Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Adik Manis


__ADS_3

Kevin dan kedua sepupunya memilih bermain di halaman belakang, mereka terlihat sangat kompak dan saling menjaga satu sama lain.


Sedangkan Nabila dan Rehan terlihat masih asyik ngobrol bersama sang kakak, hingga tanpa mereka sadari papa Sultan dengan dibantu mama Sekar tengah berjalan menghampiri mereka.


"Sudah lama Rey?" Suara berat sang papa mengejutkan ketiganya.


Rehan buru-buru beranjak dari duduknya dan segera menghambur memeluk sang papa, "papa sehat?" Rehan bertanya seraya memeluk erat papa nya.


"Seperti yang kamu lihat, kondisi papa semakin membaik," jawab sang papa seraya melerai pelukannya, "dan itu semua karena kamu,,," sejenak sang papa menghentikan ucapannya, dan menatap hangat putra kebanggaannya, "papa bangga sama kamu," lanjutnya seraya menepuk dada Rehan dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah-sudah,,," sang mama buru-buru menengahi, "papa selalu saja melo kalau ingat kamu," ucap sang mama sambil menatap lembut putranya.


"Rey bisa melewati semua karena do'a dari papa dan mama, makasih pa,, ma,," suara Rehan tercekat, menahan getir di dadanya.


Fatima yang menyaksikan suasana haru biru itu segera mengambil inisiatif untuk menyudahinya, "pa,,, lihat siapa yang Rey bawa," ucap nya pelan seraya menggeser duduknya dan memeluk pundak Nabila.


Rehan kemudian menuntun papa nya dan membawanya untuk duduk di sebelah Nabila, mama Sekar ikut duduk di samping suaminya.


"Om,,," sapa Nabila lembut seraya menyalami papa Sultan dan mencium punggung tangannya, "saya Nabila," ucap nya memperkenalkan diri.


"Nama yang cantik, seperti orangnya," ucap papa Sultan pelan, sambil memperhatikan wajah Nabila.


"Panggil papa saja nak Billa,,, biar lebih enak di dengar," titah mama Sekar.


"Baik ma," jawab Nabila malu-malu.


Sejenak suasana menjadi hening,,,


"Pa,,, ada apa?" Tanya mama Sekar heran, melihat suaminya yang sedari tadi tatapan matanya tak lepas dari Nabila.


"Coba mama perhatikan gadis ini ma,,," melihat kearah istrinya seakan mencari jawab, "papa seperti pernah melihat nya,,," papa Sultan diam sejenak mengerutkan keningnya, dan kembali menatap Nabila, "tapi kapan dan dimana? Entahlah,,," lanjutnya putus asa.


Mama Sekar ikut-ikutan meneliti wajah Nabila, hingga beberapa saat lamanya,,, "adik manis," seru mama Sekar dengan mata berbinar, "iya, wajah nya mirip sama adik manis mu itu pa," ucap nya yakin.


Papa Sultan nampak mengingat-ingat,,, "kamu benar ma, memang mirip," ucap nya seraya tersenyum lebar, namun beberapa saat kemudian wajah nya menjadi mendung.


Rehan dan Fatima yang menyimak obrolan kedua orang tuanya sedari tadi dibuat bingung, tak bisa menerka apa yang menjadi topik pembicaraan papa dan mama nya.

__ADS_1


Sedangkan Nabila yang menjadi pusat perhatian kedua nya juga nampak bertanya-tanya, "maaf pa, ma, maksudnya ini gimana ya?" Nabila akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, apalagi setelah melihat wajah papa Sultan yang tiba-tiba menjadi murung.


"Wajahmu mengingatkan kami pada seorang gadis kecil yang sangat manis, dan papa sudah menganggap dia seperti adik sendiri," mama Sekar menghentikan ucapannya sejenak, "tapi kami kehilangan dia sehari setelah kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan, dia hilang begitu saja dari rumah tanpa seorang pun yang tahu," lanjut mama Sekar sendu.


"Kenapa papa dan mama tidak pernah menceritakannya pada kami?" Selidik Fatima.


Terdengar papa Sultan menghembuskan nafasnya kasar, "kejadiannya sudah puluhan tahun yang lalu, saat kalian belum lahir," terlihat papa Sultan menghentikan ucapannya, mencoba menguatkan hatinya kembali, "saat itu papa dan mama sedang berbulan madu ke Paris, papa sangat sedih kalau ingat hal itu," lanjutnya dengan suara parau, bulir bening jatuh di sudut matanya.


"Dia adik yang sangat manis," timpal sang mama, "meski mama belum lama mengenalnya tapi mama merasa sangat dekat dengannya, apalagi papa mu yang sudah menyaksikan tumbuh kembangnya sejak dia masih bayi,,, papa merasa sangat kehilangan," lanjut mama Sekar sendu, seraya menepuk lembut punggung suaminya untuk menyalurkan ketenangan.


"Dia anak relasi kakek kalian dan kebetulan rumah kami berdekatan, tiap hari adik manis itu pasti berkunjung ke rumah," nampak papa Sultan menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan, "dia tomboy dan sedikit konyol, cuma kalau sama papa dia menjadi sangat manis dan manja," lanjutnya mengenang adik manis nya yang menghilang, senyum simpul terbit di bibir nya.


"Apa papa dan kakek tidak berusaha mencarinya?" Tanya Rehan penasaran.


"Kakek sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencarinya, tapi hingga berbulan-bulan jejaknya tidak dapat ditemukan," ucap Papa Sultan sendu, "hingga akhirnya kakek menyerah, dan mencoba mengikhlaskan."


"Sudah ah kita bahas yang lain aja,,, malah mengenang masa lalu," pinta sang mama untuk menyudahi kenangan menyedihkan itu.


"Oh ya nak Billa,,, sudah lama kah kenal sama anak papa?" tanya Papa Sultan mengalihkan topik pembicaraan.


"Belum ada tiga bulan sih pa kayak nya,," jawab Nabila sedikit ragu, "bener kan bang?" Lanjutnya menatap sang pangeran tampan meminta persetujuan Rehan.


Suasana kembali menjadi hening, kedua orang tua Rehan saling tatap seakan berkomunikasi melalui indra penglihatan tersebut.


Nabila hanya menundukkan kepala, jantungnya berdebar menanti jawab dari orang tua Rehan.


Sedangkan Fatima tersenyum hangat pada sang adik untuk memberikan support.


"Kapan kamu akan menemui orang tuanya?" Tanya papa Sultan pada putranya.


"Secepatnya pa,, Insyaallah minggu depan," jawab Rehan mantab.


Mendengar pertanyaan papa Sultan, Nabila merasa lega karena kehadirannya diterima baik di keluarga Rehan, senyuman bahagia terbit di sudut bibir tipis nya.


"Kalau kondisi papa tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, biar Fatima aja yang nemani adik pa," usul Fatima.


"No,, no,, papa ikut, ini acara spesial untuk putra papa dan papa enggak mau melewatkannya, papa sehat dan kuat," ucap sang papa penuh semangat.

__ADS_1


"Papa kamu betul kak,, nak Billa kan dari Jawa ya?" Mama Sekar memastikan sambil menatap Nabila.


"Iya ma," jawab Nabila pelan.


"Mama juga dari Jawa dan mama tahu persis adat istiadat di sana, jadi sebagai orang tua abang kami harus mendampingi," ucap mama Sekar bijak.


"Oh,, mama dari Jawa?" Tanya Nabila antusias.


"Ya nak Billa, mama berasal dari Yogya, sedangkan papa Sultan berdarah campuran, ibunya dari Prancis dan ayah nya masih keturunan sultan Brunei. Orang tua papa menetap lama di Indonesia dan membangun bisnisnya di sana, dan kami bertemu saat papa melanjutkan studi di Yogya."


"Mama ini berdarah biru, nama panjang nya Gusti Raden Ayu Sekar Wangi," sang papa menimpali.


Nabila mengangguk - angguk, "Pantesan,,," lirih nya nyaris tak terdengar.


"Hei,,, maksud kamu bilang pantesan apa yang?" Selidik Rehan yang bisa mendengar gumaman Nabila.


"Eh, enggak bang," jawab Nabila gugup.


Mama Sekar yang mengerti maksud dari Nabila terkekeh, "pantesan muka anak-anak mama jadi kebule-bulean tapi namanya Islami dan yang jelas adat istiadat nya Indonesia banget,,, begitu kan maksud nak Billa?"


Dan semua yang mendengar ucapan sang mama pun terkekeh, semua nampak bahagia.


Kakak bisa bantu mempersiapkan semua keperluannya kan?" Tanya sang mama pada Fatima sesaat setelah suasana kembali menjadi hening.


"Siap mama sayang,,, apapun untuk adik tercinta pasti kakak bantu," jawab Fatima dengan penuh semangat seraya melirik sang adik yang senyum-senyum sedari tadi. "Ma,, lihat ke adik, kayak nya dia pengin buru-buru nikah deh,,, gimana kalau langsung di nikah kan aja," seru Fatima menggoda sang adik.


"Siapa takut," jawab Rehan cepat.


Nabila yang mendengar kekonyolan kakak beradik itu sontak melotot kearah Rehan.


Melihat kekasihnya menatap seperti itu membuat Rehan terkekeh dan muncul keisengannya untuk semakin menggoda Nabila, "kayak nya kalau nunggu seminggu kelamaan deh kak,, Billa penginnya malam ini juga tuh," ucap nya dengan senyum seringai, seraya dagunya menunjuk kearah Nabila.


"Abang,,, apaan sih, iseng banget,," Nabila menggerutu dan mengerucutkan bibir nya.


"Bukannya kamu dek, yang udah kebelet?" Ledek Fatima pada sang adik.


Yang diledekin hanya tersipu,, sedikit malu tapi lebih banyakan mau nya.

__ADS_1


Papa dan mama hanya terkekeh mendengar obrolan anak-anak nya.


__ADS_2