Ms. Perfect

Ms. Perfect
Gagal Fokus


__ADS_3

Sampai halaman rumah, Michelle masih tertidur pulas. Axel yang tidak tega membangunkannya langsung sigap menggendong tubuh Michelle.


Di dalam rumah, Kyra dan orang tuanya dibuat terkejut melihat sikap Axel ke Michelle. Bahkan sepatunya dan sepatu Michelle dia sendiri yang melepaskannya.


“Kakak bawa Michelle ke kamar kamu, kamu ambil barang-barang Michelle aja di mobil Kakak” ucap Axel dan dibalas anggukkan Kyra yang masih terkejut melihat Kakak dan temannya itu


Axel sesekali melirik wajah Michelle yang bersandar di dadanya. Rasa tenang dan nyaman kembali menghampiri Axel sampai dia sengaja berjalan pelan menuju kamar Kyra agar bisa lebih lama menggendong Michelle dengan alasan menunggu Kyra ikut masuk ke dalam kamarnya sendiri.


..


Kyra membukakan pintu kamarnya..


“Michelle tidur di sebelah sana Kak” ucap Kyra


Axel segera menaruh Michelle ke tempat tidur Kyra dengan hati-hati. Kembali Axel menatap dengan teliti setip inci wajah Michelle yang tertidur.


“Hayoooo, Kakak suka kan sama temen aku ini ?” goda Kyra berbisik


“Ng.. nggak” jawab Axel langsung turun dari tempat tidur Kyra


“Halah alesan” goda Kyra


“Beneran.. Kakak cuma.. cuma lihat cewek yang badannya kecil kayak kamu tapi berat banget” ucap Axel mengelak


Kyra langsung menarik wajah Axel menatap Michelle.


“Yakin nggak suka sama Michelle ?” goda Kyra makin semangat


“Ngg.. nggak ! kamu gila hah ? dia udah pacaran sama Nicho, simpenan Uncle Corre, selingkuhan Vier, nggak waras kalau Kakak suka sama dia” gerutu Axel


“Gimana kalau Michelle nggak kayak gitu ? apa Kakak masih nggak suka sama Michelle ? dia sempurna loh Kak, dia cantik, pinter, lihat tubuhnya, bagus banget kan ? dia rajin olahraga, kayak Kakak” goda Kyra lagi


Axel fokus menatap tubuh Michelle dari atas ke bawah, memang benar tubuh Michelle idaman para wanita, ditambah kecantikan dan kepintaran membuat Michelle bagaikan seorang dewi langit.


“Kak, astaga.. di bibir nolak tapi ternyata hati dan naluri Kakak beda ya” goda Kyra membuyarkan lamunan Axel


Axel langsung keluar kamar Kyra sebelum melakukan hal bodoh lainnya sementara Kyra tertawa kecil melihat sikap Kakaknya yang mulai menyukai temannya itu.


..


Di tempat lain dua orang laki-laki paruh baya tengah memutar video yang dikirimkan dari orang suruhannya. Mereka berdecak kagum melihat sikap Michelle saat menyiksa Ilyas karena perbuatan Ilyas yang mencelakai Kakaknya itu.


“Oh Dio ! lei è proprio il mio giovane Michelle (oh Tuhan ! dia benar-benar my young Michelle)”


**


Pagi harinya, Michelle terbangun karena kebisingan Kyra.


“Astaga Ra, masih pagi, gue masih mau tidur” keluh Michelle menyelimuti tubuhnya


“Ini hari minggu, bukannya lo selalu olahraga kalau hari minggu ?” tanya Kyra


“Percuma, Kak Nicho sakit, Kak Vier udah punya keluarga, gue lagi males fitness sendirian” gumam Michelle dibalik selimut


Kyra terus menerus membangunkan Michelle sampai berhasil.


..

__ADS_1


Kini Michelle sudah ganti pakaian dengan pakaian fitness Kyra yang sedikit kekecilan karena memang tubuh Michelle sedikit lebih besar dibanding Kyra.


Michelle dan Kyra masuk ruang gym yang berada di dalam rumahnya seperti di rumah Michelle sendiri.


Dilihatnya Axel sudah berada disana bertelanjang dada dan memakai celana pendek dan sepatu sport sambil mengangkat dumbbell yang cukup besar dengan satu tangannya yang memamerkan otot tangannya yang menegang itu.


“Kakak, kita mau ikut fitness ya” ucap Kyra dengan riangnya


“Hemm” gumam Axel tanpa menatap Michelle maupun Kyra


Michelle melakukan pemanasannya dengan meregangkan otot tubuhnya terutama tangan dan kaki lalu mulai sit up, push up, sampai skot jump. Berbeda dengan Kyra yang langsung jogging di treadmill.


Axel pindah ke barbell sementara Michelle beralih ke dumbbell.


“Duhh, gue capek, gue duluan ya, gue di kamar ya Cel” keluh Kyra


“Baru juga nge treadmill” gerutu Michelle


“Beda Cel, udah ah gue capek” ucap Kyra berjalan keluar ruang gym


“Kakak mau pakai apa habis itu ?” tanya Michelle


“Chest press” jawab Axel sambil mengatur nafasnya


“Ya udah aku pinjem treadmill ya” ucap Michelle berjalan ke treadmill


Tubuh Michelle mulai berkeringat saat Axel baru saja menyelesaikan latihan dengan barbellnya.


Ah shit ! -batin Axel terkejut


Axel buru-buru memalingkan wajahnya dari penglihatan menegangkan di depannya lalu beralih ke chest press machine.


Bener sih badannya bagus, bagus banget malahan, nggak, tapi sempurna.. lekuk tubuhnya, astaga perutnya manggil-manggilin, mana ada tato kecil lagi di punggungnya, tato apaan ya ? kok kayaknya mirip tato Nicho sama Vier crown sama inisial satu huruf gitu -batin Axel yang memejamkan matanya


Michelle memakai hand wrap lalu beralih ke samsak, meninju dan menendang dengan kencang sambil mengatur nafas.


“Kak, mau latihan bareng ?” tawar Michelle mengatur nafasnya


“Apaan ?” tanya Axel


“Kakak pakai mitt” jawab Michelle dengan lembutnya


Axel tidak menjawab apa-apa karena masih mengatur nafasnya lalu mengambil mitt dan dipasang ke kedua telapak tangannya.


“Kakak siap ?” tanya Michelle mengambil ancang-ancang


“Lo ngeremehin gue ? cewek palingan tenaganya kecil” ucap Axel meremehkan


“Nggak lihat semalem gimana ke orang itu ?” sindir Michelle


“Itu karena dia lemah, terus nggak bisa apa-apa karena diiket” ucap Axel menyombongkan dirinya


“Ya udah kalau gitu jangan ngeluh ya Kak” ucap Michelle mengingatkan


Michelle memukul mitt dari segala arah membuat Axel menahan pertahanannya.


Tiba-tiba Michelle menendang mitt membuat Axel terkejut dan memundurkan langkahnya.

__ADS_1


Ini cewek apa cowok sih ? tenaganya gede juga ternyata buat ukuran cewek, argh tangan gue udah gemeteran -batin Axel mengeluh


“Udah Cel, capek” ucap Axel


“Cemen banget” ledek Michelle


“Capek tahu nggak” keluh Axel


“Oh, capek nih bener ? bukannya udah lemes tangannya ?” ledek Michelle menahan tawanya


“Mana ada” elak Axel


“Ya udah kalau gitu coba angkat barbell lagi” tantang Michelle


Ahelah bisa ketiban barbell gue yang ada, tapi kalau nolak pasti si bar-bar ini makin puas ngeledekin gue -batin Axel bimbang


Akhirnya Axel memilih mengesampingkan rasa malunya dan berusaha mengangkat barbell dengan kedua tangannya yang gemetar.


Michelle langsung sigap mengangkat barbell saat Axel hampir menjatuhkan barbell yang diangkatnya ke wajahnya lalu Michelle mengembalikannya ke tempat semula.


“Bilang aja kalau udah nggak sanggup Kak, itu berat loh, aku aja nggak berani angkat barbell” ucap Michelle


“Kata siapa ? cuma belum siap aja tadi” elak Axel menahan malu


“Terserah Kakak aja, aku udah capek” keluh Michelle


Michelle duduk di matras lalu melurukan kedua kakinya dan menopang tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kanan dan kiri tubuhnya sambil mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya.


Pinter banget godainnya, pantes aja mereka gampang luluh sama si bar-bar ini -batin Axel menelan salivanya susah payah


“Lo nggak ke rumah sakit nemenin Nicho ?” tanya Axel duduk di samping Michelle


“Nggak tahu, rasanya nggak mau ketemu dia sebelum sembuh total” jawab Michelle menundukkan kepalanya


“Kenapa ? karena rasa bersalah ?” tanya Axel menebak


“Iya, rasanya sakit lihat orang yang kita sayang luka karena kesalahan kita sendiri” jawab Michelle lirih


Axel merangkul lembut bahu Michelle yang hampir terbuka itu.


“Ini bukan kesalahan lo, nyalahin diri sendiri juga nggak ada gunanya, harusnya lo temenin Nicho biar dia cepet sembuh” ucap Axel dengan lembutnya


“Dia udah temuin cewek yang selama ini dia tunggu Xel, dia pasti lebih bahagia sekarang ditemenin sama cewek yang dia sayang” ucap Michelle


“Terus lo ? Nicho bilang kan lo segalanya buat dia, masa dia ninggalin lo ?” tanya Axel sedikit kesal


“Dia nggak pernah ninggalin gue Axel, mungkin kalau lo tahu kenyataannya bakalan paham” jawab Michelle bangun dari duduknya


Axel langsung menarik tangan Michelle membuat keseimbangan Michelle hilang dan terjatuh di atas tubuh besar Axel yang terbaring di atas matras, syukur kedua tangan dan kakinya menopang tubuhnya di samping tubuh Axel sehingga tubuh mereka tidak bersentuhan sepenuhnya.


Keduanya saling menatap satu sama lain membuat jantung mereka berdegup cepat.


Michelle langsung sadar dengan sikapnya dan langsung keluar ruangan sementara Axel memegang keningnya mengulang kembali sikap dia dan Michelle barusan.


“Ini gila ! gue nggak mungkin suka sama dia” gumam Axel


**

__ADS_1


__ADS_2