, rapikan semua berkas," titahnya pada Selly, sambil menunggu Rahmat melakukan panggilan, "kita pulang kekantor sekarang, dan saya tunggu kamu dan ibumu di ruangan saya setelah jam makan siang," lanjut Pak Yuda dengan netra menatap Selly memendam amarah.


Nampak Rahmat masih mencoba menghubungi Nabila melalui sambungan ponselnya...


*****


Di ruangan Presdir RPA Group, Nabila dan kedua kakak beradik itu terlihat masih mengobrol dengan hangat. Sesekali terdengar gelak tawa Rehan karena berhasil menggoda sang kekasih, dibarengi suara manja Nabila yang merajuk karena ulah laki-laki perebut hatinya itu.


Fatima hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang jahil dan tak pernah berubah itu, meski terkadang sifat manja Rehan masih sering muncul di usia nya yang tak lagi dapat disebut remaja.


Seperti saat ini, "Kak, Rey pengin stelan jas ini dong,,," rajuk nya kepada sang kakak dengan bersandar di bahu kakaknya, sambil memperlihatkan gambar pakaian yang diinginkan. "Beliin ya kak, please,,," Rehan merayu sang kakak seraya memeluk tubuh kakaknya dengan erat.


"Aduh dik,, kamu gak malu apa sama pacar kamu? Udah mau nikah juga masih manja sama kakak?" olok sang kakak gemas dengan tingkah Rehan, adik tampannya itu.


"Penginnya manja sama Nabila kak, tapi dianya yang gak mau?" Protes Rehan masih dengan merajuk, sambil melirik nakal pada kekasihnya.


Nabila yang dilirik hanya tersenyum, "aku baru tahu sisi lain dari bang Rehan, imut juga ternyata," gumam Nabila dalam hati, yang merasa lucu melihat tingkah sang kekasih.


"Oh iya dik, tadi kamu bilang ke mama kalau pacar kamu itu belum mau dilamar?" Fatima memastikan pada adiknya, "memangnya kenapa?" Selidik Fatima menatap intens pada Nabila.

__ADS_1


Sejenak Rehan dan Nabila saling tatap,,,


"Nunggu Nabila dapat pekerjaan dulu kak, karena minggu lalu dia baru saja di pecat dari tempatnya bekerja," Rehan menjawab dengan pelan, seraya tangannya menggenggam tangan gadisnya untuk memberikan kenyamanan.


"Oh,, maaf jika pertanyaan kakak tadi membuat kamu enggak nyaman," sesal Fatima.


Rehan pun menceritakan sama kakaknya perihal pemecatan Nabila, yang disinyalir karena sebuah kesengajaan yang dilakukan oleh orang lain untuk menjatuhkan Nabila.


Fatima nampak serius mendengarkan cerita adiknya itu, "kamu yang sabar ya dik," ucap Fatima lembut pada Nabila.


"Tidak apa-apa kok kak,,, sudah kejadian juga, dan enggak perlu disesali," lirih Nabila mencoba untuk tetap tersenyum.


"Tadinya Rey tawarin untuk kerja disini kak, tapi dia nolak," ucap Rehan, seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Biar kamu bisa modus, begitu kah maksud mu dik?" Kelakar Fatima pada sang adik.


"Kok modus sih kak?" Protes Rehan.


"Ya iyalah dik,,, secara kamu kan Presdir nya, kamu bisa atur-atur karyawan mu sesukamu dan,,," Fatima menghentikan sejenak ucapannya.


"Nah tuh, kamu cerdas dik," sambil menyentil kening adiknya. "Disini isinya cuma modus, biar bersih harus sering-sering di sentil," lanjut sang kakak sambil tergelak merasa lucu melihat sikap adiknya.


"Auw,,, sakit tau kak," seru Rehan seraya mengusap keningnya, dan ikutan tergelak bersama sang kakak.


Nabila hanya senyum-senyum menyaksikan kekonyolan kakak beradik itu.


Setelah beberapa saat, "Oh ya dek Billa, gimana kalau kerja di butik kakak?" Fatima menawarkan pekerjaan pada calon adik iparnya itu, "kebetulan manager di butik kakak resign karena mau lahiran, jadi saat ini posisinya kosong," lanjut Fatima menjelaskan.


"Boleh juga tuh," sahut Rehan, "gimana sayang?" Tanya Rehan pada sang pujaan hati. "Butik utama kakak ada di pusat perbelanjaan XX, tempat Kevin biasa bermain, dekat pula dengan apartemen abang, mau ya?" Rehan menjelaskan dan memohon pada gadisnya agar mau menerima tawaran sang kakak.


"Tapi Billa gak ada pengalaman di bidang itu, Billa takut nanti malah mengecewakan kak Fatima?" Nabila mengatakan dengan jujur tentang kemampuannya, dan menatap bergantian pada kakak beradik itu.


"Gampang itu dik, bisa sambil belajar," ucap Fatima dengan yakin, "kamu pasti bisa, dan siang ini kita langsung ke butik biar kakak perkenalkan kamu sama karyawan yang lain." Lanjut Fatima mantap dengan senyuman mengembang di bibirnya.

__ADS_1


"Good luck baby,,, eh, ibu manager maksud abang," seraya tersenyum menggoda dan mengusap lembut kepala Nabila yang tertutup hijab.


Derrrt,,, derrrt,,, derrrt,,,


Terdengar ponsel berdering dari dalam tas Nabila, buru-buru Nabila mengambilnya dan terlihat nama Manager Rahmat' dilayar ponselnya.


Nabila mengernyitkan keningnya, "Billa angkat telepon dulu ya?" Sambil menatap kearah Fatima dan Rehan bergantian.


"Halo,,, assalamu'alaikum," Nabila mendahului mengucapakan salam pada si penelepon.


"Wa'alaikumussalam Billa,,, apa kabar?" Rahmat menjawab salam gadis yang di hubungi nya, seraya menanyakan kabarnya.


"Alhamdulillah, Billa baik Pak Rahmat," jawab Nabila lembut, "maaf, ada apa ya pak Rahmat menghubungi Billa?" Tanya Nabila penasaran.


Terdengar Rahmat menjelaskan niatnya menghubungi Nabila, sesuai dengan permintaan Pak Yuda.


"Baiklah Pak Rahmat, InsyaAllah Billa bisa hadir besok," jawab Nabila menyetujui permintaan atasannya.


"Oke Billa,,, terimakasih banyak atas kesediaannya, assalamu'alaikum Bill," Rahmat menutup panggilannya dengan ucapan terimakasih dan memberikan salam.


"Iya, sama-sama, wa'alaikumsalam," Nabila segera menutup layar ponselnya, "Huh,,," terdengar Nabila menghela nafasnya kasar.


"Ada apa?" Rehan bertanya penuh selidik.


"Pak Bos nyuruh Billa datang ke kantor besok, ada pekerjaan yang harus Billa tuntaskan," ucap Nabila datar.


"Kamu kan sudah enggak kerja lagi di sana, jadi kamu sudah gak ada kewajiban apa-apa dong?" Protes Rehan. "Memangnya pekerjaan apa?" Tanya Rehan pura-pura tidak tahu dan menuntut jawaban.


Dan Nabila pun menjelaskan dengan detail tentang proposal penawaran yang telah dia buat untuk perusahaan rekanan ditempat kerjanya dulu yang kini mengalami kendala, karena pihak rekanan meminta agar sang pembuat langsung yang hadir untuk mempresentasikan proposal tersebut.


Rehan mendengarkan dengan seksama, sambil mengangguk-anggukkan kepala pura-pura tidak mengetahui apa-apa, "dan kamu setuju untuk ngebantu mereka? Meski Bos kamu sudah berlaku tidak adil sama kamu?" Protes Rehan menyelidik dengan menautkan kedua alisnya.


"Iya bang, enggak apa-apa kok, jawab Nabila, " "karena kalau proyek ini deal bukan hanya dua perusahaan yang diuntungkan, tapi juga orang-orang kecil yang terlibat langsung. Kayak tenaga bagian produksi, para penyedia bahan baku, dan petani kapas juga ikutan dapat order banyak loh bang," Nabila menjelaskan secara detail tentang pihak-pihak yang dapat diuntungkan.

__ADS_1


Fatima yang sedari tadi menyimak memberikan applaus pada kekasih adiknya itu, "wow,, pemikiran yang keren," ucap Fatima memuji calon adik iparnya.


Rehan tersenyum bahagia mendengar setiap penjelasan pujaan hatinya itu, "kamu bahkan tidak memikirkan dirimu sendiri sayang," bisik nya dalam hati. "Oke, kalau itu yang terbaik menurut kamu, lakukanlah," ucap Rehan seraya menepuk lembut punggung tangan kekasihnya, "abang dukung apapun keputusan kamu sayang," lanjutnya dengan senyum mengembang di bibirnya.


__ADS_2