
'Vian tahu, papa melakukan semua karena terpaksa kan? Vian memang benci dengan perbuatan papa! Tapi di satu sisi, Vian juga sayang sama papa. Papa menyayangi Vian seperti anak kandung, papa yang selalu membela Vian ketika mama berlaku kasar sama Vian."
"Bagi Vian, mendengar papa menyesali perbuatan papa itu sudah cukup... dan Vian tidak hendak menjebloskan papa ke penjara. Tapi mengenai hukuman apa yang layak untuk papa, Vian serahkan pada kak Bintang karena dia yang paling merasakan penderitaan dengan tragedi yang menimpa orang tua kami," ucap Alvian seraya melirik sang kakak.
"Bintang? Apa kamu sudah menemukan kakak kandung kamu itu nak? Bagaimana keadaan nya? Dimana Bintang sekarang? Pertemukan papa sama Bintang nak,,, papa mau minta maaf dengan Bintang," pinta om Johan memohon, bulir bening terus berjatuhan membasahi wajah nya yang sudah mulai berkeriput.
Sedangkan ibu Lin masih diam dan terpaku di tempat nya, tangan nya mengepal menahan amarah dan kecewa. Namun sorot mata nya memendam kerinduan yang mendalam, melihat sosok om Johan yang wajah nya hampir mirip dengan sang papa.
Pak Ilyas mencoba menenangkan sang istri dengan menepuk lembut punggung ibu Lin seraya berbisik, "ikuti apa kata hatimu bu."
"Bintang ada disini om,,," ucap ibu Lin lirih, setelah beberapa saat keheningan menyapa ruang rawat inap itu.
Om Johan terkejut dan langsung melihat kearah sumber suara, om Johan menatap lekat wanita berhijab yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah melampaui kepala empat tersebut dengan tatapan nanar. "Bintang,,, benarkah kamu Bintang Kejora?" Ucap nya dengan bibir bergetar.
Bintang maju mendekati brankar tempat om Johan terbaring lemah, Alvian bergeser dan memberikan jalan untuk sang kakak. "Iya, aku Bintang Kejora. Keponakan om.. yang hilang tiga puluh dua tahun yang lalu," jawab ibu Lin menatap dalam netra om Johan, mencari ketulusan dari kata-kata penyesalan dari adik kandung sang papa.
Om Johan tak kuasa membendung air mata nya, laki-laki tua itu kembali menangis. "Om bersyukur kamu selamat dan baik-baik saja Bintang,,, om senang bisa melihat mu kembali," ucap om Johan dengan terbata menahan tangis.
"Om tahu, kesalahan om sangat lah besar dan tak termaafkan... kamu boleh hukum om sesuka hatimu nak, dan om akan menerima nya dengan lapang dada. Kalaupun om harus mendekam di penjara seumur hidup, pastilah itu takkan cukup untuk menggantikan penderitaan mu selama ini."
"Hanya satu keinginan om saat ini, yaitu meminta maaf kepada kalian berdua secara langsung. Om tahu, pasti sulit bagi kalian untuk bisa memaafkan.. dan om tidak memaksa nya. Om hanya ingin kalian tahu, bahwa om sangat-sangat lah menyesal." Om Johan menatap Alvian dan ibu Lin bergantian.
Untuk beberapa saat semua nya terdiam,,
Alvian membawa sang kekasih yang ikut larut dalam suasana haru biru itu untuk duduk di sofa, yang diikuti oleh Yusuf.
Nampak ibu Lin semakin mendekat kearah om Johan dengan tatapan yang sulit diartikan, dan sedetik kemudian ibu Lin memeluk om Johan dengan erat.
Om Johan terkejut dan segera tersadar, kemudian membalas pelukan ibu Lin dengan hangat. "Apa kamu memaafkan om mu yang penuh dosa ini nak?" Tanya om Johan dengan ragu.
Ibu Lin melerai pelukan nya, dan kemudian mengangguk, "tapi ada syarat nya," ucap nya seraya menatap om nya itu.
__ADS_1
"Apa itu nak?" Tanya om Johan dengan perasaan sedikit lega.
"Om harus berjanji bahwa om akan menjadi orang tua yang baik untuk kami berdua, apa om bersedia? Karena hanya om yang kami punya saat ini..." Tanya ibu Lin dengan mata berkaca-kaca.
Dengan cepat om Johan mengangguk, dan sedetik kemudian menangis tergugu... om Johan sama sekali tak menyangka akan mendapatkan pengampunan dari keponakan nya, bahkan dengan sangat mudah nya.
Alvian mendekat dan kemudian memeluk sang papa, begitupun dengan ibu Lin... ketiga nya berpelukan hingga beberapa saat lama nya.
"Terimakasih atas keluasan hatimu Bintang, om sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan maaf dari mu. Sungguh om merasa sangat menyesal... om janji, akan menjadi ayah yang baik untuk kalian." Ucap om Johan setelah melerai pelukan nya.
"Orang tua angkat dan suami Bintang yang mengajarkan agar Bintang tidak menyimpan dendam dan ikhlas menjalani semua nya. Apalagi Bintang juga sudah mendengar cerita dari dik Vian, kalau om hanyalah korban dari keserakahan tante Wiwit," Ucap ibu Lin.
"Benar nak, om lemah sebagai laki-laki... perasaan cinta yang terlalu besar kepada Wiwit telah membuat om salah dalam melangkah," balas om Johan penuh penyesalan.
Om Johan mengedarkan pandangan dan menatap pak Ilyas, "apa dia suami mu Bintang?" Tanya om Johan sesaat kemudian.
Pak Ilyas mendekat, kemudian menyalami om Johan, "Benar om, saya Ilyas suami Lintang," pak Ilyas memperkenalkan diri nya.
"Benar om, Bintang berganti nama jadi Lintang dan di panggil dengan sebutan Lin untuk menghindari kejaran dan mengelabui orang-orang yang ingin membunuh Bintang saat itu." Jawab ibu Lin sambil mengingat kembali kenangan yang memilukan puluhan tahun silam, ibu Lin menitikkan air mata.
Pak Ilyas yang melihat langsung merengkuh ibu Lin kedalam pelukan nya.
Om Johan pun kembali menangis, dan Alvian menepuk lembut punggung sang papa untuk menenangkan nya.
Nak Ilyas, terimakasih banyak karena sudah melindungi dan menyayangi ponakan om," ucap om Johan sesaat kemudian seraya menatap hangat pak Ilyas.
Pak Ilyas mengangguk dan tersenyum tulus.
Untuk beberapa saat keheningan tercipta di ruang rawat inap om Johan.
Yusuf beranjak dari tempat duduk nya dan menghampiri Alvian yang masih berdiri di samping sang papa, "Al, gue tinggal dulu ya.. bentar lagi gue ada meeting," ucap Yusuf lirih.
__ADS_1
"Oke, makasih untuk semua nya," ucap Alvian tulus.
Yusuf mengangguk dan menepuk bahu Alvian, "it's oke, kita ini keluarga jadi enggak perlu sungkan," balas Yusuf dengan senyuman hangat.
"Om Johan, cepat lah sehat.. minggu depan om harus bisa hadir di resepsi pernikahan cucu om," ucap Yusuf menyemangati om Johan, "Yusuf permisi dulu."
"Makasih banyak nak Yusuf, kamu dan Fatima sudah mau merawat om selama disini," ucap tulus om Johan kepada Yusuf.
Yusuf mengangguk, "Ayah, ibu, Yusuf pamit dulu," dan menyalami pak Ilyas dan ibu Lin serta mencium punggung tangan mereka berdua dengan takdzim, kemudian bergegas meninggalkan ruang rawat tersebut sambil melambaikan tangan pada Susan.
Susan mengangguk dan tersenyum.
Om Johan yang mendengar kata-kata Yusuf tadi, dan perlakuan Yusuf pada keponakan nya serta suami, menyimpan tanya dalam hati.
Alvian yang mengerti arti tatapan sang papa langsung menjelaskan, "putri kak Bintang sudah menikah dengan Rehan pa, dan rencana minggu depan resepsi nya akan di gelar."
"Rehan Putra Alamsyah sahabat kamu itu nak?" Tanya om Johan tak percaya.
Alvian mengangguk, "iya pa, si Rehan.. dan Vian akhirnya bisa ketemu sama kak Bintang juga karena pernikahan mereka," jawab Alvian.
"Pertemuan ku dengan bang Sultan yang membuka jalan untuk Bintang hingga bisa bertemu kembali dengan kalian," ibu Lin menimpali, dan tersenyum bahagia.
Om Johan mengangguk, "kalau begitu bawa papa pulang secepat nya nak, papa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucu papa," om Johan memohon.
"Hey,, sabar lah pa, papa masih lemah." Alvian mengingatkan sang papa dengan lembut.
Akhirnya om Johan pun mengalah, dan menuruti perkataan Alvian. Sedetik kemudian tatapan nya tertuju pada Susan, "kapan kamu akan menikahi pacar mu itu nak?" Tanya om Johan kepada Alvian.
Alvian memberi kode pada Susan untuk mendekat, "kami akan menikah secepat nya setelah papa sembuh," ucap Alvian mantap sambil menggenggam tangan Susan yang sudah berdiri di samping nya.
"Papa lega nak, dan papa sangat bahagia.." sejenak om Johan menghentikan ucapan nya, dan menoleh kearah ibu Lin, "Bintang, maukah kamu memanggil om dengan sebutan papa?" Pinta om Johan penuh harap.
__ADS_1