Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Nabila sampai di Perusahaan Garmen milik Yuda Atmadja tepat pukul sembilan pagi dan diantar sendiri oleh kekasihnya, Rehan menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi. Laki-laki tampan itu segera turun dan berlari kecil memutari mobil untuk membukakan pintu buat Nabila. "Makasih ya bang, sudah repot-repot nganter Billa sampai sini, ucapnya tersenyum manis.


Rehan mengusap lembut pucuk kepala Nabila yang tertutup hijab itu," abang senang melakukannya untukmu," jawab Rehan tersenyum hangat pada kekasihnya.


Tampak satpam yang bertugas pagi ini menghampiri mereka berdua, "pagi nona Nabila," sapa Pak Budi dengan sopan dan tersenyum ramah pada gadis berhijab itu. Pagi tuan,,," Pak Budi segera menghentikan ucapannya kala melihat isyarat dari Rehan.


Rehan mengangguk sopan kepada satpam itu, "pagi Pak,,," sapa nya sambil tersenyum ramah.


"Bang, Billa masuk sekarang ya? Assalamu'alaikum," pamit Nabila mengucap salam dan bergegas masuk kedalam.


Setelah kepergian Nabila, "Pak Budi,,, terimakasih atas kerja keras Bapak," ucap Rehan lirih pada satpam yang juga bekerja di rumah utama miliknya.


"Sama-sama tuan muda, itu sudah menjadi tanggung jawab saya untuk menjaga tuan muda dan orang-orang yang tuan muda sayangi," jawab Pak Budi tegas.


"Segeralah ajukan surat pengunduran diri Bapak di perusahaan ini, dan kembalilah ke rumah utama," titahnya pada satpam itu, "sekali lagi terimakasih, dan untuk bonus Pak Budi akan segera di transfer ke rekening Bapak," lanjutnya sambil berlalu untuk kembali masuk kedalam mobil.


"Baik tuan, terimakasih banyak," Pak Budi memberi hormat pada tuan mudanya dan tersenyum senang.


Pak Budi segera berlalu dari tempatnya berdiri, begitu mobil Rehan sudah tak lagi nampak dari pandangan matanya.


Sesampainya di lobi, Nabila disambut hangat oleh sahabatnya Lusi yang langsung menghambur memeluknya dengan erat. "Billa, apa kabar? Gue kangen banget tau,,, sumpah deh, gak ada lu rasanya gimana gitu," cerocos Lusi tanpa jeda sedikitpun, meluapkan rasa sepi dan juga kerinduannya pada sahabat terbaiknya.


"Masak sih?" Tanya Nabila seolah tak percaya, untuk menggoda sahabatnya.


Lusi tampak cemberut mendengar ucapan Nabila, "kalau gak percaya ya udah," ucap Lusi dengan kesal.


"Ceile,,, anak perawan gak boleh ngambek tau, entar cowoknya diambil sama orang loh,,," goda Nabila semakin iseng.


"Wah, lagi ngobrol seru nih nona - nona cantik," Pak Budi tiba-tiba muncul mengagetkan mereka berdua.


"Billa nih,,, lama gak bertemu, sekalinya ketemu malah jahil," ucap Lusi pura-pura marah.


'Iya,,, iya,,, maaf, aku cuma becanda kali," ucap Nabila seraya menoel hidung mancung sahabat nya.


Pak Budi yang melihat keakraban dua sahabat itu tersenyum bahagia.


"Eh Bill, kayaknya lu dah ditunggu deh sama Bos," ucap Lusi setelah beberapa saat mereka terdiam, "bu Bos juga datang kok, mungkin untuk memberikan kesaksian tentang masalah lu waktu itu kali ya?" Lanjutnya menerka-nerka.


"Kesaksian apa Lus?" Tanya Nabila penuh selidik.

__ADS_1


"Kok lu malah nanya kesaksian apa? Ya, masalah tuduhan ke lu hingga pemecatan itu Bill,,," jawab Lusi keheranan.


"Kenapa Nyonya Kinanti harus bersaksi?" Nabila masih belum mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu.


Lusi pun menceritakan pada sahabatnya tentang bukti yang mereka dapatkan untuk membersihkan nama Nabila.


***** Flashback On


Setelah Nabila berlalu meninggalkan lobi, "Non, bisa bantu Bapak?" Bisik Pak Budi pada Lusi, seraya melirik kearah Selly yang sedang menelepon.


"Ada apa pak?" Dengan sangat lirih Lusi bertanya.


"Tolong non Lusi taruh alat ini di tas non Selly, letakkan di tempat yang paling aman," pintanya pada Lusi.


Nampak Lusi menautkan kedua alisnya, "emang ini apaan Pak Budi?" Selidik Lusi penasaran.


"Nanti non akan tahu sendiri, dan terimakasih sebelumnya," jawab Pak Budi dan segera berlalu menuju ketempat tugasnya.


Beberapa saat kemudian nampak Selly meninggalkan tempatnya menuju kamar kecil, yang terletak di ujung lobi.


"Ini saatnya gue taruh alat ini di tas Selly," gumam Lusi, seraya mengambil tas milik Selly dan meletakkan sebuah alat kecil di tempat tersembunyi di dalam tas Selly. "Ah, aman," lirih Lusi lega, dan segera mengembalikan tas itu ke tempatnya semula.


"Sel,,, makan siang yuk, ke kantin," Lusi berbasa-basi mengajak rekan seprofesi nya itu untuk makan siang.


"Gue ada janji sama tante Kinan untuk makan di luar," jawab Selly dengan angkuh.


"Oke,,," dan Lusi pun segera berlalu menuju kantin untuk mengisi perutnya yang kosong.


Begitu pula dengan Selly, dia yang melihat tantenya baru turun dan keluar dari lift segera mengikuti langkah tantenya menuju tempat parkir dimana mobil Kinanti berada.


Waktu terus berjalan, jam makan siang hampir usai. Nampak Lusi tengah berjalan dengan gontai menuju ke mejanya kembali, "non Lusi," panggil Pak Budi sesaat setelah Lusi duduk di kursi kerjanya.


"Ada apa Pak? Sepertinya ada hal penting?" Tanya Lusi penuh selidik.


"Non Lusi dengerin ini deh,,," seraya menyodorkan ponselnya yang telah terhubung dengan alat penyadap yang telah ditaruh didalam tas milik Selly.


Lusi mendengarkan rekaman itu dengan seksama, sedetik kemudian terlihat rona wajahnya menjadi merah padam seperti menahan amarah. "Kurang ajar, tega banget sih mereka melakukan cara kotor seperti ini sama Nabila," ucapnya dengan geram. "Pak Budi dapat rekaman ini darimana?" Tanya Lusi penasaran.


"Alat yang tadi saya kasih sama non Lusi itu adalah alat penyadap suara," jawab Pak Budi tersenyum puas.

__ADS_1


"Kita kasih saja bukti rekaman ini sama Bos, biar mereka tahu rasa!" Seru Lusi masih dengan nada kesal.


"Tidak sekarang non, saya masih harus melakukan penyelidikan lebih lanjut. Cukup non Lusi dulu yang tahu tentang hal ini, jangan dulu kasih tahu non Billa," pinta Pak Budi memohon.


"Kenapa Pak? Nabila juga harus tahu dong biar dia gak larut dalam kesedihan?" Cecar Lusi setengah memaksa.


"Jangan memberi non Billa harapan jika semua belum terbukti, akan ada waktu yang tepat untuk membongkar semua nya nanti," ucap Pak Budi mencoba memberi penjelasan, "maaf non, ini semua karena permintaan tuan muda saya," gumamnya dalam hati.


"Baiklah Pak, semoga semua segera terungkap," ucap Lusi sedikit lega.


***** Flashback Off


"Ya Allah, kok tega banget sih mereka?" Ucap Nabila tak habis pikir, "tapi ya udahlah, sudah terjadi juga kan?" Lanjutnya santai seolah tak pernah terjadi apa-apa padanya.


"Lu enggak marah?" Geram Lusi melihat sikap sahabat nya itu.


"Buat apa Lus... gak ada gunanya juga kan marah atau dendam? Jika menyimpan dendam, itu sama aja kita sedang menumpuk penyakit di hati bukan?" Ucap Nabila meminta persetujuan.


"Ya,, ya,, terserah lu aja deh," ucap Lusi akhirnya.


"Duh non,,, tulus sekali hati non Billa," ucap Pak Budi penuh kekaguman dengan gadis berhijab yang berdiri di depannya itu.


"Pak Budi berlebihan, saya gak sebaik itu kok," kilah Nabila merendahkan diri, "iya Pak,,, terimakasih banyak ya, udah bantuin Billa selama ini," ucapnya tulus.


"Sama-sama non, jangan sungkan," jawab Pak Budi.


"Oh iya Bill,,, gue mau kasih ini," ucap Lusi seraya mengambil dua buah undangan pernikahan yang terlihat elegan dan memberikan salah satunya pada sahabatnya itu. "Harus datang, dan bawa tunangan kamu," lanjut Lusi penuh harap."Dan ini untuk Pak Budi," sambil memberikan undangan yang tersisa ditangannya pada satpam itu.


"Iya non, InsyaAllah Bapak akan datang," ucap Pak Budi, seraya menerima undangan itu dari tangan Lusi.


Nabila menerima undangan pernikahan itu dengan antusias, "Alhamdulillah,,," ucap Nabila turut berbahagia, "InsyaAllah aku pasti datang," lanjutnya penuh keyakinan. "Tapi kok kamu masih kerja aja? Kamu bilang calon suami enggak kasih ijin lagi jika sudah nikah?" Selidik Nabila menuntut jawaban.


"Sekarang kan belum nikah,, tapi gue udah ngajuin surat pengunduran diri kok, tinggal nunggu acc dari Bos.


"Oh gitu,,," Nabila menganggukkan kepala tanda mengerti, "kalau gitu, aku masuk dulu ya,,," ucap Nabila kemudian, "makasih untuk semuanya," lanjutnya tersenyum hangat dan segera berlalu menuju lift.



__ADS_1


\_\_\_ Tidak perlu menyimpan kemarahan dan juga dendam dalam hati, karena hal itu hanya akan membuat hati menjadi sakit dan kemudian merusaknya \_\_\_ (Nabila)


__ADS_2