
Tamu undangan satu persatu memberikan ucapan selamat kepada tuan muda Alamsyah dan sang istri. Saskia, sahabat Nabila sewaktu masih kos juga hadir bersama manager Rahmat, kekasih nya.
Pak Yani, om dari Asisten Alex yang sekaligus kepala HRD ditempat Nabila bekerja dahulu, juga hadir bersama sang istri.
Rekan bisnis Rehan dari Jepang juga nampak hadir, begitu pula rekan bisnis dari negara tetangga yang lain. Mereka memberikan ucapan selamat kepada bos RPA Group, sekaligus mengagumi istri pilihan putra mahkota keluarga Alamsyah tersebut.
Antrian panjang dari tamu undangan yang hendak menyampaikan ucapan selamat, masih mengular. Sementara di sebuah meja di sudut yang lain, nampak papa Johan dan Alvian tengah ngobrol dengan dua orang wanita dan seorang pria.
Wanita itu adalah Sisca dan mama nya, sedangkan pria yang bersama mereka berdua adalah kekasih baru Sisca, seorang pengusaha muda yang merupakan rekan bisnis Rehan, dan pria tersebut juga mengenal Alvian sebagai sesama pebisnis muda.
Sisca sengaja ikut ke pesta mendampingi pacar nya dan mengajak sang mama karena memang ingin menemui Alvian, dia yakin Alvian pasti ada di pesta Rehan karena kedua nya adalah sahabat baik.
Sisca dan mama Wiwit ingin menuntut hak nya kembali, setelah dia tahu bahwa Alvian dan Alex ternyata hanya bersandiwara. Kalaupun tidak mendapatkan bagian dari perusahaan yang memang bukan milik papa Johan atau keluarga Antonio, minimal mereka mendapatkan rumah mewah yang mereka tempati dulu.
"Pa, kamu juga ada di sini rupanya?" Tanya mama Wiwit pada papa Johan, nampak kaget.
"Seperti yang kamu lihat Wit, aku belum mati seperti yang kamu mau," sindir papa Johan sambil melirik tajam mama Wiwit.
"Pa, aku,, aku tidak bermaksud membuat mu sakit pa, maafkan aku," ucap mama Wiwit dengan sendu, entah drama apalagi yang dia rancang.
"Haruskah aku percaya padamu Wit?!"
"Pa, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan! Dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua bukan? Ayolah pa, kumohon... maafkan lah aku, dan biarkan aku kembali ke rumah kita," pinta mama Wiwit merajuk.
__ADS_1
"Rumah kita? Rumah yang kita tempati selama ini adalah rumah Alvian dan saudara perempuan nya!" Jawab papa Johan dengan tegas, "kita hanya numpang hidup enak di sana," lanjut nya dengan wajah penuh penyesalan.
"Pa, aku yang mendampingi mu selama ini, dan aku juga turut serta merawat dan membesarkan Alvian... setidak nya aku juga masih punya hak untuk tinggal di sana kan?!"
"Merawat dan membesarkan Alvian?!" Papa Johan menatap tajam mama Wiwit, "Sandiwara apalagi yang akan kamu perlihatkan padaku Wit? Bertahun-tahun aku merawat dan menyayangi Sisca, yang ternyata bukan putri kandungku.. dan sekarang kamu masih berani menampakkan wajah mu di hadapan ku!"
Pria muda yang merupakan pacar Sisca kaget mendengar penuturan papa Johan, "jadi kamu, bukan adik kandung tuan Alvian?" Selidik pria itu menatap tajam Sisca.
"Tuan Alvian, bisa anda jelaskan pada saya?" Pinta pacar Sisca tersebut.
Alvian kemudian menceritakan yang sebenar nya, hubungan antara dirinya dengan papa Johan dan mama Wiwit. Menceritakan pula, bagaimana perlakuan mama Wiwit terhadap dirinya selama ini, dan pengakuan mama Wiwit yang mengatakan bahwa Sisca bukan putri kandung papa Johan. "Begitulah tuan Albert, semoga anda bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan," ucap Alvian mengakhiri cerita nya.
"Aku benar-benar kecewa sama kamu Sisca! Kalian penipu! Kalian berdua sudah menghasut ku untuk membenci tuan Alvian, dan memintaku untuk menghancurkan bisnis nya!" Ucap Albert dengan kemarahan yang tertahan, karena dia menyadari bahwa saat ini mereka masih berada di dalam pesta bos RPA Group.
"Tuan Alvian, saya minta maaf jika saya pernah berfikir buruk tentang anda," ucap Albert sambil menjabat tangan Alvian, "saya permisi," lanjut nya dan segera berlalu meninggalkan ballroom hotel.
"Honey,, tunggu.." panggil Sisca dengan panik, "ini semua gara-gara mama! Silahkan urus urusan mama sendiri, dan jangan pernah libatkan Sisca dalam urusan mama! Sisca benci sama mama,, dan satu lagi, jangan pernah kembali ke apartemen Sisca!" Seru Sisca dengan sangat marah pada sang mama.
Mama Wiwit tertegun, "Sisca, tunggu mama nak.. urusan mama belum selesai," panggil mama Wiwit pada putri nya, namun tak di gubris sama sekali oleh Sisca yang terus berjalan dengan cepat menyusul langkah kaki kekasih nya.
Sejenak ketiga nya terdiam, masing-masing larut dalam pikiran nya sendiri.
"Alvian, apa benar wanita yang naik ke atas panggung bersama mu tadi adalah Bintang Kejora, kakak kandung mu? Bagaimana jika wanita itu hanya mengaku-ngaku saja? Tidakkah kamu menyelidiki nya terlebih dahulu?" Cecar mama Wiwit nampak tidak suka, setelah beberapa saat mereka terdiam.
__ADS_1
"Menurut anda, dia hanya mengaku-ngaku.. begitu kah?" Tanya Alvian mencoba memancing mama Wiwit, "dan menurut anda, apa semua orang itu licik dan gila harta hingga menghalalkan segala cara termasuk membunuh saudara nya sendiri, seperti yang telah anda lakukan pada keluarga saya?" Ucap Alvian yang tak lagi memanggil mama Wiwit dengan sebutan mama.
"Ya, karena menurut orang suruhan ku, kakak mu Bintang pastilah sudah mati karena ketakutan dan kelaparan?" Ucap mama Wiwit yang kekeh dengan informasi yang di dapat nya.
"Wit,, sudah lah.. jangan bertele-tele! Sekarang apa mau mu?! Apa tujuan mu menemui Alvian di tempati ini?!" Tanya papa Johan dengan ketus.
"Aku ingin kembali padamu pa,, aku janji akan memperbaiki semua kesalahan ku, aku juga akan anggap Alvian seperti putra kandung ku dan menyayangi nya seperti aku menyayangi Sisca," pinta nya penuh harap.
"Hahaha,, papa Johan tertawa lebar, "terlambat Wit, Alvian bahkan sekarang sudah punya keluarga utuh yang menyayangi nya. Kakak kandung nya dan keponakan-keponakan nya, sebentar lagi dia juga akan menikah. Dia tidak butuh kasih sayang palsu dari mu Wit!" Jawab papa Johan dengan tegas.
"Mulai sekarang hubungan kita putus, dan aku juga akan segera mengurus perceraian kita," lanjut papa Johan dengan tanpa melihat kearah mama Wiwit.
"Jika begitu, aku minta harta gono gini! Rumah yang kita tempati bersama harus menjadi milikku!" Pinta mama Wiwit dengan tak tahu malu.
"Bukankah sudah aku jelaskan tadi Wit,,, itu rumah milik orang tuanya Bintang dan Alvian, kamu tidak punya hak apa-apa di sana!" Tegas papa Johan yang nampak semakin geram dengan ambisi mama Wiwit.
"Satpam! Usir wanita ular ini dari pesta tuan Rehan!" Titah Alvian yang sudah muak dengan sikap mama Wiwit.
Kedua satpam yang kebetulan berjaga di dekat mereka pun segera menyeret mama Wiwit, dan keluar dari Ballroom melalui jalan samping.
Tak ada yang menyadari dengan keributan kecil tersebut, tamu undangan yang lain tetap menikmati pesta mewah ala pangeran tampan keluarga Alamsyah.
Pesta yang sangat meriah itu pun telah usai, semua tamu undangan telah kembali pulang ke tempat masing-masing. Tamu undangan dari negara tetangga yang menginap pun telah memasuki kamar, yang telah dipersiapkan untuk mereka.
__ADS_1
Kedua mempelai pun bergegas memasuki kamar mewah mereka di lantai teratas hotel berbintang milik Yusuf, dan meninggalkan keluarga besar mereka yang masih ingin berkumpul menghabiskan malam kebersamaan mereka di hotel milik menantu sulung keluarga Alamsyah.