Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Menciptakan Kesempatan


__ADS_3

Hari yang paling dinanti pun tiba,,,


Pagi ini, keluarga besar papa Sultan dan pak Ilyas tengah bersiap menuju hotel dimana pasta resepsi pernikahan Rehan dan Nabila akan digelar dengan sangat meriah nanti malam.


Iring-iringan mobil mewah yang membawa dua keluarga besar tersebut berjalan perlahan membelah jalanan ibukota yang lalu lintas nya selalu padat menuju hotel tempat pesta akan dilangsungkan.


Tak tanggung-tanggung, seribu undangan telah di sebar ke berbagai penjuru kota dan juga ke negara-negara tetangga. Semua relasi bisnis Rehan dan juga petinggi-petinggi perusahaan cabang dan anak cabang yang bernaung di bawah RPA Group, semua nya di undang.


Sahabat Nabila di perusahaan lama, dimana dia pernah bekerja sebagai sekretaris dan juga relasi bisnis dari perusahaan Bintang Kejora milik keluarga sang ibu yang saat ini dipimpin Alvian Antonio, juga di undang dalam pesta nanti malam.


Pesta resepsi bos RPA Group itu akan di gelar di hotel berbintang yang bertaraf internasional milik kakak ipar nya, hotel itu di bangun Yusuf secara pribadi tatkala dia masih duduk di bangku kuliah.


Hotel tersebut sengaja dia bangun untuk membuktikan kesungguhan cinta nya pada Fatima, karena saat itu papa Sultan menganggap nya sebagai putra ningrat yang manja seperti kebanyakan kabar yang beredar.


Ya, Yusuf memang putra bangsawan dari Brunei yang terkenal manja dan suka menghambur-hamburkan uang. Pertemuan nya dengan Fatima yang tidak sengaja di salah satu acara kampus, telah merubah nya menjadi pribadi yang mandiri, ulet dan menghargai hasil kerja keras.


Dukungan yang diberikan Fatima, membuat Yusuf menjadi salah satu pebisnis handal dan diperhitungkan di Indonesia dan di negara-negara tetangga tanpa campur tangan orang tua nya. Hingga kini, perusahaan nya telah tersebar di beberapa negara di belahan Asia tenggara.


Kini kedua keluarga besar telah sampai di hotel, manager hotel yang bertugas membawa mereka menuju lantai teratas hotel tersebut yang sengaja dikosongkan untuk dua hari. Lantai yang berisi puluhan kamar itu, sengaja disiapkan untuk keluarga dan tamu-tamu penting yang akan menginap.


Karena selain dua keluarga besar tersebut, relasi Rehan yang jauh serta kerabat Yusuf dari Brunei juga akan menginap di sana. Termasuk keluarga mama Sekar dari Yogya, yang rencana nya akan datang sore nanti.


Rehan dan Nabila menempati kamar presidential suite, yang langsung menghadap ke Monas. Sementara keluarga yang lain menempati kamar sesuai kebutuhan dan selera nya masing-masing.


Kevin dan dua kakak sepupu nya memilih tinggal satu kamar, dengan ditemani om ganteng dan papi Vincent. Mereka memilih tipe kamar Cabana Room, yang dilengkapi dengan fasilitas kolam renang pribadi.


Sedangkan pemilik hotel, sudah pasti menempati kamar pribadi nya yang di desain khusus bahkan lebih mewah dari kamar sekelas presidential suite. Kamar khusus tersebut tidak di sewakan, dan hanya di tempati oleh Yusuf dan keluarga kecil nya saja jika sesekali mereka ingin suasana baru ketika berlibur ke Jakarta.


Saat jam makan siang tiba, mereka semua menuju restoran yang masih terletak di lantai tersebut. Restoran tersebut terbagi atas dua sisi. Khusus bagi penyuka aroma sigaret terdapat ruang di sisi kiri yang didukung dengan ruang terbuka hijau, sedangkan bagian sisi kanan adalah ruang bebas asap rokok dengan berpendingin udara.


Sebenar nya mereka bisa saja memanfaatkan fasilitas room servis untuk santap siang, namun papa Sultan dan pak Ilyas menginginkan keluarga besar nya untuk dapat berkumpul bersama di hari istimewa ini.

__ADS_1


Pihak pengelola F&B telah menyediakan layanan buffet atau self servis untuk keluarga besar pemilik hotel tersebut, dengan menu masakan Nusantara yang sudah ditentukan oleh Fatima dan tidak ketinggalan pula signature dish atau menu spesial andalan hotel tersebut.


Mereka menikmati santap siang dengan hangat, obrolan ringan para orang dewasa serta canda tawa anak-anak mewarnai acara makan siang tersebut.


Seusai santap siang bersama dua keluarga besar yang tengah berbahagia tersebut, semua nya nampak meninggalkan restoran untuk kembali melakukan aktifitas nya sendiri-sendiri.


Rehan dan Nabila segera kembali ke kamar nya, diikuti oleh Devan dan Lusi yang juga hendak menuju kamar nya sendiri. Devan hendak menciptakan kesempatan dalam segala suasana sesuai anjuran Rehan jika ingin cepat punya momongan.


Fatima bersama sang suami, langsung menuju ke ballroom untuk melihat persiapan dari WO yang menghandle acara nanti malam.


Alvian dan Alex serta pasangan nya, menuju lobi karena ada beberapa tamu undangan dari negara tetangga yang mengkonfirmasi ke Alex tengah dalam perjalanan menuju hotel dan mereka berempat akan menyambut nya.


Saat tengah menunggu di lobi, ponsel Alex yang berada dalam genggaman sedari tadi tiba-tiba bergetar yang menandakan ada panggilan masuk. Buru-buru Alex melihat nya, tertera nama Hendra di layar ponsel nya. Alex mengernyit beberapa saat, dan kemudian mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, selamat siang tuan Asisten. Saya Hendra, bisakah saya minta tolong," suara Hendra dari seberang terdengar sopan.


"Siang tuan Hendra, apa yang bisa saya bantu?" Tanya Alex.


"Istri anda sudah sehat?" Alex balik bertanya.


"Benar tuan Asisten, dan seperti nya Saras sudah benar-benar menyesali perbuatan nya, dan kini Saras ingin bertemu dengan nyonya Billa. Kami sedang dalam perjalanan menuju hotel XX tempat akan berlangsung nya resepsi, Bisakah kami bertemu dengan nyonya Billa dahulu?" Pinta Hendra menjelaskan.


"Baik tuan Hendra, saya konfirmasikan dulu pada tuan muda. Nanti saya hubungi," Alex langsung menutup sambungan telpon nya dari Hendra, dan kemudian mendial nomor Rehan.


"Mas Hendra?" Tanya Nisa yang sempat mendengar Alex menyebut nama itu.


Alex mengangguk, "iya, pengin ketemu mbak Billa," jawab Alex singkat.


Terdengar nada sambung, setelah beberapa saat menunggu barulah panggilan Alex ke nomor sahabat nya itu di angkat.


"Bro, ada yang ingin bertemu dengan istri lu sekarang,, Hendra dan Saras, bisa?" Tanya Alex pada intinya.

__ADS_1


"Bentar, gue tanya Billa dulu,," jawab suara dari seberang.


Setelah menunggu beberapa saat, "oke, kami tunggu di lounge di lantai atas." Jawab Rehan dan langsung menutup telpon nya.


"Ck,,, kebiasaan... siapa yang telpon, siapa yang nutup!" Gerutu Alex seraya memandangi layar ponsel nya.


"Siapa,, Rehan?" Tebak Alvian seraya terkekeh.


"Siapa lagi?!" Jawab Alex masih dengan wajah yang kesal.


Sesaat hening menyapa di tempat itu, masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri.


"Tuan Asisten,," tiba-tiba Hendra dan Saras yang baru saja memasuki lobi menyapa Alex.


Alex tersentak dari lamunan nya, "eh, iya.. kalian sudah datang rupanya? Baru saja mau saya hubungi," ucap Alex pada Hendra dan Saras.


Hendra kemudian menyalami Alex dan Alvian.


Sedangkan Saras langsung memeluk Nisa, "dik, maafin mbak ya.." ucap nya tulus.


"Mbak Saras enggak perlu minta maaf sama Nisa, mbak kan enggak salah apa-apa sama Nisa," balas Nisa seraya melerai pelukan nya.


"Tapi mbak udah banyak melakukan kesalahan pada mbak mu, Billa," ucap Saras penuh penyesalan.


"Mbak Saras bisa sampai kan sendiri nanti pada mbak Billa, Insyaallah jika mbak Saras tulus... mbak Billa pasti maafin mbak Saras," balas Nisa meyakinkan.


Saras mengangguk, "makasih ya dik atas bantuan kamu kala itu," ucap Saras sendu.


"Apaan sih mbak Saras, kayak sama orang lain aja? Kita ini kan kenal udah lama mbak, sudah sewajar nya jika kita saling bantu dan saling mengingatkan dalam kebaikan," jawab Nisa yang mampu menampar hati Saras.


Lagi-lagi Saras hanya bisa mengangguk.

__ADS_1


"Mari saya antar,," ucap Alex menyudahi obrolan Saras dan Nisa.


__ADS_2