
Nisa dan Susan yang menempati kamar yang sama, tengah bersiap untuk hadir di ballroom hotel tempat mereka saat ini berada. Mereka akan turut menyaksikan akad nikah antara Devan dan Lusi, bersama pasangan masing-masing.
Nampak Susan sudah selesai dengan make up nya, dia nampak sangat cantik dan anggun. Ya, sekretaris bos RPA Group itu memang memiliki paras yang cantik dan bentuk tubuh yang sempurna. Dan dia sangat pandai merias wajah, itu dikarenakan tuntutan pekerjaan yang sering kali mengharuskan Susan bertemu dengan banyak klien perusahaan di tempat nya bekerja.
Namun demikian Susan bukan tipe gadis yang suka dengan make up yang tebal, dan dari segi busana sudah jelas semua karyawan RPA Group mengenakan busana yang sopan karena pihak management mewajibkan seluruh karyawan nya memakai celana panjang baik laki-laki maupun perempuan.
Begitupun dengan Nisa, dia telah selesai terlebih dahulu. Karena sebelum merias diri nya sendiri, Susan terlebih dahulu merias calon keponakan nya tersebut.
Sapuan makeup natural dan dengan balutan dress panjang menutupi mata kaki, ditambah dengan hijab modern warna senada dengan dress yang dia kenakan, Nisa nampak semakin manis dan anggun. Tunangan dari Asisten Pribadi bos RPA Group itu terlihat sedikit lebih dewasa dari usianya, dan sangat cocok bersanding dengan Asisten Alex.
"Mbak Susan, aku telpon mbak Billa bentar ya... barangkali dia belum selesai make up. Mau bantuin kan kalau dia belum kelar dandan? Mbak Billa orang nya juga gak tahu banyak tentang make up soal nya?" Pinta Nisa pada Susan.
Susan hanya mengangguk sambil tersenyum,,
Tak berapa lama kemudian, nampak Nabila masuk ke kamar mereka berdua yang memang sengaja tidak di kunci. "Mbak Susan, bantuin Billa ya... tapi natural aja," pinta nya dengan manja.
Sejak mengetahui bahwa mereka akan menjadi keponakan dan tante, hubungan ketiganya semakin dekat. Tak jarang Nisa dan Nabila berebut perhatian dari wanita yang lebih dewasa itu, yang sebentar lagi akan menjadi tante nya. Sedangkan Susan sendiri sangat menikmati momen-momen kebersamaan dengan dua orang wanita yang sangat spesial bagi kedua atasan nya di kantor, Nabila sebagai istri dari bos RPA Group dan Nisa calon istri sang Asisten yang sangat dia segani.
Kini tangan terampil Susan tengah bermain dengan kuas di wajah ayu Nabila, hanya dalam beberapa menit Susan telah berhasil menyelesaikan riasan nya. "Sempurna,,," ucap Susan tersenyum senang, "kamu makin anggun saja dik, pipi mu terlihat sedikit cabi dan semakin menggemaskan. Apa jangan-jangan kamu sudah isi dik?" Goda Susan pada Nabila.
"Hah,,, isi?!" Nabila nampak kaget, sedetik kemudian,, "ya belumlah mbak, baru juga seminggu kami nikah," jawab nya dengan cemberut.
"Yey,, mbak Billa.. siapa tahu langsung cess pleng. Nama nya juga bibit unggul, sekali tanam langsung deh jadi." Timpal Nisa dengan polos nya.
"Hahaha,,," kedua nya tertawa cekikikan, sedangkan Nabila hanya bisa mengelus dada menyaksikan kekonyolan adik dan calon tante nya. "Ternyata sama absurd nya dengan calon suami mereka," gumam nya dalam hati, senyum tipis tersungging di sudut bibir nya.
Tok,, tok,, tok,,
Terdengar suara pintu diketuk dari luar, Nabila bergegas membukakan pintu karena dia memang berniat untuk kembali ke kamar nya. "Yang,,, udah siap?" Tanya Rehan dengan menatap kagum pada sang istri, "kamu semakin cantik aja yang, abang gak rela kalau kamu ke luar dari kamar," bisik nya lembut di telinga sang istri, dan kemudian mencuri kecupan di bibir tipis sang istri.
__ADS_1
Nabila terkejut,, dan kemudian mencubit mesra perut six pack sang suami, "aw,, sakit yang," lirih Rehan pura-pura kesakitan.
"Salah sendiri abang genit," ucap Nabila dengan manja.
"Ck,,, mataku ternoda mbak Susan," seru Nisa sengaja mengeraskan suara nya.
Susan hanya terkekeh pelan dan menutupi mulut nya,, dia merasa sungkan jika harus mengomentari sikap big bos nya.
Sedangkan Alex dan Alvian yang sudah berada di belakang Rehan sedari tadi, hanya bisa menggeleng,,, "ck,, Pamer!" Umpat kedua nya pada bos RPA Group itu.
"Maka nya, cepetan di halalin,,," ejek Rehan pada kedua sahabat nya. Rehan kemudian bergegas menggandeng tangan sang istri menuju ballroom tempat akad nikah akan di langsung kan, diikuti oleh kedua sahabat dan pasangan masing-masing yang mengekor di belakang nya.
Sepanjang perjalanan tak henti Alex mengagumi kecantikan Nisa, "dik, kapan siap mas halalin?" Tanya Alex dengan lembut.
"Jangan ngelangkahin yang lebih tua!" Tukas Alvian dengan cepat.
"Ck,,," Alex berdecak, "yang tua lemot,,, gak berani melamar!" Ejek Alex pada calon om nya itu.
Susan tersenyum bahagia, dia mengeratkan genggaman tangan nya pada sang kekasih.
Alvian melirik nya dengan mesra, "I love you," bisik nya sangat lirih, yang hanya bisa di dengar oleh Susan. Alvian malas jika sampai kedua sahabat nya mendengar, pasti dia akan di bully habis-habisan oleh pasangan jahil bos dan Asisten itu.
"Sudah ramai ternyata," ucap Alex saat mereka menginjakkan kaki di gedung yang luas itu.
Mereka berenam kemudian mengambil posisi duduk di tempat yang telah disediakan.
"Bang Vian membangun paviliun?" Tanya Rehan penasaran, sesaat setelah mereka duduk.
"Benar,, setelah gue menjalankan skenario kita kemarin untuk mama Wiwit dan Sisca, gue pikir akan lebih baik kalau nanti nya gue tinggal di tempat yang baru." Jawab Alvian dengan rona bahagia.
__ADS_1
"Kenapa harus membangun paviliun bang, bukan nya pengambil alihan rumah itu hanya sandiwara?" Timpal Alex yang juga ikut penasaran.
"Hey,,, gue kan yang paling tua disini, jadi gue harus memikirkan bagaimana keluarga besar gue bisa sering berkumpul dan merasa nyaman. Gue juga enggak mau pisah lagi sama kak Bintang, begitupun dengan nenek dan bibi nya Susan. Gue udah bikin desain nya, dan mulai tadi pagi sudah langsung digarap. Semoga bisa selesai tepat waktu," Alvian menjelaskan dengan panjang lebar keinginan nya.
"Wow,,, baru kali ini gue lihat bang Vian keren,,," ucap Alex dengan tatapan tengil nya.
Rehan menahan tawa, dia merasa enggak enak jika harus tertawa keras, karena sudah banyak anggota keluarga dari mempelai yang hadir.
Alvian hanya bisa mendengus kesal, sedangkan ketiga wanita cantik yang mendampingi pria-pria tampan itu hanya mengulum senyum.
Dari kejauhan nampak Devan dengan gagah berjalan kearah meja oval dengan kursi yang mengelilingi nya, dia diapit oleh kedua orang tua nya yang masih terlihat ganteng dan cantik di usia senja mereka.
Dan dari arah yang berlawanan, calon mempelai wanita yang di gandeng oleh sang MUA juga tengah berjalan menuju ke tempat yang sama. Di belakang Lusi, nampak kedua orang tua nya yang mengiringi langkah pelan sang putri.
Sesaat setelah jarak kedua nya semakin dekat,, Devan tertegun, netra nya tak berkedip memandang wajah cantik nan anggun calon mempelai wanita nya. Hingga Lusi dibuat semakin merona, karena malu dan segera menundukkan wajah nya.
Cukup lama kedua nya berdiri terpaku, hingga suara seseorang berhasil membuyarkan lamunan kedua nya. "Sudah enggak sabar ya,,, mau belah duren??" Ucap Rehan seraya terkekeh, dan langsung mendudukkan sahabat nya di kursi untuk mempelai pria.
Devan berdecak, "ck,,, gue tadi nya mau pamer sama kalian,,, karena gue bisa belah duren duluan, tapi lagi-lagi gue kalah sama anak ingusan macam lu!" Umpat Devan dengan jengkel.
Rehan tersenyum seringai,,, "akhir nya ngaku juga lu, kalau junior lu ini lebih gesit dan cerdas dalam segala hal," bisik Rehan dengan bangga. "Lu aja enggak bisa kan menaklukkan hati kakak gue??" Ejek Rehan pada sahabat nya dengan tersenyum puas.
"Berisik lu,, ngerusak mood gue aja!" Seru Devan pura-pura ngambek.
Ya, Devan memang seangkatan dengan Fatima dan dia pernah mengejar-ngejar istri dari Yusuf itu. Namun Fatima hanya menganggap Devan sebagai sahabat, karena Fatima tidak menyukai sifat Devan yang play boy.
"Dih,, sudah tua, tukang ngambek pula!" Cibir Rehan, "dah, berhenti ngambek nya... gue kasih rahasia biar bisa on sampai pagi," ucap Rehan dengan senyum jahil nya.
Wajah Devan berbinar, "serius lu bro?" Tanya Devan dengan tak sabar.
__ADS_1
Dari kejauhan nampak penghulu tengah berjalan kearah mereka.
Buru-buru Rehan menyelipkan sebutir kapsul di saku jas Devan, "ini kado dari gue," bisik nya, dan kemudian bergeser ke tempat duduk yang telah disediakan untuk saksi dengan senyum seringai.