
"Jadi begini pak Ilyas, ini mengenai jodoh yang bapak katakan tadi,,, sebenarnya kedatangan saya dan keluarga kemari ada hubungan nya dengan nak Billa," ucap papa Sultan dengan serius.
Mendengar nama putrinya disebutkan, ibu Lin langsung berseru, "tunggu bang! Aku juga baru ingat... tujuanku nyuruh putriku Nabila untuk pulang karena ada sesuatu yang harus dia jelaskan kepada kami," ucap ibu Lin seraya menatap tajam putrinya.
Deg,,,
Jantung Nabila langsung berpacu lebih cepat, "duh, ternyata ibu masih mengingatnya," lirih Nabila dalam hati, seraya menundukkan pandangan tidak berani menatap sang ibu.
"Mbak Billa,,, apa benar yang dikatakan oleh Saras sahabatmu itu, kalau hubungan mbak Billa sama Hendra sudah berakhir? Mbak Billa selingkuh dan akhirnya Hendra memilih untuk mundur, dan saat ini dia sudah menikah? Dan apa benar mbak Billa menjalin hubungan terlarang dengan pria kaya di ibukota?" Seru ibu Lin dengan suara mengintimidasi.
Mama Sekar terkejut mendengar nada tinggi bicara ibu Lin, dan buru-buru mama Sekar mengusap punggung tangan adik manis nya itu, "sabar,,, " ucapnya lembut mencoba meredam amarah ibu Lin.
"Maaf, sebelum Billa menjawab pertanyaan panjang ibu,,, Billa mau bertanya dulu sama ibu. Apa Saras mengatakan pada ibu, Hendra menikah nya dengan siapa?" Tanya Nabila balik.
"Tidak, nak Saras hanya mengatakan kalau tunangan mbak Billa itu sudah menikah.
"Dan ibu tidak menanyakannya? Tidak kah ibu punya keinginan untuk tahu siapa istri mas Hendra?" Cecar Nabila.
"Saat itu ibu kaget mendengar kabar itu dan terbawa emosi, jadi ibu tidak kepikiran untuk bertanya," jawab ibu Lin masih nampak sedikit kesal, "memang nya kenapa kalau ibu tahu Hendra menikah dengan siapa?"
"Ibu akan tahu kebenarannya bahwa dalam hal ini Billa tidak bersalah jika ibu tahu siapa istri nya mas Hendra," sejenak Nabila menjeda ucapannya, "mas Hendra menikahi Saras bu," lanjutnya sendu.
"Apa? Saras sahabat baikmu itu?!"
__ADS_1
Nabila mengangguk,,, "iya, Saras sahabat baik Billa," lirihnya seraya tersenyum masam. "Apa ibu juga melihat ada yang beda dengan bentuk tubuh Saras,,," sejenak Nabila berpikir, "misal, perutnya lebih gendut?" Nabila menatap netra sang ibu.
"Ya, ibu tahu dia sedang hamil. Tapi,,," sejenak ibu Lin terdiam, "saat ibu tanya tentang usia kehamilannya dia nampak panik, dan buru-buru pamit," jawab ibu Lin penasaran.
"Sebenarnya ada apa mbak? Kenapa jadi muter-muter begini jawabnya?" Selidik sang Ibu pada Nabila.
"Saras dan mas Hendra menikah bulan kemarin, dan sekarang kehamilan Saras sudah sekitar empat bulan lebih,,, apa dari sini ibu sudah bisa mengambil kesimpulan?"
Ibu Lin nampak terdiam, "jadi maksud mbak Billa, yang selingkuh itu Hendra? Lantas mengenai kabar bahwa mbak Billa jadi,,,"
"Cukup bu,," sela pak Ilyas, "apa ibu sekarang meragukan hasil didikan ibu sendiri? Bukankah sedari kecil ibu sudah menanamkan pendidikan Agama dan budi pekerti pada anak-anak kita? Kenapa sekarang ibu meragukan anak sendiri?" Cecar pak Ilyas yang merasa tidak suka dengan pertanyaan istri nya, yang terkesan menyudutkan putri sulungnya.
"Maaf kan ibu mbak,,, ibu tidak bermaksud seperti itu? Ibu hanya khawatir,,, dan jujur ibu sedih memikirkan nasib mbak Billa kedepannya nanti gimana? Pasti orang-orang kampung akan menertawakan dan mengejek mbak Billa,,," Ucap ibu Lin sendu.
"Serahkan saja segalanya sama sang Pencipta bu, gak perlu kita risau..." ucap pak Ilyas yang mengerti kekhawatiran istri nya, "percayalah bahwa wanita baik-baik hanya untuk laki-laki yang baik pula, dan jika kita telah meyakini bahwa putri kita adalah wanita sholihah, maka Allah akan mengirimkan laki-laki sholeh untuk menjadi imamnya." Nasehat pak Ilyas kepada istri nya.
"Aamiin,, semoga saja ya pak," ucap ibu Lin mengaminkan do'a sang suami.
Begitupun keluarga papa Sultan, meski lirih dengan kompak mereka ikut mengaminkan do'a untuk kebahagian Nabila dan juga Rehan.
Kembali suasana di ruang tamu itu menjadi sunyi,,,
"Iya bang, tadi abang bule mau membahas apa ya?" Tanya ibu Lin dengan penasaran.
__ADS_1
"Oh, itu nanti saja nunggu orang yang berkepentingan datang," ucap papa Sultan.
"Bu Lin, boleh Fatima tahu... kenapa ibu memanggil mama saya mbak Bunga, padahal itu kan bukan namanya?" Selidik Fatima yang menyimpan tanya sedari tadi.
Ibu Lin melirik papa Sultan, dan keduanya kemudian terkekeh. "Ibu juga nggak tahu kalau ternyata di kerjain sama papa mu," ucapnya mengenang, "saat ibu tanya siapa nama calon istri bang bule, sambil lalu dia menjawab kalau namanya Bunga."
"Dengan pede ibu panggil mama mu dengan panggilan mbak Bunga, ketika suatu saat kami bertemu di sebuah acara makan malam keluarga. Dan yang bikin ibu sebel sama mama mu ini, dia hanya senyum-senyum aja aku panggil dengan sebutan mbak Bunga,,, tanpa ibu sadari yang lain ternyata menertawakan ibu," ucapnya seraya tersenyum lebar.
"Aku kan cuma iseng, Sekar itu artinya Bunga dalam bahasa Jawa, makanya ketika nih anak yang super kepo nanya, ya udah aku jawab asal aja yang melintas di pikiran," ucapnya terkekeh, dan diikuti oleh semua yang berada di ruangan itu.
Suasana kembali hening,,
"Bintang,,, lantas apa rencana mu sekarang? Tidak kah kamu ingin mencari keberadaan om kamu? Dan setahuku dulu papa mu itu memimpin sebuah perusahaan, dan kalau tidak salah nama perusahannya memakai nama kamu, apa kamu tidak berkeinginan untuk mengusutnya?" Tanya papa Sultan. "Barangkali putraku bisa membantumu untuk mengusut keberadaan perusahaan itu," lanjutnya menawarkan.
"Aku tidak pernah berfikir sampai sejauh itu bang,, bagiku aku masih diberikan kesempatan untuk bisa bertahan hidup saja sudah sangat bersyukur," ucap ibu Lin sendu.
"Ya, kamu tidak salah jika punya pemikiran seperti itu. Tapi kondisinya saat ini berbeda,,, kamu tidak lagi sendirian, ada keluarga mu yang akan mendukung dan juga ada aku, istri dan anak-anakku yang juga akan ikut membantumu. Aku yakin suami mu pasti akan mendukung, karena memang itu adalah hak kamu sepenuhnya,,, bukan kah begitu pak Ilyas?" Tanya papa Sultan meminta pertimbangan pak Ilyas.
"Apa yang dikatakan pak Sultan benar bu, jika memang itu adalah hak kamu dan kamu berkeinginan untuk mengusut masalah itu hingga tuntas, ayah pasti akan mendukung ibu," ucap pak Ilyas meyakinkan istri nya.
Ibu Lin terdiam,,,
"Aku masih mengingat nama perusahaan papa mu itu, PT. Bintang Kejora,,,"
__ADS_1
"PT. Bintang Kejora,,," ucap seseorang dari balik pintu, "apa itu perusahaan yang sama yang dipimpin Om Johan Antonio pa? Dan sekarang di limpahkan kepada Alvian Antonio, putranya?" Tanya Rehan yang tiba-tiba hadir di ruangan itu.