
Sementara di ruangan Presdir, sepeninggal Rehan Nabila nampak termenung, "ngapain ya enaknya, bang Rehan pasti lama,,, minimal satu jam baru kelar meeting nya," gumam Nabila pada dirinya sendiri.
Nabila beranjak dari duduknya menuju ke sebuah jendela kaca di sisi ruangan Rehan, "wow, ternyata pemandangan disini begitu memukau," serunya dengan penuh takjub melihat pemandangan diluar sana yang menampakkan kemegahan ibukota, dengan gedung-gedung tinggi menjulang yang bertebaran di setiap sudut kota.
Dia bergeser untuk bisa melihat keluar dengan lebih leluasa, "Dari sini aku bisa melihat semua, dan itu,,, bukankah itu apartemen tempat bang Rehan dan Kevin tinggal? Pantesan saja bang Rehan memilih tinggal di apartemen, ternyata lebih dekat. Apa mungkin itu salah satu alasannya agar dia lebih leluasa memantau Kevin, dengan mengajak anak itu tinggal di apartemen?" Nabila bermonolog.
Tengah asyik dengan pikirannya terdengar pintu di buka oleh seseorang, Nabila sontak menoleh kearah pintu yang telah terbuka. Seorang wanita cantik berhijab sama seperti dirinya melenggang masuk tanpa permisi, "Rey,, dimana kamu sayang?" Seraya memanggil sang empunya ruangan.
Deg,,, jantung Nabila berdetak tak beraturan, "siapa wanita cantik itu? Dan, dan kenapa dia memanggil bang Rehan dengan panggilan sayang?" Banyak pertanyaan memenuhi benak Nabila.
"Maaf, bang Rehan sedang ada meeting,,," jawab Nabila sambil tersenyum, dia mencoba untuk bersikap setenang mungkin.
"Oh,,, maaf, aku masuk tanpa permisi," jawab wanita cantik itu, membalas senyuman Nabila. "Aku pikir adikku yang tampan itu ada di ruangannya," lanjutnya dengan menggelengkan kepala.
"Adik?" Gumam Nabila lirih sambil mengernyit.
"Perkenalkan, aku Fatima,,," tukas wanita cantik itu cepat, tatkala mengetahui gadis di depannya terlihat bertanya-tanya kebingungan, sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Nabila, "aku kakaknya Rehan, lanjutnya menjelaskan.
Nabila menyambut uluran tangan Fatima dengan hangat,,,
" Eit,,, tunggu,, tunggu,, kamu Nabila bukan?" Selidik Fatima meneliti wajah gadis di depannya, "sebentar," lanjutnya seraya mengambil ponsel dari dalam tas tangan nya, dan kemudian membuka layar ponsel tersebut serta membuka-buka galeri ponselnya. Terlihat dahinya mengernyit, "iya, aku tidak salah nebak, kamu Nabila... lihatlah, ini dirimu bukan?" Tanya Fatima sambil menunjukkan foto kebersamaan Nabila, Rehan dan Kevin di hari ulang tahun Nabila kala itu.
"Oh, iya,,, saya Nabila," jawab Nabila tersipu malu, "Bang Rehan, kenapa foto itu bisa ada di galeri kak Fatima sih?" Nabila bertanya-tanya dalam hati.
"Panggil aku kakak, seperti Rehan memanggilku," pinta wanita cantik yang bernama Fatima itu tersenyum hangat, seraya melepaskan jabat tangannya.
"Baik kak Fatima," Nabila menyetujui dengan menganggukkan kepala.
"Yuk dik, kita duduk dulu sambil ngobrol-ngobrol," seraya menuntun Nabila untuk duduk bersama di sofa yang tersedia di ruang Presdir tersebut.
Nabila hanya menurut, dan duduk di samping kakak dari kekasihnya itu.
__ADS_1
"Dik, sejak pukul berapa Rehan meeting?" Fatima bertanya sesaat setelah keduanya duduk.
"Belum lama juga sih kak, sekitar lima belas menit yang lalu," jawab Nabila sambil melirik jam dinding di ruangan Rehan.
"Dasar ya, si Rehan,,, punya kekasih semanis gini diumpetin," Fatima nampak menggerutu, "sudah berapa lama dik kalian dekat?" Selidik Fatima mulai kepo.
Derrrt,, derrrt,, derrrt,,
Terdengar bunyi ponsel Fatima yang baru saja dimasukkan kedalam tasnya bergetar, Fatima segera mengambilnya dan terlihat nama 'Mamaku Sayang' di layar ponselnya sedang melakukan panggilan video.
"Halo,, assalamu'alaikum ma," sapa Fatima mendahului mamanya, dan tersenyum hangat pada wanita paruh baya yang telah melahirkannya ke dunia.
"Wa'alaikumsalam kak,, kamu sudah sampai di kantor adik kamu? Gimana kabarnya? Dia sempat sarapan tidak tadi pagi?" Tanya sang mama panjang sepanjang jalan kereta api, dan terlihat pandangannya menyelidik menerka-nerka keberadaan Fatima saat ini.
"Mama, satu-satu dong tanyanya,,," ucap Fatima merajuk, "kakak kan bingung jawab yang mana dulu?" Lanjutnya sambil mengerucutkan bibir.
"Namanya juga kangen kak, ya pastinya pengin tahu banyak hal dong dari adik kamu itu," jawab sang mama tak mau kalah.
"Yang jelas kakak sudah di kantor Rehan, dan pertanyaan mama yang lain itu gak perlu kakak jawab karena,,," Fatima menghentikan ucapannya sambil melirik Nabila yang duduk di samping nya.
"Ada surprise buat mama," seru Fatima tersenyum lebar, "coba mama tebak?" Fatima mulai menggoda mamanya dan membuat sang mama menjadi keki dibuatnya.
"Nih anak, enggak adik enggak kakak sama saja,,," nampak sang mama menggerutu terlihat dari layar ponsel.
Fatima terkekeh melihat mamanya ngomel-ngomel gak jelas di layar ponselnya.
Nabila yang menyaksikan adegan itu tersenyum penuh arti, "sebuah keluarga yang hangat," bisik nya dalam hati.
"Mama merem bentar deh," pinta Fatima memohon.
"Baiklah, mama merem sekarang," sang mama menurut segera memejamkan mata.
__ADS_1
Fatima mengarahkan ponselnya ke wajah Nabila, sambil memberikan isyarat pada gadis di sebelah nya agar mau bicara pada mamanya.
"Hitungan ketiga buka ya ma,,," pintanya pada sang mama, seraya menghitung, "satu,, dua,, tiga,, surprise..." seru Fatima dengan antusias karena berhasil memberikan kejutan untuk sang mama.
Terlihat sang mama meneliti wajah manis yang tengah tersenyum hangat sedang menatap nya di layar ponsel, "assalamu'alaikum tante," sapa Nabila lembut, namun suaranya yang lembut itu ternyata mampu membuat wanita yang tengah terpana menatapnya di layar ponsel itu terkejut.
"Wa'alaikumsalam nak,, kamu,, Nabila kan? Iya kan sayang,, kamu pasti Nabila," seru mama dengan wajah berbinar.
"Iya tante, saya Nabila," Nabila membenarkan seraya mengangguk dan tersenyum hangat pada wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usia senjanya.
"Jangan panggil tante dong sayang, panggil saja mama, seperti hal nya Rehan... mau ya?" pinta mama kekasihnya itu dengan sangat.
"Baik mama," Nabila pun menyetujui dan memanggil wanita itu mama.
"Ehm,,, ada yang dilupakan nih," celetuk Fatima sambil memperlihatkan dirinya dilayar ponsel, dengan mendekatkan wajahnya pada Nabila.
"Dimana adik kamu itu? Kenapa gak ngenalin kekasihnya sama kita kesini?" Cecar sang mama dari layar ponsel.
Cek lek,,,
Terdengar suara pintu dibuka dari luar, "sayang,,," Rehan melangkah masuk sambil memanggil kekasih pujaan hatinya. "Eh, ada tamu tak diundang rupanya,,," seru Rehan, dan segera menghampiri kakaknya yang tengah duduk berdua dengan Nabila, mencium hangat pipi Fatima yang sedang memegang ponsel.
"Adik kurang ajar, sembarangan aja ngatain kakaknya," Fatima menggerutu, "lihat itu ma, putra kesayangan mama,,, gak sopan sama kakaknya," Fatima mengadu pada mamanya, seraya mengarahkan layar ponselnya kearah adiknya yang tengah berdiri disampingnya.
"Mama,,," seru Rehan begitu melihat kearah layar ponsel kakaknya dan melihat wajah sang mama berada di sana, dengan ekspresi yang tidak Rehan mengerti. "Mama kenapa menatap Rehan seperti itu ma?" Tanya Rehan penuh selidik.
"Kamu itu ya,, kenapa pacar kamu diumpetin! Cepat bawa kesini dan kenalin sama papa mama," titahnya pada putranya, "kapan kamu akan lamar dia Rey?" Tanya sang mama menuntut jawaban.
Rehan bergeser dari tempatnya berdiri dan segera mengambil posisi duduk ditengah-tengah diantara kakak dan kekasihnya. "Bukan diumpetin ma,,, tapi baru kami rencanakan untuk mengunjungi kalian, InsyaAllah sih minggu depan," jawab Rehan sambil melirik kekasih hatinya, "kalau untuk lamar,,, " sejenak Rehan menghentikan ucapannya, "Nabila yang belum mau ma, Rehan sih penginnya siang ini juga kami nikah," ucapnya sambil nyengir melihat sang mama.
"Nabila,, kenapa belum siap nak? Apa Rehan terlihat kurang serius sama kamu? Atau dia pernah nyakitin hati kamu?" Selidik sang mama.
__ADS_1
"Tidak ma,, bukan itu," jawab Nabila buru-buru.
"Hem,,, baiklah, apapun itu bicarakan lah baik-baik. Mama tunggu kehadiran kalian," ucap sang mama penuh harap, "mama tutup dulu teleponnya ya,, assalamu'alaikum," mama mengakhiri panggilan videonya.