
Hari telah berganti, dan disinilah Nabila saat ini. Di sebuah kota kecil, tak jauh dari kampung halaman nya. Sebuah kota yang cukup sejuk dimana dulu selama empat tahun dia menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu di Perguruan Tinggi Negeri di kota ini, dan mengukir kisah cintanya dengan seorang laki-laki yang justru kini akan bersanding dengan wanita lain yang sekaligus sahabat Nabila sendiri.
Nabila datang ke kota ini tidak sendiri, dia ditemani oleh Rehan yang kekeh ingin mendampinginya karena khawatir terhadap dirinya. Rehan juga meminta agar Alex Asisten Pribadinya itu ikut bersamanya dan mengajak serta Pak Rudy selaku salah satu sopir kantor untuk mengemudi, mengingat perjalanan menuju kota ini sangat jauh dan membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama.
Setibanya di kota ini dini hari tadi, mereka mencari penginapan terlebih dahulu untuk sekedar melepaskan lelah sebelum menghadiri pesta pernikahan Hendra dan Saras yang digelar di sebuah gedung pada siang hari nanti.
Di kamarnya, laki-laki tampan dengan wajah blasteran itu terlihat sedang menelepon seseorang. "Lex,,, dengerin gue dan jangan di sela," titahnya pada Asisten Pribadinya dari sambungan telepon, "tolong saat gue dan Nabila ke pesta pernikahan mantannya Nabila nanti, lu siapin tempat istimewa untuk kami berdua makan siang. Lu cari aja di google tempat terbaik di kota ini, dan semua harus perfect," lanjutnya mengingatkan dengan nada tegas dan segera menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu persetujuan dari sang Asisten.
Matahari terus merangkak naik, menempati singgasananya tepat di tengah-tengah cakrawala. Sinarnya yang memancar, mulai terasa menyengat menyentuh kulit.
Saat ini waktu telah menunjukkan pukul setengah satu siang, Alex dan Pak Rudy lebih memilih untuk tetap tinggal di penginapan agar bisa mengistirahatkan tubuh nya setelah semalaman mereka berdua bergantian membawa mobil. Sedangkan Nabila dan Rehan, keduanya terlihat tengah bersiap-siap untuk menghadiri pesta pernikahan mantan tunangan Nabila.
Dan disinilah Nabila kini berada, diantara ratusan tamu lain yang telah hadir memenuhi undangan mempelai dan juga keluarga pengantin. Nabila sendiri menghadiri pesta pernikahan mantan tunangannya itu untuk memenuhi janjinya seminggu yang lalu, atas undangan langsung dari Hendra.
Pesta di gelar dengan sangat meriah di sebuah gedung besar yang sering digunakan oleh orang-orang penting di kota ini untuk menggelar pesta dan jamuan tamu-tamu penting lainnya, tamu undangan yang hadir pun kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. Bahkan ada beberapa tamu undangan dari beberapa kota terdekat, wajar saja mengingat Saras adalah putri dari seorang pengusaha kaya di kota ini.
Dari tempatnya berdiri sekarang, Nabila dapat melihat langsung kearah pelaminan dengan sangat jelas. Nabila menyaksikan sendiri wajah bahagia sabatnya yang terus mengulum senyum sumringah, dengan balutan kebaya modern berwarna putih yang elegan Saras terlihat sangat cantik. Meskipun perutnya yang mulai membuncit nampak jelas terlihat dan mengundang banyak tanya dari para tamu undangan yang hadir, namun hal itu seolah tidak mengganggu kebahagiaan mereka sama sekali.
__ADS_1
Nabila mengajak Rehan untuk segera menyalami mempelai setelah beberapa saat mereka berdua berada di gedung itu, "bang, yuk kita ke tempat pelaminan," ajak Nabila sambil menunjuk kearah pelaminan dengan dekorasi yang nampak memukau setiap mata yang memandangnya dimana kedua mempelai saat ini berada.
"Yakin,,, kamu gak apa-apa?" tanya Rehan dengan raut wajah khawatir.
"Huh,,,," terdengar Nabila menarik nafasnya dalam-dalam untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya agar memenuhi rongga paru-paru nya, dan menghembuskan nya perlahan. "Billa baik-baik saja kok, abang jangan khawatir," ucapnya sambil tersenyum manis.
"Baiklah, tapi kalau kamu tidak sanggup kita gak perlu menyalami mereka," ucap Rehan memberi saran, "setidaknya kamu sudah memenuhi undangan mantanmu itu, dan kado ini sebagai bukti bahwa kamu sudah hadir disini," lanjutnya mencoba menjelaskan sambil menunjuk sebuah kado yang masih di bawa Nabila.
"Kita ke sana aja ya bang, Billa sudah bisa ikhlas kok, InsyaAllah,,," pinta Nabila hendak segera berlalu, tapi dia mengurungkan niatnya dan melihat kearah Rehan yang masih setia berdiri di sampingnya, "Billa pasti kuat, karena..." menjeda sejenak ucapannya, "karena ada bang Rehan di samping Billa," lirih nya dengan berbisik dan segera menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan warna kulitnya yang telah merona.
"Bill,,," panggil Rehan dengan sangat lembut, "lihat mataku," titahnya pada gadis itu.
Setelah terdiam beberapa saat, Nabila akhirnya memberanikan diri untuk menatap Rehan. "Maaf,,," ucapnya lirih, "Billa hanya menyampaikan apa yang Billa rasakan saat ini, rasanya nyaman jika ada abang di samping Billa," lanjutnya terbata dan sedikit ragu.
"Kenapa harus minta maaf? Aku bahkan sudah menunggu momen seperti ini lebih dari dua bulan," ucap Rehan penuh perasaan, "aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak pertama melihat interaksimu dan Kevin, melihat ketulusan dan kasih sayang yang kamu berikan pada putraku. Dan Kevin sangat bahagia dengan kebersamaan kalian, padahal kalian baru saja bertemu." sambil menatap dalam manik mata Nabila seolah ingin memberitahu pada gadis itu bahwa dia serius dengan ucapannya.
"Tapi bang, Billa,,,"
__ADS_1
"Ssst,,, jangan katakan apapun," sanggah Rehan dengan cepat, "aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi nanti saja setelah kita pulang dari sini,,, yuk kita temui pengantinnya," ajak Rehan dan segera melangkah menuju pelaminan dengan menggenggam tangan Nabila.
Nabila terkejut tatkala secara tiba-tiba tangan kanannya sudah berada dalam genggaman tangan Rehan, dia terlihat sedikit gugup namun Nabila segera bisa menguasai keadaan dan mengikuti langkah Rehan yang sedikit terburu-buru menuju pelaminan dimana mempelai tengah berdiri untuk menyalami tamu undangan yang telah hadir lebih dulu.
Senyuman manis terbit di bibir Rehan, sambil terus menggenggam tangan Nabila dia melangkah dengan pasti menuju panggung tempat kedua pengantin itu berada.
Tiba di pelaminan, Rehan mempersilahkan Nabila berjalan di depannya untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai serta orang tua mereka terlebih dahulu.
Nabila berjalan mendekati orang tua dari Hendra, yang dulu pernah menjadi calon mertua nya. Melihat Nabila hadir, ibu Rehan langsung memeluk Nabila dengan sangat erat. "Maafkan ibu ya nak, maaf karena Hendra telah menyakitimu," ucap ibu Hendra terbata, segera melepas pelukannya dan mengusap wajahnya yang telah penuh dengan air mata.
"Ibu gak perlu minta maaf, memang sudah menjadi takdir kami seperti ini," jawab Nabila lembut sambil menepuk punggung tangan wanita paruh baya itu.
Setelah beberapa saat berhasil menenangkan ibu Hendra, Nabila segera memberi salam pada Ayah Hendra sambil tersenyum hangat, "Ayah,,," sapa nya lembut sambil mencium punggung tangan laki-laki paruh baya itu.
Ayah Hendra hanya bisa tersenyum kecut dan menepuk-nepuk punggung Nabila, sebagai isyarat penyesalan nya atas perbuatan anaknya kepada gadis yang berada di hadapan nya saat ini.
"Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang terbaik nak,,," ucap Ayah Hendra lirih.
__ADS_1