Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Ratu di Hati Alex


__ADS_3

Pak Ilyas menatap istri dan putri nya Nisa secara bergantian,,, "putri kami Nisa sudah cukup dewasa untuk bisa menentukan jalan hidupnya sendiri, dan dia juga sudah kami bekali dengan ilmu Agama dan pengetahuan umum yang cukup sehingga bisa memilah dan memilih apa yang baik dan tidak baik untuk nya. Jadi kami serahkan semua keputusan kepada Nisa untuk menjawab nya sendiri."


Alex mendekat kearah Nisa dan duduk di samping adik Nabila itu, Nabila dan Rehan segera menggeser duduk nya untuk memberikan ruang kepada Alex dan Nisa.


"Dik Nisa,,, seperti yang bang Alex katakan tadi waktu kita jalan-jalan, abang serius ingin lebih mengenalmu." Alex berkata dengan lembut seraya menatap mata bulat milik Nisa. "Dan untuk membuktikan keseriusan abang,,," Alex menjeda ucapan nya dan terlihat mengambil sebuah kotak yang telah dia persiapkan sebelum nya di kantong bajunya. Alex membuka kotak itu dan mengambil isinya, sebuah cincin emas murni dengan batu permata cantik yang menghiasinya, "abang ingin menjadikanmu sebagai ratu di hati abang, maukah kamu menempati singgasana dik Nisa di hati abang?" Alex bertanya dengan lembut.


"So sweet,,," ucap Nabila dan Fatima bersamaan.


Rehan dan Yusuf yang mendengar wanita yang dicintainya mengungkapkan kekaguman atas ucapan Alex yang melamar Nisa, nampak tidak suka, "lebih sweet abang kali yang,,," bisik Rehan lirih di telinga Nabila.


Sedangkan Yusuf berkata kepada istrinya, "bunda mau kita honeymoon yang ke delapan?" Seraya tersenyum menggoda kepada istrinya.


Ya, Yusuf memang terkenal sebagai sosok suami yang romantis. Dia sering menghujani sang istri dengan hadiah-hadiah yang spesial. Di usia pernikahan nya yang menginjak delapan tahun, sudah tujuh kali Yusuf mengajak sang istri untuk berbulan madu mengunjungi tempat-tempat indah sesuai permintaan Fatima.


Sedangkan ibu Lin nampak menatap sang putri dengan tatapan dengan penuh harap, "putuskan sesuai dengan kata hatimu nduk,,," ucap nya lembut.


Nisa terpaku, dia menatap sang ayah seolah meminta jawaban,,, yang hanya ditanggapi dengan senyuman hangat oleh pak Ilyas.


"Bagaimana nak Nisa?" Tanya mama Sekar membuyarkan Nisa yang tengah sibuk dengan pikirannya.


Kembali Nisa mengedarkan pandangannya, dan berhenti tatkala beradu pandang dengan Nabila... dan lagi-lagi Nisa hanya mendapatkan senyuman dari kakak nya itu.


Nisa menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan, mengucap Bismillah dan dengan mantab dia menjawab, "iya, Nisa mau menjadi ratu di hati abang," rona merah nampak jelas terlihat di pipi chuby milik Nisa.


"Alhamdulillah,,," ucap Alex dengan sangat bahagia, buru-buru Alex mengambil cincin dari dalam kotak dan kemudian memakaikan nya di jari manis Nisa. "Bang Alex sangat bahagia dik Nisa,,," ucap Alex lembut, senyum kebahagiaan terus tersungging di bibir nya.


"Alhamdulillah ya nak, semua berjalan sesuai dengan apa yang kalian inginkan," ucap ibu Lin menatap kedua putri nya bergantian. "Untuk mbak Billa dan nak Rehan, kalian istirahatlah dahulu barang sejenak, mumpung masih ada sedikit waktu sebelum acara nanti sore dimulai," titah nya pada putri dan calon menantunya.


"Tunggu sebentar nak Billa, Rey,," cegah mama Sekar, "kalian belum membicarakan tentang resepsi bukan?"


"Rehan sudah memikirkannya ma," jawab Rehan dengan cepat, "semoga rencana Rehan bisa diterima oleh bapak dan ibu," lanjut nya seraya menatap pak Ilyas dan ibu Lin bergantian.


"Kami ikut saja apa rencana kalian nak," jawab pak Ilyas, "ya kan bu?" Seraya menatap sang istri.

__ADS_1


"Betul nak Rehan, kami ikut saja dengan rencana kalian dan mendo'akan yang terbaik," ucap ibu Lin dengan bijak.


"Terima kasih pak, bu,,," ucap Rehan seraya tersenyum lebar.


"Kakak akan bantu kalian mempersiapkan segala sesuatunya," timpal Fatima dengan antusias.


"Sekarang istirahat lah nak,,," ibu Lin mengusir keduanya dengan halus.


*****


Keluarga yang lain sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, Alex dengan teliti mengabsen satu-persatu semua kebutuhan untuk acara akad nikah sang atasan dan memastikannya agar semua berjalan dengan sempurna.


Sedangkan Nabila didalam kamarnya, nampak gelisah dan tidak dapat memejamkan matanya. Dia masih terlihat sedikit syok dengan kejutan-kejutan yang didapatkannya hari ini.


Tengah asyik bergelut dengan pikirannya, ponsel nya berdering menandakan ada panggilan telfon yang masuk. Nabila segera beranjak dari tempat tidurnya, dan mengambil ponsel nya yang berada di atas nakas.


Terpampang nyata nama 'calon imam ku' dilayar ponsel nya, sejenak Nabila tersenyum dan kemudian segera menerima panggilan itu, "assalamu'alaikum sayang,,," suara maskulin dari sosok laki-laki yang selalu hadir di mimpinya menyapa nya dengan lembut seraya memberi salam.


"Wa'alaikumsalam abang calon imam ku," jawab Nabila dengan menggoda Rehan.


"Abang,,, apaan sih malah di ketawain," protes Nabila merajuk, "kan abang sendiri yang ngetik nama itu di ponsel ku,,," lirih nya seraya mengerucutkan bibir tipis nya.


"Iya,, iya,, maafin abang," ucap Rehan sungguh-sungguh. "Bill, kenapa enggak tidur?" Tanya Rehan penuh selidik.


"Kan terima telfon dari abang,,," jawab Nabila tak ingin jujur.


"Masak?" Rehan nampak tak percaya, "bukan karena mikirin abang?" Tanya Rehan menggoda sang calon istri.


Lama Nabila terdiam,,,


"Sayang,,, sayang,,," suara Rehan terdengar panik di ujung telfon sana.


"Iya bang, Billa masih disini kok,,," ucap Nabila dengan santai.

__ADS_1


"Habisnya kamu gak jawab pertanyaan dari abang, dan malah diem aja... ya, abang pikir kamu pingsan?" Ucap Rehan penuh kekhawatiran.


"Gimana Billa mau jawab, pertanyaan abang menjebak sih?" Ucap Nabila sambil menggigit bibir bawahnya.


"Hahaha,,," Rehan tertawa senang, merasa berhasil menggoda calon istrinya itu. "Sayang, abang juga gak bisa istirahat, dari tadi mencoba memejamkan mata tapi gak bisa juga,,," ucap nya dengan lemah.


"Jangan bilang abang mikirin wanita lain?!" Ucap Nabila keceplosan, "em,,, maksud Billa,,"


"Maksud Billa,,, apa sayang??" Rehan semakin menggoda gadis pujaan hatinya yang berada di ujung telfon.


"Ah,, enggak,, enggak, gak ada," Nabila semakin salah tingkah.


Sedangkan di kamar nya Rehan terus saja tertawa, hingga Alex datang mengagetkannya, "telponan sama siapa Rey,, sampai segitunya ketawa?" Tanya Alex penasaran.


"Nyonya bos," jawab Rehan santai.


"Yaelah,,, baru juga ketemu, dan nanti sore mau ketemu lagi udah telponan aja," olok sang Asisten.


"Berisik lu!" Seru Rehan seraya melotot.


"Iya,, iya,, gue diem... dasar bucin," Alex menggerutu.


Nabila yang mendengar perdebatan kecil bos dan Asisten nya itu tersenyum-senyum sendiri, "apa benar bang Rehan segitu cintanya sama aku?" Gumam nya dalam hati.


"Sayang,,," panggil Rehan membuyarkan lamunan Nabila.


"Em,,, iya bang, ada apa?"


"Abang kangen," ucap Rehan dengan lembut.


Nabila tersenyum, tersipu malu,,, Meski tak dapat menyaksikan ekspresi sang pangeran secara langsung, tapi di hati Nabila telah tersemat sebuah keyakinan akan ketulusan cinta dari Rehan untuk nya.


__ADS_1



\_\_Ketika Allah memalingkan hati orang yang aku cintai dan aku ikhlas akan takdir Nya, Allah memberiku ganti dengan segala kesempurnaan dan ketulusan mu dan Allah sendiri yang membuka hatiku untuk menerima cintamu\_\_ ( Nabila)


__ADS_2