
Michelle, Daffin, dan Saddam ikut Ezra masuk ke dalam lagi karena permintaan Axel. Setelah obrolan mereka selesai, Michelle sudah berjalan keluar duluan meninggalkan yang lainnya.
“Barang udah masuk semua ?” tanya Ezra memastikan
“Aman kok, cek lagi aja” jawab Daffin meyakinkan
Ezra membuka bagasi mobil Michelle, mengecek satu persatu barang-barang paintingnya lalu menutup bagasi mobil Michelle lagi.
“Gue duluan ya, lo balik sama Z kan ?” tanya Saddam ke Michelle
“Iya, gue anter barang ke rumahnya dulu” jawab Michelle menepuk mobilnya
“Gue bareng Saddam ya, hati-hati dijalan kalian berdua” ucap Daffin memakai helmnya
“Lo berdua juga hati-hati dijalan” ucap Ezra memakai jaketnya
Mereka berempat tos ala kelompok mereka sebelum Daffin dan Saddam pulang.
Ponsel Michelle berdering tanda telefon masuk dari Nicholas.
“Sebentar ya Z, pacar pertama gue telefon” ucap Michelle menunjukkan layar ponselnya
“Ya udah angkat dulu aja, gue temenin kok” jawab Ezra dengan lembutnya
“Kenapa Kak ?” tanya Michelle dengan tenangnya
“Kamu belum mau pulang ?” tanya Nicholas khawatir
“Udah kok Kak, aku baru mau jalan pulang, tapi mampir kerumah Z dulu sih anter barang” jawab Michelle sambil berjalan membuka pintu mobilnya
“Ya udah hati-hati dijalan ya honey” ucap Nicholas lembut
“Aye aye kapten, bye baby” ucap Michelle dengan manjanya
“Bye honey” jawab Nicholas lalu mematikan telefonnya
Ezra, Daffin, dan Saddam kenal dengan kedua Kakaknya Michelle.
Michelle melarang mereka untuk menyebutkan identitas asli mereka bahkan tentang permainan Michelle dengan kedua Kakaknya menggunakan nama mereka.
Michelle juga beberapa kali cerita ke Ezra tentang dramanya dengan kedua Kakaknya itu, itu sebabnya Ezra tidak terkejut kalau tiba-tiba Michelle telefonan panggil sayang begitu.
..
Michelle mengendarai mobilnya sedangkan Ezra mengendarai motornya keluar dari halaman kafe.
Michelle mengikuti Ezra dari belakang sampai di rumah Ezra bersama para pengawalnya.
Selesai memindahkan barang dari bagasi mobil Michelle ke gudang penyimpanan rumah Ezra, Michelle langsung pamit pulang.
..
Sampai rumah, Michelle mandi lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur empuknya.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu kamar Michelle terketuk pelan. Michelle bangun dari tidurannya lalu membukakan pintu kamarnya.
“Kenapa Kak ?” tanya Michelle bingung
“Boleh Kakak masuk ?” tanya Xavier
“Ayo” ajak Michelle membukakan pintu kamarnya lebar-lebar lalu menutupnya lagi setelah Kakaknya sudah masuk
“Cel, Kakak bingung” ucap Xavier gelisah sambil menyandarkan kepalanya di sofa kamar Michelle
“Bingung kenapa Kak ?” tanya Michelle mengernyitkan dahinya
__ADS_1
“Kakak sama Amber sama-sama serius, rasanya Kakak mau nikah aja sama Amber, tapi apa nggak apa-apa kalau Kakak nikah duluan sebelum Kak Nicho ?” tanya Xavier gelisah
“Eum.. mungkin nggak apa-apa Kak.. lagian kan Kak Nicho masih belum tahu calonnya siapa, kalau Kakak kan emang udah ada” jawab Michelle mengira-ngira
“Gimana cara ngomongnya ya Cel ? Kakak nggak enak sama Kak Nicho” tanya Xavier makin gelisah
“Yaa.. coba ngomong baik-baik aja dulu Kak” jawab Michelle yang bingung mau jawab apa
“Hhuuhhh.. ya udah kamu istirahat gih, Kakak mau coba ngomong sama Kak Nicho” ucap Xavier mengelus lembut rambut Michelle
“Semangat ya Kak, yang penting Kakak ngomongnya jujur dan yakin aja” ucap Michelle memeluk Xavier
“Makasih ya honey” jawab Xavier memeluk erat Michelle
Sepeninggalnya Xavier keluar dari kamar, Michelle kembali tiduran di tempat tidurnya sambil main ponsel.
..
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu kamar Nicholas terketuk pelan. Nicholas membukakan sedikit pintu kamarnya, dilihatnya Xavier sudah berdiri di depannya lalu mengajaknya masuk ke kamarnya.
“Kenapa Vie ?” tanya Nicholas duduk di sofa kamarnya
“Ada yang mau aku bicarain sama Kakak” jawab Xavier hati-hati
“Ya udah ngomong aja” ucap Nicholas lembut
“Eum.. Kak.. Kakak tahu kan kalau hubungan ku sama Amber serius ?” tanya Xavier sedikit ragu
“Iya, kenapa ?” tanya Nicholas mengernyitkan dahinya bingung
“Kak, apa aku boleh nikah duluan ?” tanya Xavier hati-hati
“Kamu mau nikah sama Amber ? alesannya apa ?” tanya Nicholas tegas
“Kamu nggak lakuin hal itu kan ?” tanya Nicholas curiga
“Astaga Kak.. aku nggak berani lakuin itu sebelum nikah, aku ngehormatin dia Kak” jawab Xavier kaget
“Hemm.. kalau emang kalian sama-sama serius dan tulus, Kakak ijinin.. kamu ngomong aja sama Daddy and Mommy” ucap Nicholas menepuk-nepuk pelan bahu Xavier
“Serius Kak ? makasih banyak Kak” ucap Xavier memeluk erat Nicholas
“Asal jangan mainin perasaan Amber.. inget, kamu punya Mommy dan Michelle, mereka sama-sama perempuan, jangan kecewain keputusan Kakak” ucap Nicholas tegas
“Iya Kak, pasti.. aku nggak bakalan ngecewain Kakak” jawab Xavier tersenyum lebar
**
Minggu pagi, rutinitas Michelle bersama kedua Kakaknya seperti biasanya.
Ya, pagi mereka jogging lalu fitness bersama.
Hari ini Michelle tidak mau pergi kemana-mana karena lelah kuliah dan kerja selama satu minggu ini.
Hari ini dia full main dengan kedua Kakaknya.
Entah main PS, main game di ponsel masing-masing, bercanda, berbincang-bincang, baca buku tentang bisnis, tentang kedokteran yang sama sekali Michelle tidak paham, macam-macam mereka lakukan bersama.
Tapi saat sudah malam, tepatnya setelah makan malam, kedua Kakaknya membiarkan Michelle istirahat di kamarnya.
**
Senin pagi, Michelle sampai di area parkir kampusnya.
Hari ini Michelle memilih di antar Noval, supir pribadi Michelle dan tetap dikawal oleh ke empat pengawal setianya.
__ADS_1
Siang hari masih jam sebelas siang, Ezra dan Daffin sudah menunggu di area parkir.
Michelle menunggu Saddam yang kebetulan kelasnya bersebelahan lalu berjalan bersama ke area parkir.
..
Tadinya Michelle mau mengajak ketiga temannya ikut di mobil, tapi mereka menolak karena Ezra dan Saddam harus kembali ke kampus karena masih ada kelas lagi dan Daffin langsung pulang.
..
Michelle naik motor Daffin saat hampir sampai di perusahaan Oliver Corp. agar tidak terlihat kalau dia anak Corradeo Melviano.
Michelle dan ketiga temannya diantar naik lift dan menunggu di ruang tunggu sebelumnya.
Tidak butuh waktu lama, Roy muncul dan memandu mereka masuk ke ruangan Axel.
“Terima kasih sudah mau datang kesini” ucap Axel tersenyum puas
“Cih” gumam Michelle memalingkan wajahnya
“Saya sangat berterima kasih sudah mau bekerjasama untuk kafe baru saya” ucap Axel berbasa-basi
“Bilangin, suruh langsung aja, kelamaan” bisik Michelle ke Ezra yang duduk disampingnya
“Ehem” dehem Roy
Michelle diam, menyandarkan punggung dan kepalanya ke sofa membiarkan Ezra menyelesaikan tugasnya sebagai ketua.
“Saya juga berterima kasih sama kalian, secara personal.. saya harap kedepannya kita bisa bekerjasama lagi” ucap Axel tersenyum puas
“Iya, terima kasih juga sudah mempercayai pekerjaan kami” ucap Ezra sopan
“Roy, siapin uangnya” ucap Axel tegas
“Loh kok tunai ? kan udah dibilangin kita nggak terima tunai !” protes Michelle kesal
“Jadi maunya gimana ?” tanya Axel tersenyum lembut
“Gue merinding Z” bisik Michelle tapi sengaja terdengar sama semua orang yang ada di ruangan itu
“Kirim uangnya ke rekening dia” ucap Michelle tegas menunjuk Ezra
“Oke, kirimin nomor rekeningnya ke Roy” ucap Axel menahan kesal
Dia bilang merinding ? pas gue ngomong lembut ke dia.. dia sakit apa gimana sih ? jangan-jangan dia pecinta sesama jenis.. -batin Axel
“Sudah saya transfer” ucap Roy sopan
“Langsung cek Z.. gue nggak mau bolak-balik kesini lagi” gerutu Michelle
“Iya Mi” jawab Ezra
Cih.. segitu bencinya dia sama gue.. -batin Axel
“Sekali lagi terima kasih sudah mau bekerjasama, saya akan hubungi kalian lagi untuk kerjasama selanjutnya” ucap Roy sopan
Axel dan Roy berjabat tangan dengan Michelle dan ketiga temannya, lalu Roy memandu Michelle dan ketiga temannya itu buat keluar ruangan.
Sengeselin itu cewek bar-bar yang nggak mau ngakuin kesalahannya ?!! dasar cewek selalu bener -batin Axel menggerutu kesal
..
Tidak jauh keluar dari perusahaan Oliver Corp., Michelle pindah masuk ke dalam mobilnya lalu berpisah dengan ketiga temannya.
“Ke rumah Oliver ya Nov” ucap Michelle setelah mengirim pesan ke Kyra
“Baik Nona” jawab Noval
__ADS_1
**