
Alvian baru saja memasuki pintu gerbang kediaman nya, dan segera menepikan mobil nya di halaman rumah. Dengan tergopoh-gopoh scurity yang bertugas segera membukakan pintu mobil untuk putra tuan nya, "selamat siang den," ucap satpam itu dengan sopan.
"Siang pak Ahmad," jawab Alvian bersahaja sesaat setelah turun dari mobil, "Pak Ahmad, tolong bapak bilang ke semua pekerja untuk berkumpul di ruang tengah sekarang, termasuk bapak." Titah nya pada satpam yang berkumis tebal itu.
"Siap den," pak Ahmad menjawab dengan tegas sambil membungkukkan sedikit badan nya.
Setelah memberi perintah Alvian segera masuk kedalam rumah, sedangkan pak Ahmad langsung menjalankan perintah putra majikan nya untuk memanggil rekan-rekan nya sesama pekerja di rumah besar itu agar segera berkumpul sesuai permintaan Alvian.
Ada tiga pasangan suami istri yang bekerja di rumah besar milik Alvian, termasuk pak Ahmad dan istri nya... dan satu wanita paruh baya yang khusus melayani segala keperluan Alvian.
Tak berapa lama, ke tujuh orang pekerja di kediaman Alvian sudah berkumpul di ruang tengah. Alvian yang baru turun dari kamar nya di lantai dua berdeham, "ehm..." seolah memberi kode tentang kehadiran nya.
Alvian kemudian duduk di salah satu sofa singgel, "kalian duduk lah paman,, bibi,," titah nya dengan ramah kepada para pegawai nya sesaat setelah dia duduk.
"Baik den," ucap mereka serempak dengan sopan, dan kemudian tanpa merasa sungkan mereka pun duduk di sofa yang membentuk setengah lingkaran itu.
Alvian memang majikan di rumah itu, namun dia selalu memperlakukan para pekerja di rumah nya dengan sopan. Apalagi usia mereka yang ke semua nya jauh di atas Alvian, sehingga meskipun mereka pekerja tapi dia tetap menghormati nya. Karena perilakunya yang sopan itu, membuat para pekerja menaruh simpati yang luar biasa kepada nya, terlebih Alvian adalah satu-satu nya penghuni rumah yang memperlakukan mereka dengan sangat baik.
"Paman,, bibi,, apa kalian semua senang bekerja di rumah ini?" Tanya Alvian kepada para pekerja nya.
"Apa maksud nak Vian? Tentu saja kami sangat senang bekerja di rumah ini, karena ada nak Vian. Kenapa kamu bertanya seperti itu nak?" Tanya bi Asih, satu-satu nya pekerja yang memanggil Alvian dengan sebutan nak. Karena beliau adalah pengasuh Alvian sejak dia masih bayi merah, dan saat itu bi Asih di ambil oleh orang tua Alvian dari yayasan penyalur tenaga kerja untuk merawat Alvian.
"Kalau misal nya Vian pindah rumah, apa kalian akan ikut dengan saya?" Alvian bertanya kembali.
"Kami akan ikut den Vian, kemanapun aden pindah," jawab mereka dengan kompak.
"Memang nya aden mau pindah kemana? Bukan nya ini rumah den Vian?" Tanya pak Ahmad dengan sopan, menatap putra majikan nya itu dengan menyelidik.
"Ya pak Ahmad, ini memang rumah Vian. Tapi Vian berencana untuk pindah rumah dalam waktu dekat,,," sejenak Alvian menjeda ucapan nya, "mungkin sekitar satu bulan lagi," ucap nya dengan tersenyum.
"Kalau begitu, kami ikut nak Vian ya...?" pinta bi Asih dengan memohon kepada anak asuh nya itu.
"Kalau paman dan bibi tidak keberatan, Vian memang berencana untuk mengajak kalian semua," ucap Alvian seraya menatap satu persatu pekerja di rumah nya.
"Alhamdulillah,,," ucap mereka bersyukur, nampak wajah mereka tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Tapi sebelum nya, Vian mau minta tolong pada paman dan bibi."
Semua pekerja mengernyitkan dahi,,, menebak-nebak kiranya apakah yang di butuh kan oleh majikan nya?
"Tolong paman dan bibi kemasi semua barang-barang milik mama dan Sisca, jangan sampai ada yang tertinggal. Dan setelah itu, kemasi semua barang-barang paman dan bibi sendiri. Ini ada gaji dua bulan, untuk bulan ini dan bulan depan. Paman dan bibi saya liburkan selama satu bulan, dan setelah kediaman saya yang baru sudah selesai di bangun, silahkan paman dan bibi kembali bekerja di kediaman saya yang baru."
"Maaf nak Vian, kalau kami diberi libur satu bulan,,, kenapa kami tetap diberi kan gaji penuh? Bukan kah itu sama saja dengan kami memakan gaji buta?" Tanya bi Asih dengan lugu.
Alvian tersenyum hangat, "karena Vian sendiri yang menginginkan nya, jadi itu bukan gaji buta bi... anggap saja ucapan terimakasih dari saya, karena selama ini paman dan bibi semua sudah bekerja dengan baik di rumah ini." Ucap Alvian dengan tulus.
Semua pekerja mengangguk dan tersenyum senang, "terimakasih den Vian," ucap mereka dengan rasa haru.
"Baiklah paman,, bibi,, segeralah laksanakan, sebelum mama dan Sisca kembali," titah Alvian pada para pekerja nya.
Mereka mengangguk dan mengiyakan, kemudian segera bergegas untuk menjalankan perintah putra majikan nya.
Hanya kurang dari satu jam, semua sudah berkumpul kembali di ruang tengah seperti perintah Alvian lengkap dengan barang bawaan mereka. Ada koper-koper besar, kardus-kardus dan beberapa tas plastik.
Tak berapa lama terdengar deru mobil memasuki halaman rumah, dan sesuai perintah Alvian,,, tak ada satu pun pekerja yang bergeming dan beranjak dari tempat nya untuk menyambut kedatangan nyonya besar dan nona di rumah itu.
"Itu mobil nya Vian juga sudah di rumah, tapi kok sepi?" Tanya sang mama pada diri sendiri.
"Ya udah yuk ma, kita masuk," ajak Sisca pada mama nya, dan segera masuk kedalam rumah.
Mereka berdua terkejut, ketika sampai di ruang tengah ternyata para pekerja nya tengah berkumpul di sana bersama Alvian. "Ada apa ini? Kenapa banyak barang-barang?" Tanya mama Wiwit penuh selidik.
"Ini juga, ada koper milik Sisca.. kenapa bisa ada disini?!" Tanya Sisca dengan tatapan mengintimidasi.
"Vian,,, jelaskan pada mama, ada apa sebenar nya! Kenapa juga papa kamu pindah kan ke rumah sakit di Jerman, di sana kan mahal?!" Ketus sang mama pada Alvian.
"Karena papa harus mendapatkan pengobatan yang terbaik ma," jawab Alvian datar, "dan kenapa mereka semua berada di sini, itu karena Vian mau memberitahukan hal yang sangat penting," lanjut nya mulai serius.
"Duduk lah dahulu ma," titah Alvian pada sang mama.
Wiwit menurut dan segera duduk, diikuti oleh Sisca yang duduk di samping sang mama.
__ADS_1
Untuk sejenak suasana menjadi hening, Alvian memejamkan mata. Sisca dan sang mama nampak gelisah dan penasaran, sedangkan para pekerja hanya diam menunduk.
"Rumah ini sudah Vian jual ma, untuk biaya pengobatan papa." Ucap Alvian memecah keheningan.
"What??!" Teriak mama Wiwit dan Sisca bersamaan. "Enggak mungkin, kamu jangan bercanda... kalau hanya untuk pengobatan papa, kamu masih bisa pakai uang tabungan kamu kan?! Atau kamu juga bisa ambil dari kas perusahaan!" Ucap sang mama masih tak percaya.
Alvian menggeleng lemah, "Vian selama ini enggak bisa nabung ma, karena tagihan kartu kredit mama dan Sisca selalu membengkak sehingga Vian harus menutup kekurangan nya setiap bulan. Dan untuk kas perusahaan, Vian sudah enggak bisa lagi memakai seenak nya karena mulai sekarang Vian hanya pekerja di sana." Ucap Alvian dengan wajah sendu.
"Kok bisa?!" Tanya mama Wiwit menyelidik.
"Tanya kan pada putri kesayangan mama, apa yang telah diperbuat nya semalam di pesta pernikahan Devan," ucap Alvian berteka-teki.
"Memang nya apa yang kamu lakukan?" Tanya sang mama kepada putri nya dengan lembut.
Sisca menggeleng, "Sisca enggak melakukan apa-apa ma," jawab Sisca nampak bingung.
"Semalam dia hampir mempermalukan istri Presdir RPA Group, dengan akan menyiramkan minuman ke wajah nyonya Presdir. Dan imbas nya, mereka menarik semua saham nya di PT. Bintang Kejora."
"Kalau hanya itu, bang Vian kan masih bisa berkuasa karena saham milik RPA tidak sampai setengah nya?!" Sergah Sisca yang sedikit mengerti kondisi perusahaan milik abang nya itu.
"Kamu benar,, jika hanya RPA yang mundur, abang memang masih punya kekuatan, tapi sayang nya dengan di tarik nya saham RPA membuat perusahaan lain juga ikut menarik saham milik nya. Kamu bisa cek sendiri, Bintang Kejora saat ini telah benar-benar jatuh pailit. Dan dengan terpaksa abang menjual lagi separo saham milik abang, agar PT. Bintang Kejora masih tetap bisa bertahan."
"Sedangkan papa, saat ini juga butuh biaya pengobatan yang enggak sedikit dan abang sama sekali tidak punya tabungan. Akhirnya abang menjual rumah ini, juga dua mobil milik abang," lirih Alvian menjelaskan.
"Vian akan cari tempat kos, mama dan Sisca silahkan pulang kembali ke rumah mama dan papa yang lama," ucap Alvian seraya beranjak berdiri, "rumah ini harus segera dikosongkan, karena pemilik nya yang baru akan segera datang."
"Sudah tahu jatuh miskin, kenapa juga kamu bawa tua bangka itu berobat jauh-jauh dan mahal!" Hardik sang mama kecewa, "harus nya biar kan saja dia mati!"
"Mama istri nya, harus nya mama mendukung?" Tanya Alvian tak mengerti.
"Tahu apa kamu tentang papa mu!' Bentak sang mama, " kartu kredit ini masih bisa di pakai kan? Mama akan sewa apartemen, mama enggak sanggup kalau harus tinggal lagi di rumah sempit itu?!"
Alvian menggeleng pelan, "kartu kredit nya sudah di non aktifkan," ucap Alvian dengan jelas.
"Apa??!" Pekik mama Wiwit dengan wajah frustasi.
__ADS_1