Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Membangunkan Macan yang Tertidur


__ADS_3

Hingga beberapa saat setelah Alex menutup telfon nya tak ada yang membuka suara, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Maaf bang Vian, sejak gue dengar cerita dari ibu tentang masa lalu keluarganya,,, gue dan Alex telah mengutus orang untuk memata-matai om Johan dan keluarganya." Ucap Rehan memecah keheningan.


"Dan yang barusan telfon adalah orang suruhan yang kami tugaskan menjaga keamanan om Johan, dan barusan dia melaporkan bahwa Sisca dan mama nya sedang merencanakan sesuatu agar om Johan tidak pernah sadar lagi dari koma nya," Alex memberitahukan laporan dari orang suruhan nya sambil menatap Alvian.


"Kurang ajar mereka, ini gak bisa dibiarkan!" Seru Alvian dengan sangat marah. "Kalau begitu gue pamit," ucap nya dan langsung beranjak.


"Tenang bang,, duduk lah dahulu..." Rehan menahan Alvian.


"Om Johan aman, bang Vian gak usah khawatir... orang-orang kami akan menjaganya, dan kami juga akan terus memantau Sisca dan juga mama nya untuk membatasi ruang gerak mereka berdua." Alex ikut mencoba menenangkan Alvian.


Alvian kembali duduk di tempat nya semula, sejenak hening kembali menyapa ruangan tersebut.


"Dik Alvian, bisa kamu ceritakan kenapa om Johan sampai koma?" Tanya ibu Lin penasaran.


Alvian menarik nafas panjang,, "saya akan menceritakan nya, tapi sebelum nya,,," sejenak Alvian menjeda ucapan nya, menatap Rehan dan ibu Lin bergantian. "Mengenai tes DNA itu Rey,, gue enggak memerlukan nya, karena hati gue sudah meyakini bahwa yang saat ini di hadapan gue adalah kakak kandung gue seperti yang gue curi dengar dari obrolan papa Johan dan Mama Wiwit beberapa hari yang lalu." Ucap Alvian dengan suara bergetar.


Kembali Alvian menatap lekat netra teduh milik ibu Lin, hingga beberapa saat lama nya, "boleh kah saya memeluk kakak?" Pinta Alvian dengan terbata.


Pak Ilyas langsung menggeser posisinya, memberikan ruang pada Alvian untuk mendekati sang istri.


Ibu Lin merentangkan kedua tangan nya, dan serta merta Alvian menghambur kearah nya,,, berlutut dan memeluk pinggang ibu Lin serta menangis di pangkuan wanita yang ternyata adalah kakak kandung nya yang telah terpisah lebih dari tiga puluh tahun lama nya.


Cukup lama mereka berdua saling menumpahkan kerinduan,,, tangan ibu Lin tak henti mengusap kepala sang adik. "Kakak nggak nyangka, masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan mu lagi dik," ucap ibu Lin di sela isak tangis nya.


Susan ikut terharu dan meneteskan air mata, tak pernah dia sangka,,, sang kekasih yang dia kenal dengan sosok nya yang periang, suka jahil namun juga bisa ngemong itu ternyata memiliki masa lalu yang mengharukan.

__ADS_1


Rahan dan Nabila bernafas dengan lega, begitupun dengan Alex dan Nisa,,, sang ibu akhirnya bisa kembali bertemu dengan adiknya.


Demikian juga dengan pak Ilyas, tak henti dia mengucap syukur,,, turut berbahagia dengan kebahagiaan istri nya, Bintang atau Lintang. Gadis yang saat itu baru beranjak remaja, sangat pendiam dan nampak tertekan karena kejadian tragis yang menimpa nya dan keluarga nya. Dia jarang sekali mau mengeluarkan suara nya, dan sikap nya yang seringkali membuat nya kerepotan kala itu.


Alvian melepaskan pelukan nya pada sang kakak, dan kemudian pandangan nya beralih pada pak Ilyas, "makasih karena mas dan keluarga sudah menerima dan menyayangi kakak saya dengan tulus," ucap nya seraya memeluk pak Ilyas.


Pak Ilyas tak dapat berkata-kata, dia hanya mampu membalas pelukan adik ipar nya itu dengan memeluk Alvian erat.


Kedua nya saling melerai pelukan, kini Alvian duduk di tengah diantara kakak kandung dan kakak ipar nya. Nisa berinisiatif untuk menempati posisi Alvian semula, duduk di samping Susan dan menemani kekasih Alvian itu.


"Rey, lu enggak pengin memeluk gue... om lu yang paling tampan ini?" Ucap Alvian mulai bercanda.


"Ih,, males banget, mending gue peluk keponakan nya yang manis ini," balas Rehan dengan langsung memeluk sang istri yang duduk di samping nya.


Wajah Nabila merona karena malu, "abang,, banyak orang,, malu ih,," bisik Nabila sambil mencubit perut sang suami.


Dan semua yang melihat adegan kedua nya tersenyum lebar, "matahari belum terbenam Rey,, dan itu tanda nya hari belum berganti malam," celetuk Alvian yang mengundang gelak tawa.


"Maklum lah dkk, pengantin baru," pak Ilyas bersuara membela anak dan menantunya.


"Tuh, ayah aja paham.. masak yang muda gak ngerti-ngerti sih?! Jomblo kelamaan sih lu,, bang Vian," ejek Rehan kepada sahabat yang ternyata adalah om dari jstri nya itu.


"Itu, udah ada di depan mata di anggurin, gak berani ngelamar dia nya,,," Alex menimpali.


"Sialan kalian berdua,, dasar keponakan gak tahu sopan santun," balas Alvian seraya tersenyum kecut.


Ibu Lin menatap Susan dan Alvian bergantian, "oh, kakak tahu sekarang,,, jadi gadis cantik itu pacar kamu dik? Nanti malam kakak dan mas mu ke rumah nya ya? Untuk melamar dia?" Goda ibu Lin.

__ADS_1


Susan tertunduk dan tersipu malu,,


"Kakak,, kenapa jadi ikutan jahilin Vian sih?" Alvian menatap sang kakak sambil cemberut.


Suasana di ruang tamu apartemen Rehan kembali hening, hingga beberapa saat.


"Dik, pertanyaan kakak yang tadi?" Ibu Lin mengingatkan pada sang adik.


"Oh ya kak,, papa Johan punya riwayat penyakit jantung sudah lama, sejak Vian masih SMP. Saat itu papa Johan mengakui kalau Vian bukan anak kandung nya tapi anak dari abang nya yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas, dan saat mendengar papa Johan jujur mengatakan kebenaran nya pada Vian, mama Wiwit sangat marah,,, hingga papa sempat kejang-kejang dan dilarikan ke rumah sakit."


"Sejak saat itu tak ada lagi pembahasan tentang masa lalu keluarga Vian karena mama Wiwit sudah mengancam papa Johan agar tidak membicarakan nya lagi, Vian juga tak berani bertanya dan mengambil resiko yang bisa menyebabkan penyakit jantung papa menjadi kambuh."


"Tapi apa yang Vian dengar beberapa hari yang lalu, tepat sebelum papa jatuh pingsan dan dokter menyatakan bahwa beliau koma, sungguh membuat Vian sangat marah dan kecewa kak,,," Suara Alvian terdengar bergetar menyimpan amarah.


***** Flashback On


"Pa, kamu mintalah pada anak kesayangan mu itu untuk mau membagi perusahaan nya menjadi dua. Biar yang satu kepemilikannya di atas namakan pada Sisca dan biar Sisca sendiri yang mengelola nya." Titah mama Wiwit.


"Gak perlu lah ma,, toh selama ini Sisca juga sudah dapat jatah bulanan yang sangat banyak dari abang nya itu kan? Dan kita juga sudah menumpang hidup mewah selama ini, jangan serakah ma?" Tolak papa Johan dengan halus. "Lagian ma, apa jadi nya perusahaan jika Sisca yang memimpin... selama ini saja dia jadi wakil direktur di perusahaan abang nya tapi dia sama sekali enggak bisa bekerja, semua abang nya yang handle. Alvian itu sangat menyayangi Sisca ma, apa lagi yang kamu risau kan?" Lanjut papa Johan memberi pengertian pada sang istri.


"Papa ini gimana sih, masak iya anak kandung sendiri malah enggak di belain!?" Ketus mama Wiwit. "Kalau sampai suatu saat Alvian tahu bahwa penyebab kedua orang tuanya meninggal karena mobil nya kita sabotase... dia pasti akan marah besar dan mengusir kita dari rumah mewah ini pa! Apa papa mau kita jadi gelandangan?"


"Karena itu mama mau sebelum semua nya terkuak, kita harus bergerak cepat untuk membagi perusahaan menjadi dua.. dan salah satunya atas nama Sisca, agar posisi kita tetap aman! Dan dengan perlahan Sisca akan mengambil semua nya dari Alvian, pacar Sisca juga sudah setuju untuk membantu nya." Ucap mama Wiwit dengan antusias.


"Huh,,," papa Johan menarik nafas panjang dan menghembus nya perlahan. "Papa tidak setuju dengan ide mama," jawab papa Johan tegas. "Kita sudah banyak melakukan kesalahan pada keluarga bang Jonny, dan papa berniat untuk membuka semua nya pada Alvian suatu saat nanti. Papa sudah sangat lelah ma,,, setiap saat, setiap waktu papa terus dihantui rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam," lirih nya pilu.


Mama Wiwit nampak gusar...

__ADS_1


__ADS_2