
Malam ini Roy memilih berjaga di sofa sambil memantau pekerjaannya.
Benar saja, Emily kembali mengigau membuat Roy dengan cepat masuk ke dalam kamar dan membangunkan Emily.
Tanpa banyak kata Emily langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Roy tanpa ijin karena mimpinya terasa sangat nyata baginya.
"Apa kamu tidak pernah mendengarkan aku ? aku sudah seringkali bilang kamu butuh psikiater Emil" ucap Roy
"Aku takut, kamu pun tahu aku menahannya untuk mengenang dan mengingat wajah keluargaku" jawab Emily
"Kamu tidak perlu takut, dan kalau kamu mau mengenang dan mengingat keluargamu, kamu masih punya foto keluarga kalian, kamu bisa membayangkan banyak hal baik dan menyenangkan di antara kalian, kamu tidak harus terus memimpikan kejadian buruk itu Emil, keluargamu pun pasti sangat sedih melihatmu seperti ini" jelas Roy
Cukup lama Emily terdiam menimbang keputusannya akan ucapan Roy, sementara Roy tetap memeluk Emily sambil mengusap lembut rambut Emily.
"Apa kamu mau menemaniku menemui psikiater ?" tanya Emily sedikit ragu
"Tentu saja, aku akan menemanimu setiap kali kamu akan bertemu dengan psikiater" jawab Roy tegas
"Terima kasih banyak Roy" ucap Emily lirih
"Tidak perlu berterima kasih padaku, hanya ini yang bisa ku lakukan, sisanya ada pada dirimu sendiri" ucap Roy
Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing sampai terlelap dan pagi datang Emily dapat tidur nyenyak tanpa bayang-bayang kejadian naas keluarganya.
**
Selama cuti Roy tidak pernah mengeluh, dia selalu menemani Emily kemanapun dan dimanapun Emily membutuhkannya.
Tapi malam ini terasa berbeda, sejak malam itu tanpa diminta Roy Emily sudah mempersilahkan Roy masuk ke kamarnya dan menemaninya tidur.
Sebagai laki-laki normal tentu Roy bisa merasakan hawa panas setiap Emily membenamkan tubuhnya ke dalam pelukannya.
Mungkin sebelum-sebelumnya Roy masih bisa menahannya karena dia terlalu fokus pada keadaan mental Emily, namun kali ini tidak, karena sejak awal dia masuk ke dalam kamar Emily masih baik-baik saja dan belum tidur.
Dia baru menyadari kalau Emily tidur dengan kaos oblong oversize dan celana selutut, baginya ini sebuah keberuntungan karena selama ini dia selalu melihat Emily dalam balutan setelan jas rapih dan rambut di kuncir kuda.
Pikirannya kembali membayangkan Emily saat mereka masih tinggal di markas Dominico, setiap latihan Emily akan memakai sport bra dan sport legging yang mencetak jelas lekuk tubuh indahnya itu.
Roy memejamkan matanya membayangkan keringat yang mengalir dari inci tubuh Emily. Dirinya merasa diledek oleh setiap keringat itu, membuat dirinya berharap dialah tetesan air keringat Emily.
"Roy.. Roy.." panggil Emily menggoyangkan tangan Roy
"Ya.." jawab Roy yang langsung tersadar dan menetralkan pikirannya
"Apa kamu sadar kamu membangunkan sesuatu di bawah sana ?" tanya Emily berusaha melepaskan pelukannya namun Roy menahannya
"Maafkan aku" jawab Roy dengan cepat
"Sudahlah, lebih baik aku tidur sendiri" ucap Emily berusaha lepas dari pelukan Roy yang semakin erat
"Tidak ! jangan ! kumohon" pinta Roy
__ADS_1
"Aku tahu kamu normal, tapi aku takut kejadian yang tidak-tidak bisa terjadi" ucap Emily
"Kamu juga perempuan normal Emil, dan kejadian yang kamu maksud itu adalah kejadian yang iya-iya bukan yang tidak-tidak" ucap Roy
"Kamu sudah gila" ucap Emily memberontak
"Kumohon Emil, jangan lepaskan pelukan ini, aku senang kamu membutuhkanku, aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu" ucap Roy memeluk erat Emily
Emily langsung diam, pikirannya terasa kosong, dia bingung dengan apa yang barusan terjadi, namun satu hal yang pasti, jantungnya berdegup lebih cepat.
"Emil" panggil Roy mengendurkan pelukannya agar bisa melihat wajah Emily
Emily menundukkan kepalanya, wajahnya yang merah seperti kepiting rebus harus dia tutupi.
Roy paham akan apa yang dirasakan Emily, dia menarik dagu Emily dengan lembut lalu menatap mata Emily yang terlihat indah itu.
"Aku tidak bisa menyimpannya sendiri lebih lama lagi Emil, aku menyukaimu dan perasaan itu semakin lama semakin tumbuh, hingga kini perasaan itu berkembang menjadi perasaan cinta, aku mencintaimu Emil" ucap Roy sungguh-sungguh
Dengan mata yang sudah sayu, Roy menatap bibir kemerahan Emily yang menggodanya, dia mendekatkan wajahnya sampai bibirnya berhasil mencicipi manisnya bibir Emily yang polos itu.
Emily yang tidak punya pengalaman sama sekali seperti Michelle cuma bisa diam dan membuka sedikit mulutnya membiarkan Roy menikmati isi mulutnya itu.
"Apa kamu mencintaiku Emil ?" tanya Roy disela ciuman panasnya
"Ya" jawab Emily sambil menggigit kecil bibir bawahnya
Roy tersenyum melihat sikap Emily itu.
Emily langsung membalikkan tubuhnya, dia sungguh merasa malu dengan sikapnya sendiri.
"Tidak perlu malu, kita sama-sama saling mencintai, apa kamu mau menjadi milikku ?" tanya Roy memeluk Emily dari belakang
Emily diam, tubuhnya panas dingin mendengar suara lembut dan sentuhan hangat Roy yang tidak pernah dia bayangkan selama ini.
"Baiklah, kita tidur sekarang" ucap Roy dengan lembutnya
Mereka berdua sama-sama terjaga dalam pikirannya masing-masing tanpa sepengetahuan satu sama lain.
**
Dua hari sebelum masa cuti mereka habis keduanya memutuskan kembali ke Indonesia, Roy menemani Emily untuk menemui psikiater pertamanya yang sudah Roy cari sebelum mereka kembali ke Indonesia.
Dengan sabar Roy duduk menonton cara psikiater berbicara dengan Emily yang sudah berada di alam bawah sadarnya.
Sejujurnya Roy sendiri tidak sanggup mendengar cerita kelam Emily namun dia berusaha kuat demi kesembuhan mental Emily sendiri.
**
Dua hari setelahnya mereka kembali bekerja, berbeda dengan Michelle yang tidak menuntut Emily untuk menyelesaikan pekerjaannya juga, Axel malah sebaliknya, dia langsung memberikan semua pekerjaannya ke Roy.
Sepanjang hari Axel berada di ruangan Michelle, entah dia cuma duduk menonton wajah serius Michelle atau menggodanya.
__ADS_1
Michelle tetap fokus pada pekerjaannya tanpa menghiraukan rengekkan suaminya yang sampai pada level kesal seperti anak kecil itu.
Axel terus saja menghela nafas kasar dengan wajah cemberut kesal dan kedua tangan terlipat di dada berharap Michelle peka dan memilih untuk menghabiskan waktu bersamanya namun sayang istrinya itu tetap pada pendiriannya.
Tiba-tiba pintu ruangan Michelle terbuka membuat Michelle dan Axel melirik siapa yang membukanya tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Anak nakal !" ucap Hugo menatap tajam Axel
"Grandpa" ucap Axel langsung bangun dari duduknya
Michelle bangun dari duduknya dan menundukkan kepalanya saat Dominico dan Hugo berjalan masuk ke dalam ruangannya.
"Selamat siang Tuan besar Dom, Tuan besar Hugo" salam Michelle dengan sopannya
"Lihat tuh istri kamu, kamu nggak malu ?" tanya Hugo tajam
"Udahlah Hugo" ucap Dominico yang sudah duduk di sofa dengan santainya
Michelle sudah berada di pantrynya dan tengah menyiapkan minuman dan cemilan untuk Dominico dan Hugo.
..
"Silahkan Tuan besar" ucap Michelle menaruh dua cangkir mint tea dan cemilan di atas meja
"Aduduh Grandpa jadi terharu" ucap Hugo menyeruput minumannya
"Aku mana ?" tagih Axel
"Kan tadi udah" jawab Michelle
"Cih" gerutu Axel
"Nonno sama Grandpa kesini berdua doang ?" tanya Michelle yang duduk di samping Axel
"Sama Nonna dan Grandma kamu dong, mereka mau lihat perusahaan raksasa ini jadi tadi Nonno minta Emily yang temenin" jawab Dominico setelah menyeruput minumannya
"Nonno sama Grandpa ngapain kesini ?" ketus Axel
"Kamu ngusir hah !" bentak Hugo
"Tadinya cuma Nonno mau ajak Michelle kesini dan Grandpa kamu itu ke perusahaan kalian sama Alexa tapi pas di jalan dia telefon karena Roy bilang kamu dari pagi ada disini jadi kita ketemuan kesini" jelas Dominico
"Dan kamu malah enak-enakkan disini bukannya kerja" ucap Hugo memicingkan matanya menatap Axel
"Aku capek Grandpa, selama satu minggu aku kerjain kerjaan aku sama Roy, belum lagi di rumah ada Richard sama Jerry yang gangguin aku" gerutu Axel mengeluh
"Kamu ngeluh karena anak-anak aku ?" tanya Michelle datar tapi auranya sudah membuat merinding
"Nggak baby nggak, nggak gitu maksudnya" jawab Axel panik
Aduh ini mulut salah ngomong lagi, alamat nggak kebagian asi lagi deh -batin Axel
__ADS_1
**