
Pagi hari di hunian impian Alvian, kesibukan dari seluruh keluarga besar nya juga para pegawai yang bekerja di hunian nan luas milik nya itu telah berlangsung semenjak bakda shubuh tadi. Semua orang sibuk dengan tugas nya masing-masing, dan seluruh anggota keluarga ikut terlibat demi mensukseskan acara pernikahan adik laki-laki dari Bintang Kejora.
Susan yang baru tiba bakda shubuh tadi bersama sang nenek dan juga bibi nya, kini berada di paviliun yang nanti nya akan dihuni oleh nenek dan bibi nya. Susan kini tengah di makeup oleh MUA terkenal di ibukota, yang juga pernah merias Nabila saat pesta resepsi pernikahan nya kala itu.
Susan terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan kebaya putih yang melekat sempurna di tubuh indah nya, kebaya Susan adalah hasil rancangan desainer Nina dari butik putri Alamsyah khusus untuk acara akad nikah yang akan dilaksanakan pagi ini di Masjid komplek kawasan perumahan elite tersebut.
Sementara Alvian nampak sudah bersiap di teras paviliun milik nya, dengan memakai stelan jas berwarna putih senada dengan kebaya sang calon mempelai wanita nya, lengkap dengan peci hitam yang bertengger sempurna di kepala nya.
"Sarapan ini dulu dik, dan habiskan susu nya," titah sang kakak yang membawakan Alvian sepotong sandwich jumbo dan segelas susu untuk mengganjal perut sang adik, pasal nya saat semua keluarga tengah menikmati sarapan tadi,, Alvian sama sekali nampak tidak berselera dan terlihat sangat gugup.
Bintang atau ibu Lin menemani sang adik duduk di teras, dan memaksa Alvian untuk menghabiskan apa yang telah dibawakan nya untuk adik satu-satu nya itu. "Makan lah dengan pelan dik, jangan gugup," ucap ibu Lin memperingatkan sang adik.
Alvian hanya mengangguk, mengiyakan titah sang kakak.
Tak berapa lama, terlihat bibi nya Susan keluar dari paviliun mereka dan menghampiri ibu Lin serta Alvian, "gimana bi, apa dik Susan sudah selesai di rias?" Tanya ibu Lin pada bibi nya Susan.
"Sudah kak, sebentar lagi keluar sama ibu dan juga nak Nisa," jawab bibi Susan yang memanggil ibu Lin dengan sebutan kak, mengikuti panggilan Susan.
__ADS_1
Dan benar saja, baru selesai dibicarakan.. sang calon mempelai wanita keluar dengan di gandeng oleh Nisa dan juga sang nenek yang masih terlihat lincah di usia senja nya.
Alvian menatap sang calon istri dengan tatapan tak berkedip, "beib,, kamu cantik sekali," puji Alvian dengan berbisik, saat jarak kedua nya sudah sangat dekat.
"Kak Al,, gombal ah,," balas Susan seraya tersenyum tersipu malu.
"Ehm,," terdengar pak Ilyas berdeham, "lanjut kan nanti acara merayu nya dik," ucap pak Ilyas tiba-tiba, yang mengagetkan Alvian dan Susan. "Ayo kita berangkat sekarang, takut nya keduluan sama pak penghulu," titah pak Ilyas sambil berjalan terlebih dahulu menuju mobil yang akan membawa mereka menuju Masjid tempat akad nikah akan berlangsung.
Rehan dan sang istri juga putra kecil nya, beserta seluruh keluarga besar papa Sultan juga nampak telah bersiap untuk ikut menyaksikan acara sakral itu. Sedangkan Alex dan Devan beserta sang istri dan juga adik sepupu nya, sudah terlebih dahulu berangkat ke Masjid untuk mempersiapkan segala sesuatu nya.
Iring-iringan mobil pengantin beserta rombongan keluarga besar Alvian berjalan perlahan menyusuri jalanan lebar di kawasan komplek perumahan elite tersebut, setelah melewati beberapa blok sampailah iring-iringan tersebut di Masjid komplek yang mereka tuju. Nampak semua sudah siap dan tertata dengan rapi.
Mereka kemudian segera menempatkan diri di dalam Masjid, Alvian dan Susan yang duduk berdampingan nampak sama-sama tegang.
Setelah semua keluarga duduk dengan tertib, pak Ilyas yang didaulat untuk membawakan acara nya segera memulai acara prosesi akad nikah yang nampak khusyuk di pagi yang cerah itu.
Satu per satu acara berlangsung dengan lancar dan khidmat, hingga pada puncak acara yang di tunggu terdengar sang mempelai laki-laki membacakan qobul nya hanya dengan satu tarikan nafas dengan suara nya yang tegas dan berwibawa.
__ADS_1
"Sah,,," jawab kedua saksi yang dibarengi oleh semua yang hadir di sana.
Susan yang sejak kecil hanya diasuh oleh nenek dan bibi nya, tak kuasa menahan bulir bening yang jatuh begitu saja membasahi wajah cantik nya. Dia yang tak pernah merasakan kasih sayang utuh dari kedua orang tua nya dan hidup prihatin dengan segala kesederhanaan dan keterbatasan, merasa sangat beruntung dan bersyukur mendapatkan sosok suami seperti Alvian, terlebih dia diterima dengan hangat di keluarga besar suami nya itu.
Begitupun dengan Alvian, kisah keluarga nya yang tragis hingga merenggut nyawa kedua orang tua nya. Dan hidup nya yang harus terpisah selama puluhan tahun dengan saudara kandung satu-satu nya yang dia miliki, melintas begitu saja di memori nya, hingga dia pun tak dapat lagi menahan kesedihan yang membuat sudut mata nya menjatuhkan bulir bening yang terus menetes.
Semua yang hadir dan menyaksikan acara sakral tersebut, ikut larut dalam keharuan yang menyelimuti kebahagiaan pasangan pengantin baru tersebut.
Ibu Lin masih dengan berurai air mata, segera bangkit dan membuka kotak perhiasan mewah yang telah disiapkan oleh Alvian sendiri. Alvian mengambil salah satu cincin berlian indah dari tangan kakak nya dan memasangkan nya di jari manis sang istri tercinta, Susan kemudian mencium punggung tangan laki-laki pujaan hati nya yang kini telah resmi menjadi suami nya itu dengan takdzim.
Susan pun melakukan hal yang sama, mengambil cincin dari kotak perhiasan di tangan ibu Lin dan memasangkan nya di jari manis sang suami. Alvian kemudian memberikan sebuah ciuman hangat di kening sang istri, ciuman yang dalam dan cukup lama.
"Ehm,," suara deheman pak Ilyas menyudahi adegan mesra sang adik ipar yang seketika wajah nya memerah menahan malu.
Ritual berikut nya adalah sungkeman, Alvian menyalami papa Johan yang disambut dengan pelukan dan isak tangis dari pria tua tersebut. Cukup lama papa Johan memeluk keponakan yang telah dianggap nya seperti anak sendiri itu, perasaan bersalah kembali menyelimuti diri nya hingga punggung papa Johan nampak bergetar menahan isak nya.
Setelah cukup lama, Alvian kemudian melepaskan pelukan papa Johan.
__ADS_1
Kini Alvian beralih menyalami ibu Lin, ibu Lin pun menyambut sang adik dengan pelukan hangat nya. Sekuat tenaga ibu Lin mencoba untuk tidak menangis, dengan terbata dia berucap, "selamat ya dik, jadilah imam yang baik dan suami siaga untuk istrimu. Bimbing istri mu di jalan Nya, jika dia bersalah maka nasehatin dia dengan cara yang lembut dan bijak. Kakak akan selalu mendo'akan kebahagiaan kalian berdua," sambil menepuk lembut punggung kokoh sang adik.