
Waktu menunjukkan pukul 4.30 ketika Fatima dan Nisa baru saja pulang dari butik, siang tadi Fatima memperkenalkan Nisa kepada para pegawai nya di butik sebagai manager baru menggantikan Nabila.
Mereka semua terkejut saat Fatima menyampaikan bahwa Nabila sudah mengundurkan diri dari butik milik nya karena menikah dengan Rehan, banyak yang turut berbahagia dengan kabar tersebut karena menurut mereka Nabila adalah gadis yang baik dan ramah. Meski ada juga yang merasa patah hati, karena sang pangeran tampan yang menjadi incaran justru telah melabuhkan hati pada wanita lain. Deretan gadis yang patah hati itu diantaranya adalah Tiwi dan Nina, designer yang bekerja di butik Putri Alamsyah, pun meski demikian mereka tetap turut mendoakan yang terbaik untuk pasangan tuan muda Alamsyah dan Nabila.
Nampak Asisten Alex sudah menanti kedatangan sang tunangan, "mas Alex sudah pulang?" Tanya Nisa seraya melempar senyuman manis.
"Sudah dik, baru aja nyampai," jawab Alex dengan senyuman yang tak kalah manis.
"Ehem,,," Fatima berdeham, "tumben jam segini sudah pulang Lex?"
"Iya kak, rasa nya sudah kangen sama adik imut ini," jawab Alex menggoda Nisa.
"Baru juga tadi pagi ketemu sama dik Nisa, udah kangen aja,,, besok-besok dibawa aja kemana-mana, dikantongi biar gak ilang" seloroh Fatima menggoda pasangan yang tengah dalam masa penjajakan itu.
"Kok di kantongi kak?" Protes Nisa.
"Biar gak diambil orang dik,,," ucap Alex seraya terkekeh.
Fatima ikut terkekeh, "udah ah,,, kakak masuk dulu, silahkan menikmati kebersamaan kalian," dan kemudian Fatima segera berlalu meninggalkan pasangan yang baru bertunangan itu seraya melambaikan tangan.
Setelah Fatima menghilang dari pandangan, Alex mengajak Nisa untuk menuju ke sebuah tempat. Teras samping adalah tempat yang Alex tuju, tempat yang di penuhi dengan tanaman dan bunga-bunga cantik lengkap dengan kolam ikan dengan air mancur yang semakin memperindah pemandangan di taman kecil itu, sambil menikmati semilir angin di sore hari mereka berdua duduk di Gazebo yang terletak di tengah-tengah taman.
"Dik, gimana tadi di butik?" Suara Alex memecah keheningan setelah beberapa saat mereka terdiam, menikmati bunyi gemericik dari air mancur di tengah kolam ikan.
"Gimana ya mas,, Nisa bingung?" Nampak Nisa mengernyitkan kening.
"Emang nya kenapa dik?"
"Tadi nya Nisa pikir, Nisa ditawari kerja di butik kak Fatima untuk gantiin mbak Billa itu ya hanya sebagai karyawan biasa, tapi ternyata,,," sejenak Nisa menjeda ucapan nya, "Nisa harus gantiin mbak Billa dan jadi manager di sana," ucap nya dengan tidak bersemangat.
"Loh, bukannya malah bagus ya dik?" Alex bertanya bingung.
"Nisa takut gak bisa mas? Tadi Nisa juga udah langsung nolak, tapi kak Fatima kekeh dan memaksa. Kak Fatima bilang, nanti Nisa bisa belajar sambil jalan..."
"Benar itu apa yang kak Fatima bilang, terus masalah nya dimana dik?"
"Nisa khawatir gak bisa mengemban amanah dengan baik mas?" Wajah Nisa terlihat sendu.
"Gak ada salah nya belajar dulu dik, nanti pelan-pelan mas akan ajarin." Alex mencoba menyemangati tunangan nya. "Kak Fatima emang orang nya seperti itu, dia lebih suka nyari pegawai yang belum punya pengalaman dan kemudian dia ajarkan sampai bisa. Dan setelah mahir, biasa nya pegawai nya akan di bebaskan untuk memilih." Alex menatap netra bulat milik Nisa.
__ADS_1
"Memilih?" Nisa mengernyit.
"Iya, mereka bebas memilih. Apakah akan tetap bekerja pada kak Fatima atau ingin mandiri? Jika ada yang memilih untuk mandiri, kak Fatima akan dengan senang hati melepasnya, bahkan tak segan kak Fatima mengucurkan pinjaman modal dalam jumlah besar tanpa mengambil keuntungan sedikitpun." Alex bercerita tentang pemilik butik tempat dimana sang tunangan bekerja.
"Tapi kebanyakan dari mereka akan memilih untuk tetap bekerja pada kak Fatima, selain karena kebaikan nya, kak Fatima juga selalu memikirkan kesejahteraan pegawai nya." Lanjut Alex meneruskan cerita nya.
Nisa mengangguk-angguk,,
"Om Alex,,," teriak Kevin dari kejauhan yang nampak tengah berlari-lari kecil menghampiri Alex dan Nisa.
"Hai keponakan tampan tante,," sapa Nisa tersenyum hangat seraya merengkuh tubuh kecil Kevin dan mendudukkan bocah itu di samping nya.
"Kenapa lari-lari nak? Bang Zaki sama kak Fira mana?" Tanya Alex pada Kevin.
"Masih main di halaman belakang sama om ganteng," jawab Kevin masih dengan nafas tersengal-sengal akibat berlari-larian tadi. "Kevin kesini sengaja nyariin om Alex," sambil menatap mata Alex. "Kevin pengin ngobrol sama mommy, bisa tolong telfon daddy enggak om?"
Sejenak Alex berfikir, "daddy nya Kevin kayak nya masih sibuk deh, soal nya tadi daddy bilang sama om kalau sore ini ada rapat penting. Om kirim pesan ke daddy dulu ya, nanti kalau pesan nya dah diterima, pasti daddy langsung telfon om Alex." Alex mencoba memberi pengertian, menatap manik biru milik Kevin dengan lembut.
"Oke om,, Kevin akan tunggu."
"Rapat penting? Bukannya mereka masih liburan ya mas?" Lirih Nisa berbisik di telinga Alex.
Alex terkekeh pelan, "rapat penting ala orang dewasa dik,," bisik Alex menjawab kebingungan Nisa seraya tersenyum seringai.
"Om sama tante lagi ngobrolin apa sih? Kok dari tadi Kevin perhatiin, om dan tante bisik-bisik melulu,,," si kecil Kevin mulai kepo.
"Bukan apa-apa sayang,," jawab Nisa cepat, Kevin udah mandi belum?" Tanya Nisa dengan lembut sengaja mengalihkan pembicaraan. Nisa kini lebih hati-hati setiap bicara pada anak kecil itu, dia nggak mau lagi direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan Kevin yang terkadang tak terpikirkan oleh nya.
"Belum tante," jawab Kevin polos.
"Mandi dulu yuk, biar tante Nisa yang nemenin... mau enggak?'
'Mau,, mau,, tante," serunya kegirangan. "Kevin nanti mandi sendiri, tante Nisa nanti yang nyiapin bajunya Kevin ya?"
"Siap bos kecil," ucap Nisa seraya bersikap hormat kepada bocah kecil itu.
"Mas, Nisa nemenin Kevin dulu ya ke kamar nya," pamit nya pada Alex seraya menuntun Kevin. Alex menanggapi nya dengan menganggukkan kepala.
*****
__ADS_1
Keluarga besar papa Sultan dan pak Ilyas baru saja selesai menikmati makan malam bersama di rumah utama, suasana hangat sangat jelas terlihat di ruangan itu.
Di tengah keasyikan obrolan, terdengar ponsel Alex berdering. Buru-buru Asisten Pribadi Rehan itu mengambil ponsel nya, nama si bos terpampang di layar ponsel.
"Telfon dari Rey pa," Alex berkata pada papa Sultan. "Saya terima telfon dulu," pamit nya hendak beranjak menjauh dari meja makan.
Dengan gerakan tangan nya papa Sultan melarang Alex menjauh, "terima disini saja," titah nya.
Alex kembali duduk di tempat nya, dan segera menggeser tombol berwarna hijau di layar ponsel nya, "mana Kevin?" Belum sempat Alex menyapa, suara dari seberang sudah tidak sabar menanyakan putra nya.
"Tunggu bentar," jawab Alex singkat.
"Nak, daddy telfon" Alex menghampiri Kevin yang duduk agak jauh dari tempat nya.
Dengan sangat antusias bocah itu menyambar ponsel Alex, "mommy,,, Kevin kangen mommy," serunya dengan mata berbinar.
"Assalamu'alaikum nak, ini daddy. Kevin enggak kangen ya sama daddy," suara sang daddy pura-pura merajuk.
"Wa'alaikumsalam dad, emm,," Kevin pura-pura berfikir, "kangen gak ya?" Dengan tingkah lucu nya Kevin becandain sang daddy.
"Ya udah, kalau Kevin gak kangen daddy berarti mommy nya Kevin enggak jadi diajak pulang sama daddy,,, padahal rencana nya besok daddy sama mommy mau pulang loh?" Rehan pura-pura mengancam.
"Eh, Kevin kangen kok sama daddy,, kangen banget malahan," ucap Kevin buru-buru meralat omongan nya.
Terdengar Rehan tergelak,,
"Beneran ya, daddy pulang besok," Kevin menuntut.
"Iya nak,,, oke, salam buat semua ya. Daddy masih ada urusan."
"Daddy tunggu,,,"
"Iya nak?"
"Rapat penting nya belum selesai kah?" Tanya Kevin dengan kepo.
"Rapat penting?" Terdengar Rehan bertanya bingung.
'Iya, tadi sore om Alex bilang, daddy lagi ada rapat penting jadi gak bisa di ganggu?"
__ADS_1
Alex tersenyum menahan tawa, begitu pun juga dengan Nisa.
"Oh, iya nak,,," Rehan nampak gelagapan, "udah ya nak, rapat penting nya dah mau di mulai. Assalamu'alaikum," Rehan memberi salam dan buru-buru menutup telfon nya.