
Mobil Michelle susah berhenti di halaman lobby perusahaan induk Melviano Corp.. Seperti biasa, para karyawan langsung menundukkan kepalanya sampai Michelle masuk lift.
Michelle langsung berjalan ke ruangan Corradeo diikuti Emily.
“Daddy” panggil Michelle masuk ke ruangan Corradeo setelah Dion membukakan pintu untuk Michelle dan Emily
“Hei darling.. sini duduk, cerita sama Daddy” ucap Corradeo yang berjalan ke sofa sementara Michelle sudah duduk di sofanya
“Tentang perusahaan X, aku udah kasih waktu selama tiga hari buat konfirmasi keputusan mereka” ucap Michelle memulai pembicaraan
“Menurut kamu gimana ? apa mereka setuju ? apa nolak ?” tanya Corradeo khawatir
“Eum.. setuju Dad, doain aja ya.. aku agak pesimis karena banyak yang ditolak aja, takutnya aku salah satunya” jawab Michelle sedikit khawatir
“Terus masalah perusahaan XX gimana ? kamu mau kesana setelah tahu keputusan dari perusahaan X dulu apa gimana ?” tanya Corradeo lagi
“Lusa aku kesana Dad, aku udah minta siapin bukti-bukti hasil kerja mereka ke Emily” jawab Michelle
“Daddy nggak larang kamu buat lakuin hal yang benar, tapi kenapa tiba-tiba kamu mau blacklist perusahaan XX ? dan langsung ajuin kerjasama ke perusahaan X ?” tanya Corradeo penasaran
“Ada lah pokoknya, hehehehe.. lagian selama perusahaan itu nggak ngerugiin, aku nggak apa-apain kok Dad” jawab Michelle menutupi masalahnya
“Terus nanti kalau kamu udah resmi gantiin posisi Kakak kamu, kamu bakalan blacklist banyak perusahaan yang kerjasama sama Daddy ?” tanya Corradeo curiga
“Hah ? kenapa ? apa emang banyak perusahaan yang jadi benalu ? kalau emang begitu ya udah aku selesaiin urusannya, mulai dari awal lagi sama perusahaan-perusahaan yang bisa diajak kerjasama dengan baik” jawab Michelle tanpa ragu
“Young Michelle.. Daddy bangga sama kamu, tapi pikirin hal lain, gimana nasib perusahaan itu sendiri kalau nggak ada perusahaan besar kayak kita yang tolong mereka” ucap Corradeo tulus
“Daddy.. Daddy boleh simpati sama mereka, tapi bisnis tetep bisnis, kalau mereka ada pemikiran tentang perusahaannya sendiri harusnya mereka tanggung jawab, bukan jadi benalu” jelas Michelle tegas
Corradeo tidak bisa jawab apa-apa. Selain pemikirannya yang berbeda dengan Michelle, dia juga salah karena apa yang Michelle bilang itu benar.
Michelle dan Emily pamit keluar dari ruangan Corradeo dan berjalan kembali ke lobby untuk kembali ke kantornya lagi.
..
“Dion.. my daughter is true right ? saya terlalu baik sama mereka” ucap Corradeo dengan pandangan kosong
“Tuan Besar, Nona Michelle memang memiliki potensi besar dalam bidang bisnis, ini bukan pertama kalinya Nona Michelle berkata hal yang benar adanya” ucap Dion
“Iya, anak itu emang hebat, bahkan Nicholas masih ragu buat beragumen” keluh Corradeo
“Akan ada saatnya Tuan Nicholas akan lakukan hal yang terbaik untuk perusahaan, Tuan Besar” ucap Dion
__ADS_1
Daddy, she is great, right ? I know you know all about your own family, Im sorry I cant.. Maybe one day.. -batin Corradeo
..
“Ly, lo denger sendiri kan ? Daddy tuh kenapa sih ? baik banget sama orang, jelas-jelas mereka aja belum tentu baik sama Daddy.. ralat, belum tentu tulus sama Daddy” keluh Michelle yang tiduran di sofa ruangannya
“Tuan Besar memang orang yang baik Nona” jawab Emily yang duduk di sofa samping Michelle
“Ya emang baik, tapi kelewat baik.. jahat sedikit kenapa sih kayak gue gitu ya ? Daddy lurus banget orangnya” keluh Michelle lagi
“Bagaimana bisa Nona ? sekertaris Dion bilang kalau Tuan Besar tidak pernah marah sama sekali” tanya Emily
“Nah itu.. jangankan di tempat kerja, dirumah aja Daddy nggak pernah marah, yang marah malah anak-anaknya” jawab Michelle
“Udah lah jangan bahas ini lagi, udah siap semua ?” tanya Michelle memejamkan matanya
“Sudah Nona, semuanya sudah siap.. akan saya ambilkan Nona” jawab Emily yang sudah paham akan kemauan Michelle
Michelle langsung terduduk dari tidurannya, menunggu Emily memberikan apa yang dia mau.
Emily kembali duduk dan memberikan beberapa tumpuk file di atas meja menghadap Michelle. Michelle membacanya dengan serius, sesekali tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya.
Tidak sampai setengah jam, Michelle sudah selesai membaca semua file yang ada di hadapannya itu.
“Nona Clara, Nona” ledek Emily
“Hahahahahaha.. iya iya bener, di banggain buat cari muka” ucap Michelle dengan tawa jahatnya
Michelle dan Emily kembali bekerja menyelesaikan sisa pekerjaan mereka.
..
Malam hari, Michelle menceritakan semuanya yang dia bicarakan dengan Mario ke Nicholas di kamarnya.
Michelle tiduran di samping Nicholas sambil Nicholas terus mengelus lembut rambut Michelle dan mendengarkan ceritanya.
“Kamu hebat honey.. Kakak bangga sama kamu” ucap Nicholas mengecup lembut kening Michelle
“Makasih ya Kak, aku seneng bisa bantuin Daddy sama Kakak” ucap Michelle membenamkan wajahnya di dada Niholas dan memeluknya erat
Michelle pun tertidur pulas dalam pelukan Nicholas.
Nicholas bangun perlahan agar Michelle tidak bangun dari tidurnya. Dia menyelimuti tubuh Michelle lalu mengecup lembut kening Michelle sebelum keluar dari kamar Michelle.
__ADS_1
**
Hari yang Michelle tunggu-tunggu. Hari pembalasannya ke Clara.
Emily mengendarai mobil kantornya menemani Michelle menuju perusahaan XX tanpa membuat janji sebelumnya karena Michelle sudah muak dengan perusahaan ini.
..
Sampai di lobby perusahaan XX, Michelle duduk di sofa lobby sementara Emily sibuk mengatakan tujuan Michelle ke resepsionis setelah menyuruh seorang penjaga memarkirkan mobilnya.
Emily berjalan ke arah Michelle yang duduk tenang.
“Nona, mereka tidak mengijinkan kita masuk” lapor Emily
“Apa lo udah bilang siapa yang dateng ?” tanya Michelle datar
“Sudah, saya bilang Nona Michelle asisten CEO dari perusahaan Melviano Corp. tapi mereka tetap tidak mengijinkan sebelum membuat janji” jawab Emily
“Telefon Dion sekarang, bilang kayak gitu ke dia, lo duduk sini jangan berdiri terus” ucap Michelle dengan tenangnya
“Baik Nona” jawab Emily
Emily melakukan tugasnya dengan baik. Dia langsung duduk setelah menelefon Dion.
Seorang perempuan dengan sombongnya berjalan begitu saja dan membentak para penjaga yang melarangnya masuk tapi dia tetap marah-marah dan mengancam akan memecat para penjaga itu kalau tidak diijinkan masuk. Mau tidak mau, para penjaga itu menunduk takut dan membiarkan perempuan itu masuk.
Setelah menghilangnya perempuan itu masuk lift, Michelle bangun dari duduknya, tentu saja Emily mengikuti setiap gerakan Michelle. Michelle berjalan mendekati para penjaga tadi.
“Permisi, yang tadi itu siapa ya ?” tanya Michelle sopan
“Nona Clara adalah putri pemilik perusahaan ini, Nona” jawab salah satu penjaga
“Ohh.. apa dia sesombong itu ?” tanya Michelle lagi
“I.. iya Nona” jawab seorang penjaga lainnya takut
“Cih, sabar ya.. sebentar lagi dia nggak bakalan kayak gitu lagi, mungkin” ucap Michelle tersenyum lembut
Michelle baru berbalik dan mau duduk, tapi seorang sekertaris berjalan terburu-buru ke arah Michelle setelah keluar dari lift.
“Nona Michelle, maaf atas ketidaknyamanan Nona, mari saya antar ke ruang Tuan Charlie” ucap sekertaris itu sopan
Michelle berjalan menyeimbangi langkah kaki sekertaris tadi, masuk lift meninggalkan lobby tadi.
__ADS_1
**