
Malam hari di apartemen Rehan,,
Nabila baru saja selesai mandi suci setelah dua hari menstruasi, terpaksa dia mandi semalam ini sebab tadi dia harus menemani sang putra yang keasyikan membuka oleh-oleh yang dibawakan om ganteng nya dari kampung.
Setelah mengeringkan rambut nya dengan handuk Nabila bergegas menggelar sajadah dan mengenakan mukena hendak sholat isya'. Dia memutuskan untuk sholat sendirian dan tidak menunggu suami nya karena tadi sang suami mengabarkan kalau akan pulang sedikit terlambat, sebab masih ada pertemuan dengan klien.
Seusai sholat empat rakaat, dan berdzikir.. Nabila mengisi waktunya untuk tadarus Al-Qur'an sambil menunggu sang suami pulang.
Setelah beberapa lama tadarus, terdengar pintu kamar dibuka oleh seseorang. "Assalamu'alaikum," ucap Rehan memberi salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Nabila, kemudian segera mengakhiri bacaan tadarus nya dan menutup Al-Qur'an serta meletakkan nya kembali di atas nakas, dia segera menghampiri sang suami yang duduk di sofa dan mencium punggung tangan suami nya.
Dengan penuh kasih, Rehan membalas dengan mencium kening istri nya. "Sudah mandi suci yang?" Tanya Rehan yang melihat sang istri masih memakai mukena dan baru saja selesai tadarus, "katanya seminggu?" Lanjut nya sambil mengernyit, dan kemudian melepas sepatu nya.
"Billa enggak tahu juga bang, biasa nya seminggu kok. Terus dua hari ini keluar nya juga gak lancar, cuma kayak flek aja kecoklatan," jawab Nabila sambil melepas mukena nya dan menaruh nya di tempat semula, dia kemudian membenahi sepatu sang suami dan melepaskan dasi suami nya.
"Apa perut kamu sakit yang?" Tanya Rehan nampak khawatir.
Nabila menggeleng, "enggak bang, Billa enggak ngerasain apa-apa dan semua nya baik-baik aja kok." Jawab nya menenangkan sang suami.
"Beneran? Atau kita ke dokter aja sekarang yang.. abang takut kamu kenapa-napa?" Rehan masih saja khawatir.
"Billa enggak apa-apa abang,,, ya mungkin karena kecapekan aja kali jadi menstruasi nya gak teratur gini. Kita lihat beberapa minggu ke depan ya? Kalau bulan depan masih enggak lancar, baru Billa ke dokter," Nabila mencoba mencari jalan tengah nya.
"Emang jadwal menstruasi nya rutin sebulan sekali yang?" Tanya Rehan penasaran.
"Iya, paling maju mundur sehari dua hari masih wajar lah.. memang nya kenapa bang?"
"Ya abang pengin tahu aja, jadi bisa menyesuaikan dengan jadwal ronda malam abang," jawab nya seraya tersenyum menggoda.
"Mulai deh,," lirih Nabila seraya tersenyum malu-malu, "abang mandi air hangat dulu ya,, biar Billa siapin," ucap nya mengalihkan pembicaraan dan hendak bergegas.
__ADS_1
Dengan sigap Rehan menahan nya dan menarik tangan sang istri hingga tubuh nya terhempas di atas pangkuan nya. "Abang lapar yang, mau makan dulu," lirih nya di telinga sang istri.
"Oh ya udah, akan Billa siapin," Nabila mencoba untuk melepaskan diri, namun Rehan justru semakin erat memeluk nya. "Abang kata nya lapar? Gimana bisa Billa nyiapin makan kalau di peluk seperti ini?!" Protes nya dengan masih berusaha melepaskan diri.
"Abang pengin nya makan kamu yang... ya,, ya,, please,," pinta nya dengan merajuk. "Abang enggak tahan kalau harus puasa lama-lama yang... dua hari rasa nya berat, abang jadi gak semangat kerja tadi," lanjut nya dengan tangan yang mulai bergerilya.
"Dih,, abang! Dua hari nya juga enggak penuh?! Dulu aja abang bisa puasa sampai dua puluh sembilan tahun lama nya kan?" Ucap Nabila masih protes.
"Dulu beda yang,, karena abang belum pernah ngerasain nikmat nya syurga dunia abang," jawab Rehan seraya melabuhkan kecupan kecupan basah di seluruh wajah manis sang istri.
"Tapi Billa baru aja selesai mandi keramas bang? Masak harus mandi keramas lagi?!" Nabila cemberut sambil mencoba menjauhkan wajah imut nya.
Namun dia kalah cepat, sang suami berhasil menyambar bibir tipis nya dan ******* nya dengan sangat lembut dan penuh perasaan.
Nabila akhir nya mengalah juga, dia sadar bahwa melayani suami adalah kewajiban nya sebagai seorang istri. Kapan pun sang suami menginginkan diri nya, dia harus selalu siap dan ikhlas menjalankan kewajiban nya itu. Dan malam ini, dengan penuh cinta... Nabila kembali menjalankan kewajiban nya, untuk melayani sang suami yang sudah tak dapat lagi menahan hasrat pada diri nya.
*****
Alex baru saja masuk, setelah mengucap kan salam dan mencium punggung tangan ibu Lin yang menyambut nya dia bergegas naik menuju lantai dua dengan mengekor ibu Lin yang berjalan mendahului nya.
Tadi Alex tidak sempat mengantar kan Nisa dan Ilham sampai apartemen, karena dia harus langsung menemani Rehan untuk bertemu klien dari luar Jawa. Oleh sebab itu, malam ini dia menyempatkan waktunya untuk bertemu dengan calon mertua nya sekaligus untuk membahas kelanjutan sekolah nya Ilham.
"Oh ya nak Alex, dimana kira-kira Ilham bisa melanjutkan sekolah nya?" Tanya pak Ilyas memulai obrolan sesaat setelah dia duduk di sofa bersama yang lain, nampak Alvian juga sudah berada di sana.
"Kalau di dekat sini aja gimana bang? Kalaupun nanti ayah sama ibu sudah pindah ke paviliun, Ilham kan masih bisa tinggal di sini sampai dia lulus?" Tanya Alex sambil melirik Alvian.
"Ya enggak apa-apa sih, di sini kan ada Billa juga.. jadi Ilham bebas mau tinggal sama siapa? Ada lu, Billa juga Nisa, dan semua nya berdekatan, jadi ada yang memantau," balas Alvian menyetujui usul Alex.
"Gimana dik?" Tanya Alex pada Ilham.
"Ilham ikut aja apa kata ayah dan ibu," jawab Ilham sambil menatap pak Ilyas dan ibu Lin bergantian.
__ADS_1
"Kalau ayah sih, setuju aja.. toh di sini juga ada mbak mbak mu yang jagain." ucap pak Ilyas menatap putranya dengan bijak. "Gimana bu?" Pak Ilyas menatap sang istri, untuk meminta pendapat.
"Ibu yo manut ae lah yah, penting Ilham seneng," jawab ibu Lin sambil mengelus puncak kepala Ilham.
"Ibuku memang is the best," ucap Ilham seraya memeluk sang ibu.
"Halah,, gayamu tho nang,,, pakai Inggris Inggrisan," cibir Nisa pada sang adik.
"Biarin,, wek.." balas Ilham menjulurkan lidah nya, dan masih bermanja-manja di pelukan ibu Lin.
Tiba-tiba Kevin keluar dari dalam kamar Ilham, dia langsung menghambur ke pelukan sang nenek dan menyuruh Ilham untuk menjauh. "Nenek Kevin jangan di peluk, sana om pergi!" Usir nya sambil mendorong tubuh besar Ilham.
"Ini ibu nya om, om mau di peluk sama ibu..." Ilham semakin menggoda dengan memeluk erat sang ibu.
"Nenek Kevin, jangan di ambil... sana! Om pergi cari wanita lain! Jangan peluk nenek Kevin!" Seru nya dengan masih mencoba mempertahankan milik nya.
Mendengar ucapan Kevin, sontak para orang dewasa yang berada di ruang keluarga itu tertawa lepas.
"Om enggak mau wanita lain, karena enggak ada yang secantik ibu nya om..." Ilham masih saja menggoda.
Kevin mulai merengek, "ada om,,, mommy Kevin lebih cantik dari nenek!" Balas Kevin polos.
"Ya udah, sana,, peluk mommy nya Kevin sendiri... jangan peluk ibu nya om!" Ilham tetap pura-pura tak mau mengalah.
"Mommy nya Kevin kalau malam di peluk terus sama daddy om, jadi Kevin sekarang mau di peluk nenek aja! Sana... om ganteng sudah tua, ngalah dong?" Kevin semakin merajuk.
Para orang dewasa semakin terpingkal-pingkal mendengar ucapan bocah kecil yang selalu saja menggemaskan itu.
"Ya udah, om ganteng ngalah deh.. tapi jangan dikatain tua juga kali?!" Protes Ilham, "kalau tua itu kayak om Vian dan om Alex," ucap Ilham seraya tersenyum menggoda kearah dua laki-laki dewasa yang dia sebutkan nama nya itu.
Alex dan Alvian hanya menggeleng-gelengkan kepala, dan tersenyum melihat sikap absurd Ilham yang entah dia dapat dari mana?
__ADS_1
"Eh, om Alex sudah pulang?" Tanya Kevin yang baru menyadari kehadiran Alex diantara mereka, "berarti daddy Kevin juga sudah pulang dong om? Kevin mau pulang sekarang ya nek, Kevin kangen daddy," ucap nya seraya hendak beranjak dari pangkuan ibu Lin.