Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
EP_ Persiapan Pindahan


__ADS_3

Sedangkan di hunian impian Alvian yang baru, nampak Alvian bersama sang kekasih dibantu Devan dan sang istri tengah mengecek para pekerja yang sedang mendekorasi ruang pertemuan di rumah utama. Rencana hunian baru Alvian akan mulai ditempati esok hari, sekaligus diadakan selamatan yang akan dihadiri keluarga dan sahabat terdekat.


Nampak juga bibi serta nenek Susan yang beberapa hari yang lalu telah di jemput oleh Alvian di kampung halaman Susan. Para pekerja di rumah mewah Alvian yang lama pun nampak sudah berada di sana bersama para istri.


Persiapan di ruang pertemuan tersebut sudah hampir selesai, furniture yang melengkapi dan menghiasi ruangan tersebut juga sudah terpasang sesuai dengan tempat nya. Alvian benar-benar merencanakan semua nya dengan sangat matang, dan semua nya nampak sempurna.


Masing-masing paviliun juga sudah diisi dengan berbagai macam perabotan dan di tata sesuai dengan selera pemilik nya masing-masing, paviliun milik Alvian pribadi semua penataan nya dia serahkan pada sang calon istri. Sedangkan milik Nabila, Nisa dan Lusi diatur sendiri oleh mereka.


Begitu pun dengan milik Ilham, paviliun milik ABG ini di desain khusus sesuai dengan usia dan kegemaran nya. Dan rencana nya paviliun milik Ilham akan dia tempati bersama opa Johan, sedangkan untuk desain interior paviliun milik ibu Lin semua nya di handel oleh kedua putri manis nya.


Setelah seharian berkutat dengan persiapan di hunian impian Alvian, Devan dan Lusi pamit untuk pulang ke rumah nya sendiri.


Karena waktu juga sudah malam dan besok adalah hari yang sangat dia nanti-nantikan, maka Alvian pun segera mengantarkan Susan beserta nenek dan bibi nya ke apartemen Susan yang bertipe studio. Apartemen yang cukup sederhana namun Susan merasa nyaman tinggal di sana, karena itu adalah murni hasil jerih payah nya sendiri yang dia beli dengan cara kredit selama beberapa tahun.


Setelah mengantarkan calon istri dan dua orang keluarga yang dimiliki Susan, Alvian melajukan kendaraan nya untuk pulang ke apartemen milik Fatima yang saat ini dihuni oleh ibu Lin sekeluarga. "Kak Bintang udah balik dari Yogya belum ya?" Tanya Alvian pada diri nya sendiri.


Ya, Alvian tidak bisa ikut ke acara wisuda Nisa karena tengah mempersiapkan hunian nya untuk pindahan esok hari. Beruntung, Devan sama sang istri sedang tidak ada kepentingan lain.. jadi mereka berdua bisa membantu Alvian dan Susan hari ini.


Beberapa saat melaju di jalan raya ibu Kota yang padat, apalagi malam ini adalah weekend.. sampailah Alvian di kawasan apartemen yang dia tuju.


Setelah memarkir mobil nya dengan sempurna di basemen, Alvian segera naik ke lantai atas dimana unit apartemen Fatima berada. Begitu sampai di lantai itu, bersamaan dengan Alex yang juga baru saja keluar dari unit nya untuk ke tempat keluarga pak Ilyas dan ibu Lin.


"Lex, nyampe sini jam berapa tadi?" Tanya Alvian pada calon keponakan nya itu.


"Belum lama bang," jawab Alex sambil berjalan mengekor di belakang Alvian.


Alvian segera membuka pintu dan segera masuk, "assalamu'alaikum," ucap salam Alvian yang berbarengan dengan Alex.


"Wa'alaikumsalam," jawab ibu Lin yang baru keluar dari arah dapur. "Baru pulang dik? Gimana persiapan pindahan nya?" Tanya ibu Lin pada adik kandung yang belum lama ini baru dipertemukan kembali dengan nya.


"Iya kak, tadi nganter Susan dulu.. dan Alhamdulillah udah beres semua, dibantu sama Devan dan istri nya tadi," jawab Alvian sambil mendudukkan diri nya di sofa empuk yang berada di ruang tamu apartemen Fatima.

__ADS_1


Alex pun ikut duduk di sebelah Alvian.


"Besok kita jadi pindahan dong om?" Tanya Ilham yang baru saja turun bersama dengan Nisa.


Alvian mengangguk dengan pasti.


"Asyik,," sorak Ilham dengan senang, "bu, kalau besok Ilham ngundang satu teman Ilham boleh enggak?" Tanya Ilham seraya bergelayut manja di lengan sang ibu.


"Boleh," jawab ibu Lin singkat.


"Teman?" Nisa mengernyit, "kamu sudah punya teman dik?" Ledek Nisa pada putra bungsu nya ibu Lin itu.


"Ya punya lah mbak,," jawab Ilham sewot.


"Temen apa demen?" Goda Alvian pada keponakan nya, "temen yang mau kamu undang cewek kan?" Tanya Alvian memastikan.


Ilham mengangguk dan tersenyum malu.


Setelah mengucap salam, Rehan dan Nabila segera ikut duduk bergabung bersama keluarga besar nya.


"Mana berani Ilham bang, bisa-bisa leher Ilham di tebas sama ayah pakai samurai," balas Ilham sambil bergaya menggorok leher nya.


Ibu Lin hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah satu-satu nya putra yang dimiliki nya itu.


"Wow,, sadis juga ya ayah," timpal Alex seraya tersenyum usil.


"Ya, begitu lah bang Alex." balas Ilham, "Ayah itu kalau sudah marah, sekampung pada takut semua," lanjut nya dengan wajah serius.


Ibu Lin, Nisa dan Nabila menahan tawa mendengar keisengan Ilham.


"Ehem,,," terdengar pak Ilyas berdeham. "Kampung mana yang kamu maksud nang?" Tanya pak Ilyas yang baru saja keluar dari kamar, dan langsung ikut duduk di samping sang istri.

__ADS_1


"Eh, ada ayah nya Ilham yang paling ganteng sekampung Randu,,," ucap Ilham sambil cengar cengir.


"Ayah enggak salah dengar nih? Tadi seperti nya bilang nya bukan seperti itu? Bukan paling ganteng sekampung kan?" Pak Ilyas mengernyit.


"Enggak salah ayah,,, ayah emang yang paling ganteng se-kecamatan Kapas," jawab Ilham meyakinkan.


"Tadi bilang nya sekampung, sekarang se-kecamatan,,, enggak sekalian se-kabupaten nang?" Protes Nabila seraya tersenyum menggoda Ilham.


Ilham cemberut,, "mbak Billa enggak asyik ah,, bukan nya di belain?" Rajuk Ilham seraya mengerucutkan bibir.


"Sudah,, sudah,," ibu Lin menengahi, "dan bibir mu itu nang, jangan suka di manyunin gitu ah.. kayak ikan cucut saja," protes ibu Lin, yang disambut gelak tawa yang lain nya.


"Ibu,, malah ikutan ngeledek," Ilham pura-pura ngambek.


Sejenak suasana kembali hening,


"Tadi ayah dengar, kamu lagi dekat sama anak gadis orang ya nang?" Tanya pak Ilyas menatap putra bungsu nya.


Ilham mengangguk dan tersenyum takut-takut.


"Sekedar dekat enggak masalah, tapi jangan sampai mengganggu belajar kamu. Dan ingat, jangan pernah menyakiti perasaan perempuan," pak Ilyas memperingatkan putra nya, sekaligus para pria dewasa yang ada di sana.


"Insyaallah ayah, Ilham akan selalu ingat nasehat ayah," balas Ilham patuh.


"Ayah benar dik, fokus lah dulu dengan belajar. Kamu anak laki-laki satu-satu nya di keluarga ini, harus bisa jadi kebanggan keluarga," timpal Rehan, "abang dan yang lain, sudah berencana untuk membuatkan kamu perusahaan sesuai dengan bidang yang kamu sukai," lanjut Rehan seraya melirik Alvian dan Alex.


"Benar apa yang dikatakan abang mu itu Ham, mulai lah fokus dengan satu bidang yang ingin kamu geluti nanti nya," timpal Alvian.


Alex mengangguk-angguk, begitupun dengan Ilham, "iya bang, om,,," ucap nya dengan senyuman yang terbit di sudut bibir nya.


"Wah,, calon CEO muda nih," goda Nisa pada sang adik.

__ADS_1


"Tapi ingat nang, jangan pongah dulu... dan jangan takabur. Manusia boleh berencana, tapi Allah lah penentu segala nya. Jadi, jangan pernah lupakan selalu iringi setiap usaha dengan berdo'a, dan serahkan semua hasil nya pada Allah agar kita tidak kecewa nanti nya," nasehat pak Ilyas pada Ilham.


__ADS_2