
"Assalamu'alaikum kak," Alvian mengucap salam, sambil menghampiri sang kakak yang berdiri termangu.
"Wa'alaikumsalam,,," jawab lirih ibu Lin, "siapa yang bersama mu dik?" Bisik ibu Lin di telinga sang adik, sambil mengingat-ingat sesuatu.
"Apa enggak disuruh duduk dulu tamu nya kak?" Protes Alvian pada sang kakak.
"Oh iya,, silahkan duduk bu," titah ibu Lin pada tamu nya, "maaf, kok rasa nya saya enggak asing ya sama ibu? Boleh tahu, apa hubungan ibu dengan adik saya Alvian?" Tanya ibu Lin sesaat setelah tamu nya duduk.
"Adik?" Ucap bi Asih sambil mengernyit, dan kemudian menatap wajah ibu Lin lekat-lekat. "Maaf, apa anda nona Bintang Kejora?" Tanya bi Asih dengan suara tercekat, menyimpan rasa haru yang sudah menyeruak di dada.
Ibu Lin mengernyit, "ibu kenal sama saya?" Ibu Lin balik bertanya.
"Ini bibi non, bi Asih..." ucap bi Asih tak dapat lagi membendung air mata nya.
"Bi Asih,,,?!" Ucap ibu Lin hampir tak percaya, dan sejenak kemudian ibu Lin atau Bintang Kejora segera berhambur memeluk wanita paruh baya yang telah mengasuh adik nya itu. Cukup lama mereka berpelukan dan keduanya sama-sama menangis haru.
"Bi Asih apa kabar?" Tanya ibu Lin setelah melerai pelukan nya.
"Alhamdulillah bibi baik non,, bibi senang banget bisa bertemu kembali dengan non Bintang," ucap bi Asih sambil menyeka air mata nya. "Bibi sedih saat tahu non Bintang hilang," ucap ibu Lin kembali berurai air mata.
"Non Bintang kemana saja selama ini?" Tanya bi Asih beberapa saat kemudian, setelah dirinya kembali tenang.
"Panjang ceritanya bi, tapi Alhamdulillah seperti yang bibi lihat sekarang,,, aku baik-baik saja," jawab ibu Lin seraya menepuk lembut punggung tangan bi Asih. "Makasih, karena bibi masih bersedia mengasuh Vian," ucap ibu Lin menatap hangat wanita yang usia nya hanya beberapa tahun di atas nya.
"Itu sudah jadi kewajiban bibi non, bibi merasa diamanahi oleh papa dan mama kalian. Bibi ingat perkataan nyonya kala itu sehari sebelum kecelakaan itu terjadi," sejenak bi Asih terdiam, air mata nya kembali mengucur dengan deras. Hingga beberapa saat lamanya, bi Asih masih saja menangis sesenggukan.
Ibu Lin yang melihat pun ikut menitikkan air mata, "bi, jangan diteruskan jika bibi tidak sanggup," ucap ibu Lin mencoba menenangkan wanita paruh baya itu.
Bi Asih menggeleng pelan, "tidak apa-apa non," ucap bi Asih masih dengan terisak. Setelah beberapa saat, bi Asih kembali membuka suara. "Saat itu nyonya sedang memandikan nak Vian, dan bibi di minta untuk menemani nya. Bibi sempat heran karena tidak biasa nya nyonya minta ditemani, sebab untuk hal-hal penting seperti memandikan dan menyuapi nyonya selalu melakukan nya sendiri. Nyonya tidak memperbolehkan jika bibi ingin membantunya, beliau selalu bilang tidak ingin menyerahkan hal penting itu kepada orang lain karena tidak ingin kehilangan momen-momen spesial dalam setiap tumbuh kembang putra nya."
__ADS_1
"Dan saat itu entah kenapa tiba-tiba nyonya meminta bibi, agar mulai esok hari bibi yang melakukan semua nya. Mulai dari memandikan, menyuapi, hingga menidurkan nak Vian." Kembali bi Asih terisak,, "saat bibi bertanya kenapa, nyonya hanya menggeleng dan tersenyum tanpa menjelaskan apa pun. Akhirnya bibi pun mengiyakan dan tidak berfikir macama-macam, karena menurut bibi permintaan nyonya itu wajar sebab bibi di ambil dari yayasan memang untuk mengasuh nak Vian."
"Baru keesokan harinya, saat mendengar kabar mengejutkan itu... bibi baru sadar, bahwa apa yang diminta nyonya adalah amanah terakhir beliau. Sejak saat itu bibi bersumpah, akan mengasuh nak Vian dan menyayanginya dengan sepenuh hati." Kembali bi Asih menangis, dan ibu Lin yang berada di samping nya segera memeluk erat bi Asih.
Alvian yang sedari tadi mendengar kan cerita bibi pengasuh nya pun turut menitikkan air mata, dan ikut mendekat,,, dan kemudian dia memeluk kedua wanita yang berarti dalam hidup nya itu. "Makasih atas pengorbanan bibi selama ini pada Vian, meski mama Vian sudah meninggal tapi Vian tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang orang tua. Om Johan menyayangi Vian seperti putra kandung nya, begitu pun dengan bibi yang tulus menyayangi Vian." Ucap Alvian seraya melepaskan pelukan nya.
Alex yang sedari tadi hanya menyimak, ikut terharu. Dia mengerjap kan mata nya berkali-kali, agar kristal bening di sudut mata nya tidak turun membasahi pipi.
Mereka pun kemudian saling bercerita dan melepas rindu, hingga tanpa terasa waktu maghrib hampir tiba.
"Maaf bu, saya permisi mau kembali ke apartemen dulu," pamit Alex pada calon ibu mertuanya.
"Iya nak Alex, silahkan.. nanti kembali lah kesini dan makan malam bersama kami," ucap ibu Lin dengan lembut.
"Baik bu," jawab Alex sopan, "mari bi," pamit nya pada bi Asih, dan segera berlalu meninggal kan apartemen Fatima.
"Bi, untuk sementara tinggal lah di sini bersama kak Bintang. Dan nanti kalau rumah yang saya cerita kan sudah jadi, kita sama-sama tinggal di sana." Pinta Alvian pada bi Asih.
"Apa tidak merepotkan non?" Tanya bi Asih sungkan sambil menatap ibu Lin, "apa nak Vian juga tinggal disini?" Bi Asih bertanya pada anak asuh nya.
"Iya bi, tapi kalau lagi banyak pekerjaan Vian bisa tidur di kantor... karena kalau pulang kesini terlalu jauh," ucap Alvian menjelaskan.
"Baiklah, bibi ikut saja apa kata nak Vian," ucap bi Asih pasrah.
Ibu Lin kemudian mengantarkan bi Asih ke kamar nya, yang masih berada di lantai satu tepat nya di sebelah pantry.
*****
Di apartemen Rehan,
__ADS_1
Nabila baru saja terbangun dari tidur nya, dia mendongak keatas menatap sang suami yang masih terlelap sambil mendekap nya. Cukup lama mereka tertidur di sofa setelah penyatuan cinta keduanya yang sangat memabukkan, tubuh mereka hanya berselimut sarung yang tadi dipakai Rehan untuk beribadah.
Dengan pelan Nabila menggeser tubuh nya, namun gerakan lembut nya mampu membangunkan suami tampan nya. "Sudah bangun yang? Jam berapa sekarang?" Tanya Rehan dengan suara khas bangun tidur.
"Jam lima lebih dikit, ayo bangun nanti keburu maghrib," ajak Nabila hendak bangun.
Tapi Rehan menahan nya dan kembali mendekap erat tubuh sang istri, "masih ada waktu satu jam," ucap Rehan santai.
Nabila pun mengalah, nampak dia mengukir sesuatu di dada bidang sang suami, "geli yang,, apa yang kamu tulis, hemm?" Lirih Rehan bertanya.
"Hanya ucapan terimakasih," jawab Nabila pendek.
"Untuk?" Tanya Rehan tak mengerti.
"Semua nya,," jawab Nabila sambil mendongak menatap hangat sang suami. "Pertemuan kita yang tanpa sengaja melalui putra kita, membawa berkah yang luar biasa untuk keluarga Billa. Ibu bisa bertemu dengan papa Sultan, dan dari situlah akhirnya ibu menemukan kembali adik nya yang telah lama terpisah." Ucap Nabila seraya tersenyum bahagia.
Rehan mengecup lembut kening istri nya, "semua itu sudah menjadi suratan takdir dari Yang Kuasa, Allah telah menuntun langkah mu yang saat itu sedang terluka untuk segera menemukan obat penawar nya." ucap Rehan seraya tersenyum lebar.
"Maksud abang? Obat penawar luka itu abang?" Tanya Nabila sambil mengerucutkan bibir.
"Ya iya lah,,, siapa lagi?!" Ucap Rehan percaya diri, dan kemudian terkekeh pelan.
"Idih,, abang pede banget!" Seru Nabila sambil mencubit mesra dagu lancip sang suami, senyuman manis terbit di sudut bibir nya.
"Kenapa senyum-senyum yang? Mau lagi?" Rehan mulai menggoda sang istri.
"Enggak ah,, udah mau maghrib." Tolak Nabila, "abang geser dikit, sempit ini.. Billa gak bisa bangun.." pinta nya merajuk.
"Memang nya mau kemana yang? Mau pindah ke ranjang ya?" Rehan masih menggoda.
__ADS_1
"Ish,, abang...! Billa mau mandi...!" Seru nya merajuk.
Rehan tersenyum seringai, tanpa berbicara dia langsung bangun dan kemudian membopong tubuh polos sang istri menuju kamar mandi.