
Setelah beberapa saat Rehan dan dua sahabat nya di dalam ruangan, nampak bos RPA Group itu menelpon sekretaris nya melalui sambungan telepon kantor yang berada di atas meja kerjanya. "Tante Susan," ucap Rehan sambil melirik om dari istri nya, "tolong kamu suruh istri kesayangan ku untuk masuk. Tante dan Lusi juga, tapi sebelum nya tolong suruh OB untuk membuatkan minuman," tanpa menunggu jawaban Rehan langsung menutup telepon nya.
"Hemm,,, istri kesayangan,,, kayak yang punya istri sendiri?!" Cibir Devan pada sahabat nya.
"Bodo amat, istri istri gue, dan ini juga kantor gue. So, gue bebas mau ngapain aja..." balas Rehan dengan santainya.
Sementara Alvian hanya tersenyum simpul,,
Tepat di waktu yang sama, sang istri dan pasangan kedua sahabat nya masuk. Dan tanpa menunggu perintah sang suami, Nabila menuntun Lusi untuk duduk di sofa yang diikuti oleh Susan yang langsung ikut duduk di sebelah Lusi.
"Emang urusan abang udah selesai?" Tanya Nabila pada sang suami.
"Sudah yang,,, mereka udah abang usir, tapi enggak mau pada pulang," jawab Rehan asal sambil beranjak dari kursi kebesaran nya menuju sofa, dan kemudian duduk tepat di samping sang istri.
Alvian dan Devan juga melakukan hal yang sama, mereka ikut pindah tempat duduk dan kemudian mengambil posisi duduk di samping pasangan masing-masing.
"Bang Vian tadi saat diluar sempat bilang, kalau lu dan istri lu habis yang enak-enak... emang ngapain?" Tanya Devan polos.
Mendengar pertanyaan Devan, sontak wajah Nabila memerah dan dia menundukkan wajah nya.
Berbeda dengan Rehan, yang menghadapinya dengan jawaban lugas,,, "emang menurut lu kalau suami istri berduaan itu ngapain lagi???" Tanya Rehan dengan tersenyum lebar.
"Iya ya,,, ngapain lagi coba?!" Gumam Devan seraya mengusap tengkuk nya, "terus tadi bang Vian kenapa kayak nyindir gitu?" Tanya Devan pada Alvian.
"Gue enggak nyindir... cuma godain ponakan gue aja, yang salah tingkah kayak ketangkep satpol PP!" Jawab Alvian seraya terkekeh.
"Jadi kalian tadi berbuat mesum di kantor?!" Tanya Devan tanpa basa basi.
Nabila semakin menunduk, sedangkan Susan tersenyum lebar menahan tawa dan Lusi mengernyit tak mengerti arah pembicaraan sang suami.
"Hush,,, kalau sama pasangan halal itu bukan mesum, tapi Ibadah!" Elak Rehan dan mencoba meluruskan, "menjalankan kewajiban bagi pasangan yang sudah menikah apalagi jika hal tersebut membuat pasangan kita bahagia, itu bernilai ibadah. Jadi, yang gue dan istri gue lakukan tadi adalah ibadah."
"Ya, enggak di sembarang tempat juga kali?!" Tukas Alvian.
__ADS_1
"Siapa bilang kantor ini sembarang tempat, kantor adalah rumah kedua buat gue." Ucap Rehan membela diri, "bukan kah bagus jika rumah kita sering-sering dipakai untuk beribadah? Karena rumah tersebut akan mendapatkan keberkahan dari Sang Pencipta,,, dan gue mau kantor ini juga mendapatkan keberkahan dari Nya, karena itulah gue mau sering-sering beribadah disini," lanjut Rehan seraya tersenyum penuh kemenangan dan melirik sang istri yang tengah menatap nya dengan tajam.
"Lu sih enak, di kantor lu kamar nya luas,,," ucap Devan sambil menunjuk pintu sebuah ruangan khusus yang di desain unik, "berbeda dengan punya gue, yang hanya muat singel bad," lanjutnya kecewa.
"Hahaha,,," Rehan tertawa, "ibadah nya enggak harus di kamar kali bro,,, dimana aja tiap ada kesempatan langsung laksanakan! Yang penting pintu nya harus lu kunci!" Ucap Rehan tanpa dosa.
"Abang,,, bisa enggak sih kita ngobrol hal lain?!" Lirih Nabila di telinga sang suami.
"Abang lagi manas-manasin bang Vian aja yang,,, biar dia cepat-cepat menikah," balas Rehan menatap lembut sang istri.
Tok,, tok,, tok,,
Terdengar pintu ruangan di ketuk, dengan bergegas Susan membukakan pintu nya. Nampak seorang OB masuk kedalam ruangan khusus Presdir sambil membawa minuman, dengan dibantu Susan OB itu meletakkan minuman di atas meja dengan sangat hati-hati. Setelah tugas nya selesai, dia langsung pamit undur diri dengan sopan.
"Seperti nya gue harus merenovasi ruangan kantor gue," ucap Devan seraya melirik istri nya.
Yang dilirik pura-pura cuek,,
"Ruangan lu juga harus di renovasi kayak nya bang,," ucap Devan sambil menatap Alvian.
Rehan terkekeh,, "segeralah menikah bang, dan gue yakin lu akan butuh ruangan khusus itu." Balas Rehan serius, "dengan menikah kita tidak hanya menyempurnakan separuh agama kita, tapi kita juga bisa beribadah lebih banyak lagi. Karena setiap saat, setiap waktu, setiap kita melaksanakan kewajiban untuk memenuhi hak pasangan dengan cara yang baik itu bernilai ibadah. Dan itu mengapa, menikah di katakan sebagi ibadah yang panjang,,, dan sekaligus yang paling menyenangkan menurut gue. Dengan menikah, kita akan mendapatkan ketenangan lahir, dan juga ketenangan batin." Ulas Rehan panjang lebar.
Alvian hanya mengangguk, "ya, gue paham," jawab Alvian singkat. "Oh ya, tadi Susan bilang katanya Ada calon klien yang lu tolak? Siapa?" Tanya Alvian mengalihkan pembicaraan.
"Reza,,, Reza Fahlevi, CEO muda dari Johor." Jawab Rehan.
Alvian mengernyit,,, "bukan nya dia adik dari Irfan Fahlevi? Mantan pacar Fatima kan?" Tanya Alvian memastikan.
Sejenak Rehan terdiam, "ya, bang Vian benar. Pantas saja tadi dia bilang dendam sama bang Yusuf? Apa mungkin karena kakak nya masuk penjara dan dia masih berfikir bahwa bang Yusuf penyebab nya?"
"Bisa jadi seperti itu Rey,,," jawab Alvian sambil mengerutkan kening.
"Bukan nya Irfan di penjara karena narkoba ya?" Tanya Devan memastikan.
__ADS_1
"Benar,,," jawab Rehan, "tapi keluarga nya menuduh, penyebab Irfan kecanduan dan nekat mengedarkan barang terlarang itu karena bang Yusuf merebut kak Fatima dari Irfan. Padahal jauh sebelum kak Fatima mengenal bang Yusuf, mereka berdua sudah putus. Dan menurut kak Fatima, mereka putus karena Irfan suka OD hingga kak Fatima menyudahi hubungan nya itu," lanjut nya menjelaskan.
Alvian mengangguk-angguk, "begitulah hidup, jika dipikir apa kurang nya Irfan? Wajah tampan, harta berlimpah.. tapi masih aja kurang bersyukur, hingga mencari jalan pintas demi kesenangan sesaat dan justru malah menyesatkan," ucap Alvian pelan.
Mereka terus saja mengobrol, hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Dan mereka akhir nya menyudahi pertemuan singkat itu dan kembali ke rumah masing-masing.
*****
Sementara kedua adik Nabila dan Alex, baru saja pulang dari Yogya untuk mengurus administrasi wisuda nya Nisa di kampus. Dan saat ini mereka mampir ke kota, dimana Nabila pernah menempuh pendidikan tinggi nya di kota tersebut.
Mereka sengaja singgah sebentar, karena menuruti kemauan Ilham yang hendak membelikan kenang-kenangan untuk sahabat-sahabat nya. Karena rencana nya besok Ilham akan ke sekolahan untuk mengurus kepindahan nya sekaligus berpamitan.
Saat tiba di mall terbesar di kota itu, tanpa sengaja Nisa melihat Saras bersama pria yang sudah cukup berumur. "Mas Alex, Nisa mau lihat-lihat perlengkapan wanita ya?" Pamit nya pada Alex, padahal dia bermaksud untuk membuntuti Saras.
"Mas antar ya?"
"Enggak perlu mas, Nisa malu,," kilah nya menolak dengan halus.
"Baiklah, mas mau nemani Ilham saja. Kamu hati-hati ya dik," ucap Alex lembut.
Nisa mengangguk dan kemudian segera berlalu dengan sedikit tergesa untuk membuntuti Saras.
Setelah agak dekat dengan target, Nisa segera mencari tempat yang terlindung dan berpura-pura memilih-milih pakaian. Dari tempat nya berdiri, dengan jelas dia dapat mendengarkan obrolan Saras dan laki-laki tersebut.
"Ayolah om,,, kapan om akan berterus terang sama orang tuaku? Kandungan ku semakin besar om, dan aku enggak mau anak ini lahir tanpa di dampingi om sebagai ayah kandung nya," Saras merengek kepada pria berumur yang dipanggil nya dengan sebutan om.
"Tapi kan kamu juga belum bercerai dengan Hendra sayang,,," jawab pria tersebut dengan jengah.
"Memang nya kenapa om? Om meragukan aku, kalau aku masih berhubungan badan dengan laki-laki benalu itu?! Kami sudah lama pisah rumah om... percayalah padaku, please..." Saras terus merajuk.
"Om akan pikirkan.. meski sebenarnya om juga ragu, apa benar anak itu benih dari om?!" Ucap laki-laki itu gamang.
Saras tertegun,,, "jadi om enggak percaya?!"
__ADS_1
"Menurut kamu?" Pria itu kembali bertanya.