Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Terbangun Seperti Bayi


__ADS_3

Rehan terjaga dari tidur nya, dia mendapati sang istri masih terlelap dalam dekapannya. Senyum lebar menghiasai wajah tampannya, teringat kembali bagaimana liar nya permainan nya hingga membuat sang istri berkali-kali melakukan pelepasan dan kemudian mereka sama-sama terkulai lemah.


"Sayang,,," bisik nya lirih seraya menepuk lembut pipi sang istri.


"Hem,,, ada apa bang? Billa masih ngantuk,,," jawab Nabila dengan suara khas bangun tidur.


"Sudah jam dua lebih,,, ibadah yuk," ajaknya dengan melembut kan suara nya.


"Hah,,, lagi?! Billa capek bang? Abang sih kayak bayi aja yang selalu terbangun dua jam sekali," masih dengan mata terpejam Nabila menggerutu dan kembali mengeratkan pelukan nya.


Rehan terkekeh,,, menyadari hasratnya yang tinggi dan selalu ingin mengulang kembali manis nya bercinta dengan sang bidadari bahkan semalam mereka telah melakukannya hingga tiga kali. Namun demikian Rehan masih merasa belum puas, junior nya selalu menuntut ketika tubuh mereka bersentuhan seperti sekarang. Apalagi kini sang istri semakin memeluk nya dengan erat, hingga membuat sang junior kembali bangkit dari peraduannya.


"Sayang,, abang ngajak kamu untuk ibadah malam, kita tahajjud yuk," Rehan mengingatkan seraya tersenyum penuh arti.


"Oh,, em,, iya,,," Nabila membuka mata nya dan mendongak menatap sang suami, dia merasa kikuk,,, dia pikir suaminya akan kembali mengajak nya untuk beribadah sebagai suami istri. Senyuman terbit di bibir tipis nya, "ibadah yang sangat menyenangkan," gumamnya dalam hati.


"Kenapa senyum-senyum yang?" Tanya Rehan yang membuyarkan lamunan Nabila.


"Enggak bang,, masih dingin, bentar lagi ya,, ya,," rajuk nya dengan manja dan kembali memeluk tubuh polos sang suami.


Rehan yang sedari tadi sudah mencoba menahan hasratnya, menelan saliva, "yang,,, kamu menggodaku," ucap Rehan dengan suara bergetar. Dia mengusap lembut rambut hitam nan tebal milk sang istri dengan penuh perasaan.


Nabila yang merasakan tubuh sang suami mulai bergetar, menyadari bahwa suami nya menginginkan dirinya kembali. Tanpa dia sadari tangannya mulai nakal dan meraba junior sang suami, dan benar saja ternyata junior sudah berdiri dengan tegak seolah menantang langit. Nabila meremasnya dengan lembut...

__ADS_1


Rehan menegang, dan mendesah,,, "yang kamu nakal, sekarang tanggung jawab," lirih nya seraya menggulingkan tubuh sang istri dan menindihnya dengan perkasa.


Di luar, kabut gunung dari puncak Merbabu mulai turun membawa hawa dingin yang sanggup menembus pori-pori dan menusuk tulang. Namun dua insan di dalam kamar pengantin yang sedang bergelut itu sama sekali tidak merasakan dinginnya udara di kaki gunung Merbabu, bahkan tubuh mereka terbakar oleh panas nya percintaan yang tercipta dari sebuah ketulusan.


*****


Jam menunjuk kan pukul tiga lebih, Rehan dan Nabila baru saja melaksanakan ibadah sholat sunnah tahajjud dengan berjama'ah. "Kita nunggu waktu shubuh sekalian ya bang, Billa mau ngaji dulu," ucap nya seraya beranjak mengambil Al-Qur'an kecil yang senantiasa tersimpan di dalam tas milik nya.


Nabila memilih duduk di sofa, yang diikuti oleh sang suami, "abang enggak tadarus dulu?"


"Enggak, abang pengin dengerin kamu saja," sambil merebahkan tubuh nya di sofa, dan meletakkan kepala nya di pangkuan sang istri.


Nabila mulai membuka mushaf nya, dan dengan perlahan membaca nya. suara nya yang merdu, dan bacaannya yang tartil sangat menentramkan bagi siapa saja yang mendengar nya, tak terkecuali Rehan. Nabila terus melantunkan ayat suci Al-Qur'an seraya tangannya mengelus lembut kepala sang suami.


Nabila yang mengaji sambil sesekali mencuri pandang pada sang suami, seketika dibuat terkejut menyaksikan air mata suami nya. Dan dengan serta merta dia mengakhiri bacaan tadarus nya, "abang kenapa menangis?" Selidik Nabila dengan penuh kekhawatiran, dia usap air mata suami nya dengan penuh kasih.


Rehan membuka mata nya, menatap netra hitam milik sang istri dan tersenyum hangat. "Abang terharu sayang,,," lirih nya, "terimakasih untuk semua cinta kasih mu terhadap abang dan juga Kevin."


Nabila menarik nafas dalam dan menghembusnya perlahan, "aku mencintai abang karena Allah, Dan aku menyayangi Kevin juga karena Nya."


Kembali mereka saling tatap, berbicara dari hati ke hati,,, hingga beberapa saat lama nya.


Alunan kumandang adzan shubuh terdengar dari Masjid di kejauhan, membuyarkan dua insan yang sedang bercengkrama dalam diam.

__ADS_1


Rehan segera bangkit dan berdiri, "abang ambil air wudhu dulu," ucap nya dengan bergegas menuju kamar mandi.


Nabila meletakkan kitab sucinya di atas nakas, dan kemudian melepaskan mukena nya hendak bersuci.


Ketika Nabila menuju kamar mandi, nampak Rehan melakukan panggilan kepada petugas hotel melalui sambungan intercom.


"Abang telfon siapa sepagi ini?" Nabila mengernyit.


"Petugas hotel, abang lapar," jawab nya sambil tersenyum penuh arti, "selesai shubuhan isi amunisi lagi, untuk pertempuran berikutnya," lanjutnya dengan begitu santai.


Nabila melongo,,, tak bisa berkata-kata lagi, "ya,, ya,, bos selalu bisa memutuskan secara sepihak," bisik nya dalam hati.


Untuk beberapa saat keheningan menyapa di dalam kamar hotel, sepasang suami istri nampak tengah khusyuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Solat shubuh dua rakaat telah selesai ditunaikan, pujia-pujian dan do'a-do'a penuh pengharapan telah mereka gaungkan agar naik dan mengetuk pintu-pintu langit. Hanya berharap atas kemurahan Nya, agar kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup senantiasa bisa mereka dapatkan.


Tok,, tok,, tok,, terdengar pintu kamar mereka diketuk dari luar, dengan sigap Rehan bergegas membukakan pintu. "Pagi tuan, ini makanan pesanan anda," seorang petugas laki-laki menyapa dengan membawa dua minuman hangat dan dua piring makanan di atas baki.


Rehan menyelipkan lembaran rupiah kedalam saku petugas hotel, "terimakasih," ucap nya pendek dan segera mengambil alih baki tersebut dari tangan laki-laki muda tersebut.


Laki-laki itu nampak terkejut, dan sedetik kemudian mengucapkan rasa terimakasih atas uang tips pemberian dari tamu hotel tempatnya bekerja. "Terimakasih banyak tuan, tak sepatutnya saya menerima pemberian dari tuan karena saya bekerja disini memang untuk melayani tamu dan saya sudah diberikan upah setiap bulannya. Tapi karena tuan memberikan nya dengan suka rela dan saya tidak memintanya, maka saya anggap pemberian tuan adalah rizqi untuk saya dari Allah melalui hamba Nya yang sholih," ucap nya panjang lebar.


Rehan tersenyum mendengar penuturan jujur dari laki-laki muda di hadapannya, "ya, saya tahu kamu sudah dibayar untuk melakukan pekerjaan ini. Dan saya memberimu uang tips yang gak seberapa itu sebagai ucapan terimakasih, sekaligus ingin berbagi kebahagiaan,."


Laki-laki muda tersebut tersenyum dan kemudian mengangguk, "kalau begitu sekali lagi terimakasih tuan, saya permisi," ucap nya dengan sopan dan kemudian berlalu.

__ADS_1


Rehan kembali tersenyum dan segera masuk kedalam kamar," pemuda yang luar biasa," lirih nya bergumam.


__ADS_2