Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Geng Tampan


__ADS_3

Devan terbangun di pagi hari dengan tubuh yang sangat bugar, meski semalaman dia mengerjai sang istri habis-habisan namun dia tak merasakan lelah sama sekali. Dia menatap hangat sang istri yang masih terlelap dalam dekapan nya, dan dengan penuh cinta Devan mencium lembut kening sang istri.


Devan mengingat kembali kejadian semalam, setelah menyelesaikan pergulatan panas nya dengan sang istri di ronde pertama dia sudah merasakan kelelahan karena semalam dia harus berdiri dengan waktu yang cukup lama, dan harus berjalan ke sana kemari untuk menyapa tamu-tamu nya. Kemudian dia teringat dengan hadiah yang diberikan oleh sahabat nya, karena sudah mengetahui manfaat nya maka tanpa ragu Devan meminum kapsul itu secara diam-diam.


Tak butuh waktu lama, dia merasakan tubuh nya kembali full power seperti baterai yang di recharge... bukan hanya itu, dia juga merasa tubuh nya menghangat dan junior nya mulai menegang. Devan tersenyum dan kemudian kembali mendekati sang istri yang sudah mulai tertidur. Dengan ganas dia mulai mencumbu sang istri untuk membangunkan hasrat istri nya, dan benar saja,, sang istri pun merespon dengan baik setiap sentuhan yang diberikan oleh Devan, hingga berakhir dengan desa*** panjang.


Hal itu berlangsung sampai berkali-kali, hingga akhirnya sang istri terkulai lemah tepat menjelang waktu subuh tadi. "Rehan benar-benar the best," gumam Devan dalam hati, seraya tersenyum puas. "Gue tahu, dibalik sikap tengil sahabat-sahabat gue, mereka enggak akan tega menari di atas penderitaan orang lain."


"Derrt,,, derrt,,, derrt,,,


Bunyi alarm yang sengaja Devan setel tepat pukul tujuh membuyarkan lamunan nya, dengan perlahan Devan meraih ponsel nya yang berada di atas nakas tanpa menggeser posisi nya. Buru-buru dia mematikan alarm agar tidak mengganggu tidur sang istri, dan kemudian dia menghidupkan ponsel nya.


Setelah aktif, Devan membuka aplikasi obrolan dan mengetikkan sesuatu di group chat 'geng tampan'. "Hahaha,,, nama yang narsis, tapi memang benar bukan? Bahwa kami semua cowok tampan?" Devan bermonolog dalam hati.


Si Kutu Kupret ; "Sorry bro, pagi ini gue dan istri sarapan di kamar."


Abang sok Bijak ; "oke."


Asisten Absurd ; "Buset,,, dah ditungguin sampai jamuran juga, malah masih molor!"


Si Kutu Kupret ; "Wales bro,,, nanti jam sepuluh kita ngopi cantik sambil ngobrol."


Abang sok Bijak ; "Jangan dipaksain kalau belum bisa."


Si Kutu Kupret ; "Bisa bang, janji jangan pada pulang dulu!!"


Asisten Absurd ; "Main perintah,,, gaya lu kayak big bos aja!"


Si Kutu Kupret ; "Big bos lu mana? Kok gak nongol sendiri?"


Hingga beberapa menit tidak ada yang merespon, semua sudah kembali sibuk dengan aktifitas nya masing-masing.


Devan pun berniat meletakkan ponsel nya kembali, namun terdengar notifikasi dari chat group spesial nya. Devan kembali membuka ponsel nya, dan membaca chat di group 'geng tampan'.


Beruang Kutub ; "Gue idem sama si pengantin baru, peace..."

__ADS_1


Si Kutu Kupret ; "Bro,,, thanks kapsul nya, benar-benar bikin nagih."


Asisten Absurd ; "Kapsul apaan??


Abang sok Bijak ; "Gue juga ikutan kepo??"


Si Kutu Kupret ; " Rahasia,,, hahaha."


Asisten Absurd & Abang sok Bijak ; 😠😠😠


Devan buru-buru menyudahi obrolan nya, karena si pemberi kapsul tidak merespon bahkan langsung menghilang dan ponsel nya off. Sedangkan dia tidak mau membahas kapsul itu kepada kedua sahabat nya tanpa adanya Rehan, Devan kemudian mematikan kembali ponsel nya karena tidak ingin di ganggu oleh siapa pun. Dia senyum-senyum sendiri, hingga suara serak khas bangun tidur dari wanita cantik yang berada dalam dekapan nya, membuyarkan lamunan nya.


"Bang Dev, kenapa senyum-senyum gitu?" Ucap Lusi dengan mata masih setengah terpejam.


"Enggak apa-apa honey, tadi habis ngirim pesan sama sahabat abang kalau kita enggak ikut sarapan bareng," ucap Devan sambil mencium puncak kepala sang istri.


"Memang nya jam berapa sekarang bang?"


"Jam tujuh lebih dikit," jawab Devan.


Meski diucapkan dengan lirih namun Devan masih dapat mendengar nya, "kenapa honey? Sakit kah?" Dengan sigap Devan yang masih polos mendekat, dan kemudian membuka selimut yang membungkus tubuh seksi sang istri dan membuang nya dengan asal.


Reflek, Lusi menutupi bagian sensitif nya dengan kedua tangan nya. Pandangan mata nya pun tak berani menatap sang suami yang sama-sama polos seperti dirinya. Pipi nya telah merona, "Abang mau ngapain? Lusi malu bang,,," ucap nya tersipu.


"Kenapa malu? Abang bahkan sudah meneliti setiap inci tubuh mu semalam, apa kamu lupa honey?" Ucap Devan dengan senyuman menggoda.


"Udah ah,, abang minggir, Lusi mau mandi."


"Abang gendong," dan tanpa menunggu persetujuan, Devan langsung membopong tubuh sang istri menuju kamar mandi. Senyum seringai terbit di bibir seksi Devan... entah apa yang direncanakan kepada istri nya.


*****


Tepat pukul sepuluh pagi, mereka berempat bersama pasangan masing-masing telah berkumpul di kafe yang masih berada di dalam area hotel.


Devan segera memesan minuman dan camilan ringan untuk menemani mereka ngobrol, tak berapa lama waiters datang dengan membawakan pesanan Devan.

__ADS_1


Mereka minum sambil ngobrol dengan santai,,, Devan yang sedari awal sudah menyiapkan diri untuk mengantisipasi bullying dari sahabat-sahabat nya, akhir nya bisa bernafas dengan lega karena mereka sama sekali tidak menyinggung tentang kapsul ataupun acara belah durian.


"Dik Nisa nanti pulang bareng kami aja, Alex biar langsung ke rumah bang Vian sesuai dengan rencana kemarin," ucap Rehan mengawali obrolan dengan serius.


"Siap," jawab Alex singkat dan padat.


"Gue pulang ke rumah bakda dhuhur karena menurut info, Sisca dan mama berencana keluar dengan teman-teman sosialita nya di jam makan siang. Dan nanti setelah mereka pulang, gue akan langsung informasikan ke lu," ucap Alvian menatap Alex.


"Oke, sip," Alex mengangguk.


Devan hanya menyimak, karena dalam hal ini dia sengaja tidak dilibatkan.


"Oh ya bang, semalam bang Vian bilang kalau mau membangun rumah?" Rehan menuntut jawab.


"Iya benar, jadi setelah gue tahu semuanya dan gue bisa dipertemukan kembali dengan kak Bintang... gue mau ke depan nya kami semua bisa berkumpul dan selalu bersama-sama." Alvian kemudian membuka ponsel nya dan terlihat membuka folder galeri, "ini,,, gue udah bikin gambar hunian untuk keluarga besar kita," ucap Alvian antusias, sambil memperlihatkan gambar di ponsel nya kepada Rehan dan Alex.


"Gue ikutan lihat dong,,," Devan merajuk dan segera mendekat, bergabung dengan sahabat-sahabat nya.


Alvian kemudian menjelaskan satu persatu gambar bangunan itu secara detail, "yang di depan ini rumah utama, terdiri dari dua lantai. Lantai bawah bagian depan khusus untuk ruang pertemuan, bisa menampung seratus orang lebih. Bagian tengah, ruang makan, dengan meja memanjang dan muat untuk dua sampai tiga puluh kursi. Dan bagian belakang khusus untuk dapur."


"Di lantai dua bagian depan, ada satu ruang bersantai yang cukup luas di bagian tengah, di sisi kanan dan kiri nya adalah kamar-kamar untuk tamu yang menginap. Di bagian tengah adalah ruang terbuka hijau, dilengkapi kolam ikan dan wahana bermain anak. Dan bagian belakang, ada beberapa kamar untuk para pekerja."


"Tepat di belakang rumah utama, gue bikin kolam renang dan tepat di tengah-tengah nya gue buat jembatan dengan atap rumbia dan fungsinya sebagai tempat makan out door."


"Dan ini, yang mengelilingi kolam renang membentuk huruf U adalah paviliun untuk keluarga besar kita. Tepat nya gue bangun enam paviliun dengan masing-masing ada tiga kamar dan mini bar, tidak ada ruang tamu tapi di setiap teras dilengkapi kursi santai."


"Untuk siapa semua paviliun itu bang?" Tanya Alex penasaran.


"Untuk gue, kak Bintang, keluarga Susan, Ilham, Billa dan Rehan serta Nisa dan calon suami nya."


"Kok gue gak dapet bagian!" Protes Devan.


"Yey,,, emang nya lu siapa??!" Seru Alex seraya menjitak kening Devan.


"Tambahi satu paviliun nya ya bang, untuk gue. Please bang,,, gue kan udah anggap kalian semua saudara? Masak kalian tega sih?" Devan merajuk. "Pokok nya tiap weekend, gue dan istri mau menghabiskan waktu kumpul bareng kalian semua. Lagian istri gue kan sahabat ponakan lu bang,,, anggap aja istri gue ponakan pertama deh bang, please..." Devan merengek seperti anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2