Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
EP_ Memantaskan Diri


__ADS_3

Suasana hangat dan ramai di hunian keluarga Antonio mulai terasa, semua telah berkumpul di sana sehari menjelang pernikahan Alex dan Nisa. Keluarga besar Rehan, termasuk bibi Carla dan ayah kandung Kevin juga sudah tiba kembali di tanah air sedari kemarin.


Namun kali ini ada yang berbeda, Rehan dan Alex tak nampak batang hidung nya. Hari ini, big bos RPA Group pulang agak terlambat karena sang asisten sudah mulai mengambil cuti. Dan sejak kemarin, Alex sudah pulang ke rumah peninggalan orang tua nya, yang rencana nya akan dijadikan sebagai tempat resepsi pernikahan nya dengan Nisa esok hari.


Saat dua keluarga besar tersebut tengah asyik ngobrol di ruang pertemuan, terdengar deru mesin kendaraan berhenti tepat di halaman rumah utama. Nampak Rehan turun dari mobil, yang di ikuti oleh sekretaris nya yang duduk di kursi depan di sebelah pak Rudi.


Rehan segera masuk dan mengucap salam, "Assalamu'alaikum," sapa nya pada semua yang berada di sana.


"Wa'alaikumsalaam,,," jawab semua nya bersamaan.


Rehan langsung melangkah menghampiri istri tercinta dan mencium kening nya, serta mengusap lembut perut sang istri, "apa baby rewel hari ini yang?" Tanya Rehan dengan tatapan lembut.


Nabila menggeleng dan tersenyum manis, "tidak bang, dia anak pintar.. dan tahu daddy nya lagi sibuk saat ini, jadi baby tidak minta macam-macam," jawab Nabila pelan.


Sang sekretaris yang tadi mengekor di belakang Rehan, memilih berdiri mematung.


Sedangkan semua mata memandang ke arah nya dengan tatapan penuh selidik, hanya Alvian dan Devan yang bersikap biasa karena memang sudah pernah bertemu dengan sekretaris Rehan yang baru tersebut sebelum nya di kantor bos RPA.


"Evi, duduk lah," titah Nabila dengan ramah.


"Baik nona," Evita pun turut duduk lesehan bersama keluarga besar bos nya.


"Siapa dia dik?" Tanya Fatima yang sedari tadi memendam tanya dalam hati, mewakili yang lain.


"Evita, dia sekretaris adik kesayangan lu yang baru Fa,, pengganti nya Susan," jawab Devan mewakili Nabila.


Fatima mengangguk-angguk, tapi pandangan nya nampak tidak suka. Begitu pun dengan mama Sekar dan ibu Lin, mereka merasa penampilan sekretaris itu sangat lah tidak patut.


"Hey, kenapa wajah kamu di tekuk seperti itu?" Tanya Nabila pada Evita yang duduk di samping nya.


"Nona, aku patah hati lagi?? Rajuk nya dengan mengerucutkan bibir, dengan suara yang tidak di pelankan hingga keluarga yang lain pun dapat mendengar nya.

__ADS_1


"Patah hati? Lagi? Maksud kamu, bagaimana Evi?" Cecar Nabila menuntut jawab.


Yang lain pun ikut penasaran dengan sosok Evita, sekretaris bos RPA Group yang baru itu.


"Awal masuk ke perusahaan, aku mencari tahu dahulu tentang profil CEO nya dan aku langsung jatuh hati pada tuan muda." Ucap nya sambil melirik big bos nya, "tapi saat aku melihat nona di hari pertamaku kerja, aku langsung mundur nona.. karena pantang bagiku merebut suami orang." Evita menatap Nabila seraya tersenyum kecut.


"Kemudian, aku mulai menaruh harapan sama mas Alex,,, emm, maksud ku tuan Asisten. Karena aku mendapat informasi, bahwa dia juga seorang CEO.


Meski saat itu, aku tahu kalau tuan Asisten sudah bertunangan. Karena aku pikir, enggak ada salah nya mendekati seseorang selagi janur kuning belum melengkung?"


"Tapi kemarin, tiba-tiba tuan Asisten mengajukan cuti karena mau menikah nona... dan itu artinya, aku sudah tak punya harapan sama sekali bukan?" Ucap Evita dengan jujur dan wajah yang sendu.


Semua yang mendengar dibuat terkejut dengan kejujuran Evita, berbeda dengan Nabila dan Rehan yang memang sudah hafal dengan karakter gadis tersebut yang memang vulgar.


"Evi,, meskipun janur kuning belum melengkung dan ijab qabul pun belum terucap, tak baik jika kita masuk kedalam hubungan seseorang yang sudah menjalin komitmen dengan pasangan nya. Meskipun mereka baru tahap pendekatan, apa lagi jika sudah ada ikatan pernikahan," ucap Nabila mencoba menasehati sekretaris suami nya itu.


"Tapi nyari yang benar-benar masih singel dan sudah mapan susah nona?!" Protes Evita.


"Benar nona, aku bosan hidup miskin. Dulu aku memang selalu di manja dan tak pernah kekurangan, tapi sejak papa meninggal kehidupan keluarga ku berubah drastis," ucap nya menjelaskan, "tadi nona bilang, tidak susah jika kita mau memantaskan diri, maksud nya bagaimana nona?" Tanya Evita penasaran.


"Kamu tahu Evi, mengapa orang-orang yang benar-benar kaya dan berduit sangat senang dengan barang-barang mewah yang di pajang di etalase?" Tanya Nabila memancing.


"Karena kwalitas nya jelas lebih bagus nona, dan juga prestis karena tidak semua orang bisa memiliki nya," jawab Evita.


"Benar, selain itu barang yang di etalase tidak mungkin di obral dengan harga yang murah bukan? Juga tidak dapat dilihat serta di jamah oleh sembarang orang?" Tanya Nabila kembali.


Yang lain masih menyimak, dan hanya dapat menebak kemana arah pembicaraan istri bos RPA tersebut ingin menggiring sekretaris suami nya.


Evita mengangguk, "benar nona, hanya orang yang benar-benar berduit yang berani melihat dan membeli nya," Evita bingung dan menatap Nabila, "lantas apa hubungan nya nona?" Tanya Evita semakin penasaran.


"Lihatlah diri mu, dengan busana yang kamu kenakan. Apa kamu merasa seperti barang mewah yang di pajang di etalase atau seperti barang murah yang di obral, dimana semua mata pria dapat melihat lekuk tubuh mu yang indah itu?" Tatapan Nabila menelisik, seolah menelanjangi sekretaris suami nya.

__ADS_1


"Bahkan, lalat yang baru saja hinggap di kotoran pun dapat dengan mudah menyentuh kulit mulus mu bukan?" Tanya Nabila menatap dalam netra Evita, "Berbeda jika kau menutup tubuh mu, lalat hanya akan hinggap di kain yang menutup kulit putih mu dan tidak sampai menodai kulit indah mu itu!" Lanjut nya dengan tegas.


Evita tertunduk malu, dan buru-buru mengenakan blazer nya yang dia letakkan di atas pangkuan nya.


Rehan tersenyum bangga menatap istri nya.


"Maafkan saya nona, dan terimakasih atas nasehat nya yang sangat berharga ini," ucap Evita dengan suara tercekat.


"Belajar lah dari mbak Susan, dia sekretaris lama nya bang Rehan," ucap Nabila sambil menunjuk Susan.


Susan tersenyum ramah pada Evita, yang dibalas tulus oleh sekretaris baru itu.


"Aku juga berasal dari keluarga miskin Evi, bahkan aku miskin sejak terlahir ke dunia ini. Aku tahu itu adalah takdir ku yang terlahir di keluarga yang tak mampu, dan aku sama sekali tidak menyesali nya. Tapi aku berusaha untuk merubah takdir ku, aku tak mau jika nanti aku mati masih dalam keadaan miskin... pun demikian, bukan berarti aku harus menghalalkan segala cara bukan?"


"Aku belajar dengan sungguh-sungguh untuk dapat merubah nasib ku, hingga akhir nya aku di terima kerja di RPA Group sebagai sekretaris. Aku tahu, aku diberi anugerah oleh Yang Maha Kuasa berupa kecantikan dan kecerdasan di atas rata-rata... namun itu tak membuat ku berniat untuk menjerat bos kaya, yang setiap hari banyak mengelilingiku."


"Aku hanya niat untuk bekerja, dan aku bekerja dengan sepenuh hati. Hingga suatu ketika, seorang CEO muda berhasil meyakinkan aku dengan cinta nya dan mau menerima ku serta keluarga ku dengan segala kekurangan yang aku miliki," ucap Susan mengakhiri cerita nya seraya melirik mesra sang suami.


"Itu karena kamu pantas untuk aku cintai beib,," balas Alvian mengusap lembut puncak kepala sang istri.


"Dan kenapa aku memilih istri ku,,, karena dia adalah wanita yang tak mudah di sentuh oleh laki-laki dan bisa menjaga kehormatan diri nya, serta tidak silau dengan harta serta kemewahan yang aku miliki." Timpal Rehan menguatkan bahwa wanita yang bermartabat yang akan memenangkan hati pria yang kaya hati dan kaya materi.


Evita semakin tertunduk malu, dan merasa semakin kerdil. "Nona, aku ingin belajar banyak dari nona.. aku ingin memantaskan diri, boleh kah?" Pinta nya memohon.


Nabila mengangguk, dan tersenyum lebar.




...\_Terlahir miskin adalah takdir, namun mati dalam keadaan kaya dan mulia adalah pilihan. Pun demikian, raihlah segala keinginan dengan jalan yang benar\_ (Susan)...

__ADS_1


__ADS_2