
Nabila dan Rehan baru saja menyelesaikan aktifitas mandinya, setelah beberapa saat, "yang, kita makan dulu yuk,, mumpung masih hangat," ajak Rehan pada sang istri, sesaat setelah istri nya selesai menyisir rambut nya yang masih agak basah.
"Kita makan di balkon aja ya yang," Rehan segera beranjak dari sofa dan membawa baki yang berisi makanan, sedang kan Nabila mengekor di belakang nya membawa dua gelas minuman hangat.
Mereka berdua duduk di balkon, sambil menikmati sarapan yang sudah agak terlambat itu dengan tenang. Tak ada yang bersuara, hanya denting sendok dan garpu yang memecah keheningan. Semilir angin dan hijau nya hutan menambah segar nya suasana di pagi menjelang siang itu.
"Yang, kamu berhutang penjelasan pada abang,," Ucap Rehan sesaat setelah mereka berdua menyelesaikan sarapan nya.
Nabila mengernyit,,
"Jangan pura-pura lupa yang,,, tentang,,," Rehan mengusap tengkuk nya, nampak canggung untuk melanjut kan ucapan nya.
"Jessica maksud abang?"
Rehan mengangguk, dan tersenyum... "maaf, abang enggak bermaksud untuk membuat mu tidak nyaman," ucap nya lembut. "Gak perlu di bahas kalau kamu enggak nyaman yang,,," lanjut nya dengan menatap dalam netra hitam milik Nabila.
"Enggak apa-apa bang,,," jawab Nabila sambil menggeleng, sejenak Nabila terdiam. "Billa sudah tahu tentang masa lalu abang dengan Jessica dari mama," Nabila menatap suami nya dengan tatapan lembut. "Saat abang harus buru-buru ke Bali malam itu, jujur Billa cemburu dengan nama seseorang yang abang sebut di telfon."
Rehan menggenggam tangan Nabila, dan menggeleng pelan... seakan ingin menjelaskan sesuatu namun dia tahan.
"Dan setelah kepergian abang, mama menemui Billa menanyakan keberadaan abang. Billa mengatakan sejujurnya kepada mama, juga tentang nama Jessica yang sempat abang sebut. Kemudian kami ngobrol banyak hal, hingga kemudian mama cerita tentang Jessica."
"Maaf, abang belum sempat cerita tentang Jessica ataupun kejadian di Bali," ucap nya dengan mempererat genggaman tangan nya, seolah takut sang istri akan kabur.
Nabila tersenyum hangat, "Karena penasaran Billa browsing untuk mencari tahu tentang Jessica, karena dia model terkenal maka dengan mudah Billa bisa mendapat kan informasi tentang dia.. terlepas info itu valid atau enggak tapi setidak nya Billa sudah merasa tenang, sebab Billa tahu kalau dia sudah menikah."
"Hem,,, segitu nya ya cinta sama abang, sampai ngulik mantan segala," Goda Rehan pada sang istri seraya mengerling nakal.
"Billa belajar dari abang,,, abang juga ngulik mantan Billa, abang mengirim seseorang untuk nyari tahu hubungan Billa dan mantan tunangan Billa kan?" Nabila tak mau kalah.
"Bukan abang yang nyuruh yang,,, tapi Alex," Rehan mengelak.
__ADS_1
"Bang Alex kan Asisten abang,, dia akan menuruti semua kemauan abang sebagai bos nya."
"Ya,, ya,, kamu benar yang..." Rehan terkekeh menyadari betapa keingintahuan nya terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabila begitu besar, "abang jatuh hati pada mu saat melihat perhatian kamu yang tulus pada Kevin, dan saat itu juga abang berjanji pada diri abang sendiri untuk memperjuangkan kebahagiaan Kevin dan cinta abang," ucap nya dengan sungguh-sungguh. "Jadi, kalau pun saat itu hubungan kamu sama mantan mu baik-baik saja... abang pasti kan akan membuat nya menjadi tidak baik," lanjut Rehan dengan tergelak.
"Ih,,, abang jahat," ucap Nabila pura-pura cemberut, dan mengalihkan pandangan nya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya, Nabila merasa sangat dicintai oleh suami nya.
"Dan tentang Jessica,,, semua sudah berlalu yang, tak ada lagi yang tersisa tentang nya di hidup abang." Kembali Rehan menatap Nabila, "dan setelah ini abang gak mau ada obrolan lagi tentang mantan diantara kita, mereka hanya serpihan di masa lalu yang sama sekali gak penting,,, kita buang mereka di tempat yang semestinya," Rehan meraih tangan sang istri dan mencium nya dengan lembut. Tatapan mata mereka bertemu dan keduanya terdiam, hanya hati mereka yang saling bicara.
"Ya abang benar, kita harus membuang serpihan masa lalu," gumam Nabila dalam hati.
*****
Di rumah utama, nampak kesibukan terlihat di pagi itu. Fatima yang mondar mandir mempersiapkan segala sesuatu karena sang suami harus segera kembali ke Singapura, dikarenakan ada rapat penting yang telah menanti Yusuf.
"Udah siap semua bun?" Tanya Yusuf yang nampak telah siap dengan mengenakan stelan kaos biru dongker dan celana jeans, terlihat santai, fresh dan lebih muda dari usianya.
"Ayah,,, kenapa tampilan nya seperti ini?" Ucap Fatima memandang penuh kagum pada suami nya. "Nanti kalau di bandara digodain cewek gimana? Ah,,, bunda jadi merasa was-was," lanjut nya dengan tersenyum menggoda sang suami.
Fatima membalas dengan senyuman manis, "bunda juga akan selalu merindukan ayah," ucap nya manja. "Ya udah sana, ayah cepetan berangkat,,, nanti terlambat ke meeting nya," lanjut Fatima seraya melerai pelukan sang suami.
Tapi Yusuf menahan nya, "biarkan seperti ini dulu bun,, ayah masih ingin memeluk bunda." Dan keduanya saling memeluk hingga beberapa saat lama nya.
"Udah ayah, besok kan bunda nyusul pulang,,," rajuk Fatima yang merasa gemas dengan perlakuan suami nya, "kenapa jadi manja gini si bayi besar nya bunda..." lanjut Fatima seraya membelai pipi sang suami.
"Bunda,,, bunda,,, Kevin boleh masuk?" Teriak Kevin dari balik pintu.
Fatima dan Yusuf saling pandang, sedetik kemudian Fatima bergegas menuju pintu dan membukakan nya untuk Kevin, "ada apa nak? Ayo masuk dulu,,," Fatima bertanya dengan lembut kepada keponakan kecil nya seraya menuntun nya masuk kedalam kamar dan mendudukkannya di sofa.
"Bang Zaki bilang, pagi ini bang Zaki dan kak Fira mau pulang bareng sama ayah dan bunda,,, benar begitu bunda?" Tanya Kevin dengan suara menahan tangis.
"Itu enggak benar sayang,,, bang Zaki cuma becanda," ucap Fatima dengan tersenyum lembut. "Kevin jangan sedih ya, kan kami sudah janji mau menemani Kevin disini sampai daddy dan mommy pulang,,," lanjut Fatima seraya memeluk erat sang keponakan.
__ADS_1
"Adik,,," terdengar suara Zaki dan Fira bersamaan memanggil Kevin, sedetik kemudian kedua putra dan putri Fatima terlihat memasuki kamar yang tidak tertutup itu.
"Abang,, kenapa tadi becandain adik nya seperti itu?" Protes Fatima pada putra sulung nya seraya melerai pelukan nya terhadap Kevin. "Berbohong itu dosa abang,,," Fatima mengingat kan.
"Kan abang niat nya cuma bercanda bunda,," Zaki membela diri.
"Walaupun itu bercanda, berbohong itu tetaplah tidak baik sayang,, kan bisa bercandaan dengan cara yang lain? Enggak mesti dengan berbohong, mencela, meledek bentuk fisik seseorang yang kurang sempurna atau apapun yang bisa menyakiti lawan bicara kita," Fatima menasehati putra nya dengan lembut, "abang ngerti kan maksud bunda?" Tanya Fatima dengan menatap lembut sang putra.
Zaki mengangguk, "maafin bang Zaki ya dik," ucap Zaki dengan mengulurkan tangan nya kepada Kevin untuk meminta maaf.
Kevin menerima uluran tangan Zaki dan menjabat nya dengan erat, "sama-sama bang Zaki," ucap Kevin dengan wajah berseri.
Yusuf menatap hangat sang istri dan tersenyum bahagia, "bunda memang luar biasa, ayah benar-benar kagum sama bunda," gumam nya dalam hati.
Fira yang sedari tadi diam menghampiri sang ayah dan bergelayut manja di kaki Yusuf. "Ayah kok udah rapi?" Tanya Fira pada sang ayah.
Yusuf mengangkat tubuh Fira dan membawanya dalam dekapan nya, "ayah harus pulang sekarang nak, karena ada kerjaan yang harus ayah selesaikan dengan segera," jawab Yusuf sambil mencium pipi gembil putri bungsunya dan kemudian segera menurunkan nya kembali.
"Ayah pulang sendiri?" Tanya Kevin polos.
Yusuf mengangguk, "sini nak, peluk ayah," seraya menghampiri Kevin dan merengkuh tubuh mungil itu serta membawanya kedalam pelukan. "Ayah pasti akan merindukan mu nak,," lirih Yusuf dengan mata yang mulai berembun.
Fatima menggeser duduk nya mendekati sang suami, dan mengusap lembut punggung suami nya.
Setelah beberapa saat, "ayah harus segera berangkat nak, nanti ayah bisa terlambat kalau berlama-lama seperti ini," ucap Yusuf dengan melerai pelukan nya.
"Ayah hati-hati di jalan ya,,, Kevin pasti akan merindukan ayah," ucap Kevin seraya beranjak dari tempat duduk nya.
"Fira juga pasti merindukan ayah," ucap Fira dengan manja, tak mau kalah dengan adik sepupunya.
"Kevin tunggu di halaman depan ya,,, sama bang Zaki dan kak Fira," lanjut Kevin seraya berlari kecil bersama kedua kakak sepupunya, meninggalkan Fatima dan Yusuf yang masih terpaku di tempat nya.
__ADS_1