Ketulusan Cinta Nabila

Ketulusan Cinta Nabila
Minuman Penambah Stamina


__ADS_3

Senja di kaki gunung Merbabu,,


Sepasang pengantin baru telah selesai melakukan ritual mandi bersama, nampak Nabila tengah duduk di kursi rias dengan masih menggunakan handuk kimono nya. Rambutnya yang basah baru saja di lepaskan dari gulungan handuk yang melilit, seketika rambut hitam lebat nan panjang tergerai menutupi tengkuknya yang sedikit terbuka.


Rehan yang masih mengenakan handuk dan hanya dililitkan di pinggang nampak mendekat, dia mengambil sisir dari tangan sang istri hendak membantu menyisir kan rambut istri nya. Namun Nabila menolak, "abang ganti baju dulu sana, nanti abang kedinginan,,," Nabila memperingatkan.


"Kan ada kamu yang akan selalu menghangatkan abang," kilah nya dengan menggoda sang istri, sambil tangan nya terus mencoba menyisir rambut Nabila.


Nabila menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan, "selalu aja seperti ini, moga aja gak berakhir di ranjang," bisik nya dalam hati.


Dari pantulan cermin Nabila mengamati sang suami yang dengan telaten menyisir rambutnya, sambil sesekali menciumi harum rambut nya. Kulit tubuh sang suami yang putih, serta otot-otot nya yang kekar nampak sangat mempesona. Bulu-bulu halus yang tumbuh memenuhi dada bidang suami nya, semakin membuat sang suami nampak perkasa di mata Nabila. Nabila tersenyum membayangkan kehebatan sang suami, hingga tanpa dia sadari sang suami tengah menatap wajah nya dengan sangat dekat.


"Abang ngapain?" Seketika Nabila tergagap.


Rehan tersenyum seringai, "kamu yang ngapain yang?" Rehan balik bertanya dengan tatapan menggoda dan semakin mendekatkan wajah nya, hingga hembusan hangat nafas keduanya terasa di kulit wajah masing- masing. "Kamu memikirkan apa tentang abang? Apa abang sangat perkasa? Kamu mau lagi yang?" Cecar Rehan dengan terus menggoda sang istri.


Nabila semakin salah tingkah, "duh,, ketahuan lagi kalau aku lagi mikirin si abang," gumam nya dalam hati. Rona merah nampak jelas di wajah Nabila, dia menjauhkan sedikit wajah nya dari sang suami namun terlambat. Dengan sekali gerakan suami perkasa nya itu telah berhasil mengecup bibir tipis nya, meski sekilas namun begitu membekas di ingatannya. Hangat dan manis, itulah yang dia rasakan... senyuman manis terbit di sudut bibirnya.


Rehan tersenyum puas, melihat tingkah menggemaskan sang istri, "kalau mau nambah bilang aja yang, jangan sungkan apalagi di tahan-tahan.. abang masih sanggup melakukannya sampai pagi," ucap nya seraya tergelak.


Nabila memanyunkan bibir nya,,, "abang, nanti kita jadi kan makan malam diluar?" Nabila mengalihkan pembicaraan.


"Ya, kita keluar nanti bakda maghrib," jawab nya seraya mengambil baju ganti yang sudah disiapkan sang istri.


Nabila kemudian beranjak dari tempatnya duduk, mengambil baju ganti dan masuk kembali ke kamar mandi untuk berganti, sekalian mengambil wudhu karena waktu maghrib hampir tiba.


*****


Rehan dan Nabila tengah bersiap, dan sebentar kemudian keduanya nampak turun ke lobi hotel. Sopir yang ditugaskan Asisten Alex untuk tetap stand by mengawal big bos berlibur nampak sudah menunggu, dan ketika netra nya menangkap kedatangan tuan muda Alamsyah maka dengan bergegas sopir perusahaan cabang itu menghampiri.


"Selamat malam tuan muda, nyonya muda,," sapa nya dengan ramah. Kemudian sopir yang bernama Sofyan itu menuntun big bos dan istri nya menuju mobil yang telah terparkir di depan lobi, "silahkan tuan muda, nyonya muda," ucap nya setelah membukakan pintu mobil untuk Rehan dan Nabila.


Rehan hanya mengangguk, sedangkan sang istri tersenyum ramah, "makasih pak," ucap Nabila.


Mobil yang dikendarai Sofyan melaju perlahan membelah jalanan di kaki gunung Merbabu yang sedikit berkabut, dia mengarahkan mobil nya menuju sebuah tempat yang sudah ditunjukkan oleh tuan muda nya tadi melalui sambungan telfon.


Hanya butuh waktu lima belas menit, mobil yang membawa Rehan dan Nabila sampai di tempat tujuan.


Sofyan segera membukakan pintu untuk big bos nya, begitu mobilnya telah berhasil di parkir dengan sempurna di pelataran resto.


Setelah turun dari mobil, Rehan berjalan mengiringi langkah sang istri menuju kedalam sebuah resto, dia memeluk pinggang ramping istri nya dengan begitu posesif.

__ADS_1


Rehan sudah reservasi sebuah tempat untuk makan malam nya bersama sang istri, tepatnya makan malam pertama mereka di luar setelah menikah. Suasana outdoor sengaja Rehan pilih untuk menambah kesan romantis, apalagi saat ini langit nampak sangat cerah dan berhias taburan bintang hingga menambah keromantisan acara makan malam mereka berdua.


Sebuah meja bundar dengan dua kursi yang berhadapan berada di atas kolam yang cukup luas, dengan payung lebar sebagai atap nya menambah kesan romantis tempat itu. Taman bunga yang indah, dipercantik dengan lampu warna-warni semakin menambah pesona keindahan malam di lokasi tersebut.


Rehan menarik sebuah kursi dan mendudukkan sang istri di sana, kemudian dia segera mendudukkan dirinya berseberangan dengan Nabila.


Tak henti Rehan menatap keindahan nyata yang ada di hadapannya, gadis manis yang nampak sangat anggun dengan balutan dress panjang berwarna hitam motif bunga-bunga kecil dengan paduan hijab modis menutupi kepalanya.


Hingga suara seorang waiters membuyarkan lamunan nya, "selamat malam mas, mbak,, silahkan ini buku menu nya," seraya menyodorkan buku menu.


"Mau apa yang?" Rehan bertanya pada sang istri.


"Billa ngikut abang aja deh,," jawab nya pasrah.


"Kelaut mau gak yang?" Seloroh nya seraya menatap sang istri dengan senyuman jahil.


Nabila sempat bengong,, sedetik kemudian dia tersadar, "boleh, tapi abang duluan yang nyebur," balasnya asal.


"Kalau abang udah nyebur, kamu nyusul yang?"


"Ya enggaklah, Billa akan kabur," jawab nya seraya terkekeh.


Rehan melempar buku menu di atas meja, kemudian meraih tangan Nabila yang sedari tadi dia tumpukan di atas meja,, "kamu harus menerima hukuman, karena berani mengatakan mau kabur dari abang!" Ucap nya dengan sedikit penekanan, senyum seringai terbit di bibir nya.


"Pesan makanan yang paling spesial di resto ini, sama minuman hangat penambah stamina," ucap Rehan tanpa menoleh kepada waiters.


Nabila melongo dan sedetik kemudian tersadar, "abang, kenapa pesan minuman seperti itu?" Protesnya.


Waiters tersenyum geli. "Baik mas, akan segera kami siapkan," dan segera berlalu meninggalkan kedua tamu resto yang sedikit aneh menurut nya.


Rehan menanggapi protes sang istri dengan senyuman yang sulit diartikan, "abang ke toilet bentar ya yang,,," pamit nya pada sang istri, kemudian segera berlalu menuju tempat yang dimaksud.


Tepat disaat sang suami menghilang dari pandangan matanya, seorang laki-laki muda lengkap dengan stelan jas nya nampak menghampiri Nabila dan tanpa ijin langsung duduk di hadapannya.


Nabila terkejut dan kemudian segera berdiri, "siapa anda? Kenapa anda tiba-tiba datang ke meja ini dan langsung duduk disitu? Tidakkah anda punya sopan santun untuk menanyakan nya terlebih dahulu kepada saya?" Cecar Nabila dengan geram.


"Slow down nona manis,, saya kesini karena melihat kamu sendirian dan seperti nya sedang kesepian, jadi saya berniat untuk mengajak kamu berkencan." Ucap nya dengan nada mengejek, "kamu bersedia kan nona manis,,," lanjut nya dengan senyum yang menjijikkan.


Nabila mengepalkan tangannya, "tidakkah anda melihat cara berpakaian saya tuan?! Saya bukan wanita seperti yang anda pikirkan!" Ucap Nabila dengan tegas.


"Hahaha,,," laki-laki bermata sipit itu tertawa lepas, "pakaianmu bisa saja hanya sebuah kamuflase nona,," ucap laki-laki tersebut masih dengan tawanya. "Banyak di luaran sana wanita dengan busana tertutup namun tingkahnya tak lebih ja**** dari pe*****," celoteh nya semakin ngawur.

__ADS_1


"Bug,, bug,," dua bogem mentah mendarat telak di wajah laki-laki muda itu. Nampak Rehan sudah berdiri dihadapan laki-laki itu dengan tangan mengepal sempurna dan tatapan tajam siap membunuh lawan.


Nabila terpekik, dan sejurus kemudian menghambur memeluk sang suami, "udah bang, hentikan," lirih Nabila seraya menyusupkan wajah nya di dada bidang milik sang suami.


Bersamaan dengan itu seorang laki-laki paruh baya datang dengan tergopoh-gopoh, "maaf tuan muda, maaf kan tamu kami," laki-laki paruh baya itu yang ternyata pak Hasan, GM di perusahaan cabang Semarang. Pak Hasan yang sedang melintas dan melihat dari kejauhan keributan kecil itu, dan seperti mengenali Rehan langsung berlari kearah mereka.


Wajah Rehan nampak masih memerah menahan amarah, rahangnya mengeras, "siapa dia?" Tanya Rehan sinis.


Laki-laki itu tampak kaget, ketika pak Hasan begitu hormat pada laki-laki yang baru saja memberinya hadiah bogem mentah. Padahal dia baru saja ingin membalas pukulan yang dia terima, yang menyebabkan bibir nya robek dan mengeluarkan darah segar.


"Beliau tuan Kenzo, putra dari tuan Anton dan nyonya Harumi yang baru tiba dari Jepang. Kami berada di sini untuk membicarakan kerjasama dengan perusahaan tuan Anton, tuan Asisten sudah mempelajari proposal nya dan beliau menyerahkan kepada saya untuk menghandle kerjasama ini." Pak Hasan menjelaskan secara panjang lebar.


Pak Hasan nampak memberi kode pada Kenzo, "Beliau tuan muda Alamsyah, pemilik RPA Group," lirihnya pada Kenzo.


Sontak Kenzo mengerut, "maaf tuan muda, saya tidak tahu jika dia wanita Anda." Pinta nya dengan memohon seraya melirik Nabila yang masih bersembunyi dalam dekapan sang suami.


"Dia istri saya," ucap Rehan tegas dan nampak tidak suka Kenzo mencuri pandang pada istri nya.


"Terlepas dari apakah dia istri saya atau bukan, tak pantas rasa nya anda terus-terusan menggoda dan memojokkan wanita yang sudah dengan tegas menolak anda." Ucap Rehan masih dengan menahan amarah.


"Saya tidak menggoda nya tuan muda, saya hanya mengajaknya berkenalan," Kenzo mencoba berkilah.


Rehan menatap nya sinis, "laki-laki gentle tidak akan mengajak berkenalan wanita dengan cara murahan."


Sejenak hening menyapa,,


"Apakah anda sudah menikah?" Rehan bertanya dengan penuh selidik.


"Sudah tuan," jawab Kenzo singkat.


"Tidak adil jika seorang suami menuntut istri nya untuk setia dan menjaga pandangan serta kehormatan nya, sedangkan di luar rumah suami justru bersikap tak lebih baik dari seorang ja****." Ucap Rehan dengan tatapan tajam dan menusuk.


"Saya mendengar anda mengatakan bahwa busana muslimah yang dipakai oleh istri saya bisa saja hanya kamuflase? Anda salah besar jika menghakimi seseorang karena kesalahan pribadi nya dan mengkaitkan dengan busana muslimah yang dipakai nya, jika anda seorang Muslim seharusnya anda menegur nya dan bukannya malah mengolok apalagi memanfaatkan nya."


Kenzo terdiam, begitu pun dengan pak Hasan yang terus menundukkan kepala dan tidak berani menatap tuan muda nya.


"Pak Hasan, anda tahu apa yang harus anda lakukan setelah ini bukan?!" Rehan menatap pak Hasan dengan tatapan memerintah.


"Siap tuan muda," jawab pak Hasan membungkuk hormat.


"Ayo sayang, kita makan di tempat lain." Rehan memeluk pinggang sang istri dan membawa nya berlalu dari hadapan Kenzo dan pak Hasan.

__ADS_1


__ADS_2